On 3/09/2012 07:59:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Bagi Anda, terutama anggota DPRD se-Sumbar yang sering ke Jakarta, hati-hatilah, nanti bertemu Uya Kuya, terbongkar semua rahasia. Hati-hati juga dengan sejumlah orang, dan beberapa di antaranya meneteng kamera televisi. Mana tahu, Anda sedang membelai-belai rambut orang di eskalator mall, ditangkap kamera. Gambarnya ditayangkan televisi tanpa sengaja. Bisa badaram tibo di rumah.
Uya Kuya adalah nama alias, nama aslinya Surya Utama lahir di Bandung, 4 April 1975 adalah seorang penyanyi, presenter, pemain film, produser, pesulap, dan pengusaha dari Indonesia. Pesulap ditambah hipnotis, merupakan sebuah acara Uya Kuya yang ditayangan di televisi swasta. Sasarannya memang abg (anak baru gede). Tapi mana tahu, sekali ini terbit ulahnya, Anda jadi sasaran.
Ini pesan serius, sebab kata orang, banyak yang alim bin alim awak-awak ini dan bila ke Jakarta, menginap dekat-dekat Masjid Istiqlal. Sebaliknya, banyak pula yang tidak alim, kerjanya main cewek saja. Belanja dengan uang negara, termasuk pijat dan sebagainya.
Teman saya bilang begini:
Kalaulah suatu ketika ada laki-laki dari Padang di Jakarta, sedang berada di sebuah mall, menikmati senja atau sedang memilih-milih baju dengan ‘pasangan jakartanya’ tertangkap kamera. Kebetulan wartawan televisi sedang mengambil gambar untuk berita, dengan tema ‘trend belanja di mall.’ Sorot sana, sorot sini. Awak yang sedang asyik memilih baju sambil bergenggaman tangan, tak sadar kamera televisi sedang menyorot.
Lantas besok pulang ke Padang. Senja sesampai di rumah, bercelana pendek, sambil meminum teh bersama istri dan nonton televisi. Tak lama kemudian muncul merek mall, kemudian lobinya.
“Awak pernah ke mall ko ndak Pa,” kata si istri.
“Oh yo, wakatu libur sari,” kata si Papa.
“Lah jarang Papa ka sinan kini.”
Beberapa detik kemudian, kamera menyorot bagian dalam mall.
Dan, gelas teh sang istri jatuh. Ia meradang, menyepak kiri, menyepak kanan. Botol kue pecah, meja rebah, kacanya juga pecah.
“Tu ha di tipi, manga awak, sia tu, bini mudo? Patuiklah ka Jakarta tiok sabanta, reses, nin nyak nun, nen, ado-ado sae alasan, babini wak sinan kiro-e.”
“Ndak Papa tu doh,” tak ada gunanya lagi. Sebab jelas-jelas si papa ganteng yang disorot televisi.
Satu komplek buncah, satu kantor heboh, teman-teman tertawa geli. Keluar berita di koran. Rumahtangga berantakan.
Begitulah cerita icak-icak teman saya. Dikarang-karangnya saja.
Kalaulah, Anda memang seperti itu dan tertangkap kamera Uya Kuya, maka masalah akan lebih ribet lagi. Heboh bukan main.
Karena itu, hati-hatilah.
Nasihat buya kepada seorang teman, juga untuk saya “barantilah mengicau urang rumah, indak ado guno-e doh, picayolah ka Buya,” kata dia.
“Hati-hati pangkal pandai,” ini pepatah baru ha... ha... (Harian Singgalang26 FEBRUARI 2012 )

0 komentar :

Posting Komentar