On 4/29/2011 08:30:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Tiba-tiba HP BlackBerry saya berdentang. Seorang teman di grup Pegiat Demokrasi, Abdul namanya, mengirim sebuah pesan.
Pesan itu:
“Aku mendapat setangkai bunga, meski hari ini bukan hari istimewa dan bukan saat ulangtahunku. Semalam untuk pertama kalinya kami bertengkar dan ia melontarkan kata-kata yang menyakitkan. Aku tahu, ia menyesali perbuatannya, karena hari ini ia mengirimi aku bunga.
Aku mendapat bunga lagi hari ini. Ini bukan ulangtahun perkawinan kami atau hari istimewa kami. Semalam ia menghempaskan aku ke dinding dan mulai mencekikku. Aku bangun dengan memar dan rasa sakit sekujur tubuhku. Aku tahu ia menyesali (perbuatannya) karena ia mengirim bunga padaku hari ini.
Aku kembali mendapat bunga hari ini, padahal hari ini bukanlah Hari Ibu atau hari istimewa lainnya. Semalam ia memukulku lagi, lebih keras dibanding waktu-waktu yang lalu. Aku takut padanya, tetapi aku takut meninggalkannya. Aku tidak punya uang. Lalu bagaimana aku bisa menghidupi anak-anakku?
Namun, aku tahu ia menyesali (perbuatannya) semalam, karena hari ini ia kembali mengirimi aku bunga.
Ada bunga untukku hari ini. Hari ini adalah hari istimewa: Inilah hari pemakamanku. Ia menganiayaku sampai mati tadi malam. Kalau saja aku punya cukup keberanian dan kekuatan untuk meninggalkannya, aku tidak akan mendapatkan bunga lagi hari ini....
STOP KEKERASAN PADA WANITA!!!
Aku adalah tiap rintik hujan yang membasahi bumi, kecil, sedikit, tapi berarti”
Kami sering bercakap-cakap tentang banyak hal di grup “Pegiat Demokrasi” yang digagas teman saya Ardyan dari KPU Sumbar itu. Kami juga sering melakukan hal yang sama di grup “News Room,” kumpulan para wartawan.
Kadang tentang hal yang ringan dan lucu, ketika lain tentang hal-hal serius. Ketika lain pula soal tamsilan-tamsilan, semacam anak elang atau burung balam. Berbagai cerita dan menukar joke-joke dan entah apalagi.
Tak jelas, apa pesan di atas dibuat sendiri oleh Abdul atau ia terima pula dari orang lain, tak penting benar. Yang penting isinya.
Pesannya terlalu dalam, bermakna dan menyentuh. Para lelaki, para suami, masih ada yang merasa superior di rumahtangga. Main labrak sesuka hatinya. Suami sering marah pada istrinya kalau pekerjaannya tidak sukses, atau disambut terlalu cerewet, cemburu buta dan sebagainya.
Kadang suami berselingkuh di luar, ketahuan, yang marah justru dia pula. Terbalik. Ia marah untuk menutupi kelemahannya. Biasanya begitu.
Suami janganlah melakukan kekerasan juga dalam rumahtangga, nanti diborgol polisi, baru tahu rasa.
Membuat rumah mewah, tidaklah sulit, tapi membangun rumahtangga di atas rumah mewah itu, bukanlah pekerjaan gampang.
Selamat berhari minggu. (*)

0 komentar :

Posting Komentar