On 6/26/2011 07:33:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
“Are you ready? Tangan di atas... Ampun dije, matikan lampunya sebentar dong! Ayo kita kemon...”
Diskotik itu pindah ke ruang publik, di pinggir jalan, dekat rumah amaknya.
“Ayo kemon, goyang terus...”
Beginilah suasana pada sebuah pertunjukan orgen tunggal malam hari, di Sumbar.
Waktu muda saya sering masuk diskotik, bar atau klub malam. Makanya saya tahu, apa yang dilihat dalam pertunjukan orgen tunggal di tepi jalan di dekat rumah penduduk itu, mirip bahkan melebihi suasana di diskotik.
Miris saya melihat suka cita remaja putra berjoget-joget bersama gadis berpakaian minim. Pasak moral sudah rapuh. Di kampungnya sendiri diadakan hiburan malam dengan orgen tunggal. Kalau adu pintar bernyanyi, baguslah.
Ini tidak, orgen berdentum, nyanyi tak ada. Yang ada hanya musik house mix. Musik bikin gila, berjoget bagai kesetanan. Hipnotisnya, apalagi kalau bukan gadis berpakaian minim.
Tak soal sebenarnya, tapi bukan dekat rumah amak awak, tapi di diskotik. Membayar masuk. Kalau dengan orgen tunggal, dipandang oleh adik dan kemenakan, ampun dije, usahlah diperbuat juga.
Fenomena joget syahwat dengan iringan orgen tunggal, di daerah kita “belum apa-apa” Di daerah lain, mati tegak kita dibuatnya. Sangat berani, sangat jitu, langsung ke sasaran.
Fenomena ini merupakan salah satu bentuk pelarian anak muda atas berbagai larangan yang diciptakan secara semu oleh pemerintah dan ulama, tapi lupa mengisi jiwa anak muda itu dengan bersungguh-sungguh.
Pelajaran di sekolah hambar, etika tidak diperhatikan, moral sekadar disebut-sebut. Rasa hormat hanya tertulis dalam buku. Orang-orang seusia saya yang berasal dari kampung, mandi di pancuran saja akan ditunda, jika di sana urang sumando sadang mandi. Malu.
Sekarang beradu pusar dengan pusar karena berjoget di depan umum, malah riang gembira. Tak mengapa kalau kedua pusar orang sejenis. Yang ini berbeda kelamin. Makin malam, kian yahud.
Ampun dije.... matikan lampu sebentar dong!
Joget kian gila, kian merangkul, berkeringat. Musik mencabik malam, orang di rumahnya tak bisa tidur. Memekak.
Pemain orgen sudah kelelahan, mereka ingin tidur. Sungguh, tapi audiens masih meminta.
Musik terus dipilin, lampu kelap-kelip menambah syahdu suasana. Kian intim, kian lengket, semakin kencang.
Dan, di Limapuluh Kota berkelahilah orang saat orang baralek ketika orgen dimainkan. Belum malam benar, tiba-tiba darah sudah tertumpa.
Goyang dangdut, minuman keras, harga diri, emosi mendidih. Bentrok.
Baralek di mana-mana saat ini, harus pakai orgen tunggal. Bagus, masak hening-hening saja. Yang tak bagus, pemuda yang memanfaatkan situasi.
Tuan rumah dipaksa menyediakan minuman keras. Kadang tuan rumah pula yang merasa tak lengkap kalau tak pakai minuman keras.
“Indak baa doh, bitu pulo adatnyo,”. Minum sambil main domino. Galak- galak. Menjelang subuh pulang. Yang lain tak main domino, tapi selalu berada di depan pentas. Menunjukkan kebolehannya. Apa lagi kalau bukan berjoget.
Ampun dije. Sudah saatnya, orgen tunggal saat baralek malam hari dihentikan, karena korban sudah jatuh. Ibu hamil tua di Limapuluh Kota, terbang darahnya, pingsan, dilarikan ke rumah sakit lalu tewas. Ini terjadi karena orang berkelahi pakai cangkul pada acara baralek keluarganya. (*)
On 6/17/2011 06:44:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
"Sedia minuman dingin: Mijon, Pokariswet, Akua, Prutang dan lain-lain.”
Tulisan ini dibuat di atas karton ditempel di peti es. Peti es itu diletakan di atas motor. Motor itu dibawa keliling kampung. Lantas bertemu seseorang yang pakai HP BlackBerry dan dikodaknya. Gambar itu dibagikannya kepada teman-temannya dan akhirnya sampai ke HP saya.
Tidak perlu ejaaannya benar, yang panting pesannya sampai dan sangat dimengerti.  Si pedagang keliling membawa minuman dingin, berbagai merek. Ada minuman Mizone, yang sebagian lidah anak Indonesia susah menyebut “Z”, maka jadilah mijon. Untuk nama orang juga begitu, Tarman Azzam, disebut Tarman Ajjam. Azan, jadi ajan, zaman dulu jadi jaman dulu, disingkat jadul.
Juga ada Pocari Sweat, tapi ditulis pokariswet. Tak soal, maksudnya sama. Untuk apa susah-susah. Lantas Aqua, diganti akua. Juga tak masalah. Bacaannya sama. ‘K” lebih akrab dibanding “Q”.
Juga Frutang, diganti Prutang. Bacaan juga tetap sama, pesannya sama. Dan lagi, “F” agak asing dibanding “P”. Waktu saya masih di SD tertulis “telefon” kini sudah telepon saja. Telah terjadi perubahan-perubahan. Nafas, tak tahunya sudah berganti napas saja.
Banyak yang sudah diganti orang, illegal logging berganti ilegal loging, bukannya pembalakan. Event, diganti iven. Image sudah imej saja.
Di Kamus Besar Bahasa Indonesia juga begitu. Rakyat dari Sabang sampai Merauke menyebut cabe, kamus hebat itu bersitegang saja sendiri menulisnya dengan cabai. Rakyat lebih suka menyebut praktek, tapi menurut kaedah harus praktik. Di lidah kemaren, di kamus kemarin. Apa boleh buat. Berselisih saja sebutan dan tulisan.
Jadi apa salahnya kalau penjual minuman keliling menuliskan sesuai dengan apa yang dibaca orang? Bukankah bahasa untuk berkomunikasi. Ada yang dituturkan, ada yang ditulis.
Tapi pada sisi lain, ini memperlihatkan betapa rendahnya pemahaman anak negeri pada bahasanya sendiri. Tapi untuk apa pula bahasa tinggi-tinggi, kalau dengan bahasa rendah saja, yang dimaksud bisa sampai.
Begitulah hidup ini, apa adanya. Yang penting uang dapat dan halal. Bahasa tinggi, tapi korupsi, apalah gunanya. Para koruptor cenderung menjadi memakai Bahasa Indonesia dalam kesehariannya. Atau sering berbahasa Indonesia. Bisa menulis surat, bisa atau mengerti Bahasa Inggris. Dan, harum.
Soal harum, tersebab parpum atau parfum nan wangi. Tersebab sabun yang dipakai, tersebab banyak hal. Selain harum, juga necis. Necis bisa karena kain yang bagus, gunting baju yang bakacak dan selera akan pakaian.
Selain harum dan necis juga sibuk. Sibuk bukan buatan. Telepon genggam banyak. Urusan banyak pula. Penting-penting semua. Saking pentingnya, dipanggil jaksa tak bisa datang. Dipanggil terus, maka larilah dia ke Singapura.
Yang haus, yang haus, tersedia mijon, pokariswet, akua dan prutang. (*)
On 6/03/2011 05:34:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
Mobil Anda menggilas sebuah bola plastik dan harus mengganti. Tak mahal. Bola itu menggelinding ke tengah jalan, karena disepak anak-anak yang bermain di pinggir jalan.
Haruskah diganti? Seharusnya tidak.
Sebuah sepeda motor menabrak mobil dari belakang. “Apak ma-rem mandadak sae mah,” kata dia.
Begitu sering kita dengar pertengkaran di jalan raya. Yang dipersalahkan si pemilik mobil yang kena tabrak. Seharusnya tidak, sebab sudah ada aturan lalulintas, berapa jarak antara kendaraan. Main SMS dan menelepon sedang membawa kendaraan dilarang, tapi tak diindahkan. Maka terjadilah kecelakaan.
Kalau mobil Anda keluar dari jalan kecil, hendak masuk ke jalan raya, kepala mobil sudah sampai di tengah jalan, adakah yang mau berhenti agak dua detik saja, guna memberi kesempatan pada Anda untuk lewat? Tidak. Kendaraan Anda dianggap menghalangi jalan, karena itu, tak perlu diberi kesempatan. Maka macet akutlah di ujung Jembatan Andalas dan di Simpang Kuranji Padang atau kadang-kadang di Padang Lua, Bukittinggi.
Tiba-tiba Anda terperanjat karena ada motor menyalip dengan kencang dari kiri. Ketika lain, tiba-tiba pula Anda harus memijak rem sekuatnya, karena di jalan sempit, malam hari, dari depan datang motor tanpa lampu. Bola lampu tak terbeli, HP-nya keren.
Di lampu pengatur lalulintas, di kota manapun di Sumbar, setelah lampu merah, maka menyalalah lampu hijau. Mobil Anda nomor lima dalam deretan, di belakang ada empat mobil lagi. Tentu begitu hijau, mobil Anda tak bisa langsung tancap gas, karena ada mobil lain di depan, yang sopirnya harus mengatur porseneling terlebih dahulu. Tapi, nasib sial menimpa Anda, diklakson berkali-kali. Klakson itu, mewaliki percakapan. “Capeklah hengak”.
Bagi orang di belakang, begitu lampu hijau, maka semua mobil di depannya harus bergerak serentak, agar ia tak terhalangi. Tak peduli, pokoknya jalan. Dilihatnya mobil Anda belum bergerak juga, dapek klasun ciek. Dongkol dia pada kita.
Lampu pengatur lalulintas di sebuah simpang empat, digital. Kini hijau, maka bergeraklah kendaraan dari arah berlawanan. Jika lurus tak soal, tapi yang satu belok kanan, yang satu lurus, bertemu di tengah-tengah. Siapa yang harus mengalah barang sedetik dua detik? Tak ada. Lampunya yang salah. Lampu yang salah dipakai untuk orang yang tidak taat peraturan lalulintas, maka kacaulah jadinya.
Jika keluar kota, di tengah jalan sebuah truk membelintang, karena gardannya pecah. Tapi syukur masih tersisa sedikit ruang untuk melaju. Antrean kiri - kanan sudah mulai panjang. Tiba-tiba muncul mobil mengambil jalur kanan hendak mendahului semua mobil yang antre tadi. Dari kiri begitu, dari kanan juga begitu. Hebat-hebat mereka membawa mobil. Akibatnya, penuhlah jalan oleh mobil, bagai jalur satu arah. Begitu, truk yang membelintang tadi, bisa disingkirkan, maka macet panjang tak terelakan, sebab semua jalan sudah terisi mobil. Tak ada jalur kiri dan kanan lagi. Dari dua arah seperti itu, maka macetlah 4 jam.
“Abak ang, kecek ang abak ang punyo jalan ko”
“Abak ang lo, lai pakai SIM ang yuang?”
Dua orang bertengkar. Kenapa? Yang satu sedang menelepon, yang satu sedang kirim SMS. Yang satu mobil, lainnya motor. Bertemu di simpang tiga tanpa lampu merah. Kedua kendaraan hampir bertabrakan. Di belakang mereka, kendaraan telah menumpuk, motor sudah menyemut. Klakson memekakan telinga.
Kedua-duanya tak punya SIM.
Jalan raya kita, adalah wajah kita. (*)