On 11/21/2012 06:23:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments

KHAIRUL JASMI
Kalau soal awal puasa Ramadhan bertikai, maka langsung keluar pernyataan, “perbedaan itu rahmat.” Tapi, bagi warga Timur Tengah, perbedaan adalah sengsara. Buktinya, Jalur Gaza di Palestina digempur Israel, negara-negara Islam berkicau bak murai batu, setelah itu senyap, sepi, hening, diam lalu icak-icak tidak tahu.
On 8/28/2012 10:01:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments

Jalan raya telah jadi ladang pembunuhan selama lebaran. Peristiwa itu bisa untuk bahan koreksian total bagi hidup berbangsa. Pemerintah dan masyarakat luas, jika tak kunjung berubah, maka anak-anak bangsa ini, akan terus bergelimpangan di jalan raya. Kita sepertinya menyelepekan peristiwa kematian.
On 7/14/2012 01:32:00 AM by Khairul Jasmi     No comments


On 7/02/2012 03:30:00 AM by Khairul Jasmi in ,     No comments

Khairul Jasmi/Yose 
Malam telah larut, mata mengantuk berat, tapi suasana masih ramai. Menteri BUMN Dahlan Iskan, memilih tidur di Pesantren Darul Ulum, Aie Pacah, Padang. Kontan saja, Dirut Semen Gresik, Semen Padang, Walikota Padang, serta pejabat lain tidur bareng di tempat itu.
On 7/02/2012 03:29:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments

Padang – Singgalang
Wartawan termasuk seniman tidak bisa diatur, tidak bisa diarahkan, bahkan digiring. Mereka mempunyai arahan sendiri. Wartawan profesional, bukan berarti tidak boleh salah, tapi begitu salah, ia harus melakukan sesuatu yang profesional sehingga tidak ada yang dirugikan.
On 4/03/2012 07:50:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Demo telah selesai, harga BBM tak jadi naik, 70-an orang jadi tersangka, sejumlah polisi dan wartawan jadi korban karena disiram zat kimia. Cacat seumur hidup. Apa lagi setelah ini? Banyak yang tersisa, sebagai berikut:
On 4/03/2012 07:49:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Minyak. Negeri ini ribut dari ujung ke ujung karenanya. Semua lupa, minyak diciptakan Tuhan karena Ia sayang pada manusia.
Lantas kita berkelahi.
Banyak orang berkelahi karena tidak mendapat. Lebih banyak karena mendapat, tapi tak sama banyak. Sama banyak pun, acap juga membawa sengketa, karena satu sama lain menilai, tak seharusnya seperti itu. Mestinya banyak untuk saya.
Maka muncullah dinamika tidak sehat, saling rampas, saling rebut. Kadang laki orang diambil juga. Bini awak dilarikan entah oleh siapa. Muncullah tragedi. Pada level awal, pacar kita dijujai orang lain. Mengamuk tak jelas ujung pangkalnya.
Peluang kerja untuk kita, tapi karena tidak ada koneksi maka yang lulus orang lain. Mengurus e-KTP, seharusnya duluan, tapi antrean awak dipotong orang. Naik pesawat terbang, bisa juga begitu. Apalagi soal beras raskin dan bantuan gempa.
Nah yang paling ribut soal politik. Hiruk pikuk negeri dibuatnya. Lihatlah pekan lalu, keributan tak terhindarkan karena BBM. Tuhan membuat minyak bukan untuk diributkan, tapi untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya. Yang terjadi justru pertengkaran hebat sejak dulu sampai sekarang. Mulai dari Timur Tengah menjalar ke seluruh dunia. BBM merupakan pemicu paling ampuh.
Jangan-jangan BBM merupakan kutukan pada manusia. Jangan-jangan…
BBM sejatinya untuk kesejahteraan, bukan untuk melukai hati dan perasaan, bukan untuk menghina dan menistakan orang lain.
Bukan untuk dijadikan alat politik. Jika Tuhan mengisap semua minyak di perut bumi seketika ini, maka alangkah malangnya manusia. Apa akal kita lagi?
Kufur nikmat, tidak pandai mem pergunakan rahmat yang diberikan Tuhan.
Saya teringat almarhumah nenek di kampung. Ia nyalakan api di tungku dengan kayu bakar, dengan meneteskan sedikit minyak tanah. Ia nyalakan lampu togok dengan minyak tanah. Ia jadikan minyak itu sebagai obat juga.
Nenek membelinya ke warung seliter dua liter atau sebotol kaca. Ia simpan baik-baik. Kalau satu ketika talendo oleh saya botol itu dan minyaknya tumpah, nenek akan marah. “Lai pandai ang mambuek minyak tu,” katanya.
Pekan lalu kita menyaksikan berhari-hari ratusan ribu orang marah karena minyak. Tidak satupun ada kalimat pujian atas kebesaran Tuhan. Kita lupa.
Kita sibuk bertengkar mencaci maki presiden sendiri. Mahasiswa lupa dengan orang lain. Tampil seolah-olah merekalah yang hebat dan di tangannya nasib bangsa ini.
Negeri kita sobek oleh suara anak-anaknya, terbakar oleh tingkah generasinya. Lantas ada yang bersorak riang. Ada yang sedih, ada yang pura-pura tidak tahu.
Kedewasaan kita habis sudah, luruh oleh emosi. Hanyut dalam sungai kedengkian. Kita memperalat nikmat Tuhan untuk tujuan-tujuan sesaat.
Nenek saya, suatu ketika, kehabisan minyak tanah. Ia bergegas turun mencari daun kelapa kering. Ia bakar, kemudian dihembus-hembusnya lantas dimasukkan ke dalam tungku. Ia pelihara api itu hingga memakan kayu bakar.
Saya teringat semua itu, ketika orang berteriak lantang tentang BBM.
Kita nyaris kehilangan kesadaran atas hal-hal kecil tentang diri sendiri. (*)
On 4/03/2012 07:48:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Pemerintah Sumbar menjadikan Pariangan, Tanah Datar sebagai suatu ikon nagari tuo di Minangkabau, mengikuti alur cerita dalam Tambo. Bahkan api untuk kaldron berbagai iven diambil dari sana. Tapi ketika diminta dana untuk memperancak nagari tersebut, usulan ditolak.
Kisah Pariangan juga dijual ke wisatawan dan dicatat di buku-buku. Sebagai tanda pemerintah provinsi peduli, seharusnya bangun jugalah agak sedikit. Gerbang pun jadi. Jangan lantas ditolak begitu saja. Saya dapat informasi, dana untuk itu dicoret oleh Kemendagri. Mudah-mudahan informasi itu salah.
Orang pariwisata menuliskan nagari-nagari di Tanah Datar sebagai desa sejarah dan budaya, mengajak para turis ke sana, tapi tidak memedulikannya. Mambali nak ibu, mamakan nak lamang. Ini gaya lama.
Pemkab Tanah Datar sendiri, seharusnya juga memberikan perhatian agak berlebih kepada Pariangan, seperti juga Pagaruyuang. Ini penting, untuk menunjukkan, “kita punya sesuatu”.
APBD Sumbar telah kehilangan rasa, yang seharusnya tidak demikian. Atau pengelola pemerintahan yang sudah tidak peduli? APBD 2012 setahu saya memuat anggaran untuk ABS-SBK. Sepanjang tidak ada Tambo Minangkabau baru, maka Pariangan menjadi sentral, seperti juga sejumlah nagari lain di Tanah Datar.
ABS-SBK bisa dipakai untuk menolong Pariangan, seperti yang diperjuangkan sejumlah anggota DPRD Sumbar selama ini. Dan, gagal!
Bagi saya penolakan atas usulan anggaran yang secuil untuk Pariangan, menunjukkan hilangnya pemahaman atas simbol-simbol. Apa perlunya simbol? Sama dengan logo. Penting.
Bukankah Pariangan romantisme sejarah belaka? Kalau ia, maka hidup memerlukan romantisme, hidup tidak lurus saja. Ada cengkoknya seperti lagu dangdut. Lagu tanpa cengkok, cobalah nyanyikan, lain pula dengungnya.
Ah, sejarah Minangkabau 83 persen dongeng dan sisanya baru fakta. Ini sudah sejak dulu disebut-sebut, tapi bukan berarti harus membenci suku bangsa sendiri. Kita hanya punya sejarah moderen, sejarah masa lalu, tidak seberapa. Jangan bersikap seperti itu. Merasa hebat sendiri. Suku bangsa kita dihargai orang, harus didahului oleh kita sendiri.
Tapi tanpa sentuhan pemerintah pun, Pariangan akan terus ada. Sejarah telah memakukan nagari itu di kaki Gunung Marapi, yang dicaci-maki pula dengan pantun “sagadang talua itiak.” Dijadikan lawak-lawakan. Jangankan gunung, isi Tambo saja dilecehkan. Bundo Kanduang dan orang-orang hebat dari Kerajaan Pagaruyuang pun tak luput.
Cobalah kita hidup di zaman kerajaan, apa bisa jadi raja? Kita belum ada apa-apanya. Coba tulis Tambo agak satu, kalau bisa.
Dan soal Pariangan? Banyak yang menyangsikan kebenarannya, karena tidak ada catatan sejarahnya. Jangankan Pariangan, tanggal lahir saja banyak yang tak mencatat. Selain itu, tahukah Anda siapa kakek dari kakek kita? Tahukah batas-batas nagari sendiri?
Nah lupakan? Jadi mentang-mentang tak ada catatan sejarahnya, lantas dianggap dongeng. Kita belum ada apa-apanya. Sungguh. (*)
On 4/03/2012 07:47:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Murai batu pintar berkicau, ayam
jantan, hebat berkokok. Pengamat
piawai mengeritik. Semua jadi salah. Semangat yang ditularkan oleh gencarnya para pengamat menghabisi pemerintah adalah, rasa jengkel, kebencian dan muak.
Ada pendapat yang menyatakan, jika banyak orang merasa gembira, seperti seusai pertandingan hebat, tim kita menang, maka gembiralah suatu negeri. Kegembiraan yang sama itu, tidak muncul begitu saja, tapi dipertemukan oleh sesuatu, mungkin magnet alam. Ada kekuatan tarik menarik antara yang satu dengan yang lain. Begitu juga rasa takut. Saya tak tahu benar, apa ini memang bisa dibuktikan.
Demikian juga dengan sentrum dari para pengamat di televisi, membuat tensi kita sering naik. Marah saja kita melihat keadaan. Rasa marah yang tak lepas justru membuat sakit.
Kita boleh kritis, tapi kalau lebih separoh hidup dihabiskan untuk mencaci-maki saja, maka hal itu tidak baik. Berpikiran positif, jauh lebih baik.
Itu kata orang. Hidup saya, tidak ditentukan oleh seberapa kuat kritikan diberikan kepada pemerintah, tapi bagaimana menata kehidupan itu sendiri.
“Naik-an selah, eboh bana,” kata seorang pegawai rendahan kepada saya. Ini soal BBM.
Ia pakai motor kredit. Belum lunas. Tiap pagi dipakai untuk mengantar anaknya ke sekolah. Juga untuk membonceng istrinya pergi kerja. Motor itu, teman setianya. Sering dicuci, dilap dan dipatut-patut.
“Baa tu, kan maha jadi-e bensin, “ kata saya.
“Memang,” kata dia. Ia mengaku, akrobatik hidupnya merupakan nasibnya sendiri. Pemerintah datang memberi gaji dan kemudian me naikkan harga. ia sedih, sesedih istri nya. Tapi, sebenarnya keluarganya bahagia. Ada rumah kecil, anak-anaknya sekolah dan motor barunya tak pernah rewel.
“Muak ambo dek pengamat di tipi tu, serius,” kata dia lagi.
“Baa kok muak?”
“Mamaneh-mamanehan se karajonyo.”
Seorang teman, karyawan perusahaan swasta, gajinya di atas Rp3 juta sebulan, menguliahi saya soal harga BBM. Intinya, pemerintah tidak becus.
Suatu malam di Jakarta bulan silam, saya bertemu seorang teman. Ia parlente, diajaknya saya ke diskotik. Saya ikuti. Ia berjoget, saya tidak. Saya nyaris kedinginan di sana, karena AC-nya disetel amat rendah. Kepala nyut-nyut, kulit gatal, karena saya galigato. Tak kuat dengan dingin.
“Bagaimana kampung kita?”
“Biasa saja.”
“Kabarnya BBM akan naik, tentu orang kampung semakin susah,” kata dia.
“Kalau susah di kampung, terbang ke rantau,” jawab saya.
Diskusi soal BBM ada di mana-mana. Tapi tidak satupun yang mau berpikir jernih. Saya sendiri, tidak tahu, apakah pemerintah melakukan tindakan yang tepat atau salah.
Pengetahuan yang dangkal menyebabkan saya tidak tajam dan lambat mengambil kesimpulan.
Namun begitu, saya bertanya pada diri sendiri, benarkah kita ini lebih hebat dari insinyur Jepang? Lebih hebat dari menteri?
Rasanya tidak juga. Jujur, saya muak dengan murai batu yang selalu berkicau di televisi. Dia saja yang benar, orang lain tidak. (*)
On 3/09/2012 08:04:00 PM by Khairul Jasmi in     1 comment
KHAIRUL JASMI

Menerima atau menolak naiknya harga BBM? Kalau menerima, tak usah banyak cakap, diam saja dan tunggu 1 April. Menolak! Apa langkah yang harus diambil?
Bisa sebagai berikut:
Pertama demo dan berteriak-teriak sampai keluar urat leher. Bisa sedikit, bisa dengan massa banyak atau sangat banyak dari Sabang sampai Merauke. Masalahnya, apa ada yang mau? Kalau tak mau, batal. Kalau mau, cobalah kalau iya keras benar hati. Anarkis? Ditangkap polisi, kalau janji polisi ditepati. Tidak anarkis, televisi kurang suka.
Kedua, demo parsial. Di sana demo, di sini demo, berserak-serak. Boleh juga, beritanya dua kolom dan beberapa detik di televisi. Bakar kertas karton atau ban, agak lama tayangnya.
Ketiga caci maka saja presiden, sepertinya Presiden SBY bukan orang Indonesia, tapi dari negeri lain. Rasa malu atau hormat, buang saja. Ini lebih disuka sejumlah media. Kalau saya tak mau mencaci-maki Kepala Negara kita sendiri, keterlaluan.
Keempat, buat tulisan, pilih koran yang mau menurunkannya. Tapi yang rancak bahasanya, kalau bertele-tele tak dimuat.
Kelima, hasut rakyat, kalau berani dan kalau rakyat mau dihasut. Kalau tak mau? Jangan dihasut. Bukankah rakyat sudah cerdas. Menurut saya, kini rakyat tak mau lagi dihasut, sebab pengalaman pahit 1998 di bidang ekonomi masih terasa. Semua mahal, pekerjaan sulit.
Keenam, beri analisa yang benar, kalau naik dampaknya apa dan kalau tak naik akibatnya apa. Cari data pembanding, suguhkan dengan baik.
Ketujuh, cari dalih. Apa? Begini: BBM pula yang dinaikan, lihatlah korupsi merajalela, kebocaran di sana-sini. Itu bereskan dulu. Pemerintah yang tidak-tidak saja.
APBN dan APBD habis untuk gaji PNS saja. Yang ini sangat benar. Jalan saja berlobang dibiarkan. Pembangunan memusat di Pulau Jawa.
Kedelapan, hening-hening sajalah, sebab harga-harga sudah naik duluan.
Untuk pemerintah
Pertama, gaji PNS belum naik, harga duluan melambung. BBM sebulan lagi akan naik, harga sekarang sudah merangkak naik. Apa ada jalan keluarnya? Tak lain sekadar retorika menyenang-nyenangkan hati rakyat.
Kedua, tunjangan seluruh PNS ditambah, tunjangan (subsidi) untuk rakyat dikurangi atau dicabut. Kenapa bisa begini?
Ketiga, kenapa lantas benar angan pemerintah kepada BBM? Juga listrik? Bagaimana kalau seluruh uang jalan dan uang rapat selama sebulan di seluruh instansi pemerintah distop? Bagaimana kalau reses DPR dan DPRD dipangkas agak sekali saja? Tak mau kan? Pasti tidak. Biarlah BBM naik, dari pada itu pula yang dipangkas.
Keempat, kalau mau menakaikan harga BBM naikan sajalah, jangan banyak benar lampu-lampunya, bikin persoalan saja. Semasa Pak Harto diumumkan pukul 22.00 WIB, pukul 00.00 WIB berlaku, habis perkara.
Kelima, korupsi habisilah jangan retorika saja. Bagaimana caranya? Pak Prabowo mungkin bisa, sebab waktu kampanye Pilpres tempo hari, ia bilang, yang pertama-tama harus diatasi adalah soal kebocoran. Tanya pada Prabowo.
Keenam, pemerintah jangan lembek. Agak cepat dan tangkas sedikit.
Nah kapan harga BBM naik? Kami rakyat tinggal menerima nasib saja. (http://hariansinggalang.co.id/b-b-m/)
On 3/09/2012 08:03:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Suatu malam pekan lalu, teman semasa sekolah dulu, membawakan saya dadiah dan ampiang dalam jumlah yang banyak.
“Angku den danga suko ampiang dadiah,” kata dia.
Sebagaimana adat kita, saya balas dengan memberinya duku. Duku saya tiba-tiba sangat banyak, tiga karung. Duku itu dikirim oleh dua orang. Pertama oleh teman sama sekolah dulu, yang juga teman oleh teman saya yang membawa dadiah. Duku lainnya dari kawan yang lain pula.
Dadiah adalah susu kerbau yang dibekukan. Enaknya. Duku adalah buah-buahan. Enak pula. Ampiang dari beras pulut. Juga enak. Makin enak galau digelimangi dengan tangguli.
Ampiang dadiah merupakan kuliner Minang. Bisa ditemukan di Padang Panjang, Bukittinggi dan tempat lain. Jangan-jangan sebentar lagi, jadi ternikmat pula di dunia, menemani randang.
Asia adalah tempat asal kerbau. Sekitar 95 persen dari populasi kerbau di dunia terdapat di sini.
Kebiasaan makan dadiah (hanya) di Minang suku Sinhdi di India dan Pakistan. Bahkan mungkin dadiah berasal dari kata dudh dari bahasa mereka. Atau sebaliknya.
Menurut wikipedia kebiasaan orang Persia memakan susu fermentasi dengan bawang merah dan mentimun, mirip dengan kebiasaan makan dadih dengan bawang di Minangkabau untuk sambal.
Dan sedang membuat tulisan ini, HP saya berdering. Teman masa sekolah saya yang lain menelepon. Ia curhat betapa nestapanya nasib guru, banyak benar aturan yang ditimpakan kepadanya. Susah benar jadi guru. Tiap sebentar gajinya dipotong, tiap sebentar kena marah. Murid-murid semakin liar. Ikut kuliah di UNP, belum lulus-lulus juga, dosen sudah sekali ditemui untuk menyelesaikan skripsi.
“Itulah guru, untuang angku ndak jadi guru,” kata si teman itu bagai mercon.
“Kawan wak mangakikahan anaknyo, jan lupo datang yo, ari Kamih “ katanya lagi.
“Lai ado duku?”
Saya asal bertanya saja. Dia juga menjawab sekenanya.
“Karupuak jangek lai,” kata dia.
Bicara soal nasib, keluh kesah atau membawa sesuatu untuk sahabat, adalah hal baik. Atau saling sapa lewat SMS.
Menariknya, teman-teman saya semasa sekolah dulu, tidak pernah bilang ada temannya yang sombong. Semua ceria, semua saling membagi cerita tentang teman lainnya, yang jarang berkomunikasi sekalipun.
Akan halnya dadiah dan duku, merupakan oleh-oleh paling berkesan yang saya terima dari seorang teman. Si teman rupanya dapat kabar saya suka kuliner itu, dari teman yang lain pula.
“Paja tu soko ampiang dadiah mah,” kata teman kepada teman di hadapan teman.
Kalau duku? Pasti si teman tahu saja, buah itu disukai hampir oleh semua orang. Saya duga ia punya ladang duku di dekat sekolahnya.
Betapa enaknya punya teman. (Singgalang Minggu » 11 Maret 2012 (18 Rabiul Akhir 1433 H) » )
On 3/09/2012 08:02:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Pekan lalu, saya naik darah karena SMS seseorang. Untuk kejadian itu saya minta maaf pada seseorang itu.
Kejadiannya:
Malam yang sebagian orang menikmatinya dengan ketenangan, bagi saya justru puncak kesibukan. Banjir dalam beberapa hari ini, membuat saya dan seluruh wartawan Singgalang harus memantau seluruh kawasan Sumbar. Pada saat yang sama dunsanak saya terkapar di rumah sakit. Masuklah SMS dari seseorang ke HP saya. Ia mempersoalkan keputusan Mahkamah Agung (MA).
“Ado ado se bla bla...” Itulah penggalan SMS tersebut
“Gilo mah,” jawab saya sekenanya.
Lama kemudian, sekitar satu jam SMS dari nomor yang sama masuk lagi. Isinya kira-kira, pemred kok seperti itu, asal jawab saja.
Saya telepon, HP mati. Berkali-kali, mati juga. Saya kirim SMS minta maaf. Pending. Saya kirim, kenapa jabatan saya dipersoalkan, tak masuk.
Satu jam kemudian, telepon genggam itu aktif lagi. Langsung saya telepon.
Saya diajari atau dinasihati. Saya terima. Tapi ketika saya tanya siapa si Bapak, ia tak mau menjelaskan siapa dia.
“Ndak usahlah, ndak usahlah..,” kata dia. Saya bujuk terus, ia tetap tak mau.
Lantas, “Nama saya Khairul Jasmi, tinggal di Kuranji, kerja di Singgalang, nah, Bapak siapa, mungkin kita berteman,” kata saya.
Sungguh nomor itu tak tersimpan lagi di HP saya. Kenapa? HP saya Nokia E90, teman-teman di kantor tahu, sering rusak dan sering dibawa ke bengkel. Nomor yang disimpan, setengahnya pasti hilang kalau sudah dibawa ke bengkel. Tapi saya terlanjur suka dengan HP tersebut.
Kasus itulah yang menimpa. Saya jelaskan, HP saya terpijak, rusak, mohon disebutkan nama. Akhirnya ia mau dan bilang dari Bukittinggi. Ketika itulah darah saya naik.
Untuk kasus saya marabo berteriak-teriak dan lepas kontrol padanya saya minta maaf. Saat SMS-nya masuk saya berada dalam gebalau kerja yang sumpek. Dia tidak tahu, ini terbukti dalam SMS nya, “Ia minta maaf mengganggu ketenangan saya.” Padahal sungguh-sungguh saat itu saya sama-sekali tidak tenang, tapi sedang kusut masai diburu deadline. Sedang di puncak kesibukan. Jangankan bercanda, makan saja lupa. Kalau ketinggalan satu berita saja dibanding koran kompetiter, habislah saya. Ia tidak tahu.
Yang ia tahu, SMS nya harus dibalas, atau kalau tak suka jangan dibalas sama-sekali. Lantas kenapa mengirim SMS kepada saya? Tidak ada SMS yang tak saya jawab. Lebih dari 70 persen saya jawab dengan bagarah, karena sebanyak itu pula SMS dikirim teman—teman sendiri dengan nada yang sama. Si Bapak sendiri mengirim SMS dalam nada bagarah pula, ketika saya jawab bagarah, saya dikalaseknya.

Pesan moralnya:
*     Lebih dari 70 persen SMS yang kita terima, bisa menimbulkan salah pengertian, karena itu baca lagi sebelum dikirim.
*     Jangan asal mengirim SMS saja, tenggang pula keadaan orang, mungkin dia sedang sibuk, sedang tabanam dalam banda, atau sedang mendorong mobil mogok. Atau sedang bertengkar dengan pemilik kios rokok, karena hutang belum dibayar juga.
*     Mulailah kalimat SMS dengan kata-kata sapaan, “Pak manggadua sabanta...” Lantas lanjutkanlah dengan apa yang hendak kita maui. Atau, “Dimana Pak?”
*     Mulai dengan ucapan salam, misal “As Ww dan akhiri dengan
“    Wass KJ” atau apa saja. Beri identintas SMS itu, supaya orang tahu siapa yang mengirim. Kenapa? Karena HP orang nasibnya tak sama dengan HP kita, misalnya HP orang itu tapijak kudo, pecah. Dilambuik-an bini ka dindiang karena ada SMS aneh. Hanyut saat banjir, dicopet orang, kartunya patah dan sebagainya. Jadi, bisa saja nomor-nomor di kartu lenyap. Bahkan HP dan kartu-kartunya lenyap.
*     Kalau pada teman akrab atau sekantor, mungkin tak perlu begitu, sebab dari gaya bahasa saja, kita bisa tahu.
Saya sering sekali menerima SMS dari orang yang nomornya tidak tercatat oleh berbagai sebab. Saya dibilang sombong. Dia saja, pernah pula tak menyimpan nomor saya, tak pernah saya cap sombong.
Akan halnya si Bapak yang membuat saya naik darah pekan lalu itu, tentu saya menyesali diri karena marah-marah. Marah tidaklah baik, sebab hati yang riang adalah obat.
Nah, Pak maaf yo, baa lai, lapeh sumbeknyo. Kadang pengalaman datang dari hal-hal keseharian yang sangat ringan: SMS. Tapi SMS adalah hal ringan yang berat, bahkan ada lagunya. Laris manis. (Singgalang Minggu » 4 Maret 2012 )
On 3/09/2012 07:59:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Bagi Anda, terutama anggota DPRD se-Sumbar yang sering ke Jakarta, hati-hatilah, nanti bertemu Uya Kuya, terbongkar semua rahasia. Hati-hati juga dengan sejumlah orang, dan beberapa di antaranya meneteng kamera televisi. Mana tahu, Anda sedang membelai-belai rambut orang di eskalator mall, ditangkap kamera. Gambarnya ditayangkan televisi tanpa sengaja. Bisa badaram tibo di rumah.
Uya Kuya adalah nama alias, nama aslinya Surya Utama lahir di Bandung, 4 April 1975 adalah seorang penyanyi, presenter, pemain film, produser, pesulap, dan pengusaha dari Indonesia. Pesulap ditambah hipnotis, merupakan sebuah acara Uya Kuya yang ditayangan di televisi swasta. Sasarannya memang abg (anak baru gede). Tapi mana tahu, sekali ini terbit ulahnya, Anda jadi sasaran.
Ini pesan serius, sebab kata orang, banyak yang alim bin alim awak-awak ini dan bila ke Jakarta, menginap dekat-dekat Masjid Istiqlal. Sebaliknya, banyak pula yang tidak alim, kerjanya main cewek saja. Belanja dengan uang negara, termasuk pijat dan sebagainya.
Teman saya bilang begini:
Kalaulah suatu ketika ada laki-laki dari Padang di Jakarta, sedang berada di sebuah mall, menikmati senja atau sedang memilih-milih baju dengan ‘pasangan jakartanya’ tertangkap kamera. Kebetulan wartawan televisi sedang mengambil gambar untuk berita, dengan tema ‘trend belanja di mall.’ Sorot sana, sorot sini. Awak yang sedang asyik memilih baju sambil bergenggaman tangan, tak sadar kamera televisi sedang menyorot.
Lantas besok pulang ke Padang. Senja sesampai di rumah, bercelana pendek, sambil meminum teh bersama istri dan nonton televisi. Tak lama kemudian muncul merek mall, kemudian lobinya.
“Awak pernah ke mall ko ndak Pa,” kata si istri.
“Oh yo, wakatu libur sari,” kata si Papa.
“Lah jarang Papa ka sinan kini.”
Beberapa detik kemudian, kamera menyorot bagian dalam mall.
Dan, gelas teh sang istri jatuh. Ia meradang, menyepak kiri, menyepak kanan. Botol kue pecah, meja rebah, kacanya juga pecah.
“Tu ha di tipi, manga awak, sia tu, bini mudo? Patuiklah ka Jakarta tiok sabanta, reses, nin nyak nun, nen, ado-ado sae alasan, babini wak sinan kiro-e.”
“Ndak Papa tu doh,” tak ada gunanya lagi. Sebab jelas-jelas si papa ganteng yang disorot televisi.
Satu komplek buncah, satu kantor heboh, teman-teman tertawa geli. Keluar berita di koran. Rumahtangga berantakan.
Begitulah cerita icak-icak teman saya. Dikarang-karangnya saja.
Kalaulah, Anda memang seperti itu dan tertangkap kamera Uya Kuya, maka masalah akan lebih ribet lagi. Heboh bukan main.
Karena itu, hati-hatilah.
Nasihat buya kepada seorang teman, juga untuk saya “barantilah mengicau urang rumah, indak ado guno-e doh, picayolah ka Buya,” kata dia.
“Hati-hati pangkal pandai,” ini pepatah baru ha... ha... (Harian Singgalang26 FEBRUARI 2012 )
On 2/11/2012 09:20:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Doeloe benar, kalau ada pertandingan bola di kampung saya, maka celana panjang wasitnya disinsing saja. Tak ada pakaian khusus, tak bersepatu. Wasit garisnya, apalagi. Mereka dicomot saja dari pinggir lapangan.
Peluitnya tak bertali, sering warnanya hitam atau merah. Lapangan bola dengan wawang tak berajut, rumput tidak rata dan di beberapa titik ditemukan kotoran sapi yang masih hangat. 
Pernah suatu kali, bola masuk di sudut 90 derajat antara tiang dan plang atas gawang. Sepintas seperti bola berada di luar tiang, padahal masuk. Bola dengan cepat hinggap dalam parak. Wasit ragu, akhirnya gol batal.
Akan halnya wasit garis bisa pakai bendera, bisa pula sapu tangan saja yang diikatkan di ranting bambu. Sambil berlari, celana panjang wasit garis yang disinsing tadi, lepas dari gulungannya, sehingga ia biarkan saja. Maka jadilah wasit bercelana panjang.
Zaman berubah. Wasit kemudian memakai baju seragam, seperti juga wasit garis. Seragam. bersepatu, punya bendera dan ia gagah. Mereka telah ikut beberapa kali pelatihan. Punya sertifikat.
Lapangan bola sudah bagus, tiap sudut lapangan ditancapkan tiang berbendera pula. Garis lapangan putih karena cat kapur.
Sampai jauh ke muka, hampir-hampir ke tahun 1990-an, susunan pemain tetap 3-2-5. Tak pernah berubah. Pantangan mengoper bola ke belakang, sebab bisa disambar lawan. Asal ke depan, sepak tinggi-tinggi tak soal.
Wasit garis fungsinya tetap seperti dulu sampai sekarang. Matanya bagai elang, mengawasi jalannya pertandingan. Kibasan benderanya berpengaruh. Tapi sebagaimana posisinya, ia bukan pusat perhatian. Yang jadi titik api tetap wasit tengah atau utama. Nama wasit garis tak penting benar, meski keringatnya sama banyaknya dengan wasit utama. Honornya juga kecil.
Sering dicaci, karena dianggap salah mengibaskan bendera. “Sumbarang angkek se bendera itu, urang tak opset doh,” kata penonton.
Kalau pertandingan usai, wasit tak jadi perhatian lagi, kecuali kalau menurut penonton, mereka berbuat keliru. Bisa dikejar dan dipungkang. Bahkan ditinju.
Wasit garis adalah hakim yang berdiri di pinggir lapangan. Ia memberitahu lewat benderanya kepada wasit tengah, ada kesalahan, ada prestasi (gol), walau wasit tengah lebih banyak tak memerlukan informasi dari si wasit garis itu.
Wasit garis tidak berpretensi apapun, ia hanya menjalankan tugas. Enaknya pertandingan tidak tergantung dia, tapi lebih pada pola permainan di lapangan. Tak pernah wasit dapat piala, karena piala memang bukan untuk dia.
Kolom ini seperti itu pula. Hanya sekadar mengibas-ngibaskan bendera, kadang dilihat wasit tengah, kadang tidak. Berlari ke hilir, berlari pula ke mudik. Satu di sisi kanan, satu di sisi kiri.
Wasit garis di kampung saya, seperti kebanyakan orang juga. Ke sawah, ke ladang, makan baselo dan suka nongkrong di lapau. Kadang tak punya uang.
Kini, wasit garis bisa naik pangkat. Bisa ikut pelatihan, bisa lulus dan juga tidak.
Dalam konteks kolom ini, wasit garis kerjanya mencatat, juga menyindir bahkan memarahi dan bergurau. Didengar atau tidak, tergantung telinga.
Nah si wasit kemarin baru saja melihat gerbang Himpunan Bersatu teguh (HTT) di kawasan Pondok Padang.
Lantas saya teringat, suatu hari pada 1980-an akhir, Pemko Padang membongkar pilar gaya Romawi di sebuah rumah Jalan Sumatra Ulak Karang Padang. Sebabnya karena melanggar izin. Tak jauh dari sana, jalan inspeksi Batang Kuranji, tak bisa dilanjutkan karena terhalang sebuah rumah.
Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di perkotaan amat ditakuti warga. Jika melanggar, rumah bisa dibongkar, paling kurang disegel. Yang paling banyak tak pakai IMB, rumah ibadah, tapi belakangan sudah diwajibkan. “Ko kan musajik, IMB-IMB apo koh,” kata kita mengarengkang.
Jika lewat Jalan Sudirman Padang, ada sebuah lapangan tenis yang dindingnya ditembok tinggi sampai ke bibir selokan. Bangunan itu merusak citra dan gengsi jalan protokol. Tapi, kini sepertinya terhenti dikerjakan.
Beberapa contoh ini, menunjukkan telah terjadi penegakan hukum secara benar dan sekaligus melanggarnya, lantas diabaikan.
Soal langgar-melanggar, tunggu saja peluit wasit. Sayang, peluit itu, disimpan di lemari besi, di kantor birokrasi kandang besi (iron cage). Birokrasi keras dan membingungkan sekaligus licik. (*)
On 2/11/2012 09:20:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments

Memotong, mencukur atau memangkas rambut bagi lelaki dewasa, lain pula nikmatnya. Bukan di salon, tapi di tempat khusus laki-laki. Kadang yang diharapkan bukan potong rambutnya, melainkan pijatnya.
Pekan lalu, saya mengintai tempat pangkas langganan, tapi berkali-kali ke sana, ramai terus. Besoknya, pindah ke tempat lain, harus antre satu jam lebih. Padahal saya sangat bosan antre.
Kali ini ditahan saja, sebab hampir tidak ada tempat pangkas yang cocok. Ada-ada saja kurangnya. Handuknya bau, sisirnya menghitam atau pisau cukur tidak tajam. Atau bergegas tak karuan.
Selain berbagai kekurangan itu, yang paling menentukan, hasil pekerjaan tukang cukur. Kalau tidak memuaskan, orang takkan datang lagi.
Saya berada dalam barisan antre nomor tiga saat datang. Sambil menunggu, datang lagi empat orang. Mereka yang antre sabar menunggu. Saya harus sabar pula, sebab sudah terlanjur antre. Mau pergi tanggung.
Kami para lelaki sebenarnya pesolek juga. Dulu teman-teman kecil saya pakai minyak rambut merek tancho. Ada kotak kecil, ada besar. Bahkan pernah dijual dalam bungkus kecil-kecil sekali pakai. Kalau tak pandai menakar, bisa meleleh minyak ke kelepak baju. Sejumlah orang dewasa mengatasinya dengan melapisi kelepak baju atau krah dengan sapu tangan.
Pada saat yang sama, gadis-gadis remaja memakai bedak famboo atau vambo (?) Ada nomornya, yang laris kalau tidak salah nomor lima. Kakek-kakek kami pakai tembakau nomor 5 juga, rasanya agak datar saat dipilin dalam daun enau. Rokok daun enau itu, enak juga.
Waktu dulu di desa tidak ada parfum semprot-semprot, baru setelah kuliah saya mengenalnya. Itupun sekadar mengenal saja.
Masih dulu, sisir rambut bitel, kemudian trend berubah, belah tengah. Rasanya semakin ganteng saja kalau bisa mengikuti gaya rambut terbaru. Tapi minyak rambut tak berubah.
Saat tukang cukur memainkan gunting di kepala, ingatan ini melayang kemana-mana. Ada teman yang botak, ada yang rambut panjang ada yang suka pendek. Tentu ada yang beruban seperti saya.
“Mau dicat rambutnya Pak?” Sebuah tawaran. Saya menggeleng
Biarlah putih begini, sebab banyak orang yang rambutnya hitam justru dicat putih. Lagi pula, kalau rambut saya memutih, apa salahnya?
Selesai potong rambut, kali ini waktu saya habis lebih 2 jam karena antre yang banyak.
Setelah tiba di kantor, dipikir-pikir hasil potongannya biasa-biasa saja, lantas kenapa konsumen si tukang cukur ramai?
Pijatnya enak kata orang. Namun saya tak mendapatkannya, sebab tukang cukurnya beda.
Makanya, kalau suami Anda pulang malam, pijat saja, tapi jangan sampai ketiduran dia, mana tahu ada yang akan dikerjakan, memperbaiki kunci lemari misalnya. (*)

On 1/05/2012 08:52:00 PM by Khairul Jasmi in ,     No comments
KHAIRUL JASMI

Seperti biasa, dua hari lalu saya berbuka di warung pinggir jalan. Bagadincit. Di sini berbuka to the point saja! Langsung makan. Kami orang-orang lapangan dan bekerja malam, sudah biasa dengan hal-hal yang apa adanya.
Belum beberapa suap, terdengar gitar dipetik.
“Rasul menyuruh kita, mangasihi anak yatim...” Lagu mulai didendangkan. Seorang bapak, diiringi anak lelaki yang berusia sekitar 5 tahun, mencoba menghibur kaum muslim/muslimah yang sedang berbuka puasa.
Tamu rumah makan pinggir jalan ini, tertarik dengan pengamen ini. Si kecil, mencoba mengikuti nyanyian yang dibawakan si pemetik gitar, mungkin bapaknya. Tak lama kemudian ketika nasi masih disuap, masuk pula seorang pakiah menyandang buntia. Ia minta sedekah.
Pengamen lebih banyak mendapat rezeki. Saya memerhatikan, uang lembaran Rp10 ribu diberikan kepada si anak oleh beberapa orang. Bahkan seorang bapak mengambilkan plastik asoi untuk tempat uang bagi anak itu.
Saya menyaksikan sebuah kesalehan sosial sedang ditunaikan orang-orang yang melalaikan Shalat Magrib ini. Mereka makan dulu, rehat sejenak baru kemudian beranjak untuk shalat. Tidak seperti dianjurkan para ulama, cicipi hidangan sedikit, shalat, baru kemudian berbuka. Ah...
Anggapan saya, mereka memberi uang kepada pengamen tidak dengan maksud dapat pahala, namun tersentuh karena kehadiran faktor anak yang memakai peci haji itu. Si anak yang lugu menyedot perhatian orang-orang yang tidak saling kenal itu, tapi sama-sama tersentuh.
Inilah salah satu bentuk kesalehan sosial yang saya pahami. Memberi, apa yang bisa diberi tanpa peduli akan diberi pahala oleh Tuhan atau tidak. Saya sering menyaksikan kepura-puraan, bersedekah, seolah-olah ikhlas, tapi mengharapkan pahala.
Jauh ke belakang, almarhum AA Navis telah merobek kesadaran kita akan kesalehan sosial. Inti dari cerpen Robohnya Surau Kami, yang ia buat, adalah seseorang tak peduli kesalahen sosial, maka ia akan masuk neraka. Tentang kesalehan sosial, lebih 100 ayat bicara dalam Alquran. Hemat saya, Tuhan lebih suka kalau kita rajin menolong orang lain, ketimbang sepanjang hayat hanya bicara dosa dan pahala, sibuk perkara aurat, jilbab, jenggot dan celana jengki.Sudah hampir setengah abad usia saya, pengajian dan khutbah yang saya dengar nyaris selalu seputar betapa pentingnya shalat, betapa maha pemurahnya Tuhan, betapa mulianya Nabi Muhammad, SAW. Tiap kita yang telah dewasa, sudah ribuan kali diceramahi soal hal itu. Nabi, apalagi Tuhan tak suka dipuji-puji.
Jika pun ada soal kesalehan sosial, tidak ditemukan ceramah semacam itu, tiap hari. Kesalehan sosial seolah terkesampingkan.”Lihat dulu uang perusahaan, apa ada dana untuk itu,” kata seorang tokoh agama ketika padanya saya minta bantuan untuk anak miskin. Pada saat yang sama, seseorang datang kepada saya menyerahkan uang Rp100 ribu. “Untuk garin yang diterima kuliah,” katanya. Ia lantas pergi. Tanpa nama, tanpa nomor telepon.Saya kadang sedih dengan retorika di mimbar yang dengan bangga menyatakan pahala di bulan Ramadhan berlipat ganda. Beribu-ribu lipatnya, tapi tidak ada dalam perbuatan.Di semua masjid di manapun, ada kotak berjalan. Labelnya: Masjid, MDA dan anak yatim. Barangsiapa yang mau bersekedah masukkanlah uang ke dalamnya. Saya melihat tumpukan uang kertas untuk anak yatim lebih banyak dibanding lainnya.
Tapi dimana jatah anak piatu? Bukankah ia kehilangan orangtuanya? Biasanya, ketika ibu meninggal, bapak pergi ke rumah istri barunya. Maka tinggallah si anak bersama nenek. Tapi kenapa kita seolah abai dengan anak piatu?
Seorang ibu, beberapa hari sebelum Ramadhan menemui saya, ia minta dicarikan bantuan karena anaknya mau kuliah. Ayahnya telah meninggal dunia. Si ibu yang menjadi orangtua tunggal, kepayahan sendiri mengayuh biduk rumahtangga.
Ah, sambil makan saya menerawang juga. Suap terakhir telah selesai. Saya basuh tangan, saya minum teh hangat di meja, yang terletak dekat es pokat orang lain yang duduk di sebelah saya.
Saya mendekati kasir, membayar makan saya. Si bapak masih memetik gitarnya, di anak terus mengikuti nyanyian yang tak hapal olehnya.
Malam telah menyungkup kota, saya sampai di ruang redaksi Singgalang. Belum ada sesiapa di sini. Segelas kopi hangat terasa nikmat. (*)
On 1/05/2012 08:52:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
KHAIRUL JASMI

“Saya belum merdeka, hidup begini terus, miskin terus.”
“Iya, sudah 66 tahun, tapi belum merasakan kemerdekaan.”
“Rakyat kita masih sengsara, keadilan belum tegak, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, korupsi jalan terus. Jadi kita belum merdeka.”
Beberapa kutipan di atas adalah bentuk-bentuk kufur nikmat. Pura-pura belum merdeka, biar ucapannya bisa dikutip. Padahal ketika ia mengucapkan hal itu, sekaligus ia telah melecehkan Bung Karno dan Bung Hatta. Sudahlah melecehkan, bendera tak pula ia kibarkan di rumahnya. Tak peduli saja ia dengan bangsa ini. Tuhan akan marah pada orang yang semacam ini.
Sebuah acara televisi yang saya tonton kemarin malam, berusaha mengarahkan pemirsanya agar berpendapat, “kita belum merdeka.” Karena pemirsa diberi kesempatan menelepon, maka seseorang kemudian berkata: “Mbak pembawa acara, kita belum merdeka ya, baju Mbak mereknya apa? Sepatu yang Anda pakai dibeli dimana? Dibeli di luar semua kan?” Si artis yang menjadi pembawa acara, kena telak.
Saya belum pernah sekalipun mendengar komentar rakyat Indonesia dengan tulus dan jujur yang mengatakan: “Kita sudah merdeka, merdeka itu luar biasa nikmatnya, senikmat hidup sederhana.” Belum pernah!
Yang sering saya dengar caci-maki terhadap bangsa sendiri. Caci maki kepada pemerintah. Pemerintah dipersalahkan, karena kehidupan ia dan keluarganya terus miskin. Anak-anaknya menganggur. Benar, negara harus menyediakan lapangan kerja, memajukan ekonomi. Tapi, diri sendiri juga harus berusaha. Ketika orang lain berhasil, kita tidak, lantas pemerintah yang disalahkan. Pemerintah telah jadi tumpuan kemarahan atas kelemahan diri sendiri. Persis bak kecelakaan lalulintas, tak pernah kita salah, tapi selalu orang lain.
Kita merdeka sudah 66 tahun. Sebenarnya kita baru menikmatinya sekitar 50 tahun, sebab begitu merdeka, bangsa ini masih berperang. Praktis setelah 1955, baru agak bisa bernapas. Dari sisi ekonomi, semua perusahaan negara, baru dinasionalisasi dari tangan Belanda menjadi milik Indonesia pada 1958, molor lagi sekian tahun. Perusahaan-perusahaan itu baru bisa dibenahi setelah 1960. Salah satu contohnya, PT Semen Padang.
Plus minus 50 tahun kita menikmati kemerdekaan, menurut saya apa yang ada sekarang sudah bagus. Bayangkan 50 tahun di tengah-tengah pejabat dan penjahat bangsa si tukang jarah harta rakyat, kita bisa hidup seperti sekarang. Kalau melihat makan tangan penjahat negara itu, kita seharusnya lebih menderita dari hari ini. Tapi nyatanya, Indonesia memiliki rakyatnya yang ramah dan makan 3 kali sehari. Syukur ya Allah.
Tapi ada yang tidak makan, yang tidur di kolong jembatan, negara apa pula ini? Bukan negara yang salah, tapi kita sebagai anak bangsa yang egois. Yang tak peduli dengan orang lain, yang hedonis.
Hari ini, pajak dicuri, koruptor beranak pinak, demokrasi diperjualbelikan, menurut saya hal itu sebuah pengayaan atas sebuah bangsa, biar menjadi matang, perpengalaman dan dewasa. Dari perangai penjahat-penjahat itulah bangsa ini harus belajar agar kelak terhindar dari perbuatan buruk.
Bagi saya, tak masuk akal, Indonesia merdeka, lantas korupsi tidak ada, pemerintah tidak korup. Tidak seorangpun penilep pajak. tak masuk akal. Juga tak masuk akal, jika hukum tegak dengan sangat lurusnya, tidak ada penyimpangan. Tak masuk akal. Mana pula bisa masuk akal, karena di sini banyak orang maling.
Menjadi masuk akal, kalau seperti sekarang. Ada koruptor, ada yang tertangkap dan ada yang tidak. Ada penegak hukum yang baik, ada yang jahat. Ada proyek, ada calo, lantas ditangkap.
Kemudian ada kelompok masyarakat seperti ulama, LSM, pengamat yang mengawal bangsa ini menit demi menit. Adalah wajar, pers dibungkam oleh penguasa otoriter. Tapi menjadi wajar pula, pers menjadi pilar keempat saat negara menjadi demokratis. Pers menjadi pengawal yang ganas dan berwibawa.
Sekarang, 2011 adalah tikungan terakhir bagi kesulitan dalam memberantas korupsi. Setelah ini, akan semakin mulus. Kita daram siapa yang mancilok uang rakyat. Yang pura-pura membela rakyat tak usah dipilih, baik calon presiden, gubernur atau bupati walikota. Mereka hanya maunya kekuasaan, bukan membela rakyat. Jika kita pilih pemimpin yang baik, itu namanya mengisi kemerdekaan.
Selama ini karena sehelai kaos, karena sering tampil di televisi, karena gagah, dipilih, tak tahunya salah pilih. Lantas ketika ditanya apa sudah menikmati kemerdekaan, enak saja menjawab belum. Padahal, dia yang salah pilih, kemerdekaan yang dinafikan.
Menurut saya, bangsa ini sudah lama dilimpahi rahmat oleh Tuhan. Bahwa ada yang dapat dan ada yang belum, itu hukum alam. Ada yang terus berjuang dan memperjuangkan orang lain, itu juga hukum alam.
Karena itu, jangan kita menafikan kemerdekaan. Jangan mencaci-maki bangsa sendiri. Jangan-jangan kita yang pemalas. (*)