On 1/05/2012 08:51:00 PM by Khairul Jasmi in ,     No comments
KHAIRUL JASMI

Seorang ibu, menahan tangisnya dan ia lepaskan di kamar tidurnya, saat sendirian. Ia, terpaksa mengambalikan motor yang baru dibelinya, karena tidak sesuai dengan selera si anak. Motor bebak, maunya anak motor balap.
Seorang ayah kehabisan akal mendidik anaknya yang baru masuk SMA. Ia menjadi anggota geng motor. Tiap sebentar mempermak motor dan kecanduan internet. Habis uang dibuatnya.
Orangtua lain, habis mainnya, karena anak-anaknya tak betah di rumah. Maunya sama teman-teman. Pakai motor atau menumpang sama motor teman. Pulang larut dan tak suka belajar.
Orangtua suka begini, anak suka begitu. Orang tua membentak, anak merentak. Orang tua membujuk, anak mangambok. Dibilang begini, maunya begitu. Dilarang tak mau, dinasihati, icak-icak mau, tapi dilanggarnya juga. Fenomenanya begitu. Karena fenomena, maka tak semuanya demikian.

Apa yang salah?
Menurut sebuah penelitian terbaru yang dimuat Majalah National Geographic edisi bulan lalu, otak anak terus berkembang. Otak remaja bercahaya dan berkerlap-kerlip ingin sesuatu yang baru. Perkembangan otak itu, tidak terjadi pada orang dewasa.
Otak anak-anak atau remaja itu, gelisah, mencari bentuk yang pas dan terus-menerus berkembang. Hal itu, menyebabkan tingkah laku mereka, seolah-olah tidak sesuai dengan patron yang sudah ada.
Masih menurut penelitian itu, anak-anak lebih menyukai teman-temannya, apalagi kalau orangtua banyak benar aturannya. Meski begitu, orangtua harus memberikan arahan, mana yang baik dan mana yang salah.
Menurut teori konvergensi pendidikan, rumahtangga, sekolah dan lingkungan memengaruhi jiwa anak. Itulah sebabnya anak harus disekolahkan dan kenapa lingkungan tempat tinggal harus diperhatikan. Karena hal tersebut pula, lingkungan yang lebih luas jangan lupa dipantau.
Penelitian itu, dikaitkan dengan teori pendidikan klasik ternyata mempunyai titik singgung. Titik singgung itulah yang terabaikan selama ini.
Kasus pembelian motor dan geng motor di awal tulisan ini, adalah contoh belaka dari keinginan anak yang “tidak termakan” oleh pangana orangtuanya.
Kebanyakan, yang ada hanyalah larangan-larangan, baik di rumah atau di tempat mengaji. Larang ke larang saja, cobalah kembali ke usia remaja, mungkin akan lebih dari perangai anak.
Para pakar menyarankan, karena anak lebih suka di luar rumah bersama teman-temannya, maka rumahtangga harus menciptakan suasana yang lebih nyaman, gue banget dan adem.
Sulit memang, tapi bagi pasangan usia muda yang akan punya anak, atau anaknya masih kecil, mulailah membangun suasana yang harmonis di rumahmu. Bagi yang lebih dewasa, kata pakar pula, jalinlah hubungan orangtua dan anak bersegi-segi. Satu segi sebagai orang tua, di segi lain sebagai sahabat tempat ia curhat.
Ah, ini rumit benar. Lalui sajalah apa yang terjadi. “Den dulu indak saheboh tu bana doh.“ (*)

0 komentar :

Posting Komentar