On 7/02/2012 03:29:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments

Padang – Singgalang
Wartawan termasuk seniman tidak bisa diatur, tidak bisa diarahkan, bahkan digiring. Mereka mempunyai arahan sendiri. Wartawan profesional, bukan berarti tidak boleh salah, tapi begitu salah, ia harus melakukan sesuatu yang profesional sehingga tidak ada yang dirugikan.

“Saya tidak ingin memberikan pengarahan. Jadi saya tidak perlu bicara apa-apa,” kata Ketua SPS, pemilik Jawa Pos yang juga Menteri BUMN, Dahlan Iskan kepada insan pers di Ruang Rapat Lantai I Semen Padang, Indarung, Minggu (1/7).
Hadir dalam acara itu Ketua PWI Sumbar H. Basril Basyar dan jajaran, pemilik Harian Singgalang, H. Basril Djabar dan para pemimpin redaksi serta sejumlah wartawan. Para petinggi Semen Padang dan Semen Gresik. Dahlan hadir di Sumbar dalam kunjungan kerjanya ke PT Semen Padang.
Santai, bergegas, bersepatu ket, hadir sesuai jadwal sekitar pukul 09.45 WIB. Sebelum memasuki ruangan, Pemred Harian Singgalang, Khairul Jasmi, menyerahkan buku ‘Gempa Dahsyat Sumbar’ dan novelnya, ‘Lonceng Cinta di Sekolah Guru’ yang diterbitkan Gramedia (2012). Dalam acara, pengurus PWI Eko Yanche Edrie juga me nyerahkan buku tentang kegiatan rehab dan pemulihan listrik di Sumbar, pascagempa.
Ketua PWI Basril Basyar yang mengantar acara bicara singkat, disusul Basril Djabar, kemudian beberapa wartawan lain pun bertanya.
Dalam pekerjaannya, kata Dahlan, wartawan tidak bisa diatur. Seniman juga demikian. Ketika novel ‘Sepatu Dahlan’ hendak ditulis oleh Khrisna Pabichara, ia tidak mau mengarah-arahkan. “Silahkan riset sendiri jika jalan hidup saya mau dijadikan inspirasi,” kata Dahlan yang mengaku belum membaca novel tersebut.
Dahlan yang dikenal akrab dengan rakyat kecil itu, akhirnya hanya memberi kesempatan dialog dengan wartawan, menerima pertanyaan dan masukan. Dari beberapa pertanyaan hanya dua hal yang sempat dijawab dengan tuntas, menyangkut CSR BUMN, PKBL dan harga kertas. “Soal harga kertas, yang diberi keringanan atau no tax, nanti akan kita bahas dalam Rakernas Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) di Pekanbaru 13 Juli mendatang,” tukasnya.
Ketua SPS Sumbar, Darlis Syofyan menyampaikan, wartawan diperlakukan tidak baik oleh oknum marinir saat meliput pembongkaran kafe mesum di Bukit Lampu. Menurut Darlis, hal itu bertentangan dengan undang-undang. Menanggapi hal itulah Dahlan menyatakan, wartawan jangan diatur, karena ia bisa mengatur dirinya sendiri.
“Jangan diatur-atur, mereka punya cara sendiri,” kata wartawan senior ini.
Menurut dia, wartawan tiap hari dihadapkan pada persoalan besar, kemudian mereka menstrukturkan persoalan itu, menyusunnya sesuai skala prioritas dan menuliskannya dalam bahasa sederhana, singkat dan padat.
“Jika bangsa ini diurus seperti wartawan bekerja, banyak sekali masalah bisa terselesaikan,” katanya.
Standarisasi
Ia menanyakan sudah seberapa banyak wartawan di Sumbar yang lulus uji kompetensi wartawan (UKW). “Yang sudah lulus itu profesional, meski begitu, bukan berarti tidak boleh salah, wartawan boleh salah karena model pekerjaanya, namun kemudian ia harus bertindak profesional untuk memperbaikinya,” kata dia.
Begitu juga perusahaan pers yang sudah lulus kompetensi. “Perusahaan pers yang sudah selesai diuji kompetensi, itulah yang profesional dan sekali lagi, bukan berarti tak boleh salah,” kata dia.
Novel
“Ini novel Anda sudah ditandatangani?” Tanya Dahlan kepada Khairul Jasmi.
“Sudah, Pak,” jawab KJ, sapaan Khairul Jasmi.
Ia sempat membaca halaman pertama.
“Bagus, kalimatnya pendek-pendek, apalagi dicetak Gramedia. Saya tamat Madrasah, Anda SPG, bagus, akan saya baca sampai ta- mat,” kata Dahlan kemudi- an.
“Ada novel sambungannya?” tanya dia lagi. Ia berharap wartawan juga menulis novel.
Seusai dialog di gubernuran seorang mahasiswa meminta agar Dahlan menandatangani novel ‘Sepatu Dahlan’. Ia pun membubukanya. Kemudian buku ‘Ganti Hati’ juga ditandatanganinya.
Cium tangan
Sebelum bertolak ke Jakarta, rombongan Dahlan makan dulu di rumah makan Lambun Ombak, Khatib Sulaiman. Seusai makan, sebelum berangkat Dahlan disalami oleh banyak pengantar.
“Saya tidak bisa antar ke bandara,” kata pemilik Singgalang, Basril Djabar. Dahlan kemudian mencium tangan Basril Djabar dua kali.
“Ondeh nyo cium tangan Da Bas,” celetuk seorang staf Semen Padang.
Dahlan ditemani Dirut Semen Gresik, Dwi Sucipto pun berangkat ke bandara, untuk seterusnya menemani Presiden Susilo Bambang Yudhyono ke Australia. (yose)

0 komentar :

Posting Komentar