On 3/18/2011 04:53:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
“Assalamualaikum, Wan Onga, iko dari Supayang, Jakarta.” Sebuah SMS masuk ke HP saya. Tak saya balas, tapi langsung saya telepon.
“Ko Wan Onga ghe, ee sosek, Wanodang ye?” Sebuah suara dengan logat Tanah Datar di seberang sana. Saya tak kenal suaranya, tapi karena ia memanggil saya wanodang, langsung saya tebak. Tebakan saya jitu.
Kami terkekah alangkah lamanya. Dia sahabat saya sewaktu SD dulu. Sesuku, sekampung, rumah sangat dekat. Ia seorang wanita dan saya seorang laki-laki. Kami selalu bermain bersama. Kemudian setelah masuk sekolah lanjutan, ia lenyap, pergi ke Jakarta mengadu untung. Lebih dari 25 tahun tak bertemu. Tiba-tiba ia mengirim SMS.
Saya dipanggil uwan atau wanodang oleh adik-adik saya. Wanodang berasal dari kata uwan (sebutan uda untuk bahasa Tanah Datar). Karena saya yang tua, maka uwan tadi ditambah dengan godang. Disambung, maka dibaca wanodang. Adik di bawah saya dipanggil Wanonga, uwan yang di tengah. Kemenakan memanggil saya makdang, juga om. Adik saya makngah. Anak-anak dari adik saya memanggil saya pakdang.
Sementara oleh anak-anak dalam keluarga besar istri saya yang orang Bukittinggi, saya dipanggil pakngah, di atasnya tentu pakdang dan paling bungsu dipanggil pakcik. Istri pakcik tentu dipanggil makcik.
Saya suka panggilan-panggilan itu, sangat dekat dengan akar kebudayaan Minang dan Melayu. Tapi saya suka banyak hal dalam hidup ini. Karena itu, saya mau dipanggil apa saja oleh orang lain, diterima saja. Ada yang memanggil saya dengan Khairul. Ada yang dengan Rul. Yang lain memanggil Jas. Ada pula menyapa saya dengan Karel. Lain kali dengan presiden atau pres atau pak pres, karena saya presiden Padang Press Club. Dipanggil uda tentu saja menyenangkan, apalagi oleh istri sendiri. Anak saya memanggil papa, satu-satunya panggilan moderen dalam kehidupan saya. Lantas juga dipanggil abang. Sederatan panjang panggilan lainnya, tidak pernah saya sesali.
Akan halnya wanodang, selain oleh adik-adik saya, juga oleh sebagian teman semasa kecil, bahkan juga oleh sebagian etek-etek saya. Di kampung kami memang punya panggilan yang akrab yang terekam dalam memori begitu dalam.
Karena itu, ketika teman masa kecil saya yang merantau ke Jakarta mengirim SMS, saya sontak meneleponnya. Banyak di antara kita yang tidak berjumpa lagi dengan teman masa kecil berpukuh tahun lamanya.
Saya tak ingat lagi wajah teman saya itu. Namanya Jus, rambutnya panjang dan hitam manis. Tapi kemudian saya disuruh membuka facebook adik dan anaknya. Adiknya yang sebaya adik saya, tak seperti yang dulu lagi. Wajahnya sudah berubah. Anaknya, lain lagi. Saya lihat foto suaminya dan fotonya sendiri malah tidak ada. Atau ada tapi tak saya kenali lagi.
Ia punya toko di Tanah Abang, berjualan pakaian muslim dan mukenah. Karena istri saya orang Bukittinggi dan keluarganya serta teman-temannya juga menjual konveksi, saya beritahu percakapan saya dengan teman masa kecil itu.
“Bilo ka Jakarta, ka sinan wak,” kata istri saya. Nyali bisnisnya langsung bekerja.
Sementara di otak saya bukan nyali bisnis yang muncul, tapi mengingat seberapa banyak teman masa kecil yang tidak pernah lagi saya jumpai. Dia entah dimana kini. Seberapa banyak pula yang di Tanah Abang, yang sudah jaya.
Ketika saya menulis kolom ini, adik saya dari Batam mengirim SMS pula.
“Sibuk wan?”
“Indak, manga ang?”
Lalu ia menelepon. Habis itu, masuk SMS lagi dari kemenakan saya yang kuliah di Medan.
“Makdang lagi ngapain?”
Tak lama anak saya yang SMS.
Hebatnya telepon genggam, mempertemukan bisa menghidupkan hal-hal kecil dalam tradisi saya. *

0 komentar :

Posting Komentar