On 1/05/2012 08:50:00 PM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Khairul Jasmi

“Anak muda Inggris, maunya jadi pemain bola,” kata seorang manajer restoran di London yang semua pekerjanya berasal dari Arab yang saya baca di Majalah Gatra edisi terbaru. Saat ini, anak muda Inggris, maunya nyantai abis pada Jumat malam dan seterusnya pada hari libur. Kalau menganggur terima tunjangan dari negara. Menurut data sejumlah media, setidaknya 2,75 juta anak muda di sana saat ini menganggur. Mereka juga pilih-pilih kerja.Angka pengangguran itu, tertinggi sejak 15 tahun terakhir.
Spanyol juga masalah. Angka pengangguran naik dua kali lipat sejak 1997. Jumlahnya 4,9 juta jiwa atau 2,32 persen.
Pengangguran di Eropa jadi bom waktu, kecuali di Jerman dan Belanda. Jerman selamat karena punya sekolah kejuruan yang handal. Ditiru Inggris, tak mangkus, ditiru Amerika, malah jadi kursus singkat, ditiru Indonesia, jadilah SMK, eh tak tahunya malah pakai UN pula.
Ketika pengangguran meningkat di Eropa, bersamaan para pemain bola dunia jadi kalangan jetset, membius dan mengguncang. Bacakak suami dan istri karena memperebutkan remote control televisi. Istri mau sinetron, bapak mau bola. Keduanya, sebagai penikmat belaka.
Bintang-bintang sepakbola itu, punya uang yang ia sendiri sulit menghitungnya. Salah seorang dari mereka David Beckham yang hari ini berada di Indonesia. Ia kaya raya karena bola, tapi tidak miliaran orang lainnya.
Pengaruh selebritis sepakbola, telah terasa di Inggris. Sebuah kenyataan berkata, “Tak semua kalian bisa menjadi pemain hebat”. Tapi bius itu terus menular dan remaja pria di negara hebat tetap saja gila bola.
Di Indonesia hal itu telah lama pula terjadi. Banyak sekali generasi muda kita yang akhirnya tidak menjadi pemain bola, meski sejak kecil, ia ingin sekali terkenal karena si kulit bundar.
Tak tahu kemana talenta akan ditempa. Di sini bicara saja yang banyak. Ngomong doang, kata orang Jakarta.
Sebentar lagi, atau telah mulai, anak-anak dari kelas menengah atas, akan merebut menjadi bintang lapangan hijau berbanding lurus dengan sihir bintang film.
Gejalanya sudah terlihat, karena di Indonesia saat ini setidaknya menurut Bank Dunia ada 131 juta kelas menengah.
Mereka orang-orang berduit yang suka membeli produk-produk premium.
Mereka yang 131 juta itu punya uang banyak dan mendongkrak PDB perkapita menembus angka psikologis, US$3.000. Pada 2011 ini, diprediksi naik menjadi US$3.500.
Dalam kondisi masyarakat yang semacam itu, bola dengan cepat berubah dari industri olahraga malu-malu menjadi industri sebenarnya.
Industri itulah yang kemudian membuat orang kaya raya, seperti juga artis. Inilah yang membius. Tabiat industri, seseorang takkan terpakai selamanya.
Saya takut, di Indonesia dibius David Beckham, bius sepakbola melampaui ambang psikologis dan nyaris semua pria muda tergila-gila dengan si kulit bundar. Semua mau jadi pemain bola, tapi PSSI tak kunjung menemukannya.
Di situlah masalah akan muncul, 5 atau 10 tahun dari sekarang. Menjadikan bola segala-galanya, apalagi ditunjang siaran televisi, akan menimbulkan problem serius.
Pertandingan bola yang kita saksikan di televisi, adalah olahraga, di baliknya adalah bisnis mahabesar. Kedatangan megabintang Backham ke Jakarta, adalah juga bisnis.
Di Jakarta, Selasa, sebagaimana dilansir Vivanews 250 anak-anak mengikuti coaching clinic bersama David Beckham di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Mereka sangat senang dan seperti terhipnotis karena bisa mendapatkan ‘ilmu’ dari sang idola.
“Semuanya untuk inspirasi kita. Kita ingin mainnya lebih jago kaya mereka. Maunya minta tanda tangan, foto bareng, tukar kaos sama Beckham atau siapa saja. Tapi, tadi tidak sempat,” kata Arya seusai mengikuti acara itu.
“Sebenarnya ingin belajar tendangan bebas dari Beckham karena tendangannya bagus. Tapi, tadi main sama Beckham juga sudah senang,” ujar Fachri.
Beckham adalah sosok di luar mimpi anak Indonesia. Tapi tidak bagi Syahrini. Ia seperti konco Beckham di sini, padahal kenal saja tidak. Tinggi awang-awang orang Inggris itu dibanding Syahrini. Tapi itulah meteor, tinggi bercahaya, lantas jatuh berkeping-keping. Semoga Syahrini tidak demikian.
Mudah-mudahan sepakbola bisa jadi lapangan kerja, bukan menjadi ladang mimpi. Kita mabuk oleh hiruk pikuk, berkelahi antar suporter, sesekali mengakui bola pemicu nasionalisme paling ampuh. Selamat menonton bola atau main bola.(*)

0 komentar :

Posting Komentar