On 4/03/2012 07:50:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Demo telah selesai, harga BBM tak jadi naik, 70-an orang jadi tersangka, sejumlah polisi dan wartawan jadi korban karena disiram zat kimia. Cacat seumur hidup. Apa lagi setelah ini? Banyak yang tersisa, sebagai berikut:
On 4/03/2012 07:49:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Minyak. Negeri ini ribut dari ujung ke ujung karenanya. Semua lupa, minyak diciptakan Tuhan karena Ia sayang pada manusia.
Lantas kita berkelahi.
Banyak orang berkelahi karena tidak mendapat. Lebih banyak karena mendapat, tapi tak sama banyak. Sama banyak pun, acap juga membawa sengketa, karena satu sama lain menilai, tak seharusnya seperti itu. Mestinya banyak untuk saya.
Maka muncullah dinamika tidak sehat, saling rampas, saling rebut. Kadang laki orang diambil juga. Bini awak dilarikan entah oleh siapa. Muncullah tragedi. Pada level awal, pacar kita dijujai orang lain. Mengamuk tak jelas ujung pangkalnya.
Peluang kerja untuk kita, tapi karena tidak ada koneksi maka yang lulus orang lain. Mengurus e-KTP, seharusnya duluan, tapi antrean awak dipotong orang. Naik pesawat terbang, bisa juga begitu. Apalagi soal beras raskin dan bantuan gempa.
Nah yang paling ribut soal politik. Hiruk pikuk negeri dibuatnya. Lihatlah pekan lalu, keributan tak terhindarkan karena BBM. Tuhan membuat minyak bukan untuk diributkan, tapi untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya. Yang terjadi justru pertengkaran hebat sejak dulu sampai sekarang. Mulai dari Timur Tengah menjalar ke seluruh dunia. BBM merupakan pemicu paling ampuh.
Jangan-jangan BBM merupakan kutukan pada manusia. Jangan-jangan…
BBM sejatinya untuk kesejahteraan, bukan untuk melukai hati dan perasaan, bukan untuk menghina dan menistakan orang lain.
Bukan untuk dijadikan alat politik. Jika Tuhan mengisap semua minyak di perut bumi seketika ini, maka alangkah malangnya manusia. Apa akal kita lagi?
Kufur nikmat, tidak pandai mem pergunakan rahmat yang diberikan Tuhan.
Saya teringat almarhumah nenek di kampung. Ia nyalakan api di tungku dengan kayu bakar, dengan meneteskan sedikit minyak tanah. Ia nyalakan lampu togok dengan minyak tanah. Ia jadikan minyak itu sebagai obat juga.
Nenek membelinya ke warung seliter dua liter atau sebotol kaca. Ia simpan baik-baik. Kalau satu ketika talendo oleh saya botol itu dan minyaknya tumpah, nenek akan marah. “Lai pandai ang mambuek minyak tu,” katanya.
Pekan lalu kita menyaksikan berhari-hari ratusan ribu orang marah karena minyak. Tidak satupun ada kalimat pujian atas kebesaran Tuhan. Kita lupa.
Kita sibuk bertengkar mencaci maki presiden sendiri. Mahasiswa lupa dengan orang lain. Tampil seolah-olah merekalah yang hebat dan di tangannya nasib bangsa ini.
Negeri kita sobek oleh suara anak-anaknya, terbakar oleh tingkah generasinya. Lantas ada yang bersorak riang. Ada yang sedih, ada yang pura-pura tidak tahu.
Kedewasaan kita habis sudah, luruh oleh emosi. Hanyut dalam sungai kedengkian. Kita memperalat nikmat Tuhan untuk tujuan-tujuan sesaat.
Nenek saya, suatu ketika, kehabisan minyak tanah. Ia bergegas turun mencari daun kelapa kering. Ia bakar, kemudian dihembus-hembusnya lantas dimasukkan ke dalam tungku. Ia pelihara api itu hingga memakan kayu bakar.
Saya teringat semua itu, ketika orang berteriak lantang tentang BBM.
Kita nyaris kehilangan kesadaran atas hal-hal kecil tentang diri sendiri. (*)
On 4/03/2012 07:48:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Pemerintah Sumbar menjadikan Pariangan, Tanah Datar sebagai suatu ikon nagari tuo di Minangkabau, mengikuti alur cerita dalam Tambo. Bahkan api untuk kaldron berbagai iven diambil dari sana. Tapi ketika diminta dana untuk memperancak nagari tersebut, usulan ditolak.
Kisah Pariangan juga dijual ke wisatawan dan dicatat di buku-buku. Sebagai tanda pemerintah provinsi peduli, seharusnya bangun jugalah agak sedikit. Gerbang pun jadi. Jangan lantas ditolak begitu saja. Saya dapat informasi, dana untuk itu dicoret oleh Kemendagri. Mudah-mudahan informasi itu salah.
Orang pariwisata menuliskan nagari-nagari di Tanah Datar sebagai desa sejarah dan budaya, mengajak para turis ke sana, tapi tidak memedulikannya. Mambali nak ibu, mamakan nak lamang. Ini gaya lama.
Pemkab Tanah Datar sendiri, seharusnya juga memberikan perhatian agak berlebih kepada Pariangan, seperti juga Pagaruyuang. Ini penting, untuk menunjukkan, “kita punya sesuatu”.
APBD Sumbar telah kehilangan rasa, yang seharusnya tidak demikian. Atau pengelola pemerintahan yang sudah tidak peduli? APBD 2012 setahu saya memuat anggaran untuk ABS-SBK. Sepanjang tidak ada Tambo Minangkabau baru, maka Pariangan menjadi sentral, seperti juga sejumlah nagari lain di Tanah Datar.
ABS-SBK bisa dipakai untuk menolong Pariangan, seperti yang diperjuangkan sejumlah anggota DPRD Sumbar selama ini. Dan, gagal!
Bagi saya penolakan atas usulan anggaran yang secuil untuk Pariangan, menunjukkan hilangnya pemahaman atas simbol-simbol. Apa perlunya simbol? Sama dengan logo. Penting.
Bukankah Pariangan romantisme sejarah belaka? Kalau ia, maka hidup memerlukan romantisme, hidup tidak lurus saja. Ada cengkoknya seperti lagu dangdut. Lagu tanpa cengkok, cobalah nyanyikan, lain pula dengungnya.
Ah, sejarah Minangkabau 83 persen dongeng dan sisanya baru fakta. Ini sudah sejak dulu disebut-sebut, tapi bukan berarti harus membenci suku bangsa sendiri. Kita hanya punya sejarah moderen, sejarah masa lalu, tidak seberapa. Jangan bersikap seperti itu. Merasa hebat sendiri. Suku bangsa kita dihargai orang, harus didahului oleh kita sendiri.
Tapi tanpa sentuhan pemerintah pun, Pariangan akan terus ada. Sejarah telah memakukan nagari itu di kaki Gunung Marapi, yang dicaci-maki pula dengan pantun “sagadang talua itiak.” Dijadikan lawak-lawakan. Jangankan gunung, isi Tambo saja dilecehkan. Bundo Kanduang dan orang-orang hebat dari Kerajaan Pagaruyuang pun tak luput.
Cobalah kita hidup di zaman kerajaan, apa bisa jadi raja? Kita belum ada apa-apanya. Coba tulis Tambo agak satu, kalau bisa.
Dan soal Pariangan? Banyak yang menyangsikan kebenarannya, karena tidak ada catatan sejarahnya. Jangankan Pariangan, tanggal lahir saja banyak yang tak mencatat. Selain itu, tahukah Anda siapa kakek dari kakek kita? Tahukah batas-batas nagari sendiri?
Nah lupakan? Jadi mentang-mentang tak ada catatan sejarahnya, lantas dianggap dongeng. Kita belum ada apa-apanya. Sungguh. (*)
On 4/03/2012 07:47:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Murai batu pintar berkicau, ayam
jantan, hebat berkokok. Pengamat
piawai mengeritik. Semua jadi salah. Semangat yang ditularkan oleh gencarnya para pengamat menghabisi pemerintah adalah, rasa jengkel, kebencian dan muak.
Ada pendapat yang menyatakan, jika banyak orang merasa gembira, seperti seusai pertandingan hebat, tim kita menang, maka gembiralah suatu negeri. Kegembiraan yang sama itu, tidak muncul begitu saja, tapi dipertemukan oleh sesuatu, mungkin magnet alam. Ada kekuatan tarik menarik antara yang satu dengan yang lain. Begitu juga rasa takut. Saya tak tahu benar, apa ini memang bisa dibuktikan.
Demikian juga dengan sentrum dari para pengamat di televisi, membuat tensi kita sering naik. Marah saja kita melihat keadaan. Rasa marah yang tak lepas justru membuat sakit.
Kita boleh kritis, tapi kalau lebih separoh hidup dihabiskan untuk mencaci-maki saja, maka hal itu tidak baik. Berpikiran positif, jauh lebih baik.
Itu kata orang. Hidup saya, tidak ditentukan oleh seberapa kuat kritikan diberikan kepada pemerintah, tapi bagaimana menata kehidupan itu sendiri.
“Naik-an selah, eboh bana,” kata seorang pegawai rendahan kepada saya. Ini soal BBM.
Ia pakai motor kredit. Belum lunas. Tiap pagi dipakai untuk mengantar anaknya ke sekolah. Juga untuk membonceng istrinya pergi kerja. Motor itu, teman setianya. Sering dicuci, dilap dan dipatut-patut.
“Baa tu, kan maha jadi-e bensin, “ kata saya.
“Memang,” kata dia. Ia mengaku, akrobatik hidupnya merupakan nasibnya sendiri. Pemerintah datang memberi gaji dan kemudian me naikkan harga. ia sedih, sesedih istri nya. Tapi, sebenarnya keluarganya bahagia. Ada rumah kecil, anak-anaknya sekolah dan motor barunya tak pernah rewel.
“Muak ambo dek pengamat di tipi tu, serius,” kata dia lagi.
“Baa kok muak?”
“Mamaneh-mamanehan se karajonyo.”
Seorang teman, karyawan perusahaan swasta, gajinya di atas Rp3 juta sebulan, menguliahi saya soal harga BBM. Intinya, pemerintah tidak becus.
Suatu malam di Jakarta bulan silam, saya bertemu seorang teman. Ia parlente, diajaknya saya ke diskotik. Saya ikuti. Ia berjoget, saya tidak. Saya nyaris kedinginan di sana, karena AC-nya disetel amat rendah. Kepala nyut-nyut, kulit gatal, karena saya galigato. Tak kuat dengan dingin.
“Bagaimana kampung kita?”
“Biasa saja.”
“Kabarnya BBM akan naik, tentu orang kampung semakin susah,” kata dia.
“Kalau susah di kampung, terbang ke rantau,” jawab saya.
Diskusi soal BBM ada di mana-mana. Tapi tidak satupun yang mau berpikir jernih. Saya sendiri, tidak tahu, apakah pemerintah melakukan tindakan yang tepat atau salah.
Pengetahuan yang dangkal menyebabkan saya tidak tajam dan lambat mengambil kesimpulan.
Namun begitu, saya bertanya pada diri sendiri, benarkah kita ini lebih hebat dari insinyur Jepang? Lebih hebat dari menteri?
Rasanya tidak juga. Jujur, saya muak dengan murai batu yang selalu berkicau di televisi. Dia saja yang benar, orang lain tidak. (*)