On 8/19/2011 05:27:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
Sebuah bank, memasang spanduk di kompleks perumahan saya di Kuranji, Padang. Isinya ajakan agar kami memindahkan kredit kepemilikan rumah (KPR) ke bank tersebut. Tentu saja proses dan bunganya murah.
Tapi saya tersinggung oleh bank tersebut. Mau enaknya saja, menembak di atas kuda. Ketika semua sudah beres, bank ini masuk, dulu kemana dia?
Tapi dari sisi marketing dan persaingan, itu hal wajar. Biasalah.
Saya masih ingat ketika bank BUMN tersebut, menolak memberikan KPR kepada saya, setelah menunggu sekitar sebulan. Padahal berbagai syarat sudah saya berikan. Pegawai bank itu, kabarnya juga sudah datang ke lokasi.
“Maaf Pak, Bapak tidak bisa diberi KPR kalau jumlahnya sebanyak itu,” kata si petugas bank. Sangat kapitalis, sangat curiga dan menganggap enteng penduduk pribumi.
Akhirnya saya pergi ke Bank Nagari di Jalan Pemuda Padang. Dua jam selesai.
Setelah cicilan KPR ke Bank Nagari berjalan sekitar empat tahun tanpa cacat, tiba-tiba suatu pagi, saya melihat spanduk bank milik pemerintah pusat membentang kendor di kompleks saya. Ia mengajak pindah boyong ke banknya.
“Enak aja!”
Setelah sukses mempersulit, kini ia datang. Setelah perang selesai, setelah ombak tenang. Kabarnya tak ada yang mau memindahkan KPR-nya ke bank tersebut.
Saya memang sering sedih atau tersinggung oleh perangai pihak-pihak yang berurusan dengan uang. Pada tahun ketumbar, saat membeli kartu hallo dari Telkomsel, rumah saya dikekernya. Difotonya, dilacaknya aset-aset saya. Sok hebat, sok kaya dan curiganya pada kita orang Melayu, bukan main.
Lihatlah sekarang, sekitar 20 tahun kemudian, penjual kartu Telkomsel ada di mana-mana. Karena itu, saya tidak bisa memaafkan sikap kapitalis yang saya rasakan ketika mengurus kartu hallo dulu itu. Benar-benar Amerika plus Inggris, plus Belanda. Ampun.
Lalu saya ikut KPR di sebuah bank khusus KPR pada 1980-an. Lagi-lagi dikekernya segala penjuru tentang saya.
Diadakan wawancara dengan calon konsumen yang dikumpulkan di aula besar. Kami, ratusan orang, dibuatnya seperti sedang menunggu pembagian zakat dari orang kaya.  Mata besar pegawainya mencurigai si Melayu, seperti saya ini. Menunduk-nunduk kami si calon ketika itu dibuatnya. Nama mandeh kanduang kita dicatatnya berkali-kali. Mengingat hal itu sekarang, naik darah saya oleh bank tersebut.
Lalu, saya membeli mobil, dua jam selesai. Tidak ribet. Tak ada wawancara, keker-mengeker. Mobil lunas, urusan selesai.
Karena pengalaman itu, bagi pasangan usia muda yang mau mengambil rumah lewat KPR, hati-hatilah mendatangi bank. Dari sorot mata pegawai bank itu, kita dianggapnya seolah-olah akan membuat kredit macet saja.
Sesungguhnya, urusan dengan bak itu, tak lebih dari kepercayaan. Bagaimana bank-bank Jakarta itu bisa memercayai kita di Sumbar, bos-bosnya saja tak kita kenal dan kita tak dikenalnya.
Karena itu, saya sarankan sebaiknya ke bank milik daerah sendiri, yaitu Bank Nagari. Lagi pula, kalau lagak pegawai Bank Nagari itu, berlebihan, naik pula bahunya, bisa kita bilang sama dia.
“Biaso-biaso selah gaya sanak, jan naiak pulo bau tu, ibo ati kami mencaliak sanak mah,” langsung mengena.
Kalau pada pegawai bank Jakarta itu, tentu begini:
“Biasa-biasa sajalah gaya Pak, jangan naik pula bahu, iba hati kami melihatmu,” tak masuk gamaknya.
“Apa pula ini,” kata si bankir sambil memperbaiki dasinya. Ha ha ha...
Spanduk kendor di kompleks perumahan saya diayun-ayun angin. Spanduk itu, merupakan wajah persaingan bisnis perbankan. Persaingan yang ketat dan berdarah-darah, bisa membuat konsumen jadi korban. (*)

0 komentar :

Posting Komentar