On 7/29/2011 05:54:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
Seseorang sibuk mencari imsakiyah. Ia tak mau luput dari jadwal yang tepat untuk makan sahur dan berbuka puasa. Biasanya imsakiyah itu ditarok di bawah kaca di meja, di tempel di kamar dan di dapur, dekat istrinya memasak.
Istrinya tak peduli benar dengan jadwal-jadwal itu. Baginya puasa biasa-biasa saja. Tiba sahur, ya sahur, saat berbuka, ia cicipi kolak. Terus shalat. Bagi suaminya, Ramadhan sangatlah istimewa.
Saking istimewanya, ia tidak boleh dipagarahan, selama Ramadhan. Ia berkali-kali bilang, “den puaso mah,” katanya. Begitu tahun-tahun sebelumnya.
Keinginannya banyak benar, kolak ini, kolak itu, randang ini, randang itu, gulai ini, gulai itu. Waktu berbuka, ia icak-icak alim. Dicicipi sedikit, lalu bergegas Shalat Maghrib berjemaah di mushalla. Sambil shalat, pangananya terus saja ke meja makan. Shalat tak sah!
Mendengar pengajian tak luput sekali jua, begitu sejak dulu. Tahun ini akan seperti itu pula. Mengangguk-angguk balam dia di mushalla. Ditanya isi pengajian dua malam lalu, ia lupa. Persis khutbah Jumat. Sejak SD ia mendengar khutbah Jumat, tapi tak berbekas di dirinya sampai sekarang. Lagi pula isi khutbah tak beranjak dari pahala dan dosa. Tidak ada motivasi bagaimana bisa memperbaiki kualitas iman dan kualitas hidup. Sudah ribuan kali ia mendengar ceramah semacam itu. Hambar saja olehnya. Sesuatu yang didengar amat sering, bisa menyebabkan dua hal. Pertama akan berkesan sedalam-dalamnya, kedua bagai air lalu saja.
Ia dibawakan anaknya imsakiyah yang salah cetakannya. Hebohlah si bapak ini. “Apa pula ini, imsakiyah salah, rusak puasa orang,” kata dia.
“Sebenarnya Papa, kita tak perlu imsakiyah, sebab setiap waktu, juga saat berbuka dan imsak, diperdengarkan dengan mik dari mushalla,” kata si anak.
“Perlulah, wajib ada itu, rusak puasa kita.”
“Kalau begitu tak usah saja mushalla pakai mik, selain itu kita matikan saja radio dan televisi, jadi kita berpedoman pada imsakiyah saja.”
“Imsakiyah itu penting, untuk membantu kita, berbuka lebih awal berpahala,” kata si bapak.
Ia memang tamaknina berpuasa. Tahun lalu, ia sering duduk di depan televisi. Mendengarkan pengajian. Selain itu ia juga banyak bertanya kepada ustad lewat telepon.
“Pak ustad di studio, bagaimana hukumnya gosok gigi di Bulan Ramadhan?”
“Ndak baa gai doh Pa,” bisik anaknya.
Di mushalla ia sering pula bertanya, “bagaimana puasa kita kalau tak makan sahur?” Pertanyaan lain, “Sah kah puasa, kalau terminum air tanpa sengaja”
Hal-hal sepele semacam itu selalu dipertanyakannya.
“Ma, masak alah 50 taun umua papa, ndak juo tahu soal gosok gigi bulan puaso doh?”
“Aniang selah,” kata mamanya.
Suatu kali si papa bertanya lagi.
“Bagaimana puasa kita kalau mencukia talingo dan lubang iduang, ustad?”
Si bapak, kini telah memiliki empat lembar imsakiyah. Tiap sebentar dilihatnya, makin ke ujung puasa, makin lama orang berbuka, berjarak dua-dua menit. Ia tak suka itu. (*)
On 7/22/2011 05:23:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
“Kapan-kapan saya datang.”
“Nanti akan saya antarkan.”
“Kalau ke sini mampir ke rumah.”
“Singgahlah dulu, minum teh.”
“Nanti saja, terkejar mau ke pasar.”
Ini antara lain, ucapan “palapeh kabek”, basa-basi. Tak bisa diukur.
Kita sering mendengar kata-kata di atas. Ini berkaitan dengan kesibukan orang, sehingga sulit membagi waktu. Juga karena “terpaksa” berbasa-basi.
Di luar itu masih banyak hal lain yang “tidak ada tindaklanjutnya”, karena memang dimaksudkan untuk basa-basi saja.
“Nanti kita bantu, kirim proposalnya.”
“Kalau saya menang, saya takkan melupakan bapak-bapak.”
“Masukan dulu usulannya, biar bisa dibahas.”
Pada akhirnya, tidak ada yang peduli dengan kita, karena tiap orang mempedulikan dirinya sendiri. Paling jauh keluarganya. Tiap orang punya kesibukan, yang tak kalah sibuknya dengan kita.
Tiap orang membawa lelah ke rumah masing-masing, lalu mengurainya sampai tuntas. Mereka menyegarkan diri di rumah yang sama. Memulai hari dengan napas baru. Sore pulang lagi membawa kelelahan dan beban baru.
Karena itu, jika ada yang bisa membantu orang lain, dengan cara apapun, maka hal itu amatlah terpuji. Lambatkanlah kendaraan Anda, agar orang bisa menyeberang. Itulah menolong, meski Anda kehilangan dua tiga detik waktu, tapi penyeberang selamat. Kenapa tatkala kendaraan lain sudah berhenti, Anda menyelonong juga ke depan dengan klakson memekakkan telinga, mempertakut penyeberang jalan?
Jika saja kita bisa membantu orang lain, dengan tidak membuang tisu dari mobil, alangkah eloknya. Jika saja, tiap kita memikirkan mau menolong orang lain setiap hari, maka orang lain akan menolong Anda jauh lebih banyak dari yang terpikirkan. Asal diniatkan atas ridha Allah.
“Ya saya bisa menolong, saya tak punya uang, tapi memiliki koneksi, sabar sebentar, saya telepon.”
“Saya punya, tak banyak, Hamba Allah saja.”
Melegakan. Kita sedang tidak sendirian rupanya. Ada orang lain yang bisa membantu.
“Pulsa Rp20 ribu.”
“Maaf saya benar-benar tak ada uang, kalau ada saya kirim.”
“Ah, masa, Rp20 ribu saja tak ada, kirim cepat ya.”
“Indak ado, sadang panik”
“Sawah sinan kan lai barayia mah”
“Indak ado cek den, baa mengecek-annyo lai, dibuek pabirik pitih amuahe cieknyo”
Diam.
Menolong orang adalah menolong, bukan hutang. Jika orang biasanya menolong kita, semisal pulsa Rp20 ribu, maka jangan anggap ia wajib menolong kita hari-hari berikutnya.
“Lah barubah se nyo kini, sampilik”
Kemudian kita tak ditegurnya lagi.
Si penolong yang sudah tak ditegur itu, sedang ada masalah berat. Tiga anaknya sedang butuh dana untuk kuliah.
Langganan koran pun sudah ia setop. Sudah ia sampaikan hal itu pada Anda, tapi Anda tak percaya juga.
“Ah alasan tu mah.”
Tiap kita punya kesulitan yang tak mungkin selalu dibagi dengan orang lain. Pahami hal itu.
“Minta rokok sabatang, sudah makan bana koha.
“Kok rokok lai, ambiak dua sakali.”
“Pahit hidup sekarang ya”
“Iya, berat benar beban terasa”
“Kalau ada proyek bagi-bagi ya.”
“Kamu kalau ada kabari juga aku”
“Ya pastilah”
“Kapan?
“Agustuslah, setelah termen pertama cair”
“Kalau bisa jelang lebaran”
“Oh ya, minta ongkos pulang, sudah sore”
“Tak ada uang, seret benar”
Ah.... (*)
On 7/08/2011 05:42:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
Diumumkan kepada khalayak ramai, banyak anak miskin dari Sumbar yang lulus SNMPTN di UNP, Unand, UI dan ITB.  Sejumlah pihak tanpa nama, punya nama dan badan sosial serta amil zakat telah membantunya. Ketika anak-anak miskin itu menangis mencari uang, daerah ini punya dana Rp47 miliar ditarok di Bank Nagari. Uang itu hadiah dari PT Rajawali pada 2007.
Perusahaan ini “membayar uang takut” pada Gubernur Gamawan Fauzi, saat terjadi jual beli saham dari Cemex ke Rajawali. Dana sebanyak itu dialokasikan untuk beasiswa.
Kini sudah 2011, dana empuk itu belum bisa diapa-apakan. Maklum orang hebat bertengkar, maka tengkarnya menjadi-jadi. Adu santiang. Yayasan yang dibentuk untuk itu, diurus pula orang-orang sibuk.
Mau benar mereka bekerja, takut, karena pemerintah dan DPRD Sumbar masih bertengkar, kenapa begini, kenapa tidak begitu. Kalau begini apa nanti tepat sasaran dan kalau begitu, siapa yang menjamin ini dan menjamin itu.
Beduk pun berbunyi, musim SMPTN telah tiba, malah sudah diumumkan siapa yang lulus dan tak lulus. Terdengarlah pernyataan dari DPRD Sumbar, “yayasan tak ada masalah, silahkan jalan.” Olala.
“Pengumuman: Diumumkan kepada khalayak ramai, piti paralu kini, diumumkan kini, ngecek-ngecek saja, hasilnya nol besar”
Maka niat baik, jika dikerjakan tidak serius, atau adu santiang, beginilah jadinya. Uang beranak terus, anak miskin tercampak terus, rencana tak jalan-jalan.
Dari 2007 sampai 2011. Padahal, jika dipakai uang Rp47 miliar lebih itu untuk beasiswa anak miskin, maka alangkah banyaknya bisa dibantu.
Kita tidak peka atas penderitaan orang lain. Sulit tersentuh oleh nasib orang-orang kecil, kancang maurus diri sendiri. Suka berpura-pura, sok dekat dengan rakyat.
“Pengumuman: di Pemprov Sumbar juga ada beasiswa anak miskin, tapi kemana perginya? Hallo-hallo, kaum ibu, kaum bapak, kita gotong royong besok seusai Shalat Subuh. Bawa linggis, cangkul dan ladiang”.
Beasiswa di pemerintah, ribet urusannya. Setahu saya, hanya Tanah Datar yang mengumumkan di koran, pemberian beasiswa anak miskin. Mungkin juga Padang Panjang dan Agam tapi saya lupa. Pemprov Sumbar? Entahlah.
Kalau anak miskin yang bersekolah diurus, bisa. Mengurusnya gampang saja. Minta data anak kelas 6 SD, kelas 3 SMP dan 3 SMA saat ini. Gubernur memerintahkan kepada Diknas, harus siap sebulan.
Bupati dan walikota memerintahkan ke Diknas-nya pula harus siap sebulan. Semua data lengkap, nama, umur, jenis kelamin, ayah ibu, pekerjaan, alamat, no hp.
Dalam sebulan data sudah ada, lengkap dengan foto. Data itu, dibaca dengan baik ditelaah dan dicatat. Ketika anak-anak itu ikut UN, lalu menyambung ke sekolah yang lebih tinggi, maka tinggal panggil.
Tentu dananya harus tersedia. Kalau dana untuk seminar, pelatihan, studi banding, turun ke lapangan, dikurangi, atau pengadaan benda-benda tak perlu dihapus, reses disetop sekali saja. Maka anak miskin bernasib buruk itu, akan terbantu.
Tapi ini tidak. Kancang ka awak, lupa mengurus orang miskin. Bukankah mengurus orang miskin kewajiban negara?
“Pengumuman, pengumuman, barangsiapa yang merasa kehilangan senter Eveready tiga batu, harap ambil pada garin.” (*)