On 1/05/2012 08:52:00 PM by Khairul Jasmi in ,     No comments
KHAIRUL JASMI

Seperti biasa, dua hari lalu saya berbuka di warung pinggir jalan. Bagadincit. Di sini berbuka to the point saja! Langsung makan. Kami orang-orang lapangan dan bekerja malam, sudah biasa dengan hal-hal yang apa adanya.
Belum beberapa suap, terdengar gitar dipetik.
“Rasul menyuruh kita, mangasihi anak yatim...” Lagu mulai didendangkan. Seorang bapak, diiringi anak lelaki yang berusia sekitar 5 tahun, mencoba menghibur kaum muslim/muslimah yang sedang berbuka puasa.
Tamu rumah makan pinggir jalan ini, tertarik dengan pengamen ini. Si kecil, mencoba mengikuti nyanyian yang dibawakan si pemetik gitar, mungkin bapaknya. Tak lama kemudian ketika nasi masih disuap, masuk pula seorang pakiah menyandang buntia. Ia minta sedekah.
Pengamen lebih banyak mendapat rezeki. Saya memerhatikan, uang lembaran Rp10 ribu diberikan kepada si anak oleh beberapa orang. Bahkan seorang bapak mengambilkan plastik asoi untuk tempat uang bagi anak itu.
Saya menyaksikan sebuah kesalehan sosial sedang ditunaikan orang-orang yang melalaikan Shalat Magrib ini. Mereka makan dulu, rehat sejenak baru kemudian beranjak untuk shalat. Tidak seperti dianjurkan para ulama, cicipi hidangan sedikit, shalat, baru kemudian berbuka. Ah...
Anggapan saya, mereka memberi uang kepada pengamen tidak dengan maksud dapat pahala, namun tersentuh karena kehadiran faktor anak yang memakai peci haji itu. Si anak yang lugu menyedot perhatian orang-orang yang tidak saling kenal itu, tapi sama-sama tersentuh.
Inilah salah satu bentuk kesalehan sosial yang saya pahami. Memberi, apa yang bisa diberi tanpa peduli akan diberi pahala oleh Tuhan atau tidak. Saya sering menyaksikan kepura-puraan, bersedekah, seolah-olah ikhlas, tapi mengharapkan pahala.
Jauh ke belakang, almarhum AA Navis telah merobek kesadaran kita akan kesalehan sosial. Inti dari cerpen Robohnya Surau Kami, yang ia buat, adalah seseorang tak peduli kesalahen sosial, maka ia akan masuk neraka. Tentang kesalehan sosial, lebih 100 ayat bicara dalam Alquran. Hemat saya, Tuhan lebih suka kalau kita rajin menolong orang lain, ketimbang sepanjang hayat hanya bicara dosa dan pahala, sibuk perkara aurat, jilbab, jenggot dan celana jengki.Sudah hampir setengah abad usia saya, pengajian dan khutbah yang saya dengar nyaris selalu seputar betapa pentingnya shalat, betapa maha pemurahnya Tuhan, betapa mulianya Nabi Muhammad, SAW. Tiap kita yang telah dewasa, sudah ribuan kali diceramahi soal hal itu. Nabi, apalagi Tuhan tak suka dipuji-puji.
Jika pun ada soal kesalehan sosial, tidak ditemukan ceramah semacam itu, tiap hari. Kesalehan sosial seolah terkesampingkan.”Lihat dulu uang perusahaan, apa ada dana untuk itu,” kata seorang tokoh agama ketika padanya saya minta bantuan untuk anak miskin. Pada saat yang sama, seseorang datang kepada saya menyerahkan uang Rp100 ribu. “Untuk garin yang diterima kuliah,” katanya. Ia lantas pergi. Tanpa nama, tanpa nomor telepon.Saya kadang sedih dengan retorika di mimbar yang dengan bangga menyatakan pahala di bulan Ramadhan berlipat ganda. Beribu-ribu lipatnya, tapi tidak ada dalam perbuatan.Di semua masjid di manapun, ada kotak berjalan. Labelnya: Masjid, MDA dan anak yatim. Barangsiapa yang mau bersekedah masukkanlah uang ke dalamnya. Saya melihat tumpukan uang kertas untuk anak yatim lebih banyak dibanding lainnya.
Tapi dimana jatah anak piatu? Bukankah ia kehilangan orangtuanya? Biasanya, ketika ibu meninggal, bapak pergi ke rumah istri barunya. Maka tinggallah si anak bersama nenek. Tapi kenapa kita seolah abai dengan anak piatu?
Seorang ibu, beberapa hari sebelum Ramadhan menemui saya, ia minta dicarikan bantuan karena anaknya mau kuliah. Ayahnya telah meninggal dunia. Si ibu yang menjadi orangtua tunggal, kepayahan sendiri mengayuh biduk rumahtangga.
Ah, sambil makan saya menerawang juga. Suap terakhir telah selesai. Saya basuh tangan, saya minum teh hangat di meja, yang terletak dekat es pokat orang lain yang duduk di sebelah saya.
Saya mendekati kasir, membayar makan saya. Si bapak masih memetik gitarnya, di anak terus mengikuti nyanyian yang tak hapal olehnya.
Malam telah menyungkup kota, saya sampai di ruang redaksi Singgalang. Belum ada sesiapa di sini. Segelas kopi hangat terasa nikmat. (*)

0 komentar :

Posting Komentar