On 10/30/2011 06:04:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments

Khairul Jasmi

Pada 31 Oktober ini, penduduk dunia, mencapai 7 miliar orang. Bayangkanlah hal-ikhwal dan kurenah tentang manusia sebanyak itu. Mulailah, tentang apa saja, sesuka hati Anda.
Saya akan mambayangkan orang yang senama, sama tanggal lahir, sama nama ibu-bapaknya. Sama pula nama pasangannya. Jika orang yang senama saja dikumpulkan, mungkin perlu satu negara untuk mereka saja.
Mungkin ada 5 juta yang namanya Ani. Lantas 3,5 juta namanya Bayu. Kemudian Michel ada 3,2 juta. Lantas Robert, 2,9 juta. Ling-ling, 4 juta, Cheng Ho Way, 2,1 juta, Khamel, 3 juta, Nasser, 2,3 juta dan seterusnya.
Yang perangainya sama, misalnya, suka meludah sembarangan tempat, satu pula gubernurnya. Yang sarawanya melorot terus, pakai walikota pula satu. Yang suka ribut saja, diperlukan satu kapolda.
Ha ha ha... dan yang profesinya wartawan, diperlukan satu presiden. Di negeri ini, kesibukan terjadi luar biasa, sebab semua pandai menulis berita. Berbeda dengan negeri yang isinya dokter semata. Dokter memeriksa dokter yang lain, perdebatan soal penyakit saja. Semua berbaju putih dan menyetir sendiri.
Bagaimana kalau semua tukang palak, tukang loge, tukang cido, tukang patah, tukang etong, tukang rabuik, tukang catut dibuatkan sebuah negara? Siapa yang mampu jadi presidennya?
Mana yang lebih menarik dengan negara tukang selingkuh? Dari ujung ke ujung isinya peselingkuh saja? Mungkin di sini pulsa paling banyak terjual. Tukang selingkuh diselingkuhi. Pangkat dua kwadrat.
Pada 31 Oktober dan seterusnya ke atas, maka jumlah penduduk akan terus bertambah dari 7 miliar. Laporan berjudul The State of World Population 2011 mengatakan ada kesenjangan lebar antara hak dan kesempatan antara laki-laki dan perempuan.
Demikian pula perbedaan antar negara, dan bahkan di dalam populasi tiap negara. Studi tersebut melacak tren jumlah penduduk dan demografi di sembilan negara, yaitu Tiongkok, Mesir, Ethiopia, Finlandia, India, Meksiko, Mozambique, Nigeria dan negara bekas Yugoslavia, Republik Macedonia.
Studi itu menurut VOA mencatat pada 2011, sebanyak 60 persen jumlah penduduk hidup di Asia dan 15 persen di Afrika. Tapi jumlah penduduk Afrika berkembang lebih dari dua kali percepatan pertumbuhan penduduk Asia.
Lantas masih ada 2,6 miliar penduduk yang membuang air besar sembarangan. Limbahnya lebih dari 200 juta ton tidak tertangani dengan baik.
Jumlah penduduk yang banyak, itu membuat lahan semakin sempit. Di China daratan misalnya, jumlah penduduknya paling banyak di dunia. Di India, pemandangan memiriskan masih saja terjadi karena kemiskinan. Di Pulau Jawa, apalagi di Jakarta, manusia terlihat sangat banyak.
Tapi sudahlah, selagi belum kiamat jumlah penduduk akan terus bertambah dan berkurang di beberapa tempat akibat bencana atau penyakit bahkan peperangan.
Lantas berapa orang yang bernama Khairul, Chairul, Khoirul, Hairul, Khairil dan Chairil? Ciek pula negaranya. Presidennya tentu saja saya, sebab saya sudah presiden juga sejak lama. He he he ... (*)

On 10/14/2011 07:04:00 PM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Khairul Jasmi

“Pak sandalnya belang,” karyawan Singgalang menegur sekaligus mengingatkan saya. Sandal jepit saya memang belang. Yang kanan warnanya hitam dan ada lingkaran putih di atasnya, talinya kuning. Kiri, putih, ada lingkran hitam. Talinya silver.
“Baa kok tarompa iko angku bali, balang ha,” kata saya sebulan lalu pada staf yang membelikannya.
“Itu modelnya sekarang,” kata dia enteng.
Model rupanya. Maka bersandal belanglah saya tiap hari di kantor. Seumur-umur, inilah baru saya menggunakan alas kaki yang semacam itu.
Banyak yang mengira saya salah pasang sandal. Saya tersenyum saja.
Sambil memakainya, terpikir juga, ada-ada saja ide kreatif orang untuk melariskan dagangannya. Sandal jepit saya itu, modelnya memang bagus. Ide kreatif telah menabrak hal tabu, tak sama kiri dan kanan. Seperti sandal curian saja. Tapi itu pula sekarang yang tren. Karena itu, saya yakin, banyak yang memakainya.
Yang saya takut, besok-besok, sandal dijual sebelah saja. Yang sebelah pakai sandal sendiri yang sudah lama. Kalau itu terjadi, benar-benar gila. Atau dijual sepasang, tapi dua-duanya kanan, atau dua-duanya kiri. Mana tahu, ide gila itu, menarik pula oleh kita yang juga sudah rada-rada gila.
Atau sepatu dibuat belang pula. Kalau celana sudah ada yang belang. Kaki kanan merah, kiri hitam. Atau warna lain. Baju juga sudah ada. Produk-produk semacam itu, ada saja yang membelinya. Pasar memang sulit ditebak.
Kembali ke sandal belang. Sebelumnya saya memakai sandal jepit yang sudah berjejak oleh kaki saya. Ada jejak telapak kaki tercetak di atasnya, akibat terlalu lama dipakai. Tak enak dipandang, kemudian diganti dengan sandal jepit empuk. Berbunyi-bunyi, padahal tak kena air. Aneh. Selain itu, jika lama dipakai, kaki saya berbau, seperti bau kaos kaki empat hari tak diganti.
Maka saya tukar dengan si belang. Yang baru ini bikin masalah lagi. Maka hilir mudiklah saya di kantor dengan tarompa aneh tersebut.
“Pak tarompanyo balang,” tiap sebentar saya diingatkan. Belum tau dia rupanya.
Saya mengagumi ide kreatif sandal jepit belang itu. Pada banyak peristiwa pemasaran, ide kreatif justru mendatangkan untung.
Produk yang unik dan lucu, bisa menggoda konsumen. Untuk sandal jepit, pembeli bukanlah konsumen yang loyal. Asal sandal dan tetap pada fungsi dasarnya, serta harga terjangkau, beli.
Ide kreatif untuk produk apa saja, adalah celah untuk membesarkan perusahaan. Hal-hal yang biasa saja sudah banyak dijual orang. Hadirkan yang tidak biasa, namun tetap masuk akal. Di situlah, pasar akan menggeliat.
Begitulah sandal jepit, Menurut literatur sandal adalah alas kaki yang mungkin sudah dikenal manusia sejak zaman Mesir Kuno. Di zaman kuno, orang India, Assyria, Romawi, Yunani, dan Jepang juga mengenakan sandal.
Karena itu literatur perlu diperkaya lagi. (*)