On 2/11/2012 09:20:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments

Memotong, mencukur atau memangkas rambut bagi lelaki dewasa, lain pula nikmatnya. Bukan di salon, tapi di tempat khusus laki-laki. Kadang yang diharapkan bukan potong rambutnya, melainkan pijatnya.
Pekan lalu, saya mengintai tempat pangkas langganan, tapi berkali-kali ke sana, ramai terus. Besoknya, pindah ke tempat lain, harus antre satu jam lebih. Padahal saya sangat bosan antre.
Kali ini ditahan saja, sebab hampir tidak ada tempat pangkas yang cocok. Ada-ada saja kurangnya. Handuknya bau, sisirnya menghitam atau pisau cukur tidak tajam. Atau bergegas tak karuan.
Selain berbagai kekurangan itu, yang paling menentukan, hasil pekerjaan tukang cukur. Kalau tidak memuaskan, orang takkan datang lagi.
Saya berada dalam barisan antre nomor tiga saat datang. Sambil menunggu, datang lagi empat orang. Mereka yang antre sabar menunggu. Saya harus sabar pula, sebab sudah terlanjur antre. Mau pergi tanggung.
Kami para lelaki sebenarnya pesolek juga. Dulu teman-teman kecil saya pakai minyak rambut merek tancho. Ada kotak kecil, ada besar. Bahkan pernah dijual dalam bungkus kecil-kecil sekali pakai. Kalau tak pandai menakar, bisa meleleh minyak ke kelepak baju. Sejumlah orang dewasa mengatasinya dengan melapisi kelepak baju atau krah dengan sapu tangan.
Pada saat yang sama, gadis-gadis remaja memakai bedak famboo atau vambo (?) Ada nomornya, yang laris kalau tidak salah nomor lima. Kakek-kakek kami pakai tembakau nomor 5 juga, rasanya agak datar saat dipilin dalam daun enau. Rokok daun enau itu, enak juga.
Waktu dulu di desa tidak ada parfum semprot-semprot, baru setelah kuliah saya mengenalnya. Itupun sekadar mengenal saja.
Masih dulu, sisir rambut bitel, kemudian trend berubah, belah tengah. Rasanya semakin ganteng saja kalau bisa mengikuti gaya rambut terbaru. Tapi minyak rambut tak berubah.
Saat tukang cukur memainkan gunting di kepala, ingatan ini melayang kemana-mana. Ada teman yang botak, ada yang rambut panjang ada yang suka pendek. Tentu ada yang beruban seperti saya.
“Mau dicat rambutnya Pak?” Sebuah tawaran. Saya menggeleng
Biarlah putih begini, sebab banyak orang yang rambutnya hitam justru dicat putih. Lagi pula, kalau rambut saya memutih, apa salahnya?
Selesai potong rambut, kali ini waktu saya habis lebih 2 jam karena antre yang banyak.
Setelah tiba di kantor, dipikir-pikir hasil potongannya biasa-biasa saja, lantas kenapa konsumen si tukang cukur ramai?
Pijatnya enak kata orang. Namun saya tak mendapatkannya, sebab tukang cukurnya beda.
Makanya, kalau suami Anda pulang malam, pijat saja, tapi jangan sampai ketiduran dia, mana tahu ada yang akan dikerjakan, memperbaiki kunci lemari misalnya. (*)

0 komentar :

Posting Komentar