On 1/05/2012 08:52:00 PM by Khairul Jasmi in , ,     No comments
KHAIRUL JASMI

“Saya belum merdeka, hidup begini terus, miskin terus.”
“Iya, sudah 66 tahun, tapi belum merasakan kemerdekaan.”
“Rakyat kita masih sengsara, keadilan belum tegak, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, korupsi jalan terus. Jadi kita belum merdeka.”
Beberapa kutipan di atas adalah bentuk-bentuk kufur nikmat. Pura-pura belum merdeka, biar ucapannya bisa dikutip. Padahal ketika ia mengucapkan hal itu, sekaligus ia telah melecehkan Bung Karno dan Bung Hatta. Sudahlah melecehkan, bendera tak pula ia kibarkan di rumahnya. Tak peduli saja ia dengan bangsa ini. Tuhan akan marah pada orang yang semacam ini.
Sebuah acara televisi yang saya tonton kemarin malam, berusaha mengarahkan pemirsanya agar berpendapat, “kita belum merdeka.” Karena pemirsa diberi kesempatan menelepon, maka seseorang kemudian berkata: “Mbak pembawa acara, kita belum merdeka ya, baju Mbak mereknya apa? Sepatu yang Anda pakai dibeli dimana? Dibeli di luar semua kan?” Si artis yang menjadi pembawa acara, kena telak.
Saya belum pernah sekalipun mendengar komentar rakyat Indonesia dengan tulus dan jujur yang mengatakan: “Kita sudah merdeka, merdeka itu luar biasa nikmatnya, senikmat hidup sederhana.” Belum pernah!
Yang sering saya dengar caci-maki terhadap bangsa sendiri. Caci maki kepada pemerintah. Pemerintah dipersalahkan, karena kehidupan ia dan keluarganya terus miskin. Anak-anaknya menganggur. Benar, negara harus menyediakan lapangan kerja, memajukan ekonomi. Tapi, diri sendiri juga harus berusaha. Ketika orang lain berhasil, kita tidak, lantas pemerintah yang disalahkan. Pemerintah telah jadi tumpuan kemarahan atas kelemahan diri sendiri. Persis bak kecelakaan lalulintas, tak pernah kita salah, tapi selalu orang lain.
Kita merdeka sudah 66 tahun. Sebenarnya kita baru menikmatinya sekitar 50 tahun, sebab begitu merdeka, bangsa ini masih berperang. Praktis setelah 1955, baru agak bisa bernapas. Dari sisi ekonomi, semua perusahaan negara, baru dinasionalisasi dari tangan Belanda menjadi milik Indonesia pada 1958, molor lagi sekian tahun. Perusahaan-perusahaan itu baru bisa dibenahi setelah 1960. Salah satu contohnya, PT Semen Padang.
Plus minus 50 tahun kita menikmati kemerdekaan, menurut saya apa yang ada sekarang sudah bagus. Bayangkan 50 tahun di tengah-tengah pejabat dan penjahat bangsa si tukang jarah harta rakyat, kita bisa hidup seperti sekarang. Kalau melihat makan tangan penjahat negara itu, kita seharusnya lebih menderita dari hari ini. Tapi nyatanya, Indonesia memiliki rakyatnya yang ramah dan makan 3 kali sehari. Syukur ya Allah.
Tapi ada yang tidak makan, yang tidur di kolong jembatan, negara apa pula ini? Bukan negara yang salah, tapi kita sebagai anak bangsa yang egois. Yang tak peduli dengan orang lain, yang hedonis.
Hari ini, pajak dicuri, koruptor beranak pinak, demokrasi diperjualbelikan, menurut saya hal itu sebuah pengayaan atas sebuah bangsa, biar menjadi matang, perpengalaman dan dewasa. Dari perangai penjahat-penjahat itulah bangsa ini harus belajar agar kelak terhindar dari perbuatan buruk.
Bagi saya, tak masuk akal, Indonesia merdeka, lantas korupsi tidak ada, pemerintah tidak korup. Tidak seorangpun penilep pajak. tak masuk akal. Juga tak masuk akal, jika hukum tegak dengan sangat lurusnya, tidak ada penyimpangan. Tak masuk akal. Mana pula bisa masuk akal, karena di sini banyak orang maling.
Menjadi masuk akal, kalau seperti sekarang. Ada koruptor, ada yang tertangkap dan ada yang tidak. Ada penegak hukum yang baik, ada yang jahat. Ada proyek, ada calo, lantas ditangkap.
Kemudian ada kelompok masyarakat seperti ulama, LSM, pengamat yang mengawal bangsa ini menit demi menit. Adalah wajar, pers dibungkam oleh penguasa otoriter. Tapi menjadi wajar pula, pers menjadi pilar keempat saat negara menjadi demokratis. Pers menjadi pengawal yang ganas dan berwibawa.
Sekarang, 2011 adalah tikungan terakhir bagi kesulitan dalam memberantas korupsi. Setelah ini, akan semakin mulus. Kita daram siapa yang mancilok uang rakyat. Yang pura-pura membela rakyat tak usah dipilih, baik calon presiden, gubernur atau bupati walikota. Mereka hanya maunya kekuasaan, bukan membela rakyat. Jika kita pilih pemimpin yang baik, itu namanya mengisi kemerdekaan.
Selama ini karena sehelai kaos, karena sering tampil di televisi, karena gagah, dipilih, tak tahunya salah pilih. Lantas ketika ditanya apa sudah menikmati kemerdekaan, enak saja menjawab belum. Padahal, dia yang salah pilih, kemerdekaan yang dinafikan.
Menurut saya, bangsa ini sudah lama dilimpahi rahmat oleh Tuhan. Bahwa ada yang dapat dan ada yang belum, itu hukum alam. Ada yang terus berjuang dan memperjuangkan orang lain, itu juga hukum alam.
Karena itu, jangan kita menafikan kemerdekaan. Jangan mencaci-maki bangsa sendiri. Jangan-jangan kita yang pemalas. (*)

0 komentar :

Posting Komentar