On 3/09/2012 08:02:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Pekan lalu, saya naik darah karena SMS seseorang. Untuk kejadian itu saya minta maaf pada seseorang itu.
Kejadiannya:
Malam yang sebagian orang menikmatinya dengan ketenangan, bagi saya justru puncak kesibukan. Banjir dalam beberapa hari ini, membuat saya dan seluruh wartawan Singgalang harus memantau seluruh kawasan Sumbar. Pada saat yang sama dunsanak saya terkapar di rumah sakit. Masuklah SMS dari seseorang ke HP saya. Ia mempersoalkan keputusan Mahkamah Agung (MA).
“Ado ado se bla bla...” Itulah penggalan SMS tersebut
“Gilo mah,” jawab saya sekenanya.
Lama kemudian, sekitar satu jam SMS dari nomor yang sama masuk lagi. Isinya kira-kira, pemred kok seperti itu, asal jawab saja.
Saya telepon, HP mati. Berkali-kali, mati juga. Saya kirim SMS minta maaf. Pending. Saya kirim, kenapa jabatan saya dipersoalkan, tak masuk.
Satu jam kemudian, telepon genggam itu aktif lagi. Langsung saya telepon.
Saya diajari atau dinasihati. Saya terima. Tapi ketika saya tanya siapa si Bapak, ia tak mau menjelaskan siapa dia.
“Ndak usahlah, ndak usahlah..,” kata dia. Saya bujuk terus, ia tetap tak mau.
Lantas, “Nama saya Khairul Jasmi, tinggal di Kuranji, kerja di Singgalang, nah, Bapak siapa, mungkin kita berteman,” kata saya.
Sungguh nomor itu tak tersimpan lagi di HP saya. Kenapa? HP saya Nokia E90, teman-teman di kantor tahu, sering rusak dan sering dibawa ke bengkel. Nomor yang disimpan, setengahnya pasti hilang kalau sudah dibawa ke bengkel. Tapi saya terlanjur suka dengan HP tersebut.
Kasus itulah yang menimpa. Saya jelaskan, HP saya terpijak, rusak, mohon disebutkan nama. Akhirnya ia mau dan bilang dari Bukittinggi. Ketika itulah darah saya naik.
Untuk kasus saya marabo berteriak-teriak dan lepas kontrol padanya saya minta maaf. Saat SMS-nya masuk saya berada dalam gebalau kerja yang sumpek. Dia tidak tahu, ini terbukti dalam SMS nya, “Ia minta maaf mengganggu ketenangan saya.” Padahal sungguh-sungguh saat itu saya sama-sekali tidak tenang, tapi sedang kusut masai diburu deadline. Sedang di puncak kesibukan. Jangankan bercanda, makan saja lupa. Kalau ketinggalan satu berita saja dibanding koran kompetiter, habislah saya. Ia tidak tahu.
Yang ia tahu, SMS nya harus dibalas, atau kalau tak suka jangan dibalas sama-sekali. Lantas kenapa mengirim SMS kepada saya? Tidak ada SMS yang tak saya jawab. Lebih dari 70 persen saya jawab dengan bagarah, karena sebanyak itu pula SMS dikirim teman—teman sendiri dengan nada yang sama. Si Bapak sendiri mengirim SMS dalam nada bagarah pula, ketika saya jawab bagarah, saya dikalaseknya.

Pesan moralnya:
*     Lebih dari 70 persen SMS yang kita terima, bisa menimbulkan salah pengertian, karena itu baca lagi sebelum dikirim.
*     Jangan asal mengirim SMS saja, tenggang pula keadaan orang, mungkin dia sedang sibuk, sedang tabanam dalam banda, atau sedang mendorong mobil mogok. Atau sedang bertengkar dengan pemilik kios rokok, karena hutang belum dibayar juga.
*     Mulailah kalimat SMS dengan kata-kata sapaan, “Pak manggadua sabanta...” Lantas lanjutkanlah dengan apa yang hendak kita maui. Atau, “Dimana Pak?”
*     Mulai dengan ucapan salam, misal “As Ww dan akhiri dengan
“    Wass KJ” atau apa saja. Beri identintas SMS itu, supaya orang tahu siapa yang mengirim. Kenapa? Karena HP orang nasibnya tak sama dengan HP kita, misalnya HP orang itu tapijak kudo, pecah. Dilambuik-an bini ka dindiang karena ada SMS aneh. Hanyut saat banjir, dicopet orang, kartunya patah dan sebagainya. Jadi, bisa saja nomor-nomor di kartu lenyap. Bahkan HP dan kartu-kartunya lenyap.
*     Kalau pada teman akrab atau sekantor, mungkin tak perlu begitu, sebab dari gaya bahasa saja, kita bisa tahu.
Saya sering sekali menerima SMS dari orang yang nomornya tidak tercatat oleh berbagai sebab. Saya dibilang sombong. Dia saja, pernah pula tak menyimpan nomor saya, tak pernah saya cap sombong.
Akan halnya si Bapak yang membuat saya naik darah pekan lalu itu, tentu saya menyesali diri karena marah-marah. Marah tidaklah baik, sebab hati yang riang adalah obat.
Nah, Pak maaf yo, baa lai, lapeh sumbeknyo. Kadang pengalaman datang dari hal-hal keseharian yang sangat ringan: SMS. Tapi SMS adalah hal ringan yang berat, bahkan ada lagunya. Laris manis. (Singgalang Minggu » 4 Maret 2012 )

0 komentar :

Posting Komentar