On 6/03/2011 05:34:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
Mobil Anda menggilas sebuah bola plastik dan harus mengganti. Tak mahal. Bola itu menggelinding ke tengah jalan, karena disepak anak-anak yang bermain di pinggir jalan.
Haruskah diganti? Seharusnya tidak.
Sebuah sepeda motor menabrak mobil dari belakang. “Apak ma-rem mandadak sae mah,” kata dia.
Begitu sering kita dengar pertengkaran di jalan raya. Yang dipersalahkan si pemilik mobil yang kena tabrak. Seharusnya tidak, sebab sudah ada aturan lalulintas, berapa jarak antara kendaraan. Main SMS dan menelepon sedang membawa kendaraan dilarang, tapi tak diindahkan. Maka terjadilah kecelakaan.
Kalau mobil Anda keluar dari jalan kecil, hendak masuk ke jalan raya, kepala mobil sudah sampai di tengah jalan, adakah yang mau berhenti agak dua detik saja, guna memberi kesempatan pada Anda untuk lewat? Tidak. Kendaraan Anda dianggap menghalangi jalan, karena itu, tak perlu diberi kesempatan. Maka macet akutlah di ujung Jembatan Andalas dan di Simpang Kuranji Padang atau kadang-kadang di Padang Lua, Bukittinggi.
Tiba-tiba Anda terperanjat karena ada motor menyalip dengan kencang dari kiri. Ketika lain, tiba-tiba pula Anda harus memijak rem sekuatnya, karena di jalan sempit, malam hari, dari depan datang motor tanpa lampu. Bola lampu tak terbeli, HP-nya keren.
Di lampu pengatur lalulintas, di kota manapun di Sumbar, setelah lampu merah, maka menyalalah lampu hijau. Mobil Anda nomor lima dalam deretan, di belakang ada empat mobil lagi. Tentu begitu hijau, mobil Anda tak bisa langsung tancap gas, karena ada mobil lain di depan, yang sopirnya harus mengatur porseneling terlebih dahulu. Tapi, nasib sial menimpa Anda, diklakson berkali-kali. Klakson itu, mewaliki percakapan. “Capeklah hengak”.
Bagi orang di belakang, begitu lampu hijau, maka semua mobil di depannya harus bergerak serentak, agar ia tak terhalangi. Tak peduli, pokoknya jalan. Dilihatnya mobil Anda belum bergerak juga, dapek klasun ciek. Dongkol dia pada kita.
Lampu pengatur lalulintas di sebuah simpang empat, digital. Kini hijau, maka bergeraklah kendaraan dari arah berlawanan. Jika lurus tak soal, tapi yang satu belok kanan, yang satu lurus, bertemu di tengah-tengah. Siapa yang harus mengalah barang sedetik dua detik? Tak ada. Lampunya yang salah. Lampu yang salah dipakai untuk orang yang tidak taat peraturan lalulintas, maka kacaulah jadinya.
Jika keluar kota, di tengah jalan sebuah truk membelintang, karena gardannya pecah. Tapi syukur masih tersisa sedikit ruang untuk melaju. Antrean kiri - kanan sudah mulai panjang. Tiba-tiba muncul mobil mengambil jalur kanan hendak mendahului semua mobil yang antre tadi. Dari kiri begitu, dari kanan juga begitu. Hebat-hebat mereka membawa mobil. Akibatnya, penuhlah jalan oleh mobil, bagai jalur satu arah. Begitu, truk yang membelintang tadi, bisa disingkirkan, maka macet panjang tak terelakan, sebab semua jalan sudah terisi mobil. Tak ada jalur kiri dan kanan lagi. Dari dua arah seperti itu, maka macetlah 4 jam.
“Abak ang, kecek ang abak ang punyo jalan ko”
“Abak ang lo, lai pakai SIM ang yuang?”
Dua orang bertengkar. Kenapa? Yang satu sedang menelepon, yang satu sedang kirim SMS. Yang satu mobil, lainnya motor. Bertemu di simpang tiga tanpa lampu merah. Kedua kendaraan hampir bertabrakan. Di belakang mereka, kendaraan telah menumpuk, motor sudah menyemut. Klakson memekakan telinga.
Kedua-duanya tak punya SIM.
Jalan raya kita, adalah wajah kita. (*)

0 komentar :

Posting Komentar