On 8/26/2011 05:24:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
Ekonomi mudik di Indonesia diperkirakan Rp105 triliun, sudah termasuk Tunjangan Hari Raya (THR). Sementara itu, menurut Bank Indonesia (BI), dalam suasana Lebaran tahun ini, Padang menjadi penukar uang receh terbesar di luar Jawa. Sampai Selasa (23/8), transaksi uang receh di Sumbar mencapai Rp29 miliar. Tiap hari Rp2,5 miliar.
Uang receh atau uang kecil yang baru, bisa didapat di BI atau di tepi jalan pada beberapa titik di Padang. Penukaran yang baru di tepi jalan itu, menurut MUI Jombang, haram. MUI setempat meminta umat mendapatkannya ke BI saja, biar tak haram. Tapi MUI lain, tidak atau belum memberi fatwa.
Kalau semua orang ke BI menukar receh, bisa dibayangkan betapa panjangnya antrean berhari-hari. Jangan-jangan orang BI pula yang tak sanggup melayani masyarakat. Waktu habis, tenaga habis.
Maka lebih praktis, ditukarkan saja di tepi jalan. Rp1 juta yang baru, dibeli Rp1,1 juta. Itulah yang menurut sebagian orang riba.
Supaya tak riba, Rp1 juta baru, dijual Rp1 juta juga. Lantas si tukang jual dapat apa? Menolong bako saja? Perai? Tak usahlah diriba-ribakan pula, ujung Rp100 ribu itu, kan jasa ia pergi ke BI.
Ujung uang itulah THR bagi si penjual uang receh baru. Kalau diribakan, apa kita mau mencarikan ganti THR baginya? Tokh kita tahu, ia bukan menjual uang dalam artian rentenir. Ia hanya menolong orang yang butuh uang receh baru.
Sementara itu, THR kita sumbernya lain pula. Lain sumber, ujungnya sama, untuk Lebaran. Dari sudut duniawi, THR merupakan salah satu indikasi semaraknya Lebaran atau tidak. Kalau THR kurang, rirayo menjadi dingin.
“Dingin se rayo kini,” kata teman saya. Hal yang sama ia kemukakan pula tahun lalu dan tahun lalunya lagi.
Pernah suatu ketika, belum lama benar, Idul Fitri alangkah meriahnya. Besar hati kita rasanya karena suasana yang tercipta. Kebutuhan anak-anak, istri, diri sendiri, keluarga di kampung terpenuhi. Sudahlah terpenuhi, uang di tangan masih banyak.
Tapi, hari ini skonde sepertinya patah. Tak menggarik jarum panjang dibuatnya. Kalau begitu, jarum pendek jangan harap akan bergerak.
Tapi tidak separah itu. Saya menyaksikan sejumlah orang membimbing putri kecilnya menuju mall, setelah memarkir kendaraannya. Pemandangan lain, beberapa ibu-ibu masuk Pasar Raya Padang dan berbelanja baju, sepatu dan lainnya untuk anak-anaknya.
THR adalah uang yang datang tiba-tiba untuk kebutuhan Lebaran. THR bisa datang dari kantor, teman, sahabat atau siapa saja. Bisa diminta, bisa diberi. Bahkan bisa dengan cara memeras orang.
THR gunanya untuk bersuka cita di hari raya. Di hari raya semua berbaju baru. Jika ada yang tidak, apa boleh buat. 
Selama Ramadhan dan Lebaran, permintaan barang kebutuhan rumah tangga, sandang dan sayur mayur dari konsumen diperkirakan naik hingga 50 persen selama puasa. Sementara itu, BI menyediakan uang tunai Ramadhan dan Lebaran Rp61,36 triliun. Dan itu dalam pecahan kecil.
Betapa agungnya hari raya. Tapi tak bisa diputar kalau tak ada uang. Uang adalah kunci inggrisnya. Dompet Dhuafa Republika melakukan penelitian dan menemukan ekonomi mudik 2010 Rp105 triliun.
Saya kira, pengajian-pengajian kita setelah ini, mulailah dimasukkan forsi ekonominya. Jangan surga neraka saja 100 persen. Bagaimana ekonomi syariah, bagaimana KUR, KUT, usaha mikro, UKM, wirausaha, wiraswasta dan lainnya. Karena itu, wawasan mubaligh memang perlu ditambah.
Sementara itu, marilah kita berlebaran dulu. Libur panjang sampai tanggal 4 September. Makin panjang libur, makin risau hati, sebab dana tak cukup.
Ah, kamari bedo. (*)
On 8/19/2011 05:27:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
Sebuah bank, memasang spanduk di kompleks perumahan saya di Kuranji, Padang. Isinya ajakan agar kami memindahkan kredit kepemilikan rumah (KPR) ke bank tersebut. Tentu saja proses dan bunganya murah.
Tapi saya tersinggung oleh bank tersebut. Mau enaknya saja, menembak di atas kuda. Ketika semua sudah beres, bank ini masuk, dulu kemana dia?
Tapi dari sisi marketing dan persaingan, itu hal wajar. Biasalah.
Saya masih ingat ketika bank BUMN tersebut, menolak memberikan KPR kepada saya, setelah menunggu sekitar sebulan. Padahal berbagai syarat sudah saya berikan. Pegawai bank itu, kabarnya juga sudah datang ke lokasi.
“Maaf Pak, Bapak tidak bisa diberi KPR kalau jumlahnya sebanyak itu,” kata si petugas bank. Sangat kapitalis, sangat curiga dan menganggap enteng penduduk pribumi.
Akhirnya saya pergi ke Bank Nagari di Jalan Pemuda Padang. Dua jam selesai.
Setelah cicilan KPR ke Bank Nagari berjalan sekitar empat tahun tanpa cacat, tiba-tiba suatu pagi, saya melihat spanduk bank milik pemerintah pusat membentang kendor di kompleks saya. Ia mengajak pindah boyong ke banknya.
“Enak aja!”
Setelah sukses mempersulit, kini ia datang. Setelah perang selesai, setelah ombak tenang. Kabarnya tak ada yang mau memindahkan KPR-nya ke bank tersebut.
Saya memang sering sedih atau tersinggung oleh perangai pihak-pihak yang berurusan dengan uang. Pada tahun ketumbar, saat membeli kartu hallo dari Telkomsel, rumah saya dikekernya. Difotonya, dilacaknya aset-aset saya. Sok hebat, sok kaya dan curiganya pada kita orang Melayu, bukan main.
Lihatlah sekarang, sekitar 20 tahun kemudian, penjual kartu Telkomsel ada di mana-mana. Karena itu, saya tidak bisa memaafkan sikap kapitalis yang saya rasakan ketika mengurus kartu hallo dulu itu. Benar-benar Amerika plus Inggris, plus Belanda. Ampun.
Lalu saya ikut KPR di sebuah bank khusus KPR pada 1980-an. Lagi-lagi dikekernya segala penjuru tentang saya.
Diadakan wawancara dengan calon konsumen yang dikumpulkan di aula besar. Kami, ratusan orang, dibuatnya seperti sedang menunggu pembagian zakat dari orang kaya.  Mata besar pegawainya mencurigai si Melayu, seperti saya ini. Menunduk-nunduk kami si calon ketika itu dibuatnya. Nama mandeh kanduang kita dicatatnya berkali-kali. Mengingat hal itu sekarang, naik darah saya oleh bank tersebut.
Lalu, saya membeli mobil, dua jam selesai. Tidak ribet. Tak ada wawancara, keker-mengeker. Mobil lunas, urusan selesai.
Karena pengalaman itu, bagi pasangan usia muda yang mau mengambil rumah lewat KPR, hati-hatilah mendatangi bank. Dari sorot mata pegawai bank itu, kita dianggapnya seolah-olah akan membuat kredit macet saja.
Sesungguhnya, urusan dengan bak itu, tak lebih dari kepercayaan. Bagaimana bank-bank Jakarta itu bisa memercayai kita di Sumbar, bos-bosnya saja tak kita kenal dan kita tak dikenalnya.
Karena itu, saya sarankan sebaiknya ke bank milik daerah sendiri, yaitu Bank Nagari. Lagi pula, kalau lagak pegawai Bank Nagari itu, berlebihan, naik pula bahunya, bisa kita bilang sama dia.
“Biaso-biaso selah gaya sanak, jan naiak pulo bau tu, ibo ati kami mencaliak sanak mah,” langsung mengena.
Kalau pada pegawai bank Jakarta itu, tentu begini:
“Biasa-biasa sajalah gaya Pak, jangan naik pula bahu, iba hati kami melihatmu,” tak masuk gamaknya.
“Apa pula ini,” kata si bankir sambil memperbaiki dasinya. Ha ha ha...
Spanduk kendor di kompleks perumahan saya diayun-ayun angin. Spanduk itu, merupakan wajah persaingan bisnis perbankan. Persaingan yang ketat dan berdarah-darah, bisa membuat konsumen jadi korban. (*)
On 8/12/2011 06:38:00 PM by Khairul Jasmi in , , ,     1 comment
Sudah beberapa hari Ramadhan dilalui. Shalat Taraweh ramai terus. Tapi si bapak malam ini, tak hadir. Ia pusing karena pemerintah melakukan moratorium CPNS. Penghentian sementara.
“Tibo di awak nyo barantian, antah ha ha sae,” katanya pada sang istri.
“Curito se tu nyo Pa, sabanta lai bukak lo liak mah,” kata si istri.
“Nga taraweh Papa?” Tanya sang istri. Sebelum di rumah baru yang sekarang, ia tak memanggil papa pada suaminya, tapi “uda” kadang-kadang “oi” saja. Kini semakin maju saja, apalagi sejak bermobil baru. Dikacaknya dunia. Berpapa dia sekarang.
“Panik den,” kata dia. Anak gadisnya yang baru tamat kuliah sudah cigin ke mushalla. Si bapak cemas, karena anak gadisnya terhambat jadi PNS gara-gara moratorium. Waktu taraweh dua malam lalu, si bapak bersama anak dan istrinya sama-sama ke mushalla. Tenang benar bathinnya. Namun, sesudah Shalat Isya, hapenya bergetar. Sebuah SMS masuk.
“Besok cepat ke kantor, rapat soal moratorium, tahun ini tak terima pns, jumlah yang ada akan didata.”
Sejak itu ia gelisah. Ketika pengajian diberikan ustad, ia menerawang saja. Sudah banyak orang dibantunya, sekarang tiba di anaknya, pemerintah menyetop penerimaan CPNS.
Ketika Shalat Taraweh, si bapak berdiri. Setelah salam, ia menghilang. Waktu mau Witir, dia masuk lagi.
“Manga Papa, mailang-ilang se wakatu sumbayang?” Istrinya bertanya sesampai di rumah.
“Amba pusek den,” jawabnya
“Apa gerangan?”
“Bacaan imam banyak yang salah,” kata dia berdalih.
Istrinya diam sembari menyuguhkan kolak pisang.
“Roti hambar ada ga” ia bertanya.
“Roti hambar apa itu?” istrinya mulai berkucikak.
“Roti amba tadi tu ha, minta stek,”  jawabnya.
“Roti kaleng yang ada.”
“Sumbaranglah,” katanya.
Malam-malam berikut si bapak jarang ke mushalla. Ia selalu keluar rumah, pergi ke warung bertukar pikiran dengan sesama besar.
Mushala mulai berkurang isinya. Di balik kain, induak-induak masih tamaknina shalatnya. Tapi di saf belakang yang diisi anak-anak gadis, tikar mulai kencong-kencong. Ada yang shalat, ada yang duduk, ada yang main SMS, berjanji dengan pacarnya bertemu dekat tiang listrik.
Shalat terasa lama, ayat yang dibaca imam terasa panjang. Ada kakobeh imam, makin panjang ayat, makin meliuk bacaannya. Ayat-ayat pendek tak laku. Yang muda-muda gelisah dibuatnya.
Pagi ini, si bapak bergegas ke kantor. Pukul 10 siang, ia menghilang. Ia mau makan.
“Indak konsentrasi den puaso doh, anak ndak bisa jadi PNS, pamerintah indak manenggang,” kata dia pada temannya yang sama-sama tidak berpuasa.
“Perlakikan sajalah anakmu itu, habis perkara,” kata si teman.
“Dia mau kerja jadi PNS.”
“Lakinya cari yang PNS”
Si bapak tak menjawab. Ia seruput kopi hangat di gelas kecil. Ia sulut sebatang rokok. Ia buka satu kancing baju. Ia mulai main SMS, entah dengan siapa.
Nanti malam, ia tak taraweh lagi. (*)