On 1/05/2012 08:52:00 PM by Khairul Jasmi in ,     No comments
KHAIRUL JASMI

Seperti biasa, dua hari lalu saya berbuka di warung pinggir jalan. Bagadincit. Di sini berbuka to the point saja! Langsung makan. Kami orang-orang lapangan dan bekerja malam, sudah biasa dengan hal-hal yang apa adanya.
Belum beberapa suap, terdengar gitar dipetik.
“Rasul menyuruh kita, mangasihi anak yatim...” Lagu mulai didendangkan. Seorang bapak, diiringi anak lelaki yang berusia sekitar 5 tahun, mencoba menghibur kaum muslim/muslimah yang sedang berbuka puasa.
Tamu rumah makan pinggir jalan ini, tertarik dengan pengamen ini. Si kecil, mencoba mengikuti nyanyian yang dibawakan si pemetik gitar, mungkin bapaknya. Tak lama kemudian ketika nasi masih disuap, masuk pula seorang pakiah menyandang buntia. Ia minta sedekah.
Pengamen lebih banyak mendapat rezeki. Saya memerhatikan, uang lembaran Rp10 ribu diberikan kepada si anak oleh beberapa orang. Bahkan seorang bapak mengambilkan plastik asoi untuk tempat uang bagi anak itu.
Saya menyaksikan sebuah kesalehan sosial sedang ditunaikan orang-orang yang melalaikan Shalat Magrib ini. Mereka makan dulu, rehat sejenak baru kemudian beranjak untuk shalat. Tidak seperti dianjurkan para ulama, cicipi hidangan sedikit, shalat, baru kemudian berbuka. Ah...
Anggapan saya, mereka memberi uang kepada pengamen tidak dengan maksud dapat pahala, namun tersentuh karena kehadiran faktor anak yang memakai peci haji itu. Si anak yang lugu menyedot perhatian orang-orang yang tidak saling kenal itu, tapi sama-sama tersentuh.
Inilah salah satu bentuk kesalehan sosial yang saya pahami. Memberi, apa yang bisa diberi tanpa peduli akan diberi pahala oleh Tuhan atau tidak. Saya sering menyaksikan kepura-puraan, bersedekah, seolah-olah ikhlas, tapi mengharapkan pahala.
Jauh ke belakang, almarhum AA Navis telah merobek kesadaran kita akan kesalehan sosial. Inti dari cerpen Robohnya Surau Kami, yang ia buat, adalah seseorang tak peduli kesalahen sosial, maka ia akan masuk neraka. Tentang kesalehan sosial, lebih 100 ayat bicara dalam Alquran. Hemat saya, Tuhan lebih suka kalau kita rajin menolong orang lain, ketimbang sepanjang hayat hanya bicara dosa dan pahala, sibuk perkara aurat, jilbab, jenggot dan celana jengki.Sudah hampir setengah abad usia saya, pengajian dan khutbah yang saya dengar nyaris selalu seputar betapa pentingnya shalat, betapa maha pemurahnya Tuhan, betapa mulianya Nabi Muhammad, SAW. Tiap kita yang telah dewasa, sudah ribuan kali diceramahi soal hal itu. Nabi, apalagi Tuhan tak suka dipuji-puji.
Jika pun ada soal kesalehan sosial, tidak ditemukan ceramah semacam itu, tiap hari. Kesalehan sosial seolah terkesampingkan.”Lihat dulu uang perusahaan, apa ada dana untuk itu,” kata seorang tokoh agama ketika padanya saya minta bantuan untuk anak miskin. Pada saat yang sama, seseorang datang kepada saya menyerahkan uang Rp100 ribu. “Untuk garin yang diterima kuliah,” katanya. Ia lantas pergi. Tanpa nama, tanpa nomor telepon.Saya kadang sedih dengan retorika di mimbar yang dengan bangga menyatakan pahala di bulan Ramadhan berlipat ganda. Beribu-ribu lipatnya, tapi tidak ada dalam perbuatan.Di semua masjid di manapun, ada kotak berjalan. Labelnya: Masjid, MDA dan anak yatim. Barangsiapa yang mau bersekedah masukkanlah uang ke dalamnya. Saya melihat tumpukan uang kertas untuk anak yatim lebih banyak dibanding lainnya.
Tapi dimana jatah anak piatu? Bukankah ia kehilangan orangtuanya? Biasanya, ketika ibu meninggal, bapak pergi ke rumah istri barunya. Maka tinggallah si anak bersama nenek. Tapi kenapa kita seolah abai dengan anak piatu?
Seorang ibu, beberapa hari sebelum Ramadhan menemui saya, ia minta dicarikan bantuan karena anaknya mau kuliah. Ayahnya telah meninggal dunia. Si ibu yang menjadi orangtua tunggal, kepayahan sendiri mengayuh biduk rumahtangga.
Ah, sambil makan saya menerawang juga. Suap terakhir telah selesai. Saya basuh tangan, saya minum teh hangat di meja, yang terletak dekat es pokat orang lain yang duduk di sebelah saya.
Saya mendekati kasir, membayar makan saya. Si bapak masih memetik gitarnya, di anak terus mengikuti nyanyian yang tak hapal olehnya.
Malam telah menyungkup kota, saya sampai di ruang redaksi Singgalang. Belum ada sesiapa di sini. Segelas kopi hangat terasa nikmat. (*)
On 1/05/2012 08:52:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
KHAIRUL JASMI

“Saya belum merdeka, hidup begini terus, miskin terus.”
“Iya, sudah 66 tahun, tapi belum merasakan kemerdekaan.”
“Rakyat kita masih sengsara, keadilan belum tegak, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, korupsi jalan terus. Jadi kita belum merdeka.”
Beberapa kutipan di atas adalah bentuk-bentuk kufur nikmat. Pura-pura belum merdeka, biar ucapannya bisa dikutip. Padahal ketika ia mengucapkan hal itu, sekaligus ia telah melecehkan Bung Karno dan Bung Hatta. Sudahlah melecehkan, bendera tak pula ia kibarkan di rumahnya. Tak peduli saja ia dengan bangsa ini. Tuhan akan marah pada orang yang semacam ini.
Sebuah acara televisi yang saya tonton kemarin malam, berusaha mengarahkan pemirsanya agar berpendapat, “kita belum merdeka.” Karena pemirsa diberi kesempatan menelepon, maka seseorang kemudian berkata: “Mbak pembawa acara, kita belum merdeka ya, baju Mbak mereknya apa? Sepatu yang Anda pakai dibeli dimana? Dibeli di luar semua kan?” Si artis yang menjadi pembawa acara, kena telak.
Saya belum pernah sekalipun mendengar komentar rakyat Indonesia dengan tulus dan jujur yang mengatakan: “Kita sudah merdeka, merdeka itu luar biasa nikmatnya, senikmat hidup sederhana.” Belum pernah!
Yang sering saya dengar caci-maki terhadap bangsa sendiri. Caci maki kepada pemerintah. Pemerintah dipersalahkan, karena kehidupan ia dan keluarganya terus miskin. Anak-anaknya menganggur. Benar, negara harus menyediakan lapangan kerja, memajukan ekonomi. Tapi, diri sendiri juga harus berusaha. Ketika orang lain berhasil, kita tidak, lantas pemerintah yang disalahkan. Pemerintah telah jadi tumpuan kemarahan atas kelemahan diri sendiri. Persis bak kecelakaan lalulintas, tak pernah kita salah, tapi selalu orang lain.
Kita merdeka sudah 66 tahun. Sebenarnya kita baru menikmatinya sekitar 50 tahun, sebab begitu merdeka, bangsa ini masih berperang. Praktis setelah 1955, baru agak bisa bernapas. Dari sisi ekonomi, semua perusahaan negara, baru dinasionalisasi dari tangan Belanda menjadi milik Indonesia pada 1958, molor lagi sekian tahun. Perusahaan-perusahaan itu baru bisa dibenahi setelah 1960. Salah satu contohnya, PT Semen Padang.
Plus minus 50 tahun kita menikmati kemerdekaan, menurut saya apa yang ada sekarang sudah bagus. Bayangkan 50 tahun di tengah-tengah pejabat dan penjahat bangsa si tukang jarah harta rakyat, kita bisa hidup seperti sekarang. Kalau melihat makan tangan penjahat negara itu, kita seharusnya lebih menderita dari hari ini. Tapi nyatanya, Indonesia memiliki rakyatnya yang ramah dan makan 3 kali sehari. Syukur ya Allah.
Tapi ada yang tidak makan, yang tidur di kolong jembatan, negara apa pula ini? Bukan negara yang salah, tapi kita sebagai anak bangsa yang egois. Yang tak peduli dengan orang lain, yang hedonis.
Hari ini, pajak dicuri, koruptor beranak pinak, demokrasi diperjualbelikan, menurut saya hal itu sebuah pengayaan atas sebuah bangsa, biar menjadi matang, perpengalaman dan dewasa. Dari perangai penjahat-penjahat itulah bangsa ini harus belajar agar kelak terhindar dari perbuatan buruk.
Bagi saya, tak masuk akal, Indonesia merdeka, lantas korupsi tidak ada, pemerintah tidak korup. Tidak seorangpun penilep pajak. tak masuk akal. Juga tak masuk akal, jika hukum tegak dengan sangat lurusnya, tidak ada penyimpangan. Tak masuk akal. Mana pula bisa masuk akal, karena di sini banyak orang maling.
Menjadi masuk akal, kalau seperti sekarang. Ada koruptor, ada yang tertangkap dan ada yang tidak. Ada penegak hukum yang baik, ada yang jahat. Ada proyek, ada calo, lantas ditangkap.
Kemudian ada kelompok masyarakat seperti ulama, LSM, pengamat yang mengawal bangsa ini menit demi menit. Adalah wajar, pers dibungkam oleh penguasa otoriter. Tapi menjadi wajar pula, pers menjadi pilar keempat saat negara menjadi demokratis. Pers menjadi pengawal yang ganas dan berwibawa.
Sekarang, 2011 adalah tikungan terakhir bagi kesulitan dalam memberantas korupsi. Setelah ini, akan semakin mulus. Kita daram siapa yang mancilok uang rakyat. Yang pura-pura membela rakyat tak usah dipilih, baik calon presiden, gubernur atau bupati walikota. Mereka hanya maunya kekuasaan, bukan membela rakyat. Jika kita pilih pemimpin yang baik, itu namanya mengisi kemerdekaan.
Selama ini karena sehelai kaos, karena sering tampil di televisi, karena gagah, dipilih, tak tahunya salah pilih. Lantas ketika ditanya apa sudah menikmati kemerdekaan, enak saja menjawab belum. Padahal, dia yang salah pilih, kemerdekaan yang dinafikan.
Menurut saya, bangsa ini sudah lama dilimpahi rahmat oleh Tuhan. Bahwa ada yang dapat dan ada yang belum, itu hukum alam. Ada yang terus berjuang dan memperjuangkan orang lain, itu juga hukum alam.
Karena itu, jangan kita menafikan kemerdekaan. Jangan mencaci-maki bangsa sendiri. Jangan-jangan kita yang pemalas. (*)
On 1/05/2012 08:51:00 PM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Khairul Jasmi

Jika hari ini, dicari sebab kenapa Indonesia “rusak” , maka kesalahan setidak-tidaknya bisa dibagi tiga. Kesalahan pertama di tangan Kepala Negara, kedua di tangan pengamat dan ketiga disebabkan oleh politikus. Dua disebut terakhir kerjanya berkicau saja dan yang pertama bergerak ragu-ragu. Semua kesalahan tadi diakomodir oleh pers ibukota, terutama televisi.

Pengamat mengeluarkan pendapat atau uneg-uneg sama saja. Ada dua cara pengamat bicara. Pertama, ilmunya dipadu dengan perasaan dan kedua perasaan diaduk dengan ilmu. Ini ketahuan dari mimik dan intonasinya. Lewat gaya bahasa kalau dalam tulisan. Kecenderungannya, membenarkan dirinya dan menyalahkan “lawan” dalam hal ini pemerintah.

Pengamat itu, diadu dengan pengamat lain, tak sama pula pendapatnya. Masing-masing berusaha mempertahankan pendapat masing-masing. Perdebatan kian tak menentu, karena waktu siaran sempit. Maka berkembanglah analisa-analisa yang tak selesai. Ini makin menyburkan sakwasangka. Bermunculanlah berbagai pendapat susulan. “Pendapatan orang sebanyak rambut di kepala,” kata pepatah. Atau, “rambut sama hitam, pendapatan berlain-lain.”
Jika begitu, kenapa keluar urat leher pengamat mempertahankan pendapatnya? Karena ia tak lagi obyektif.

Habis di televisi yang satu, ia muncul di televisi yang lain. Semua persoalan selesai olehnya sendirian. Suaranya lantang, tangannya bergerak-gerak. Analisanya tajam, tapi itu tadi, dicampurnya dengan uneg-unegnya, dengan subyektivitasnya. Maka di sanalah pendapatnya menjadi hambar.

Politikus sama saja. Fakta telah menunjukkan, hampir semua politikus sabik alai, banyak untuk dia, sedikit untuk orang. Berdagang proyek kerjanya. Mencari rente dan berpikir untuk golongannya. Dari ujung sampai ke ujung, hanyut dalam keasyikan membangun kepetintingan sesaat. Ada satu dua yang bersuara jernih. Terimasih untuk si jernih, meski suaranya tenggelam dalam debu politik.

Akan halnya Kepala Negara, ragu-ragu dalam bertindak. Tidak ragu katanya, iya kata rakyat. Tidak, tapi hati-hati, kata pembela-pembelanya. Iya kata rakyat lagi. Tidak! Iya! Tidak! Sumbaranglah. Berputar-putar di sana saja.

Masih teringat oleh saya, sejumlah pensiunan jenderal menyampaikan pendapatan menjelang Susilo Bambang Yudhoyono menjadi calon presiden untuk periode pertama. Purnawirawan itu mengatakan, “dia orangnya ragu-ragu”. Terbukti sudah.

Tentang pers ibukota, terutama televisi tampil ke depan sebagai pembentuk opini nomor wahid di Indonesia. Pengaruhnya luar biasa. Di balik layar berdiri para wartawan. Mereka membahas berbagai isu dalam rapat-rapat redaksi. Hasil rapat itulah yang menyebabkan, diundangnya berbagai pengamat hadir untuk siaran live.

Pemirsa merasakan, malah sangat kentara, ada muatan dan pesan-pesan dalam beberapa tayangan. Berkali-kali, berulang-ulang. Bosan. Tapi apa hendak dikata, kita hanya pemirsa.

Maka beginilah Indonesia hari ini. Ke hilir tidak, ke mudik juga tidak. Menteri sudah banyak, ditambah lagi dengan wakil. Kerja tak beres, dibilang beres. Lembaga-lembaga di luar struktur berjibun jumlahnya, makan gaji semua. Tapi persoalan justru semakin banyak.

Semakin liar, semakin menjauh dari orbit. Kian merisaukan hati. Yang paling risau petani. Garam, kentang, buah, daging, kacang-kacangan dan lain-lain diimpor. Korek api dan peniti juga diimpor.

Sementara di Jakarta uang dimasukkan ke dalam kardus durian, disimpan dalam pot bunga. Yang lain punya rekening. Sudah gendut pula rekeningnya, tak diperiksa juga. Rakyat diumbuak dengan PNPM, dengan KUR. Hak rakyat bukan itu, tapi pendidikan murah, palayanan kesehatan tersedia dan murah, lapangan kerja cukup. Rakyat ingin sejehtera. Bangsa ini harus bahagia, bukan sengsara.

Jakarta penuh dengan vacuum cleaner, masin isok. Dihisapnya semua, termasuk jabatan-jabatan direksi dan komisaris di BUMN. Apalagi uang.

Inilah negeri kita, Indonesia. Rakyatnya banyak yang menyesali apa yang terjadi, termasuk saya. Seharusnya bekerja dengan riang dan gembira. Seharusnya....*
On 1/05/2012 08:51:00 PM by Khairul Jasmi in ,     No comments
KHAIRUL JASMI

Seorang ibu, menahan tangisnya dan ia lepaskan di kamar tidurnya, saat sendirian. Ia, terpaksa mengambalikan motor yang baru dibelinya, karena tidak sesuai dengan selera si anak. Motor bebak, maunya anak motor balap.
Seorang ayah kehabisan akal mendidik anaknya yang baru masuk SMA. Ia menjadi anggota geng motor. Tiap sebentar mempermak motor dan kecanduan internet. Habis uang dibuatnya.
Orangtua lain, habis mainnya, karena anak-anaknya tak betah di rumah. Maunya sama teman-teman. Pakai motor atau menumpang sama motor teman. Pulang larut dan tak suka belajar.
Orangtua suka begini, anak suka begitu. Orang tua membentak, anak merentak. Orang tua membujuk, anak mangambok. Dibilang begini, maunya begitu. Dilarang tak mau, dinasihati, icak-icak mau, tapi dilanggarnya juga. Fenomenanya begitu. Karena fenomena, maka tak semuanya demikian.

Apa yang salah?
Menurut sebuah penelitian terbaru yang dimuat Majalah National Geographic edisi bulan lalu, otak anak terus berkembang. Otak remaja bercahaya dan berkerlap-kerlip ingin sesuatu yang baru. Perkembangan otak itu, tidak terjadi pada orang dewasa.
Otak anak-anak atau remaja itu, gelisah, mencari bentuk yang pas dan terus-menerus berkembang. Hal itu, menyebabkan tingkah laku mereka, seolah-olah tidak sesuai dengan patron yang sudah ada.
Masih menurut penelitian itu, anak-anak lebih menyukai teman-temannya, apalagi kalau orangtua banyak benar aturannya. Meski begitu, orangtua harus memberikan arahan, mana yang baik dan mana yang salah.
Menurut teori konvergensi pendidikan, rumahtangga, sekolah dan lingkungan memengaruhi jiwa anak. Itulah sebabnya anak harus disekolahkan dan kenapa lingkungan tempat tinggal harus diperhatikan. Karena hal tersebut pula, lingkungan yang lebih luas jangan lupa dipantau.
Penelitian itu, dikaitkan dengan teori pendidikan klasik ternyata mempunyai titik singgung. Titik singgung itulah yang terabaikan selama ini.
Kasus pembelian motor dan geng motor di awal tulisan ini, adalah contoh belaka dari keinginan anak yang “tidak termakan” oleh pangana orangtuanya.
Kebanyakan, yang ada hanyalah larangan-larangan, baik di rumah atau di tempat mengaji. Larang ke larang saja, cobalah kembali ke usia remaja, mungkin akan lebih dari perangai anak.
Para pakar menyarankan, karena anak lebih suka di luar rumah bersama teman-temannya, maka rumahtangga harus menciptakan suasana yang lebih nyaman, gue banget dan adem.
Sulit memang, tapi bagi pasangan usia muda yang akan punya anak, atau anaknya masih kecil, mulailah membangun suasana yang harmonis di rumahmu. Bagi yang lebih dewasa, kata pakar pula, jalinlah hubungan orangtua dan anak bersegi-segi. Satu segi sebagai orang tua, di segi lain sebagai sahabat tempat ia curhat.
Ah, ini rumit benar. Lalui sajalah apa yang terjadi. “Den dulu indak saheboh tu bana doh.“ (*)
On 1/05/2012 08:50:00 PM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Khairul Jasmi

Oto ngeong-ngeong, berbunyi-bunyi panjang dan berlampu, jalannya kencang tanpa hambatan, itulah mobil voorrijder (vorider). Dari bahasa Belanda, artinya kurang lebih “orang berkuda”
Mobil ini disopiri petugas kepolisian. Biasanya digunakan untuk membuka jalan bagi pejabat penting, sesuai undang-undang. Kalau di provinsi, gubernur, bupati walikota, pejabat militer dan sebagainya boleh menggunakannya. Di tingkat pusat, apalagi.
Mobil ngeong-ngeong juga bisa ambulans dan mobil pemadam kebakaran. Untuk semua rombongan yang pakai voorrijder, dapat keistimewaan di jalan raya.
Hari raya, para bupati dan walikota yang pergi berlebaran ke rumah gubernur di Padang, menggunakan jasa mobil ini. Seolah-olah mereka tak peduli jalan macet padat merayap.
Suatu hari, dua pekan lalu saya mengikuti mobil ngeong-ngeong ini dari Tabing hendak menuju Bukittinggi. Di belakang voorrijder, sebuah mobil kijang warna hitam.
Sesampai di Sicincin saya disetop polisi. “Bapak tidak boleh mengikuti mobil itu, karena bapak bukan rombongan. Jika ingin dikawal, harus lapor terlebih dahulu,” kata petugas sana. Saya bergegas hendak ke pertemuan wartawan Indonesia-Malaysia di Bukittinggi.
“Payah benar jadi rakyat,” kata saya dalam hati. Kepada petugas yang sedang menjalankan tugas itu, saya jelaskan, saya terburu-buru. Apa salahnya mengikuti voorrijder. Toh yang dikawalnya hanya satu mobil. Penumpangnya juga hanya seorang ajudan. Pejabat sekalipun, kalau di Sumbar, Insya Allah saya tahu orangnya. Juga tabiatnya. Lagi pula tujuan kami sama
Saya memaklumi petugas polisi di jalan raya. Ia memaklumi saya tergegas. Meski ia sempat mengatakan, saya telah melanggar lampu merah di simpang By Pass Lubuk Alung. Tentu saja saya langgar, karena saya mengikuti mobil ngeong-ngeong itu.
Kenapa disetop polisi? Si polisi dikabari lewat radio oleh polisi di atas voorrijder. Sopir di atas voorrijder dapat perintah dari sopir mobil pejabat. Maka disetoplah saya.
Setelah saya dilepas saya telepon atasan si sopir dan atasan di ajudan. “Perangainya anak buahmu,” kata saya.
Teman-teman wartawan juga menelepon si ajudan. Ia minta maaf.
“Besok-besok kalau mau ikut, telepon saya dulu,” kata si pejabat teman saya. Ha ha ha, gaya birokrat benar.
Sesampai di Bukittinggi, saya tak peduli lagi. Tak ada gunanya. Urusan dia banyak. Urusan saya juga banyak. Semua orang yang tadi tahu soal itu, sudah melupakannya.
Saya tidak. Bukan karena saya dendam atau sok hebat dan mentang-mentang. Tapi, karena sejak paruh kedua 1980-an sampai 2004, saya hampir tiap minggu pergi meliput ke daerah mengikuti gubernur Sumbar. Gubernur pakai voorrijder. Saya melihat, selalu saja ada mobil rakyat mengekor. Bahkan iring-iringan bisa menjadi panjang, karena di jalan banyak yang menempel. Sejauh itu tak pernah ada masalah. Tak dihambat polisi di jalan.
Pengalaman saya merupakan pertama dalam sejarah voorrijder di Sumbar. Mungkin.
Pelajaran yang dapat saya ambil, karena kehadiran voorrijder, banyak pengendara yang terkapereh. Ngeong-ngeong merampas hak pengguna jalan. Pengguna jalan juga tidak mengetahui privasi yang diberikan kepada sejumlah orang. Dianggapnya sama saja. Kalau ngeong-ngeong itu ambulans, pengendara tak peduli saja. Tapi kalau pemadam kebakaran, mereka takut.
Kesadaran berlalulintas sangat rendah, sehingga mengabaikan hal-hal yang patut diperhatikan.
Berikut, kalau mobil Anda dikawal voorrijder, lalu ada yang menumpang di belakang, janganlah marah, jika hanya karena Anda tidak mau terganggu privasinya. Kalau saya perturutkan kata hati saya, mungkin saya akan mengamuk. Tapi, saya pula yang akan ditertawakan orang. Bahkan dicibir.
“Kaolah, baa raso-e, sok-sok ebat, ditangkok polisi,” kata orang di belakang saya.
Oto ngeong-ngoeng, bisa bertemu di mana saja. Jika Anda jengkel, urut saja dadamu. Salah satu ciri penting di negeri ini adalah, bila jadi pejabat negara, maka mobil ngeong-ngoeng akan mengikuti Anda ke mana pergi. Misalnya, saat mengejar jadwal pesawat di BIM Ketaping.
Nah, jadilah pejabat. (*)
On 1/05/2012 08:50:00 PM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Khairul Jasmi

“Anak muda Inggris, maunya jadi pemain bola,” kata seorang manajer restoran di London yang semua pekerjanya berasal dari Arab yang saya baca di Majalah Gatra edisi terbaru. Saat ini, anak muda Inggris, maunya nyantai abis pada Jumat malam dan seterusnya pada hari libur. Kalau menganggur terima tunjangan dari negara. Menurut data sejumlah media, setidaknya 2,75 juta anak muda di sana saat ini menganggur. Mereka juga pilih-pilih kerja.Angka pengangguran itu, tertinggi sejak 15 tahun terakhir.
Spanyol juga masalah. Angka pengangguran naik dua kali lipat sejak 1997. Jumlahnya 4,9 juta jiwa atau 2,32 persen.
Pengangguran di Eropa jadi bom waktu, kecuali di Jerman dan Belanda. Jerman selamat karena punya sekolah kejuruan yang handal. Ditiru Inggris, tak mangkus, ditiru Amerika, malah jadi kursus singkat, ditiru Indonesia, jadilah SMK, eh tak tahunya malah pakai UN pula.
Ketika pengangguran meningkat di Eropa, bersamaan para pemain bola dunia jadi kalangan jetset, membius dan mengguncang. Bacakak suami dan istri karena memperebutkan remote control televisi. Istri mau sinetron, bapak mau bola. Keduanya, sebagai penikmat belaka.
Bintang-bintang sepakbola itu, punya uang yang ia sendiri sulit menghitungnya. Salah seorang dari mereka David Beckham yang hari ini berada di Indonesia. Ia kaya raya karena bola, tapi tidak miliaran orang lainnya.
Pengaruh selebritis sepakbola, telah terasa di Inggris. Sebuah kenyataan berkata, “Tak semua kalian bisa menjadi pemain hebat”. Tapi bius itu terus menular dan remaja pria di negara hebat tetap saja gila bola.
Di Indonesia hal itu telah lama pula terjadi. Banyak sekali generasi muda kita yang akhirnya tidak menjadi pemain bola, meski sejak kecil, ia ingin sekali terkenal karena si kulit bundar.
Tak tahu kemana talenta akan ditempa. Di sini bicara saja yang banyak. Ngomong doang, kata orang Jakarta.
Sebentar lagi, atau telah mulai, anak-anak dari kelas menengah atas, akan merebut menjadi bintang lapangan hijau berbanding lurus dengan sihir bintang film.
Gejalanya sudah terlihat, karena di Indonesia saat ini setidaknya menurut Bank Dunia ada 131 juta kelas menengah.
Mereka orang-orang berduit yang suka membeli produk-produk premium.
Mereka yang 131 juta itu punya uang banyak dan mendongkrak PDB perkapita menembus angka psikologis, US$3.000. Pada 2011 ini, diprediksi naik menjadi US$3.500.
Dalam kondisi masyarakat yang semacam itu, bola dengan cepat berubah dari industri olahraga malu-malu menjadi industri sebenarnya.
Industri itulah yang kemudian membuat orang kaya raya, seperti juga artis. Inilah yang membius. Tabiat industri, seseorang takkan terpakai selamanya.
Saya takut, di Indonesia dibius David Beckham, bius sepakbola melampaui ambang psikologis dan nyaris semua pria muda tergila-gila dengan si kulit bundar. Semua mau jadi pemain bola, tapi PSSI tak kunjung menemukannya.
Di situlah masalah akan muncul, 5 atau 10 tahun dari sekarang. Menjadikan bola segala-galanya, apalagi ditunjang siaran televisi, akan menimbulkan problem serius.
Pertandingan bola yang kita saksikan di televisi, adalah olahraga, di baliknya adalah bisnis mahabesar. Kedatangan megabintang Backham ke Jakarta, adalah juga bisnis.
Di Jakarta, Selasa, sebagaimana dilansir Vivanews 250 anak-anak mengikuti coaching clinic bersama David Beckham di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Mereka sangat senang dan seperti terhipnotis karena bisa mendapatkan ‘ilmu’ dari sang idola.
“Semuanya untuk inspirasi kita. Kita ingin mainnya lebih jago kaya mereka. Maunya minta tanda tangan, foto bareng, tukar kaos sama Beckham atau siapa saja. Tapi, tadi tidak sempat,” kata Arya seusai mengikuti acara itu.
“Sebenarnya ingin belajar tendangan bebas dari Beckham karena tendangannya bagus. Tapi, tadi main sama Beckham juga sudah senang,” ujar Fachri.
Beckham adalah sosok di luar mimpi anak Indonesia. Tapi tidak bagi Syahrini. Ia seperti konco Beckham di sini, padahal kenal saja tidak. Tinggi awang-awang orang Inggris itu dibanding Syahrini. Tapi itulah meteor, tinggi bercahaya, lantas jatuh berkeping-keping. Semoga Syahrini tidak demikian.
Mudah-mudahan sepakbola bisa jadi lapangan kerja, bukan menjadi ladang mimpi. Kita mabuk oleh hiruk pikuk, berkelahi antar suporter, sesekali mengakui bola pemicu nasionalisme paling ampuh. Selamat menonton bola atau main bola.(*)
On 1/05/2012 08:49:00 PM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Khairul Jasmi

“Assww, hamba tidak sekuat Ibrahim AS, yang ikhlas luar biasa tatkala Allah SWT mau ambil anaknya Ismail yang baik, cakap, saleh dan cerdas. Tapi agaknya pandangan Ibrahim terhadap anaknya mungkin seperti pandanganku terhadap anakku Wildan Mujahidil Khudri. Wildan santun, baik hati, penyayang, penolong, menjaga hati orang lain, saleh, sifat-sifat yang diwarisi dari uminya, istriku tercinta. Dia motivatorku, inspiratorku dan investasi bagiku. ternyata setelah 17 tahun dia bersama kami, dia diambil oleh Yang Maha Memiliki, mudah-mudahan dia jadi investasi akhirat kami, sekarang obsesi tertinggi berkumpul bersama dia di jannah yang tinggi”
Saya lama terdiam setelah membaca SMS, Khudri ini. Wartawan Singgalang dan salah seorang pejabat di Agam itu, baru saja kehilangan anak bujangnya. Ia meninggal dunia, setelah sebuah mobil pecah ban menabrak anaknya yang sedang naik motor.
Khudri menggambarkan kepribadian anaknya dan menyatakan semua itu pantulan dari sifat uminya, ibundanya.
Hari ini, nyaris tidak ada lagi orang memanggil umi pada ibunya. Umi dari bahasa Arab yang berarti ibu. Hari ini, tentulah ibu, mama, mami atau bunda, tergantung mana yang enak menurut keluarga itu.
Saya tidak mengambil kesimpulan bahwa umi atau bunda atau yang lain lebih hebat dari panggilan lainnya. Yang menarik justru saat-saat menjatuhkan pilihan.
Panggilan pada orangtua tidak ditetapkan oleh anak, tapi oleh orangtua itu sendiri, seperti juga nama. Saat menjatuhkan pilihan itu, biasanya terjadi diskusi antara suami dan istri.
Akan halnya anak Khudri yang telah tiada itu, memanggil umi karena diajari sejak kecil. Saya juga diajari oleh umi saya memanggilnya Ummi, hingga sekarang, anak saya pun memanggil Ummi pada umi saya. Seharusnya nenek.
Selain panggilan umi, saya juga lama terdiam oleh beberapa kata dalam SMS Khudri tersebut. Inilah untuk pertama kali saya menerima SMS semacam itu, meski sebelumnya ada juga teman saya kehilangan anaknya.
Ada kesan kuat dalam SMS tersebut, Khudri dengan sigap dan sepenuh hati meyakini semuanya atas kehendak Allah. Dia memang alim, terutama sejak beberapa tahun belakangan. Shalatnya lama, doanya panjang, berbeda dengan saat kuliah dulu, bandelnya minta ampun.
Saat takziah ke rumah duka, saya menyaksikan Khudri tampil sangat dewasa, sesuatu yang membuat saya menjadi kecil tiba-tiba. Istrinya, bukannya berurai air mata, tapi menyesali, bahwa ia tak sempat menghidangkan minuman untuk kami.
Saya menguping, seorang pejabat Agam berbicara. Ketika istri si pejabat menelepon istri Khudri. “Istri dinasihati agar tabah, luar biasa tabahnya dia,” kata si pejabat. Ia kagum atas sikap istri Khudri tersebut.
Saya berpikir ulang tentang sebab-sebab kematian. Ajal memang tak bisa dicampuri oleh siapa pun. Tapi sebab musababnya bisa kita diskusikan. Anak teman saya itu meninggal dunia, karena kecelakaan lalulintas.
Indak dapek sarampang padi
batuang dibalah ka paraku
indak dapak sakahandak ati
kandak Allah nan balaku
Khudri akan ditunggu anaknya di surga. (*)
On 1/05/2012 08:49:00 PM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Teman saya, seorang guru yang sudah berdiri di depan kelas puluhan tahun, bertutur: Anak sekarang cium tangannya sangat santun, seolah-olah kita sedang berada di pintu surga, tapi isi sms sesamanya, seolah-olah sedang berada di diskotik.
Katanya lagi, anak sekarang kalau menyapa ibu guru, suaranya meliuk seperti suara Iyet Bustami sedang mendendangkan, “laksamana raja di laut”, persis pada kata “laut”.
Padahal waktu si guru jadi murid dulu, ia menyapa ibu gurunya dengan mengangguk takzim.
Saya bukan guru, tapi teman saya banyak yang guru. Sebagian jiwa saya adalah guru. Mendengar penjelasan teman itu, saya sering menemukan contoh-contohnya dalam keseharian.
Ada beberapa sikap tak baik dalam menyimak tingkah laku anak: Pertama orangtua cenderung membela habis-habisan perangai anaknya. Kedua, masyarakat cenderung menghukum.
Sikap yang di tengah-tengah: Berusaha memahami, sembari mencoba memperbaiki.
Sikap antipati: Suko ati kalianlah, baelah bara talok.
Kenapa sikap remaja dulu dan sekarang berbeda? Karena zaman juga sudah berbeda. Rasa-rasanya elok zaman dulu dibanding sekarang. Tapi tidak juga.
Seingat saya, tak banyak anak-anak zaman dulu yang cium tangan, baik pada orangtua atau pada guru atau pada orang dewasa. Yang wanita, dulu tak banyak pakai jilbab. Kini, jilbab sansai saja sepanjang jalan.
Tapi dulu tak ada tari telanjang, kini ada. Dulu kita tak tahu, kita ketahuan.
Anak sekarang kerjanya pacaran saja. Kata siapa? Kata orang yang muak. Doeloe? Ha ha ha, hampir semua cerita randai adalah soal kisah cinta.
Dulu bini orang banyak. Kini hanya satu, tapi suka selingkuh.
Membanding-bandingkan masa lampau dan sekarang secara serampangan, tidak akan membuahkan hasil.
Kembali pada si guru, teman saya itu. Ia cemas, karena karakter anak didik sekarang tidak kokoh. Etika kurang, moral amburadul. Kalau ini, mulai serius. Menurut dia, sekolah, sebagaimana namanya seharusnya juga bekerja untuk moral dan etika.
Tapi apa hendak dikata, masuk pagi, pulang berebut senja. Kapan anak bisa bermain. Maka bermainlah ia lewat SMS dan facebook di malam hari. Waktu bermain anak dirampas secara serampangan oleh kurikulum. Kita membiarkannya.
Anak-anak dijadikan robot, harus masuk IPA harus masuk kelas internasional, harus bisa ini dan bisa itu. Dengan demikian harus les ini dan itu.
Gila!
“Yang gila orangtua mereka,” kata teman saya itu.
Teman saya kemudian merentak pergi meninggalkan saya.
“Antahlah yuang, jadi guru juolah,” kata saya. Langkahnya tertahan, remnya pakam. Lalu berbalik dan berucap sambil tertawa.
“Itu gunanya kita masuk sekolah guru, untuk jadi guru, kemudian terima uang sertifikasi,” katanya sambil menyebut gajinya terakhir.
Besok pagi ia kembali ke sekolah dan akan dicium punggung tangannya oleh para siswa. Ia tahu, mana anak-anaknya yang berkirim SMS gadis dan bujang dengan sebutan “papa-mama” atau “ayah dan bunda”.
“Ditirunyo di rumah tu mah,” kata saya.
“Kadang seperti di sinetron, sensa kami dek anak-anak kini,” kata dia.
Jadi guru jugalah kau. (*)

terbit di hariansinggalang