On 9/23/2011 05:48:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
“Ada dua srigala yang bertarung dalam diri manusia. Satu cinta, lainnya benci. Yang menang, serigala yang selalu diberi makan.”
Saya suka mencatat, kata-kata bermakna ketika menonton film asing. Kutipan di atas saya ambil dari sebuah film produksi Amerika. Saya lupa filmnya.
Srigala itulah yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya sering memakan kita, tanpa disadari. Karena cinta, orang bisa hanyut sampai ke laut lepas, lalu tenggelam tanpa diketahui siapa saja. Oleh hal yang sama, seseorang bisa terbang ke bulan dan tak pulang-pulang. Oleh cinta juga, manusia menemukan surga di setiap langkahnya. Mabuk kepayang dia.
Karena benci, dunia rasanya mau dikeping, tapi pengepingnya tak ada. Tersebab benci, muak saja kita melihat orang lain. Bahkan jijik.
“Jangan cemas dengan apa yang terjadi, sebab waktu akan mengobati segalanya,” kata indah lainnya yang saya catat. Masih dari film.
Waktu akan mencairkan perasaan benci dan cinta. Waktu pula yang bisa mendekatkan seseorang dengan lainnya. Atau menjauhkannya, hingga lupa.
Teman saya, yang sudah lupa merokok, karena jantungnya yang rusak, tiba-tiba merokok lagi. “Sakali-sakali,” katanya.
Nyaris saya marah kepadanya. Waktu telah menyebabkan, ia kembali mencari rokok, setelah sekian lama berhenti. Ia lupa penyakitnya.
Teman lainnya, mengaku agak rusak hatinya, ketika tak teman lamanya, lupa. “Luponyo jo den, sombong bana,” kata dia.
Betapa takkan lupa, si teman sudah berdasi, makin gagah. 
“Sabana lupo den, serius,” kata si teman. Ia payah “memperbaiki” hubungannya kemudian.
“Setelah berbicara berpisah, baru saya tahu, beliau guru saya rupanya,” kata seorang teman yang lain, habis mewawancarai seorang tokoh masyarakat. Si guru telah pensiun. Sudah lama. Bekas muridnya ini, sudah jadi orang. Kemudian ia balik kanan, mencari si guru, untuk minta maaf. Tapi, si guru sudah lenyap. Pak guru pensiun itu, juga tak mengenalnya.
Semua ini terjadi karena waktu.
Kita acap lalai memberi makan sanubari. Mungkin srigala, bukanlah tamsilan yang tepat, terutama untuk rasa cinta. Namun apapun, seseorang bisa tak pandai lagi meningkahkan cinta untuk kehidupannya.
Ia lupa berdandan, karena perihnya kehidupan. Ia lupa mandi bersih karena kesibukan. Ia lupa mencium suami atau istrinya. Lupa dengan sentuhan pada anak-anaknya.
Tapi ia tak lupa melirik lawan jenis yang ia sukai. Terbit jongkeknya. Srigalanya sedang riang. (*)
On 9/09/2011 07:55:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
Sesudah Lebaran Idul Fitri, paling tidak sampai Kamis (8/9), produktivitas menurun. Indikasi ini saya amati di dunia jurnalistik. Saya melihat pola kerja wartawan suratkabar di Sumatra Barat, saya sigi semua situs berita langganan Singgalang, juga situs-situs koran dan kantor berita lainnya. Semua menunjukkan, produktivitas menurun. Tidak diketahui bagaimana di lapangan pekerjaan lain.
Ini bisa disebabkan, banyaknya wartawan yang cuti atau masih lelah sehabis Lebaran. Atau bisa pula, energi wartawan tersedot oleh liputan mudik dan balik musim liburan.
Apapun, Lebaran telah berlalu. Badan terasa segar, dompet terasa tipis. Tanggal semaikin tua pula. Sementara itu berbagai kewajiban tak terlunasi semuanya.
Kue lebaran, membisu dalam botol di meja ruang tamu. Dingin. Sesekali dikulek, terasa manis. Namun batuk ini belum reda juga karena kebanyakan memakan yang manis-manis saat Lebaran. Flu mulai pula terasa karena cuaca yang tak bersahabat.
Kacang tojin, apapun alasannya, lamak dan badaruak , tak bisa dilupakan. Kacang tojin yang paling merasai, tinggal sedikit lagi. Pekan depan akan habis, karena semua tangan manggaruaknya.
Lebaran kembar, tidak jadi pembicaraan lagi. Pertikaian itu, kata ulama adalah rahmat. Beliau menyebutnya “perbedaan” bukan “pertikaian”. Tapi kalau terus-menerus berbeda, apa itu rahmat juga?
Tak tahulah, yang pasti, berbeda atau pun sama, hampir semua perusahaan swasta di seluruh Indonesia, menganggap Agustus adalah bulan yang berat. THR dan gaji harus dibayar bersamaan, meski ada yang membayar gaji sehabis Lebaran.
Pilihan pertama terasa alangkah enaknya. Betapa tidak, THR dan gaji sedundun. Bapitih wak rirayo. Habis Lebaran, ludes semua. Sementara kelompok kedua, agak mangambok menjelang Lebaran. Tapi, begitu masuk kantor, mereka langsung terima gaji. Dapat energi baru. THR habis, gaji diterima. Seperti menerima piutang lama. tak disangka-sangka.
Begitulah Lebaran, sebuah gerakan kolosal yang bernilai triliunan rupiah. Lantas kemudian yang tersisa adalah pakaian baru habis dipakai yang belum dicuci. Sepatu baru tergetak begitu saja di dekat pintu.  Bunga di halaman yang biasa disiram, belum disentuh. Kota mulai sibuk, sesibuk hari-hari sebelumnya.
Sementara desa mulai sepi, kumandang azan Zuhur di menara masjid, seolah pekik kepiluan. Lengang bukan buatan nagari sekarang. Perantau telah pergi, petani ke sawah dan ke ladang. Harga hasil tanaman serba murah, semoga bulan depan membaik.
Anak-anak pergi ke sekolah, tak ada kisah yang hendak diceritakan, karena mereka masih mengantuk-ngantuk.
Lantas di langit tua, rembulan bangkit malam demi malam. Dari sepotong sabit, lantas malam berikut kian besar dan akhirnya, Selasa atau Rabu besok akan purnama. Bulan bulat penuh, saat bumi temaram disiram sinarnya. Saat purnama itu datang 40 tahun silam, masih teringat, anak-anak bermain tali di halaman rumah.
Kini purnama mungkin berlalu begitu saja, tanpa ada anak-anak yang riang di halaman rumahnya.
Lebaran telah usai, mohon maaf lahir batin. (*)