On 3/09/2012 08:04:00 PM by Khairul Jasmi in     1 comment
KHAIRUL JASMI

Menerima atau menolak naiknya harga BBM? Kalau menerima, tak usah banyak cakap, diam saja dan tunggu 1 April. Menolak! Apa langkah yang harus diambil?
Bisa sebagai berikut:
Pertama demo dan berteriak-teriak sampai keluar urat leher. Bisa sedikit, bisa dengan massa banyak atau sangat banyak dari Sabang sampai Merauke. Masalahnya, apa ada yang mau? Kalau tak mau, batal. Kalau mau, cobalah kalau iya keras benar hati. Anarkis? Ditangkap polisi, kalau janji polisi ditepati. Tidak anarkis, televisi kurang suka.
Kedua, demo parsial. Di sana demo, di sini demo, berserak-serak. Boleh juga, beritanya dua kolom dan beberapa detik di televisi. Bakar kertas karton atau ban, agak lama tayangnya.
Ketiga caci maka saja presiden, sepertinya Presiden SBY bukan orang Indonesia, tapi dari negeri lain. Rasa malu atau hormat, buang saja. Ini lebih disuka sejumlah media. Kalau saya tak mau mencaci-maki Kepala Negara kita sendiri, keterlaluan.
Keempat, buat tulisan, pilih koran yang mau menurunkannya. Tapi yang rancak bahasanya, kalau bertele-tele tak dimuat.
Kelima, hasut rakyat, kalau berani dan kalau rakyat mau dihasut. Kalau tak mau? Jangan dihasut. Bukankah rakyat sudah cerdas. Menurut saya, kini rakyat tak mau lagi dihasut, sebab pengalaman pahit 1998 di bidang ekonomi masih terasa. Semua mahal, pekerjaan sulit.
Keenam, beri analisa yang benar, kalau naik dampaknya apa dan kalau tak naik akibatnya apa. Cari data pembanding, suguhkan dengan baik.
Ketujuh, cari dalih. Apa? Begini: BBM pula yang dinaikan, lihatlah korupsi merajalela, kebocaran di sana-sini. Itu bereskan dulu. Pemerintah yang tidak-tidak saja.
APBN dan APBD habis untuk gaji PNS saja. Yang ini sangat benar. Jalan saja berlobang dibiarkan. Pembangunan memusat di Pulau Jawa.
Kedelapan, hening-hening sajalah, sebab harga-harga sudah naik duluan.
Untuk pemerintah
Pertama, gaji PNS belum naik, harga duluan melambung. BBM sebulan lagi akan naik, harga sekarang sudah merangkak naik. Apa ada jalan keluarnya? Tak lain sekadar retorika menyenang-nyenangkan hati rakyat.
Kedua, tunjangan seluruh PNS ditambah, tunjangan (subsidi) untuk rakyat dikurangi atau dicabut. Kenapa bisa begini?
Ketiga, kenapa lantas benar angan pemerintah kepada BBM? Juga listrik? Bagaimana kalau seluruh uang jalan dan uang rapat selama sebulan di seluruh instansi pemerintah distop? Bagaimana kalau reses DPR dan DPRD dipangkas agak sekali saja? Tak mau kan? Pasti tidak. Biarlah BBM naik, dari pada itu pula yang dipangkas.
Keempat, kalau mau menakaikan harga BBM naikan sajalah, jangan banyak benar lampu-lampunya, bikin persoalan saja. Semasa Pak Harto diumumkan pukul 22.00 WIB, pukul 00.00 WIB berlaku, habis perkara.
Kelima, korupsi habisilah jangan retorika saja. Bagaimana caranya? Pak Prabowo mungkin bisa, sebab waktu kampanye Pilpres tempo hari, ia bilang, yang pertama-tama harus diatasi adalah soal kebocoran. Tanya pada Prabowo.
Keenam, pemerintah jangan lembek. Agak cepat dan tangkas sedikit.
Nah kapan harga BBM naik? Kami rakyat tinggal menerima nasib saja. (http://hariansinggalang.co.id/b-b-m/)

1 komentar :

  1. Berhentilah melakukan Broadcast pada bbm anda. Mulailah berinteraksi dan berpromosi untuk bisnis anda pada iklan BBM Channel yang merupakan fitur tepat untuk bisnis Anda, bisnis anda akan terhubung pada seluruh audience penguna BBM di seluruh Indonesia, popularitas BBM tak ada yang meragukannya. Selengkapnya baca : Cara Setting Iklan BBM Melalui Adwords

    BalasHapus