Images

Doa Perjalanan

Saya menyaksikan beberapa hal tentang ‘malu-malu’ dalam rentang waktu yang terpaut jauh. Pertama, doeloe, wanita malu-malu memakai jilbab, karena tiap sebentar disapa dengan ucapan ‘asalamulaikum” secara sinis. Lantas kemudian berubah karena zaman. Jujur saja, di Padang, perubahan terjadi karena Fauzi Bahar.
Kedua saat ini orang malu-malu membaca doa perjalanan, jika naik pesawat terbang. Syukur kalau doanya hafal dan dibaca dalam hati. Tapi saya yakin, tak hafal. Di pesawat disediakan teksnya yang ditulis dalam selembar kertas dan diselipkan di kantong sandaran kursi. Doa perjalanan lima agama resmi, ada di sana.
Berkali-kali saya naik pesawat, saya perhatikan orang di sisi saya tak pernah menyentuh kertas doa itu, meski saya sudah memancing dengan mengambil dan membacanya. Pada kali lain tanpa berniat memancing, saya membaca doa yang sama, tapi tetap saja tidak ada orang lain yang melakukan, entah kalau di bagian depan atau belakang saya.
Dulu, berbilang tahun silam, pada suatu penerbangan Jakarta-Padang, pesawat berguncang terus karena cuaca yang buruk. Lampu sabuk pengamat tak pernah padam. Seorang ibu lantas membuka — kalau tak salah— Juzz Ama. Ia membacanya. Suaranya bergetar. Efeknya, para penumpang seperti ketakutan dan dari raut wajah mereka, saya mengambil kesimpulan, “mereka tak suka” akan apa yang diperbuat si ibu.
Menurut saya, sangat baik membaca doa perjalanan sebelum pesawat itu terbang, sebelum mobil berangkat. Apalagi teksnya sudah tersedia. “Bismilllaahi majreehaa wa mursaahaa inna rabbii laghafururahiim...dst” Doa Nabi Muhammad itu, bisa menenangkan hati. Hati juga bisa tenang, jika memang sedang nyaman, tanpa harus membaca doa tersebut. Tapi, itu tadi, sebagai umat Islam, baca jugalah doa dari Nabi kita. Kalau tak mau, apa boleh buat.
Akan halnya jilbab, waktu saya di SLTA tahun 1980-an dulu, tidak seorang pun teman wanita saya yang memakainya. Hanya satu guru, itupun melilitkan selendang saja, bukan jilbab. Waktu kuliah juga demikian, jarang yang pakai jilbab. Lelaki nyaris tidak ada yang berjanggut. Tapi kini, nyaris semua wanita Islam memakai jilbab.
Saya melihat, ada yang tambah cantik karena jilbab, ada yang semakin jelek. Tak karuan. Itu kenyataan, apa adanya.
Begitu juga dengan lelaki berjanggut. Ada yang tambah ganteng, banyak yang kian jelek. Keyakinan kita memang beragam, sebuah konfigurasi keimanan yang menakjubkan, sekaligus bagi bisa menjengkelkan. Celana jengki juga, he he he.
Betapa kita, soal-soal elementer dalam hidup, dangkal sekali pemahaman agamanya dan cenderung taqlik buta untuk menolak ataupun menerima. Tentang doa berjalan, doa keluar rumah, doa sebelum tidur, doa masuk WC, kita abaikan. Hal-hal ringan lainnya kita pertengkarkan. Lagi-lagi jilbab, tak boleh begitu, harus begitu. Jilbab gaul dan tak gaul, jilbab pendek dan jilbab dalam. Belakangan kita sibuk dengan celana perempuan. Perempuan kadang keterlaluan pula, kalau tak ketat tak dipakai. Sebenar wale.
Ah seperti cerita berbingkai saja tulisan ini, pindah-pindah topiknya. Kembali saja ke doa perjalanan, jika Anda naik pesawat, bacalah doa perjalanan yang disediakan di pesawat. Ajak teman Anda melakukannya. Setelah itu, nikmati penerbangan Anda.
“Tidak ada perbedaan waktu antara Padang dan Jakarta, suhu di darat dilaporkan 30 derajat celcius. Anda tidak boleh mengaktifkan telepon genggam dan dilarang merokok sampai di terminal kedatangan,” kata pramugari.
Pesawat Anda sudah sampai. Selamat datang di Jakarta, pergi kemana Anda hendak dituju. Eng ing eng...*

1 komentar: