On 2/11/2012 09:20:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Doeloe benar, kalau ada pertandingan bola di kampung saya, maka celana panjang wasitnya disinsing saja. Tak ada pakaian khusus, tak bersepatu. Wasit garisnya, apalagi. Mereka dicomot saja dari pinggir lapangan.
Peluitnya tak bertali, sering warnanya hitam atau merah. Lapangan bola dengan wawang tak berajut, rumput tidak rata dan di beberapa titik ditemukan kotoran sapi yang masih hangat. 
Pernah suatu kali, bola masuk di sudut 90 derajat antara tiang dan plang atas gawang. Sepintas seperti bola berada di luar tiang, padahal masuk. Bola dengan cepat hinggap dalam parak. Wasit ragu, akhirnya gol batal.
Akan halnya wasit garis bisa pakai bendera, bisa pula sapu tangan saja yang diikatkan di ranting bambu. Sambil berlari, celana panjang wasit garis yang disinsing tadi, lepas dari gulungannya, sehingga ia biarkan saja. Maka jadilah wasit bercelana panjang.
Zaman berubah. Wasit kemudian memakai baju seragam, seperti juga wasit garis. Seragam. bersepatu, punya bendera dan ia gagah. Mereka telah ikut beberapa kali pelatihan. Punya sertifikat.
Lapangan bola sudah bagus, tiap sudut lapangan ditancapkan tiang berbendera pula. Garis lapangan putih karena cat kapur.
Sampai jauh ke muka, hampir-hampir ke tahun 1990-an, susunan pemain tetap 3-2-5. Tak pernah berubah. Pantangan mengoper bola ke belakang, sebab bisa disambar lawan. Asal ke depan, sepak tinggi-tinggi tak soal.
Wasit garis fungsinya tetap seperti dulu sampai sekarang. Matanya bagai elang, mengawasi jalannya pertandingan. Kibasan benderanya berpengaruh. Tapi sebagaimana posisinya, ia bukan pusat perhatian. Yang jadi titik api tetap wasit tengah atau utama. Nama wasit garis tak penting benar, meski keringatnya sama banyaknya dengan wasit utama. Honornya juga kecil.
Sering dicaci, karena dianggap salah mengibaskan bendera. “Sumbarang angkek se bendera itu, urang tak opset doh,” kata penonton.
Kalau pertandingan usai, wasit tak jadi perhatian lagi, kecuali kalau menurut penonton, mereka berbuat keliru. Bisa dikejar dan dipungkang. Bahkan ditinju.
Wasit garis adalah hakim yang berdiri di pinggir lapangan. Ia memberitahu lewat benderanya kepada wasit tengah, ada kesalahan, ada prestasi (gol), walau wasit tengah lebih banyak tak memerlukan informasi dari si wasit garis itu.
Wasit garis tidak berpretensi apapun, ia hanya menjalankan tugas. Enaknya pertandingan tidak tergantung dia, tapi lebih pada pola permainan di lapangan. Tak pernah wasit dapat piala, karena piala memang bukan untuk dia.
Kolom ini seperti itu pula. Hanya sekadar mengibas-ngibaskan bendera, kadang dilihat wasit tengah, kadang tidak. Berlari ke hilir, berlari pula ke mudik. Satu di sisi kanan, satu di sisi kiri.
Wasit garis di kampung saya, seperti kebanyakan orang juga. Ke sawah, ke ladang, makan baselo dan suka nongkrong di lapau. Kadang tak punya uang.
Kini, wasit garis bisa naik pangkat. Bisa ikut pelatihan, bisa lulus dan juga tidak.
Dalam konteks kolom ini, wasit garis kerjanya mencatat, juga menyindir bahkan memarahi dan bergurau. Didengar atau tidak, tergantung telinga.
Nah si wasit kemarin baru saja melihat gerbang Himpunan Bersatu teguh (HTT) di kawasan Pondok Padang.
Lantas saya teringat, suatu hari pada 1980-an akhir, Pemko Padang membongkar pilar gaya Romawi di sebuah rumah Jalan Sumatra Ulak Karang Padang. Sebabnya karena melanggar izin. Tak jauh dari sana, jalan inspeksi Batang Kuranji, tak bisa dilanjutkan karena terhalang sebuah rumah.
Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di perkotaan amat ditakuti warga. Jika melanggar, rumah bisa dibongkar, paling kurang disegel. Yang paling banyak tak pakai IMB, rumah ibadah, tapi belakangan sudah diwajibkan. “Ko kan musajik, IMB-IMB apo koh,” kata kita mengarengkang.
Jika lewat Jalan Sudirman Padang, ada sebuah lapangan tenis yang dindingnya ditembok tinggi sampai ke bibir selokan. Bangunan itu merusak citra dan gengsi jalan protokol. Tapi, kini sepertinya terhenti dikerjakan.
Beberapa contoh ini, menunjukkan telah terjadi penegakan hukum secara benar dan sekaligus melanggarnya, lantas diabaikan.
Soal langgar-melanggar, tunggu saja peluit wasit. Sayang, peluit itu, disimpan di lemari besi, di kantor birokrasi kandang besi (iron cage). Birokrasi keras dan membingungkan sekaligus licik. (*)
On 2/11/2012 09:20:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments

Memotong, mencukur atau memangkas rambut bagi lelaki dewasa, lain pula nikmatnya. Bukan di salon, tapi di tempat khusus laki-laki. Kadang yang diharapkan bukan potong rambutnya, melainkan pijatnya.
Pekan lalu, saya mengintai tempat pangkas langganan, tapi berkali-kali ke sana, ramai terus. Besoknya, pindah ke tempat lain, harus antre satu jam lebih. Padahal saya sangat bosan antre.
Kali ini ditahan saja, sebab hampir tidak ada tempat pangkas yang cocok. Ada-ada saja kurangnya. Handuknya bau, sisirnya menghitam atau pisau cukur tidak tajam. Atau bergegas tak karuan.
Selain berbagai kekurangan itu, yang paling menentukan, hasil pekerjaan tukang cukur. Kalau tidak memuaskan, orang takkan datang lagi.
Saya berada dalam barisan antre nomor tiga saat datang. Sambil menunggu, datang lagi empat orang. Mereka yang antre sabar menunggu. Saya harus sabar pula, sebab sudah terlanjur antre. Mau pergi tanggung.
Kami para lelaki sebenarnya pesolek juga. Dulu teman-teman kecil saya pakai minyak rambut merek tancho. Ada kotak kecil, ada besar. Bahkan pernah dijual dalam bungkus kecil-kecil sekali pakai. Kalau tak pandai menakar, bisa meleleh minyak ke kelepak baju. Sejumlah orang dewasa mengatasinya dengan melapisi kelepak baju atau krah dengan sapu tangan.
Pada saat yang sama, gadis-gadis remaja memakai bedak famboo atau vambo (?) Ada nomornya, yang laris kalau tidak salah nomor lima. Kakek-kakek kami pakai tembakau nomor 5 juga, rasanya agak datar saat dipilin dalam daun enau. Rokok daun enau itu, enak juga.
Waktu dulu di desa tidak ada parfum semprot-semprot, baru setelah kuliah saya mengenalnya. Itupun sekadar mengenal saja.
Masih dulu, sisir rambut bitel, kemudian trend berubah, belah tengah. Rasanya semakin ganteng saja kalau bisa mengikuti gaya rambut terbaru. Tapi minyak rambut tak berubah.
Saat tukang cukur memainkan gunting di kepala, ingatan ini melayang kemana-mana. Ada teman yang botak, ada yang rambut panjang ada yang suka pendek. Tentu ada yang beruban seperti saya.
“Mau dicat rambutnya Pak?” Sebuah tawaran. Saya menggeleng
Biarlah putih begini, sebab banyak orang yang rambutnya hitam justru dicat putih. Lagi pula, kalau rambut saya memutih, apa salahnya?
Selesai potong rambut, kali ini waktu saya habis lebih 2 jam karena antre yang banyak.
Setelah tiba di kantor, dipikir-pikir hasil potongannya biasa-biasa saja, lantas kenapa konsumen si tukang cukur ramai?
Pijatnya enak kata orang. Namun saya tak mendapatkannya, sebab tukang cukurnya beda.
Makanya, kalau suami Anda pulang malam, pijat saja, tapi jangan sampai ketiduran dia, mana tahu ada yang akan dikerjakan, memperbaiki kunci lemari misalnya. (*)