On 7/02/2012 03:30:00 AM by Khairul Jasmi in ,     No comments

Khairul Jasmi/Yose 
Malam telah larut, mata mengantuk berat, tapi suasana masih ramai. Menteri BUMN Dahlan Iskan, memilih tidur di Pesantren Darul Ulum, Aie Pacah, Padang. Kontan saja, Dirut Semen Gresik, Semen Padang, Walikota Padang, serta pejabat lain tidur bareng di tempat itu.

“Asek… asekk…,” kata seorang santri girang. Sudah dinihari, Minggu (1/7), Dahlan membuka baju putihnya, mahampaikan seenaknya di konsen pintu yang belum terpasang. Membuka sepatu ketsnya. Ia kemudian bersinglet, seperti kita-kita ini. Lantas ia ambil kain sarung kotak-kotak. Gampang saja, ia pun berkain sarung, juga seperti orang kebanyakan.
Kasur yang sudah dirapikan dengan alas putih, sebuah bantal dan salimuik amak-amak telah menunggunya, tak ia hiraukan. Dahlan tidur di karpet dengan sarung. Ditarik ke atas, kaki tersingkap, ditarik ke bawah kepala tacogok.
Dua stafnya terlihat berkemas, mencari lokasi tidur sendiri di pesantren itu.
Bagi warga pesantren, tentu saja peristiwa tersebut, luar
biasa hebatnya. Bayangkan saja, seorang menteri dan rombongan tidur di tempatnya yang tersuruk. Warga Padang saja, sangat banyak yang tak tahu lokasinya. Pesantren itu terletak di belakang Terminal Aie Pacah.
Semula direncanakan Dahlan akan tidur di Wisma Indarung kompleks PT Semen Padang. Tapi, begitu ditawari tidur di pesantren, ia langsung oke.
“Ya saya tidur di sini,” katanya.
Ia tidur di sebuah gedung yang luasnya kurang lebih 10×15 meter dan beruangan lepas. Gedung itu baru saja selesai dibangun dan direncanakan untuk asrama para santri. Di sana Dahlan tidur dengan Walikota Padang Fauzi Bahar, sejumlah pejabat Kementrian BUMN, pejabat sejumlah BUMN seperti Dwi Sucipto dari Semen Gresik dan Munadi Arifin dari Semen Padang, pengurus pondok pesantren, dan empat orang wartawan lokal.
Dalam ruangan tersedia sekitar 10 spring bed lengkap dengan bantal, selimut, dan satu kipas angin. Tapi, dasar wartawan, ia tidur di karpet yang lain pun mengikutinya.
“Pakau den, lalok di lapiak apak tuh,” kata seorang santri, heran.
Salah satu alasannya sering berjalan ke kampung-kampung dan tidur bersama warga setempat, khususnya di rumah warga miskin, untuk merasakan perbedaan kemiskinan saat dia miskin dulu dan kemiskinan pada hari ini di Indonesia. Dulu, kata Dahlan, meski miskin rasanya tak pernah menderita karena semuanya miskin. Sekarang hidup miskin rasanya menderita karena di sekitar kemiskinan terlihat orang-orang yang hidup dengan kemewahan.
Kedatangan Dahlan Iskan ke Darul Ulum menjadi kebanggaan tersendiri bagi para santri. Apalagi, bagi sebagian besar santri dan masyarakat sekitar, sebelumnya mereka hanya kenal Dahlan Iskan lewat pemberitaan di TV dan koran.
Seperti yang dikatakan seorang santri, Khairul Fatah, Jangankan pejabat negara setingkat mentri, pejabat daerah saja jarang mengunjungi mereka. Dan yang membanggakan dari kedatangan Dahlan, dia tidak sekadar datang sebentar saja, tapi juga tidur di sini.
Nyenyak
Tak tahu apakah tidur orang-orang hebat itu nyenyak. “Saya nyenyek sekali, cuma beberapa jam,” kata Dahlan kepada Singgalang. Kebiasaan yang tidak lazim itu, bukan sekali ini dilakukan Dahlan. Ia pernah tidur di rumah petani miskin beberapa kali.
Kala fajar menyingsing, Dahlan sudah bangun. Ia lilitkan handuk putih di lehernya, bersarung, pergi ke kamar mandi. Ia mandi dengan timba. Pakai sabun batangan.
“Pak menteri mandi bantuak awak mandi lo oi, batimbo,” lagi-lagi seorang santri bicara kepada temannya.
Tatkala pagi, ia sudah sampai di Indarung untuk acara jalan pagi dengan karyawan Semen Padang serta melihat-lihat pabrik. Beberapa orang terkantuk, menguap, mata merah, tapi tidak dengan Dahlan.
Terkejut
Dahlan mendarat di Padang Sabtu malam. Ia terus ke Pesantren Hamka di Padang Pariaman. Di sana, Dahlan mengejutkan banyak orang karena tiba-tiba berdiri meninggalkan tempat bersimpuh yang disediakan, hanya untuk melayani dialog langsung dengan para pengunjung.
Dahlan Iskan sepertinya enggan berpidato panjang lebar. Usai makan malam bersama, ia langsung melayani permintaan panitia untuk sesi tanya-jawab. Dahlan memberi kesempatan untuk bertanya apa saja. Mulai dari kehidupan pribadi, persoalan bangsa hingga birokrasi pemerintahan.
“Asal jangan tanya soal politik. Yang lainnya boleh apa saja,” katanya.
Seorang siswa kemudian berdiri dan menghampiri Dahlan untuk bertanya. Siswa aliyah itu bertanya alasan Dahlan memilih kunjungan ke Pesantren Hamka sekaligus pandangan terhadap ketokohan Hamka.
Menurut Dahlan, pesantren Hamka selama ini telah menunjukan prestasi yang baik serta para pengasuh juga baik sehingga tetap eksis hingga saat ini.
Soal ketokohan Hamka, kata Dahlan, sudah dikenal sejak ia masih muda melakoni profesi sebagai wartawan. “Banyak karya Buya Hamka yang saya baca dan itu jadi referensi. Ketokohan beliau setidaknya harus tercermin pula bagi siswa di pesantren ini,” papar Dahlan yang disambut tepuk tangan para hadirin.
Penanya kedua Walikota Padang Fauzi Bahar. Wako dengan pengalaman marinir itu meminta Dahlan mengisahkan kembali kehidupannya saat pergi sekolah tanpa menggunakan sepatu.
Dahlan pun menjawab panjang lebar. Terlahir dari keluarga miskin dengan profesi orang tua sebagai buruh tani, tak menyurutkan langkah untuk menuntut ilmu. Kehidupan miskin dilakoni Dahlan sembari menuntut ilmu di pesantren. Saat pulang sekolah, kata Dahlan, ia terbiasa langsung mandi di sungai sembari memancing ikan.
“Kadang di rumah makanan tidak ada. Baju pun hanya satu untuk dipakai beberapa hari. Tapi miskin dulu tidak sama dengan sekarang. Dulu kami senang saja menjalaninya,” ujar Dahlan.
Menurut Dahlan, kemiskinan dulu, tidak terasa menyiksa karena sekeliling juga dalam keadaan miskin. Saat itu juga tidak ada barang dan gedung mewah sehingga tak menimbulkan kecemburuan. Berbeda saat ini, orang miskin banyak yang memiliki televisi dan punya handphone. Hanya ketimpangan masih terlihat karena sebagian yang lain sudah sangat kaya dan punya gedung megah.
“Ini menimbulkan rasa ketidakadilan. Kalau ingin mengatasi masalah bangsa ini maka keadilan harus dirasakan semua orang. Kalau boleh kita hitung, 1-8 persoalan bangsa itu adalah soal kemiskinan setelah itu baru pembangunan yang lain seperti infrastruktur,” beber Dahlan yang pernah menjadi wartawan Majalah Tempo itu.
Usai menjawab dua pertanyaan, Dahlan kemudian diminta pengurus pesantren untuk membuka secara resmi penerimaan siswa santri putri. Penerimaan siswa putri merupakan yang pertama kali sejak Pesantren Prof Hamka berdiri Agustus 1991.
Rombongan kemudian bertolak menuju Padang dengan waktu kunjungan hanya sekitar 45 menit. (*)

0 komentar :

Posting Komentar