On 4/03/2012 07:47:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments
Murai batu pintar berkicau, ayam
jantan, hebat berkokok. Pengamat
piawai mengeritik. Semua jadi salah. Semangat yang ditularkan oleh gencarnya para pengamat menghabisi pemerintah adalah, rasa jengkel, kebencian dan muak.
Ada pendapat yang menyatakan, jika banyak orang merasa gembira, seperti seusai pertandingan hebat, tim kita menang, maka gembiralah suatu negeri. Kegembiraan yang sama itu, tidak muncul begitu saja, tapi dipertemukan oleh sesuatu, mungkin magnet alam. Ada kekuatan tarik menarik antara yang satu dengan yang lain. Begitu juga rasa takut. Saya tak tahu benar, apa ini memang bisa dibuktikan.
Demikian juga dengan sentrum dari para pengamat di televisi, membuat tensi kita sering naik. Marah saja kita melihat keadaan. Rasa marah yang tak lepas justru membuat sakit.
Kita boleh kritis, tapi kalau lebih separoh hidup dihabiskan untuk mencaci-maki saja, maka hal itu tidak baik. Berpikiran positif, jauh lebih baik.
Itu kata orang. Hidup saya, tidak ditentukan oleh seberapa kuat kritikan diberikan kepada pemerintah, tapi bagaimana menata kehidupan itu sendiri.
“Naik-an selah, eboh bana,” kata seorang pegawai rendahan kepada saya. Ini soal BBM.
Ia pakai motor kredit. Belum lunas. Tiap pagi dipakai untuk mengantar anaknya ke sekolah. Juga untuk membonceng istrinya pergi kerja. Motor itu, teman setianya. Sering dicuci, dilap dan dipatut-patut.
“Baa tu, kan maha jadi-e bensin, “ kata saya.
“Memang,” kata dia. Ia mengaku, akrobatik hidupnya merupakan nasibnya sendiri. Pemerintah datang memberi gaji dan kemudian me naikkan harga. ia sedih, sesedih istri nya. Tapi, sebenarnya keluarganya bahagia. Ada rumah kecil, anak-anaknya sekolah dan motor barunya tak pernah rewel.
“Muak ambo dek pengamat di tipi tu, serius,” kata dia lagi.
“Baa kok muak?”
“Mamaneh-mamanehan se karajonyo.”
Seorang teman, karyawan perusahaan swasta, gajinya di atas Rp3 juta sebulan, menguliahi saya soal harga BBM. Intinya, pemerintah tidak becus.
Suatu malam di Jakarta bulan silam, saya bertemu seorang teman. Ia parlente, diajaknya saya ke diskotik. Saya ikuti. Ia berjoget, saya tidak. Saya nyaris kedinginan di sana, karena AC-nya disetel amat rendah. Kepala nyut-nyut, kulit gatal, karena saya galigato. Tak kuat dengan dingin.
“Bagaimana kampung kita?”
“Biasa saja.”
“Kabarnya BBM akan naik, tentu orang kampung semakin susah,” kata dia.
“Kalau susah di kampung, terbang ke rantau,” jawab saya.
Diskusi soal BBM ada di mana-mana. Tapi tidak satupun yang mau berpikir jernih. Saya sendiri, tidak tahu, apakah pemerintah melakukan tindakan yang tepat atau salah.
Pengetahuan yang dangkal menyebabkan saya tidak tajam dan lambat mengambil kesimpulan.
Namun begitu, saya bertanya pada diri sendiri, benarkah kita ini lebih hebat dari insinyur Jepang? Lebih hebat dari menteri?
Rasanya tidak juga. Jujur, saya muak dengan murai batu yang selalu berkicau di televisi. Dia saja yang benar, orang lain tidak. (*)

0 komentar :

Posting Komentar