On 5/06/2011 05:16:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Da, harusnyo ado masin ATM di suduik dapua rumah wak ko ha.” Istri saya mengirim SMS dari rumah, saat saya masih di kantor.
“Ha ha ha, tangguang pabrik pitih selah,” jawab saya.
Istri saya sarjana akuntan. Saya sarjana sejarah, ibarat bumi dan langit, berjauhan. Tapi, saya belajar sejarah ekonomi. Belakangan saya mengambil master pemasaran, maka agak bersinggunganlah ilmu kami.
Bagi saya dan istri, juga anak-anak, hampir semua jadi kelakar. Banyak uang, jadi kelakar, sedang bokek, jadi bahan lelucon juga.
“Kok ado se urang datang maanta pitih sa truk ka rumah wak baa aka?” Tanya saya.
“Pai wak ka Arab,” jawab anak saya.
“Ngapain ke sana?”
“Lomba azan,” jawabnya cuek.
Tapi soal uang memang problem utama dan kesenangan setiap rumahtangga di manapun. Istri saya punya catatan kecil-kecil yang ia tempel di sudut kiri cermin, sehingga bisa dideteksi setiap hari saat berdandan.
Menurut BPS, setiap rumah tangga dengan 4 anggota keluarga aman “aman” jika berpendapatan Rp2,2 juta/bulan atau masing-masingnya, menerima US$2/hari. Menurut saya tak masuk akal. UMR saat ini di Sumbar di atas Rp1 juta, jika empat orang, tentu Rp4 juta, bukan Rp2,2 juta. Menurut Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) kebutuhan standar seorang wartawan lajang saja Rp2,9 juta.
Masih menurut BPS belanja keluarga terbanyak untuk makanan, internet dan telepon seluler. Pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6,5 persen pada triwulan I-2011.
Saat ini kita, anak-anak kita, tetangga, teman dan siapa saja memang harus menyisihkan dana untuk seluler. Selain itu juga untuk internet, kredit kendaraan dan rumah.
BPS juga memastikan kelas menengah di Indonesia naik jumlahnya. Karena itu, Matahari Dept Store akan membuka ratusan gerai baru hingga 2015 hanya untuk melayani kelas menengah ini. KFC telah membuka gerai-gerai baru dengan life style yang gue banget. Starbucks membuka gerai sesuai sosiologi Indonesia. Orang Indonesia sudah berbagi tempat duduk. Jika di kafe atau restoran ada 4 kursi mengelilingi satu meja, jika seseorang telah duduk di situ, maka tiga kursi lainnya akan kosong sampai seseorang itu pergi. Susah berbagi.
Sementara itu, industri otomatif mengeluarkan mobil-mobil cantik yang trendi.
“Baa ATM tuww?” Istri saya bertanya lagi.
“Wak pasan masinnyo lu,” jawab saya sambil mengedit berita-berita untuk diturunkan edisi besok.
“Pasan minas ciek, teh talua,” kata seorang redaktur pada penjual nasi goreng dekat kantor yang membawa pesanan sebelumnya ke ruang redaksi Singgalang.
“Pak mau pesan apa?” Ia bertanya pada saya.
Pedagang nasi goreng ini, akan jual beli sepanjang malam, jika ada yang membeli. Orang akan membeli kalau ada uang. Uang akan ada, jika kita bekerja. Semakin banyak yang bekerja, semakin berkurang pengangguran.
Saat ini angka pengangguran di Indonesia 8,1 juta jiwa, dua kali penduduk Singapura.
Kalaulah saya punya ATM di sudut dapur, tentu apa saja bisa saya buat. ATM di sudut dapur tentulah maksudnya, bukan fisik ATM, tapi yang yang melimpah, sehingga apa saja bisa dipesan.
Malam ini, tak muluk-muluk, saya pesan sepiring nasi goreng tambah teh telur. Makan malam yang nikmat sambil bekerja.
Uang punya sejarahnya sendiri, juga bagi penjual nasi goreng. (*)

0 komentar :

Posting Komentar