On 9/09/2011 07:55:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
Sesudah Lebaran Idul Fitri, paling tidak sampai Kamis (8/9), produktivitas menurun. Indikasi ini saya amati di dunia jurnalistik. Saya melihat pola kerja wartawan suratkabar di Sumatra Barat, saya sigi semua situs berita langganan Singgalang, juga situs-situs koran dan kantor berita lainnya. Semua menunjukkan, produktivitas menurun. Tidak diketahui bagaimana di lapangan pekerjaan lain.
Ini bisa disebabkan, banyaknya wartawan yang cuti atau masih lelah sehabis Lebaran. Atau bisa pula, energi wartawan tersedot oleh liputan mudik dan balik musim liburan.
Apapun, Lebaran telah berlalu. Badan terasa segar, dompet terasa tipis. Tanggal semaikin tua pula. Sementara itu berbagai kewajiban tak terlunasi semuanya.
Kue lebaran, membisu dalam botol di meja ruang tamu. Dingin. Sesekali dikulek, terasa manis. Namun batuk ini belum reda juga karena kebanyakan memakan yang manis-manis saat Lebaran. Flu mulai pula terasa karena cuaca yang tak bersahabat.
Kacang tojin, apapun alasannya, lamak dan badaruak , tak bisa dilupakan. Kacang tojin yang paling merasai, tinggal sedikit lagi. Pekan depan akan habis, karena semua tangan manggaruaknya.
Lebaran kembar, tidak jadi pembicaraan lagi. Pertikaian itu, kata ulama adalah rahmat. Beliau menyebutnya “perbedaan” bukan “pertikaian”. Tapi kalau terus-menerus berbeda, apa itu rahmat juga?
Tak tahulah, yang pasti, berbeda atau pun sama, hampir semua perusahaan swasta di seluruh Indonesia, menganggap Agustus adalah bulan yang berat. THR dan gaji harus dibayar bersamaan, meski ada yang membayar gaji sehabis Lebaran.
Pilihan pertama terasa alangkah enaknya. Betapa tidak, THR dan gaji sedundun. Bapitih wak rirayo. Habis Lebaran, ludes semua. Sementara kelompok kedua, agak mangambok menjelang Lebaran. Tapi, begitu masuk kantor, mereka langsung terima gaji. Dapat energi baru. THR habis, gaji diterima. Seperti menerima piutang lama. tak disangka-sangka.
Begitulah Lebaran, sebuah gerakan kolosal yang bernilai triliunan rupiah. Lantas kemudian yang tersisa adalah pakaian baru habis dipakai yang belum dicuci. Sepatu baru tergetak begitu saja di dekat pintu.  Bunga di halaman yang biasa disiram, belum disentuh. Kota mulai sibuk, sesibuk hari-hari sebelumnya.
Sementara desa mulai sepi, kumandang azan Zuhur di menara masjid, seolah pekik kepiluan. Lengang bukan buatan nagari sekarang. Perantau telah pergi, petani ke sawah dan ke ladang. Harga hasil tanaman serba murah, semoga bulan depan membaik.
Anak-anak pergi ke sekolah, tak ada kisah yang hendak diceritakan, karena mereka masih mengantuk-ngantuk.
Lantas di langit tua, rembulan bangkit malam demi malam. Dari sepotong sabit, lantas malam berikut kian besar dan akhirnya, Selasa atau Rabu besok akan purnama. Bulan bulat penuh, saat bumi temaram disiram sinarnya. Saat purnama itu datang 40 tahun silam, masih teringat, anak-anak bermain tali di halaman rumah.
Kini purnama mungkin berlalu begitu saja, tanpa ada anak-anak yang riang di halaman rumahnya.
Lebaran telah usai, mohon maaf lahir batin. (*)

0 komentar :

Posting Komentar