On 11/21/2012 06:23:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments

KHAIRUL JASMI
Kalau soal awal puasa Ramadhan bertikai, maka langsung keluar pernyataan, “perbedaan itu rahmat.” Tapi, bagi warga Timur Tengah, perbedaan adalah sengsara. Buktinya, Jalur Gaza di Palestina digempur Israel, negara-negara Islam berkicau bak murai batu, setelah itu senyap, sepi, hening, diam lalu icak-icak tidak tahu.

Israel menggempur Palestina sudah bak makan obat sejak puluhan tahun lalu. Komentar kita? “Hancurkan Israel, adili, kutuk, Amerika jangan memihak juga. Zionis, Yahudi!”
Itu saja, selebihnya pidato. Sementara Iran, seperti mau pecah televisi dibuat oleh pernyataan pemimpinnya. “Israel akan jadi debu, Israel seketika bisa lumat.” Omong doang.
Mesir? Bantuak ndak tau saja. Jika negara-negara Islam, atau cukup Timur Tengah saja, bersatu, masalah Israel dan Palestina selesai. Tapi tidak, mereka takut dengan Amerika.
Sementara itu para relawan masuk ke Gaza membawa perbekalan, obat, uang serta membantu para korban perang. Mereka tidak pernah berpidato tapi berbuat. Di seluruh dunia, relawan bergerak lalu mengantarkan sumbangan.
Itu sudah terjadi berulang-ulang, hampir tiap tahun, tapi Palestina bermasalah juga. Di Palestina itu sendiri, masalah bejibun pula banyaknya. Semua ingin berkuasa.
Menurut saya masalah Palestina tidak akan pernah selesai, karena memang tidak ada yang punya keinginan serius menyelesaikannya, sebab yang ada hanya pernyataan kutuk ke kutuk saja. Israel mana peduli dengan pernyataan semacam itu.
Atas dukungan penuh Inggris, negara Israel berdiri 1948, seusai Perang Dunia II. Sejak itulah Timur Tengah semakin tidak sejuk. Dari sisi Israelnya, mereka benar mempertahankan “negara” mereka sampai saat ini. Dari sisi Palestina juga benar memperjuangkan hak-haknya, sebab mereka dijajah. Perang yang terus terjadi, adalah keniscayaan sejarah belaka. Kalau Israel dan Palestina tidak berperang lagi, itu baru mantap.
Yang mantap itulah yang tak pernah terjadi, sebab terjadi pembiaran. Palestina merasai, Israel seperti malambuik-an baluik mati. Pemerintah negara Islam atau negara berpenduduk Islam, ngecek-ngecek saja. Rakyatnya sudah muak, pemerintahnya tak melayani dengan jujur.
Kita luka oleh perangai Israel itu. Jika benar sepucuk surat di Facebook dibuat oleh pemuda Palestina untuk umat Islam Indonesia, maka tak ada gunanya kita menangis untuk Palestina. Yang mereka perlukan bukan air mata, bukan membakar bendera zionis, tapi kemerdekaan.
Orang Palestina tidak bisa membeli susu formula untuk bayinya, mereka tidak bisa bercelana pendek sore hari sambil menjujai-jujai anaknya yang lucu. Anak-anak mereka tewas oleh peluru dan mortir Israel. Tubuh mereka bercerai-berai.
Wanita hamil mereka, mati di tengah jalan karena abulance ditembak Israel. Jika tak ditembak, melahirkan di tengah jalan karena terkena blokade. Di sini, bayi dibuang ke selokan, dicampakkan begitu saja.
Di negara kita, jam makan siang meriah oleh tawa dan canda, di Palestina, desingan peluru di mana-mana. Malam, sambil mangulek-ngulek, kita menikmati tayangan televisi, baik sinetron atau acara yang banyak tawa-tawanya. Di Palestina, warga tak punya listrik.
Kalau koran membuat berita perang Israel-Palestina, judulnya saja yang dibaca. Dibuat bertirit-tirit agak lima kali, langsung datang protes, “Itu ka itu se berita mah, kan ndak parang agama doh, parang tu lah biaso mah,” Protes tanpa beban, ringan, melayang dan luar biasa tak pedulinya.
Hari-hari ini anak-anak Gaza kehilangan orang tuanya. Ada yang tersebar, deretan jenazah anak-anak yang sudah dikafani berjejer panjang. Anak-anak Gaza itu, seperti juga anak-anak kita. Di sini, mereka diantar ke sekolah dengan perlengkapan cukup, di sana, mereka kehilangan nyawa.
Benarkah muslim itu bersaudara? Katanya sih iya. (*)

0 komentar :

Posting Komentar