On 3/09/2012 08:03:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Suatu malam pekan lalu, teman semasa sekolah dulu, membawakan saya dadiah dan ampiang dalam jumlah yang banyak.
“Angku den danga suko ampiang dadiah,” kata dia.
Sebagaimana adat kita, saya balas dengan memberinya duku. Duku saya tiba-tiba sangat banyak, tiga karung. Duku itu dikirim oleh dua orang. Pertama oleh teman sama sekolah dulu, yang juga teman oleh teman saya yang membawa dadiah. Duku lainnya dari kawan yang lain pula.
Dadiah adalah susu kerbau yang dibekukan. Enaknya. Duku adalah buah-buahan. Enak pula. Ampiang dari beras pulut. Juga enak. Makin enak galau digelimangi dengan tangguli.
Ampiang dadiah merupakan kuliner Minang. Bisa ditemukan di Padang Panjang, Bukittinggi dan tempat lain. Jangan-jangan sebentar lagi, jadi ternikmat pula di dunia, menemani randang.
Asia adalah tempat asal kerbau. Sekitar 95 persen dari populasi kerbau di dunia terdapat di sini.
Kebiasaan makan dadiah (hanya) di Minang suku Sinhdi di India dan Pakistan. Bahkan mungkin dadiah berasal dari kata dudh dari bahasa mereka. Atau sebaliknya.
Menurut wikipedia kebiasaan orang Persia memakan susu fermentasi dengan bawang merah dan mentimun, mirip dengan kebiasaan makan dadih dengan bawang di Minangkabau untuk sambal.
Dan sedang membuat tulisan ini, HP saya berdering. Teman masa sekolah saya yang lain menelepon. Ia curhat betapa nestapanya nasib guru, banyak benar aturan yang ditimpakan kepadanya. Susah benar jadi guru. Tiap sebentar gajinya dipotong, tiap sebentar kena marah. Murid-murid semakin liar. Ikut kuliah di UNP, belum lulus-lulus juga, dosen sudah sekali ditemui untuk menyelesaikan skripsi.
“Itulah guru, untuang angku ndak jadi guru,” kata si teman itu bagai mercon.
“Kawan wak mangakikahan anaknyo, jan lupo datang yo, ari Kamih “ katanya lagi.
“Lai ado duku?”
Saya asal bertanya saja. Dia juga menjawab sekenanya.
“Karupuak jangek lai,” kata dia.
Bicara soal nasib, keluh kesah atau membawa sesuatu untuk sahabat, adalah hal baik. Atau saling sapa lewat SMS.
Menariknya, teman-teman saya semasa sekolah dulu, tidak pernah bilang ada temannya yang sombong. Semua ceria, semua saling membagi cerita tentang teman lainnya, yang jarang berkomunikasi sekalipun.
Akan halnya dadiah dan duku, merupakan oleh-oleh paling berkesan yang saya terima dari seorang teman. Si teman rupanya dapat kabar saya suka kuliner itu, dari teman yang lain pula.
“Paja tu soko ampiang dadiah mah,” kata teman kepada teman di hadapan teman.
Kalau duku? Pasti si teman tahu saja, buah itu disukai hampir oleh semua orang. Saya duga ia punya ladang duku di dekat sekolahnya.
Betapa enaknya punya teman. (Singgalang Minggu » 11 Maret 2012 (18 Rabiul Akhir 1433 H) » )

0 komentar :

Posting Komentar