On 5/20/2011 09:22:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Tiap kita punya impian-impian kecil maupun besar. Terwujud atau selamanya jadi impian. Tiap kita, sadar atau tidak telah menyumbangkan sebagian impian itu pada bangsa dan negara ini. Ada yang ikut memperjuangkannya dan sebaliknya.
Tentang impian sebagai anak bangsa, kita mungkin sama-sama merindukan negara yang bahagia. Bagaimana negara yang bahagia itu? Kabarnya bermula dari pembagian kerja yang memadai. Tiap anak bangsa menerima nafkah yang layak dari pekerjaan yang mereka geluti. Mereka yang berada dalam usia kerja, memiliki pekerjaan yang layak. Sarjananya tidak menganggur. Mereka memiliki bekal pengetahuan yang cukup, sama cukupnya dengan pengetahuan tentang etika dan moral kolektif. Meraka adalah penduduk yang taat akan agamanya, tanpa pemerintah harus mengeluarkan aturan-aturan yang tidak perlu.
Rakyatnya tidak hedonis, tidak materialistis. Juga tidak suka pamer. Hidup sederhana dan menyisakan pendapatannya untuk menabung. Memiliki jaminan pendidikan, kesehatan dan asuransinya tidak suka ngibul. Pemimpinnya jujur. Yang iya,iya dan yang tidak, pastilah tidak.
Saya mengimpikan negara yang bahagia. Juga Anda. Tapi kita tahu, negara kita saat ini sedang dalam masalah krisis kepercayaan yang serius. Sedang terjadi pengkhianatan oleh kaum intelektul secara mengerikan.
Tujuan bersama sebagai bangsa sedang hanyut di sungai kebohongan. Demokrasi digelincirkan sedemikian rupa. Diperjualbelikan. Jangankan demokrasi, nilai ujian anak sekolahpun diperjualbelikan.
Negara ini sedang berpayung demokrasi hitam. Dalam kondisi semacam itulah rakyat mulai kehilangan kepercayaan. Maka impian akan negara bahagia semakin jauh.
Ah, saya terlampau serius. Padahal hari-hari terasa landai. Orang terus menumpuk kekayaan, kalau bisa. Yang lain memperjualbelikan hukum. Yang lain lagi, menjual diri untuk nafkah keluarganya. Ada orang yang mengubur impiannya. Ada pula yang pasrah, menampik ke sajadah dan menangis di malam sunyi untuk sepotong doa.
Seorang teman berkata, ajari anak-anakmu untuk tidak punya impian yang muluk-muluk, sebab hal itu akan menggerogoti jiwanya. Sayang ia tidak menyebut, apa yang ia ajarkan pada anak-anaknya.
Saya nyalakan sebatang rokok. Ah, ini rupanya impian kecil saya. Impian lain segelas kopi. Jika saja kita membuat daftar impian, mungkin kiga bisa senewen dibuatnya. Tapi negara berkewajiban memenuhi impian-impian sederhana dari rakyatnya.
Itu benarlah masalah kita sekarang.  Negara yang besar ini memerlukan sentuhan lembut, kasih sayang dan rasa cinta dari rakyatnya. Masalah utama kita hari ini adalah, secara bersama-sama kita nyaris tidak santun lagi pada bangsa dan negara kita sendiri. Indonesia hampir-hampir kehilangan DNA nya.
Ha ha ha ha. hebat pula saya mengarang-ngarang rupanya. Selamat berhari Minggu. (*)
On 5/06/2011 05:16:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Da, harusnyo ado masin ATM di suduik dapua rumah wak ko ha.” Istri saya mengirim SMS dari rumah, saat saya masih di kantor.
“Ha ha ha, tangguang pabrik pitih selah,” jawab saya.
Istri saya sarjana akuntan. Saya sarjana sejarah, ibarat bumi dan langit, berjauhan. Tapi, saya belajar sejarah ekonomi. Belakangan saya mengambil master pemasaran, maka agak bersinggunganlah ilmu kami.
Bagi saya dan istri, juga anak-anak, hampir semua jadi kelakar. Banyak uang, jadi kelakar, sedang bokek, jadi bahan lelucon juga.
“Kok ado se urang datang maanta pitih sa truk ka rumah wak baa aka?” Tanya saya.
“Pai wak ka Arab,” jawab anak saya.
“Ngapain ke sana?”
“Lomba azan,” jawabnya cuek.
Tapi soal uang memang problem utama dan kesenangan setiap rumahtangga di manapun. Istri saya punya catatan kecil-kecil yang ia tempel di sudut kiri cermin, sehingga bisa dideteksi setiap hari saat berdandan.
Menurut BPS, setiap rumah tangga dengan 4 anggota keluarga aman “aman” jika berpendapatan Rp2,2 juta/bulan atau masing-masingnya, menerima US$2/hari. Menurut saya tak masuk akal. UMR saat ini di Sumbar di atas Rp1 juta, jika empat orang, tentu Rp4 juta, bukan Rp2,2 juta. Menurut Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) kebutuhan standar seorang wartawan lajang saja Rp2,9 juta.
Masih menurut BPS belanja keluarga terbanyak untuk makanan, internet dan telepon seluler. Pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6,5 persen pada triwulan I-2011.
Saat ini kita, anak-anak kita, tetangga, teman dan siapa saja memang harus menyisihkan dana untuk seluler. Selain itu juga untuk internet, kredit kendaraan dan rumah.
BPS juga memastikan kelas menengah di Indonesia naik jumlahnya. Karena itu, Matahari Dept Store akan membuka ratusan gerai baru hingga 2015 hanya untuk melayani kelas menengah ini. KFC telah membuka gerai-gerai baru dengan life style yang gue banget. Starbucks membuka gerai sesuai sosiologi Indonesia. Orang Indonesia sudah berbagi tempat duduk. Jika di kafe atau restoran ada 4 kursi mengelilingi satu meja, jika seseorang telah duduk di situ, maka tiga kursi lainnya akan kosong sampai seseorang itu pergi. Susah berbagi.
Sementara itu, industri otomatif mengeluarkan mobil-mobil cantik yang trendi.
“Baa ATM tuww?” Istri saya bertanya lagi.
“Wak pasan masinnyo lu,” jawab saya sambil mengedit berita-berita untuk diturunkan edisi besok.
“Pasan minas ciek, teh talua,” kata seorang redaktur pada penjual nasi goreng dekat kantor yang membawa pesanan sebelumnya ke ruang redaksi Singgalang.
“Pak mau pesan apa?” Ia bertanya pada saya.
Pedagang nasi goreng ini, akan jual beli sepanjang malam, jika ada yang membeli. Orang akan membeli kalau ada uang. Uang akan ada, jika kita bekerja. Semakin banyak yang bekerja, semakin berkurang pengangguran.
Saat ini angka pengangguran di Indonesia 8,1 juta jiwa, dua kali penduduk Singapura.
Kalaulah saya punya ATM di sudut dapur, tentu apa saja bisa saya buat. ATM di sudut dapur tentulah maksudnya, bukan fisik ATM, tapi yang yang melimpah, sehingga apa saja bisa dipesan.
Malam ini, tak muluk-muluk, saya pesan sepiring nasi goreng tambah teh telur. Makan malam yang nikmat sambil bekerja.
Uang punya sejarahnya sendiri, juga bagi penjual nasi goreng. (*)