On 8/28/2012 10:01:00 PM by Khairul Jasmi in     No comments

Jalan raya telah jadi ladang pembunuhan selama lebaran. Peristiwa itu bisa untuk bahan koreksian total bagi hidup berbangsa. Pemerintah dan masyarakat luas, jika tak kunjung berubah, maka anak-anak bangsa ini, akan terus bergelimpangan di jalan raya. Kita sepertinya menyelepekan peristiwa kematian.

Lihatlah data ini, selama musim lebaran, 11 hingga 26 Agustus, polisi mencatat 908 nyawa manusia melayang di jalan raya di seluruh Indonesia. Jumlah kecelakaan lalu lintas yang tercatat dalam sebuah operasi yang dinamai Operasi Ketupat 2012 mencapai 5.233 kasus. Sebanyak 1.505 orang terluka berat dan 5.139 orang luka ringan.
Penyebab kecelakaan antara lain kelalaian pengemudi, kecepatan laju kendaraan yang terlalu tinggi, serta ketidakhati-hatian pengemudi memasuki jalanan licin, rusak dan mendahului kendaraan lain.
Komisi V DPR mendesak pemerintah pusat membenahi dan mengucurkan anggaran tidak hanya untuk jalan nasional tapi juga untuk jalan provinsi dan kabupaten, karena daerah tak punya anggaran yang cukup.
Apapun, tiap lebaran menjadi kisah gembira sekaligus sedih. Kematian menjadi statistik, lalu dilupakan. Terkesan kita mulai menyepelekan kematian. Padahal kematian, di mana pun di dunia menjadi peristiwa yang menggetarkan, mengundang kesedihan. Dalam, tradisi dua abad lalu di Minangkabau, kematian diiringi dengan mengundang tukang ratok ke rumah duka. Maka
terkenallah ratok Bagindo Usman.
Kematian, membuat anggota keluarga kehilangan orang yang dicintai. Cinta, betapa dalamnya kata itu. Para sastrawan di dunia tak habis-habisnya menggali makna kata itu. Tapi oleh kita, cinta dibunuh di jalan raya. Lantas bangsa ini tidak memberikan reaksi yang memadai.
Kematian benar-benar begitu sepele. Di jalan raya pula. Korbannya 75 persen anak muda. Tunas bangsa yang seharusnya tidak mati sia-sia. Jalan raya jadi ladang pembunuhan. Lantas apa kata negara?
Negara entah kenapa lalai mengurus hak-hak publik. Lalai memberikan pelayanan mendasar, asyik dengan pertumbuhan market, bukan pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan jumlah kendaraan, terutama roda dua berbanding terbalik dengan penyediaan sarana jalan raya. Jalan yang ada, tidak memadai. Jika rusak, perbaikannya dikebut menjelang lebaran. Sistem anggaran benar-benar mengabaikan kesibukan rakyat untuk mudik, tapi mengacu pakai kaca mata kuda pada sistem beku birokrasi kandang besi. Pokoknya, kalau anggaran belum ada, jalan tak bisa diperbaiki, mau lebaran atau inyiak lebaran, emang gue pikirin.
Padahal jalan dibangun untuk rakyat, bukan untuk sistem birokrasi kaku itu. Sistem itu hanya alat, tapi sekarang kita tunduk pada alat. Maka biarlah jalan hancur saat lebaran.
Di sisi lain pertumbuhan market atau pasar menjadi penting. Penjualan motor dan mobil membesarkan hati, sebab kelas menengah tumbuh gemilang. Namun jalan tak bertambah. Pelebaran jalan saja sulitnya minta ampun. Negara hanya mengurus aspal, pembebasan tanah dilakukan pemerintah daerah. Padahal semua tahu, anggaran pemerintah daerah itu 70 persen untuk gaji.
Itu sama dengan: menyuruh anak pergi ke Jakarta, hotelnya dibayarkan, tapi tiket cari duit sendiri. Melihat kasus ini, tepat apa yang disarankan DPR, negara harus mengurus jalan sampai ke kabupaten. Bukankah kabupaten itu, Indonesia juga?
Jalan raya, adalah ladang kesedihan, juga lambang ketidakberesan. Terutama lambang betapa kita tidak peduli dengan penyelamatan diri sendiri dan orang lain. Jalan raya juga menggambarkan, rakyat semaunya. Sesuka hatinya dan menjadi alat untuk menyalahkan pemerintah yang sudah banyak kelemahannya itu.
Kematian di jalan raya menjadi pertanda banyak orang yang tidak sabar, mau bergegas, seperti dia saja yang ingin cepat. Di lokasi yang sama, kita saling memaki, menjadi terhukum dan sekali waktu menjadi pemenang karena “sukses” menyalah-nyalahkan orang lain.
Jalan raya adalah halaman rumah kita, tengok ke atas rumah, adakah sesuatu yang tidak beres, sehingga jalan raya kita bisa menjadi ladang pembunuhan? Jangan lagi menyepelekan kematian. Tuhan bisa marah. (*)

0 komentar :

Posting Komentar