On 11/02/2014 03:36:00 AM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Teman saya, seorang guru yang sudah berdiri di depan kelas puluhan tahun, bertutur: Anak sekarang cium tangannya sangat santun, seolah-olah kita sedang berada di pintu surga, tapi isi sms sesamanya, seolah-olah sedang berada di diskotik.
Katanya lagi, anak sekarang kalau menyapa ibu guru, suaranya meliuk seperti suara Iyet Bustami sedang mendendangkan, “laksamana raja di laut”, persis pada kata “laut”.
Padahal waktu si guru jadi murid dulu, ia menyapa ibu gurunya dengan mengangguk takzim.
Saya bukan guru, tapi teman saya banyak yang guru. Sebagian jiwa saya adalah guru. Mendengar penjelasan teman itu, saya sering menemukan contoh-contohnya dalam keseharian.
Ada beberapa sikap tak baik dalam menyimak tingkah laku anak: Pertama orangtua cenderung membela habis-habisan perangai anaknya. Kedua, masyarakat cenderung menghukum.
Sikap yang di tengah-tengah: Berusaha memahami, sembari mencoba memperbaiki.
Sikap antipati: Suko ati kalianlah, baelah bara talok.
Kenapa sikap remaja dulu dan sekarang berbeda? Karena zaman juga sudah berbeda. Rasa-rasanya elok zaman dulu dibanding sekarang. Tapi tidak juga.
Seingat saya, tak banyak anak-anak zaman dulu yang cium tangan, baik pada orangtua atau pada guru atau pada orang dewasa. Yang wanita, dulu tak banyak pakai jilbab. Kini, jilbab sansai saja sepanjang jalan.
Tapi dulu tak ada tari telanjang, kini ada. Dulu kita tak tahu, kita ketahuan.
Anak sekarang kerjanya pacaran saja. Kata siapa? Kata orang yang muak. Doeloe? Ha ha ha, hampir semua cerita randai adalah soal kisah cinta.
Dulu bini orang banyak. Kini hanya satu, tapi suka selingkuh.
Membanding-bandingkan masa lampau dan sekarang secara serampangan, tidak akan membuahkan hasil.
Kembali pada si guru, teman saya itu. Ia cemas, karena karakter anak didik sekarang tidak kokoh. Etika kurang, moral amburadul. Kalau ini, mulai serius. Menurut dia, sekolah, sebagaimana namanya seharusnya juga bekerja untuk moral dan etika.
Tapi apa hendak dikata, masuk pagi, pulang berebut senja. Kapan anak bisa bermain. Maka bermainlah ia lewat SMS dan facebook di malam hari. Waktu bermain anak dirampas secara serampangan oleh kurikulum. Kita membiarkannya.
Anak-anak dijadikan robot, harus masuk IPA harus masuk kelas internasional, harus bisa ini dan bisa itu. Dengan demikian harus les ini dan itu.
Gila!
“Yang gila orangtua mereka,” kata teman saya itu.
Teman saya kemudian merentak pergi meninggalkan saya.
“Antahlah yuang, jadi guru juolah,” kata saya. Langkahnya tertahan, remnya pakam. Lalu berbalik dan berucap sambil tertawa.
“Itu gunanya kita masuk sekolah guru, untuk jadi guru, kemudian terima uang sertifikasi,” katanya sambil menyebut gajinya terakhir.
Besok pagi ia kembali ke sekolah dan akan dicium punggung tangannya oleh para siswa. Ia tahu, mana anak-anaknya yang berkirim SMS gadis dan bujang dengan sebutan “papa-mama” atau “ayah dan bunda”.
“Ditirunyo di rumah tu mah,” kata saya.
“Kadang seperti di sinetron, sensa kami dek anak-anak kini,” kata dia.
Jadi guru jugalah kau. (*)

terbit di hariansinggalang
On 11/02/2014 02:16:00 AM by Harian Singgalang Padang in     No comments
Saya naik pesawat Susi Air dari Simpang Empat ke BIM, begitu mendarat saya sudah ketinggalan siaran langsung pengumuman kabinet oleh Presiden Jokowi. Tak tahunya pemilik pesawat itu, Susi Pudjiastuti dipercaya menjadi menteri. Bangga pertama saya pada Menteri Luar Negeri, Retno Lestari Priansari Mar
On 10/25/2014 03:53:00 AM by Harian Singgalang Padang in     No comments
Bagaimana ini? Habis deposit akal saya melihat orang berebut melamar untuk jadi CPNS. Seragam cokelat susu itu, mungkin seperti lukisan indah di ruang tamu presiden. Ini era enterpreneurship, tapi samudera biru itu seperti tak menarik. Generasi muda berbondong-bondong melamar CPNS, termasuk anak Presiden Jokowi. 
Melamar CPNS, tak tahunya toefl harus ada. Kalang kabut hilir mudik untuk mendapatkannya. Belum lagi akreditasi PTS, bikin pusing lulusannya, takut tak diterima lamarannya oleh panitia. Tambah lagi melamar secara online, ondeh mandeh. Akan halnya Toefl, seolah-olah hebat benar kita, padahal setelah jadi PNS, EYD mereka kacau. Dalam sepucuk surat yang keluar dari kantor pemerintah, sekaliber kantor gubernur pun, pasti ada EYD nya yang salah. Begitu bertahun-tahun. Bahkan plang nama dan imbauan di baliho pun acap salah. Tata bahasanya kacau.
Belum lagi soal passing grade yang dinaikkan, setiba di ruang kerja nanti hal itu, tak berguna lagi. Budaya kerja menyeret CPNS ke situasi harian yang baru sama-sekali. Lambat laun tanpa terasa, CPNS yang baru itu, bukannya mengubah suasana, melainkan tenggelam dalam ruangan berliku birokrasi kandang besi.
Dan saya teringat peristiwa lebih 20 tahun silam.
Melamar jadi CPNS. Tak sulit, gampang benar. Saya kini menyimpan SK pengangkatan CPNS guru di rumah, sebuah SK di kertas setebal doorslag tapi licin. Tak sempat masuk kelas, tak sempat menikmati gaji, saya sudah cabut, meninggalkan zona nyaman itu. Sebuah keputusan yang berat, bertentangan dengan kehendak zaman, namun keputusan harus saya ambil.
Peristiwa itu terjadi akhir 1980-an, beberapa tahun setamat IKIP Padang, ketika di Sumatera Barat, dunia kewartawanan sama-sekali belum menjanjikan apapun, tapi kemudian saya hanyut dalam dunia yang satu ini.
Di dunia itu, kini, saya menatap ke berbagai sisi, seperti di puncak sebuah tower, leluasa mangamati kejadian demi kejadian. Saya intip dunia bisnis, betapa nyamannya di sana, apalagi ketika pelakunya, memetik hasil dari kebun yang ia tanam sendiri. Mereka memiliki saving yang cukup, bisa menikmati layanan kesehatan, pendidikan dan libur yang cukup. Mereka bekerja dengan menggaji banyak orang, pada level lain, uang bekerja untuk dirinya, bukan sebaliknya.
Kenapa saya tidak jadi pengusaha? Saya tak kuasa menjawabnya, tapi sebaliknya malah secara terus-menerus menatap pada dunia CPNS. Mesin birokrasi yang berkarat, memerlukan pegawai kantoran untuk bekerja. Ini sebuah warisan dari zaman kolonial. Kolonial memerlukan pegawai kantoran untuk memutar roda birokrasinya. Mereka digaji, disuruh-suruh dan kemudian hasil kerja mereka dilaporkan pada atasan. Sejak Belanda merekrut pribumi untuk jadi pegawai, maka hingga kini budaya kerja di kantor pemerintah itu tak hilang-hilang, mengubur semangat wirausaha. Seolah-olah, menjadi saudagar itu susah, sulit. Menjadi pengusaha itu, sulitnya minta ampun. Tapi pengajian di surau seringkali menyebut, Nabi Muhammad justru jadi pedagang, bukan pegawai.
Budaya jadi pegawai dan kemudian amtenar itu, membeku dan membentuk harapan yang tinggi, lalu menyatu masuk ke tubuh kebudayaan bangsa. Maka jangan heran, seperti ditulis Wawako Padang, Emzalmi di surat kabar ini, tahun ini telah ada sejumlah 2.519.031 orang yang mendaftar tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di seluruh Indonesia. Menurut Kementerian PAN-RB, angka tersebut akan terus bertambah karena terdapat tiga provinsi yang belum membuka pendaftaran CPNS 2014 yaitu NTT, Papua dan Papua Barat. Bila dibandingkan dengan jumlah formasi yang tersedia, yakni 63.752 formasi, maka satu formasi akan diperebutkan 40 orang.
Dari angka sebanyak itu, konon terselip seorang remaja Indonesia, dialah anak Presiden Jokowi. Ia melamar menjadi CPNS. Jutaan orang di antaranya melamar menjadi guru dan tenaga medis. Lembaga pendidikan untuk kedua hal itu, saat ini sedang panen peserta didik, namun setelah tamat, kemana mereka hendak bekerja? Sekolah kita sudah menjadi mesin industri, yang hanya menciptakan lulusan berijazah kertas, tapi kemudian terseok-seok masuk dunia kerja.
Sementara itu, para CPNS di kantor-kantor kementerian berdebar, siapa yang akan jadi menteri, kapan kita naik pangkat, bayarnya berapa? Bukankah sebuah adegan di youtube (mungkin) pernah disaksikan, seorang PNS mengamuk, karena tiba-tiba ia batal dilantik jadi pejabat, karena tidak sanggup membayar sejumlah uang pada atasan.
Sementara itu pula, jadi pejabat saat ini, tidaklah gampang, telepon disadap, tiap sebentar diperiksa inspektorat, BPK, jaksa, polisi, ombusman, dikejar pers, diwawancarai LSM. Apalagi jika KPK kalau sudah turun tangan, habis sudah semuanya. Menjadi pejabat teknis, seperti di PU, hari ini juga amatlah rumitnya, dari bawah sampai ke pucuk menyandar kepadanya. Minta ini dan itu. termasuk minta didatangkan tukang ke rumah, karena atap dapur bocor.
Berebut jadi CPNS disesali banyak pihak, tapi hanya sekadar menyesali, tak ada jalan keluar. “Harus tumbuh pengusaha baru,” katanya saja begitu, namun pemerintah tidak menggiringnya. Bicara saja, tindakan tidak ada. Mengurus izin setelah membuat CV saja, minta ampun sulitnya. Ingin jadi pengusaha, tapi kok susah benar? “Rumah tampak, jalan tak ada.” Datang ke bank, seperti dipersulit, minta proyek ke pemerintah, sudah banyak mafianya di sana.
Kita memang memerlukan pekerjaan, kalau bisa, sore sudah bercelana pendek di rumah sambil minum teh. Banyak malasnya. Malas ini dan itu. Bisanya masuk pagi pulang sore. Di kantor pakai meja. Kalau disuruh rapat, harus pakai uang rapat, disuruh pergi jalan, harus pakai uang jalan. Jalannya dalam kota pun jadi. Naik pesawat harus Garuda. Rapat sering di hotel, kalau soal alasan bisa dicari.
Bayangkan saja, gaji bupati saja saat ini tak sampai Rp10 juta, padahal kita tahu penerimaannya jauh lebih tinggi dari itu. Sistem pengupahan dalam birokrasi kita, tidak transparan. Sesungguhnya, seorang bupati dan walikota, sudah tidak memerlukan uang di dompetnya. Apa saja bisa ia beli, asal jangan kereta api saja. Mulai dari tisu di WC, kalau WC nya pakai tisu seperti di Amerika sampai beli rumah dan segenap isinya. Perai semua. Betapa mulianya, betapa bergunanya ia disekolahkan orang tuanya. Bayangkan dengan orang seusia bupati dan walikota itu, jadi tukang ojek, berkeringat dengan rompi bau di pinggir jalan. Nasib memang berjarak oleh pilihan kita sendiri.
“Duduk sini KJ,” kata Wawako Padang Emzalmi pada saya menunjuk jok di mobil sedannya. Saya ia suruh duduk di sana kalau saya mau. Ha ha ha…, padahal Pak Emzalmi itu baru mendudukinya. Sejak jadi wawako, ia sering saya lihat pakai dasi.
“Lama tak jumpa,” kata Sekda Pessel Erizon kepada saya beberapa hari lalu. Ia terlihat agak kurus, rupanya karena rajin memelihara kesehatan tubuh. Erizon sebaya saya, merupakan pejabat karir, ia contoh PNS yang sukses. Kalau jadi PNS berjalan dengan baik, terus-menerus menambah kapasitas terpasang, mau belajar, mau sekolah, mau baca buku, agak gaul saja, maka karir pasti melejit. Hari ini hampir semua pejabat, bahkan gubernur sebaya saya, merupakan orang-orang hebat. PNS banyak yang hebat, sehebat pengusaha sukses, sehebat siapa saja. Yang jadi masalah adalah; setelah masuk PNS, lantas lenyap di lembah tak bernama itu. Atau, masuk PNS, agar kelak dapat pensiun, atau yang lainnya lagi, hanya CPNS yang gue suka. Atau berikutnya, emak menyuruh masuk CPNS. Apapun itu, pilihan adalah otoritas pribadi, tak boleh orang lain ikut campur.
Sebagian generasi muda harus keluar dari zona nyaman. Jangan lagi memburu kursi PNS semua, tapi harus membangun usaha lain di luar itu. Namun apa hendak dikata, dunia kita sudah dikungkung sedemikian rupa, sehingga tiada lain, hanya CPNS yang paling hebat. Tidak mau menerobos, tidak ada tantangan. Meminjam istilah Rhenald Kasali, generasi sekarang maunya jadi passenger, tidak driver. Kemana dibawa nasib sajalah. Tapi apa pula urusan tukang tulis seperti saya ini, “Jika saya mau masuk PNS? heboh saja, ha ha ha” Tak ada urusan, maaf ya. Makanya harap dicatat, mengeritik melulu, tidak baik, bukankah karir PNS itu banyak yang bagus. Negeri ini diputar oleh PNS. Anda dididik guru yang PNS. He he he, rasailah…
Saya lihat lipatan kertas SK PNS saya dalam map dokumen. Tatkala dibuka, ada yang melekat satu sama lain. Saya masih ingat, di ruang koordinator administrasi (kormin) P dan K Sumbar, saya duduk di kursi tamu dan menyaksikan Pak Kormin menandatangani SK tersebut. Jika saya menjadi PNS, awalnya saya akan menjadi guru sejarah dan mungkin hari ini akan jadi pejabat, semisal kepala dinas pendidikan di satu kabupaten, atau malah tetap jadi guru, dengan celana tak berstrika. Jadi guru dengan 24 jam tatap muka seminggu, menerima tunjangan sertifikasi. Membeli mobil, kemudian dibilang hedonis oleh pers. Tapi nasib berkata lain, saya sekarang berada dunia jurnalistik, saya tak punya jam kerja yang ketat, saya bisa bekerja di mana saja.
Menerima gaji yang lumayan. Tak kaya-kaya juga, seperti juga mungkin Anda. Tapi tak semua orang harus kaya, yang penting, tidak tegang urat kepala. Sesekali terbang ke luar kota, dengan pesawat kelas ekonomi, turun di bandara, dijemput mobil pribadi. Enak juga.
Pilihan hidup memang tergantung kita, namun jika peluang jadi PNS bak menembus lubang jarum, kenapa harus bersirebut juga ke sana? Lalu apa nan kalamak dek apak? Menulis ke menulis saja, coba tunjukkan kalau iya? He he he… jadi presiden saja seperti Jokowi, atau pengusaha seperti JK kemudian jadi wapres. Atau seperti Irman Gusman, Gamawan Fauzi, Emirsyah Satar yang jadi Dirut Garuda atau jadi Zairin Kasim yang bos PT Sutan Kasim, jadi Datuk Pangeran yang punya hotel. Atau seperti orang Sanjai, Kapau dan nagari-nagari sekitar Bukittinggi yang warganya jadi wirausahawan. Atau jadi wartawan saja ha ha ha…
(*)
On 10/25/2014 03:45:00 AM by Harian Singgalang Padang in     No comments
“Paspornya Ncik,” kata petugas hotel kepada saya di Bandung ketika menginap di sana untuk acara Forum Pemred. 
“Saya dari Sumatera,” petugas hotel tersenyum mendengar jawaban itu. Ia kira tamunya dari Kuala Lumpur, karena menurut dia, logat Sumatera mirip-mirip dengan Malaysia. Sebenarnya bukan karena itu, tapi pengunjung utama Bandung saat ini memang dari Malaysia.
Saya menemani kawan membeli celana levis, lagi-lagi petugas di sana bertanya apakah akan membayar dengan rupah atau ringgit. “Dengan ringgit Ncik?”
Saya teringat Bukittinggi, kota idaman itu. Sekarang sudah tak banyak lagi pengunjung dari Malaysia yang datang ke sana. Yang banyak, orang Sumbar berobat ke Melaka. Guru-guru atau kelompok tertentu berdamawisata ke Singapura, Malaysia terus ke Thailand Selatan via Batam.
Apa yang sudah lalai kita lakukan selama ini? Tentu tiap orang bisa menggurui orang lain. Namun menurut kesimpulan sementara, Sumatera Barat tidak serius mengelola wisatanya. Semua mau digarap tapi tak satupun yang selesai. Hal elementer saja, soal pelayanan dan kebersihan, belum beres-beres sampai sekarang. Pelaku wisata, sesak menahan hati melihat keadaan yang ada. Mata pencarian mereka di sana, tapi tak bersesuaian saja dengan apa yang dilakukan pemerintah.
Promosi misalnya, mana yang lebih bagus pejabat-pejabat pariwisata kita yang pergi ke luar negeri, agency dan pers di sana yang diundang ke sini? Di dalam negeri juga begitu. Orang Bali misalnya, pasti ingin berwisata pula seperti kita, begitu juga warga di Pulau Jawa, kemana mereka akan pergi? Salah satu pilihannya tentu bisa Sumatera Barat, kenapa tidak diundang pers di sana untuk berkunjung ke sini. Wartawan pasti akan menulis di korannya sesampai di daerahnya. Apa bedanya dengan wartawan di sini. Saya kira ini lebih bagus.
Saya pernah menerima keluhan duta besar Indonesia untuk Prancis di Paris beberapa tahun silam. Ia telah mengirim rombongan untuk melihat-lihat keindahan pulau-pulau di Padang, termasuk kota tua. Sayang, tamu itu, kata Pak Dubes, tidak dilayani dengan baik dan mereka amat kecewa. Dubes juga kecewa. Karena kecewa itu, ia meminta kami berkunjung ke kota tua di pinggiran Paris. “Itu bisa dicontoh untuk Padang, supaya walikotanya tahu, “ katanya.
Saya juga pernah ke Vietnam, tak menyangka wisatanya begitu maju. Pelayanan sangat prima apalagi kalau berkunjung ke Ha Long Bay, teluk yang amat indah itu. Di sini ada kawasan Mandeh dan lainnya yang bisa digarap sedemikian rupa.
Kata seorang pejabat kepada saya, “urang awak ko munafik”. Kita tentu tahu apa maksudnya. Saya agak bingung sebenarnya, apa benar kita munafik, jangan-jangan kita jujur pada kebimbangan dalam menyikapi hal-hal baru.
“Encik, telepon bimbitnya, tertinggal,” kata orang Bandung kepada saya habis minum kopi. Lagi-lagi saya dikira orang malaysia. Rupanya sekeliling saya orang Malaysia semua.
“Oh iya, saya nak ke tandas sekejap,” saya jawab saja lagi dengan bahasa Melayu.
Saya rindu turis Malaysia berlalu lalang lagi di Bukittinggi. Kalau di Padang? Masih jauh panggang dari api. (*)
On 10/12/2014 02:23:00 AM by Harian Singgalang Padang in     No comments
Hambar hati saya mendengar pengamat berkicau soal politik di televisi. Kalau diperturutkan, bisa ke belakang suap kita dibuatnya. Tak ada yang baik negeri ini di mata mereka. Omdo kata anak muda, maksudnya omong doang, maksudnya lagi, asal bicara, mangecek se nan pandai. Makin banyak orang bicara politik, makin tak maju negeri ini dibuatnya. 
Saya kadang ingin berbeda dengan arus besar yang sedang berlaku di Indonesia. Arus besar itu “politik dan demokrasi harus tegak setegak-tegaknya, tak peduli berapapun ongkosnya, tak peduli rakyat miskin.” Saya ingin sebaliknya, bagaimana rakyat sejahtera dulu, baru setelah itu, kita bersitegang soal politik, sampai keluar urat leherpun jadi. Tapi, saya sepi sendiri.
Karena rakyat miskin, maka musim pilkada rakyat panen, satu suara Rp50 ribu plus baju kaos. Coba kalau rakyat sejahtera, paling tidak mendekati sejahteralah, untuk apa oleh mereka baju kaos dan Rp50 ribu, sebab mereka punya tabungan. Sekarang? Jangankan tabungan pembeli bensin seliter saja tak ada, tapi beli rokok ada, ha ha ha…
Tapi sudahlah, ini musimnya pengamat politik panen. Di kolom ini pernah saya tulis, pengamat jika diadu dengan pengamat lain, tak sama pula pendapatnya. Masing-
masing berusaha mempertahankan pendapatnya. Politikus sama saja. Fakta telah menunjukkan, hampir semua politikus, banyak untuk dia, sedikit untuk orang. Berdagang proyek kerjanya. Mencari rente dan berpikir untuk golongannya. Dari ujung sampai ke ujung, hanyut dalam keasyikan membangun kepentingan sesaat. Ada satu dua yang bersuara jernih.
Maka beginilah Indonesia hari ini. Ke hilir tidak, ke mudik juga tidak. Semakin liar, semakin menjauh dari orbit. Kian merisaukan hati. Yang paling risau petani. Garam, kentang, buah, daging, kacang-kacangan dan lain-lain diimpor. Korek api dan peniti juga diimpor. Inilah negeri kita, Indonesia. Tapi jangan bicara hal semacam ini di depan politikus, sebab ia akan cepat menangkap dan bilang.
“Benar sekali, karena pemerintahnya tidak beres,” katanya. Tapi kemudian, ia tenggelam lagi dalam dunia politik, demokrasi, hukum, berbalik lagi ke politik dan seterusnya. Diajak bicara soal budidaya rumput laut, dia tak mau. Diajak bicara buka usaha, dia ogah. Politik terbit syahwatnya.
Ini bulan bicara soal DPR, MPR, kabinet Jokowi dan seterusnya. Bicara tentang Jokowi harus bisa membuktikan programnya pro rakyat. Panas pula tadah dari gelas. Tenang sajalah, Jokowi itu akan bekerja dengan baik. Marah-marah sama Koalisi Merah Putih (KMP) yang menyapu habis unsur pimpinan DPR dan MPR. Lho itukan konsekwensi demokrasi, wajar-wajar saja itu bro. Tak usah marah-marah dan dibilang merampas hak rakyat. Jika memang merampas, kita rampas lagi. Ayo rampas, ayo bergerak. Ota saja yang banyak. Kemudian tak perlu pula dan tak usah mengajar-ajari Jokowi-JK soal siapa menterinya, sudah tahulah dia, tunggu saja tanggal 20 Oktober.
Menurut saya inilah negeri sok demokrasi, sok pilkada, sok pemilu, sok seleb, sok neolib, sok terkebelakang dan sok maju. Demokrasi itu suatu ketika akan seperti granat yang dilempar ke tengah-tengah tatatan sosial yang kusut masai, bukannya menyelesaikan masalah, tapi memicu masalah baru.
Bukan demokrasinya yang salah, tapi si demokrasi itu, hadir di tempat yang salah dan waktu yang salah. Bagi saya tatanan sosial itu yang diperbaiki terlebih dahulu, sembari menghadirkan demokrasi secara hati-hati dan terhormat. Bukan amburadul seperti sekarang, sehingga kita pengagung demokrasi dan politik, justru tidak menghormatinya.
Demokrasi harus dihormati, bukan dipermain-mainkan. Demokrasi bukan kantong uang seperti sekarang. Demokrasi yang dihormati, dengan gagah akan hadir mengantarkan uang bagi siapa saja. Mana yang penting bagi kita sekarang demokrasi atau uang? Jangan dijawab, dibantainya kita nanti oleh orang, dituduh anti demokrasi, padahal dia tak belajar demokrasi.
Bagi rakyat yang penting hidup tenang, aman, nyaman, punya pendapatan tetap, bisa saving, bisa berlibur, biaya kesehatan terjangkau, pendidikan gratis, malam tenang, siang damai. Yang mau menikah tak susah, yang mau bekerja gampang. Tidak ada preman, jika ada tak banyak benar. Tidak ada politisi yang borjuis, aparat mengabdi sesuai tupoksi, pemerasan, suap, pungli lenyap tak berbekas.
Nah Indonesia? Selamat berdemokrasi, berpolitik, semoga makin lama kian membaik. Selamat berhari Minggu, lihatlah keindahan gerhana dan ini bukan omdo.(*)
On 10/05/2014 02:19:00 AM by Harian Singgalang Padang in     No comments
Kalau keputusan MK dalam kasus pilpres setebal 4.390 halaman, maka ini hanya 650 halaman. Apa itu? Tebal buku saya. Buku apa pula? Buku kumpulan feature tentang nyaris semua aspek kehidupan di Sumatera Barat. Feature itu saya buat ketika jadi reporter Republika sepanjang 1993 sampai 2006. Sejak jadi Pemred Singgalang, kebiasaan menulis feature saya turunkan ke sejumlah wartawan di koran ini. Saya memantau-mantau saja, sesekali gatal-gatal juga tangan ini dan saya tulis feature.
On 9/28/2014 02:22:00 AM by Harian Singgalang Padang in     No comments
Agak banyak tokoh kita pekan-pekan ini masuk televisi nasional, suka saya. Ada Gubernur Irwan Prayitno di ILC TV One, ada Syamsu Rahim di Metro TV. Saldi Isra apalagi, akibatnya sulit profesor itu ditelepon.
Kemudian pada pada 1 Oktober, dilantiklah anggota DPR-RI di Jakarta. Jumlah mereka ratusan orang. Ada dua hal yang menarik saat pelantikan, pertama pimpinan termuda DPR ternyata wakil dari Sumbar, Ade Rizky Pratama. Kemudian salah seorang wakil daerah ini, tampil dengan pakaian keseharian wanita di Minang, baju kuruang basiba. Maka sorot televisi tiap sebentar pada dia, Betty Shadiq. Kabarnya 2 September lalu saya juga mencogok di televisi, tatkala buku saya diluncurkan Jokowi di Jakarta, ha ha ha…
Gubernur Irwan tampil di ILC berbicara soal pilkada tidak langsung lebih bagus di Sumbar karena biayanya amat tinggi. Tapi kemudian disepak oleh pengamat politik Masful lewat tulisannya di sebuah koran. Eee… belakangan DPR menyetujui pilkada tidak langsung, maka hebohlah negeri ini. Kita memang suka yang heboh-heboh.
Lalu Syamsu Rahim, suka pilkada langsung, masuk TV pula, heboh pula, jadi DP di Blackberry segala. Masuk koran pula sesudah itu. Mantap pak bupati yang satu ini.
“Bupati deyen masuak TV,” begitu status Sawir Pribadi di BB-nya, wartawan Singgalang. Di lapau soal Irwan dan Syamsu, jadi bahan perbincangan hangat, lebih hangat dari goreng pisang yang mulai dingin.
Ade Rizky Pratama anak muda dari Minang jadi pimpinan sementara. Setelah terpilih pimpinan defenitif, Ade apakah akan sering terlihat di TV atau lenyap selenyap-lenyapnya bagai batu dilempar ke lubuk. Tak bersuara, anok, gana dan entah apalagi. Betty? Baju kuruang basiba, oke. Setelah ini, kepakkan sayap untuk Ranah Minang, kalau diam saja, habislah.
Siapa lagi orang Minang yang sering mencogok di layar kaca? Ya Saldi Isra itu, hebat dia, bangga saya. Selain itu ada Andrianof Caniago, Fadli Zon, Taslim dan sejumlah nama perantau lainnya. Tentunya Gamawan Fauzi, Patrialis Akbar. Yang sangat pasti, Karni Ilyas.
Dalam hati saya bangga, urang awak di pentas nasional. Sebangga diri saya kalau saya masuk TV. Bangga dong, kalau masuknya karena hal bagus. TV itu memang membius.
Maka setelah ini saya akan saksikan siapa wakil kita di DPR yang sering diwawancarai reporter. Kalau takkan berkicau di Senayan sana, untuk apa jadi murai. Jadilah murai bagi Sumatera Barat. Perjuanganlah hak-hak rakyat dan Anda akan masuk TV dengan sendirinya.
Bagi kita-kita yang orang biasa ini, ada tokoh daerah masuk TV nasional, muncul rasa bangga. “Urang awak mah,” nah begitulah. Asal jangan karena kasus hukum saja.
Kalau sering masuk TV titel kita berubah langsung, “selebritis.” Kalau sudah demikian, agak tinggi dari biasanya. Mulai dikenal dan terkenal.
Kalau sudah terkenal, maka hebat. Kalau sudah hebat, selesailah segala urusan. Kalau isi dompet? itu hal lain. (*)
On 9/21/2014 02:21:00 AM by Harian Singgalang Padang in     No comments
Ini lagu Minang, “Dikijoknyo Den,” lalu oleh Upiak Isil didendangkan dalam bahasa Indonesia, maka jadilah lagu itu, “Dikedipnya Aku.” Lagu ini kocak, riang khas lawak Minang. Paten.
Kok jadi uda ka balai
tolong balikan kain rancak
kok sayang uda ka denai
tolong cukua bulu katiak
dikedipnya aku dikedipnya aku.. aku gak mau doh, dikedipnya juga baru…
Hidup memang terasa berat bagi sebagian besar orang, tidak bagi yang lain. Lagu kocak seperti ini, seperti mengungkai buhul yang mencekik. Orang bisa tertawa lebar demi mendengarnya. Tertawa, apalagi lebar, adalah obat.
Lagu, akan enak didengar jika menurut kita enak. Atau, anggap kisah dalam lagu itu adalah kisah sendiri, maka enaklah lagu tersebut. Selera kita soal musik memang beragam, seberagam musik itu sendiri. Ada yang suka semua, ada empat atau tiga. Satu di antaranya paling di suka. Kalau tak menenggang-nenggang, bisa berjoget saja kerja dibuatnya.
Saya punya teman, seorang petani, ia ke ladang membawa tip kecil, ia gayutkan di dahan kayu, diputarnya lagu Misramolai, bergumam-gumam ia sambil bekerja, sesekali berdendang. Di Singgalang, sejumlah wartawan sudah dipanggil berkali-kali, tak menyahut, rupanya ia sedang mendengar lagu dari telepon genggamnya. Ia cucukkan ke telinganya kabel, maka terdengarlah olehnya lagu. Sendirian menikmati lagu tersebut. Teman yang lain, pakai
pelantang suara, dari komputernya, lagu-lagu era 1980-an, tak peduli apakah orang suka atau tidak. Banyak orang yang berdendang-dendang sambil mandi. Banyak pula yang hapal lagu di zamannya, tapi refrennya saja, kalau terdengar orang bernyanyi dia bisa. Disuruh benar, salah-salah, kecuali ada teks.
Sejak muncul teknologi karaoke, sudah banyak yang jadi penyanyi, tak peduli bagaimana nadanya. Semua berdendang, baik di tempat sewaan karaoke atau di rumah. Sendiri-sendiri atau bersama-sama. Jika semua alat musik tak punya, cukup dengan siul. Siul juga macam-macam, ada yang bariton ada yang melengking bahkan alakadarnya. Hampir semua lelaki bisa bersiul. Perempuan juga, tapi jarang. Ah musik memang menakjubkan.
“Dikedipnya aku, aku tak mau doh, dikedipnya juga baru…”
Dan sebenarnya, ini lagu “Dikijoknyo Den,” yang didendangkan oleh Melati, sebait lagunya:
Pilin bapilin tali rantai, ka tali baruak sadionyo
Kirim bakirim kok tak sampai, alah mabuak kaduonyo
Dikijok no denai, dikijok nyo den
Aden ndak namuah doh doh
Dikijok nyo juo… baru.
Dikijoknyo den atau dikedip atau dikijap, adalah gerakan sebelah pelupuk mata, untuk memberi kode atau untuk menggoda lawan jenis. Biasanya yang tukang kijok itu laki-laki. Kijok telah terbukti bisa membuat orang kemudian berpacaran. Laki-laki kata sebuah penelitian memikirkan seks minimal 7 kali dalam sehari. Ha ha ha, ini di antaranya bisa termasuk kijok tadi.
Menurut sejarah yang entah akurat entah tidak, manusia sudah mengenal musik sejak 180.000 hingga 100.000 tahun yang lalu di Afrika, benua tua yang kita tidak mengakrabinya. Kita lebih kenal Eropa yang suka menjajah itu. Jangankan Afrika, negeri-negeri di rusuk dapur saja, kita tak berminat mempelajarinya. Kalau ditanya apa ibukota Laos? Atau ibukota Myanmar dan apa nama negara ini dulu, agak lama berpikir baru terjawab. Tapi kita kenal bahkan akrab dengan nama-nama ikan siam, jagung thailand, labu siam dan sebagainya. Apalagi durian bangkok, masuk kepala ke nabunya, belum juga bertemu bijinya. Enaknya bukan main.
“Dikedipnya aku…”
Lagu Minang yang lucu dan menghibur. Tiap daerah, memiliki lagu yang bagus, yang kemudian menjadi lagu rakyat. Lagu yang dikenal secara luas di Indonesia bahkan bisa dibawakan oleh suku bangsa lain. Begitulah ketika HUT RI 2014, sehabis upacara bendera, menjelang lagu ciptaan SBY dibawakan, anak-anak sekolah menyanyikan lagu dari daerah-daerah, tapi saya kecewa tak ada lagu Minang, padahal sebelumnya selalu ada. Negeri ini mulai melupakan Minang rupanya.
Ah sudahlah, “dikedipnya aku,” suka hati Upiak Isil sajalah. Yang jelas lagu ini sudah booming, meledak, orang pun tertawa-tawa, seperti akan dapat adik baru saja. Ha ha ha ha…
Berdendanglah mulai dari lagu barat, klasik, tradisional mungkin juga lagu kasidah. “Dunia dalam berita, berita dalam dunia,” lagu kasidah yang terkenal itu.
Banyak lagu yang terkenal melampaui zamannya. Kata orang paruh baya dan generasi tua, lagu anak muda sekarang berguman-guman tak karuan saja. Padahal bukan lagu itu yang bergumam, tapi selera yang berbeda. Nah terbukti sekarang, paling tidak soal musik, tiap zaman berbeda-beda seleranya. Yang tetap sama, selera akan nasi ramas atau nasi ampera. Soal makan, doeloe tak ada larangan makan malam, sekarang pantangan sudah banyak. Perut malam jam 10 malam, tak boleh makan nasi, lutok saja buah apel agak dua, kenyang. Handeh, zaman memang aneh-aneh.
Dikedipnya aku… yang suka mengedip-ngedip itu para lelaki. Tukang kijok, dari generasi ke generasi. (*)
On 9/14/2014 02:21:00 AM by Harian Singgalang Padang in     No comments
Orang-orang yang berusia 45 tahun ke atas, semasa sekolah diperkenalkan warna dasar yaitu hitam putih merah kuning biru hijau. Kalau warnanya bergeser sedikit atau dikombinasikan, maka tak tahu lagi apa namanya. Maka dinamakanlah sesuai warna buah atau apalah. Misalnya, ada warna kopi susu, ada merah jambu, bungo taruang, ijau pucuak pisang, kuning langsat, kuning gading, abu-abu, merah darah, hitam pekat, bahkan ada kalabu asok.
Saya kadang menyebut biru dengan hijau. Doeloe guru mengajarkan jika ingat laut maka itulah warna biru. Kalau hijau ingatlah daun kayu di rimba. Asosiatif seperti itu, ternyata menganggu sekaligus menolong saya sampai sekarang.
Biasanya orang yang sulit membedakan biru dan hijau, perangainya bisa sama. Sulit saya maksud bukan buta warna, tapi ia berpikir dulu sejenak, membayangkan laut dan hutan belantara, baru kemudian ia bisa menyebut, ini “biru” atau ini “hijau”. Untuk warna dasar lainnya, mereka tak kesulitan sama-sekali. Namun untuk warna kombinasi, mereka tahu tapi namanya tak jelas, karena nama warna sekarang ratusan banyaknya.
Kesamaan kebiasaan biru-hijau misalnya, suka jengkol ha ha ha. Kesamaan lain, ingin sekali ke suatu tempat, sesampai di sana, sebentar saja dia sudah ingin pergi lagi. Tergesa-gesa, mau cepat saja. Tapi kalau dia wanita, suka sekali tawar-menawar, kalau lelaki, cepat yakin dan langsung beli, lalu salah membeli, akhirnya menyesal. Tapi, sering jitu.
Kebiasaan lain, suka menyanyi sendiri, disuruh benar menyanyi, dia enggan. Mereka biasanya suka panorama tapi cepat pula bosan di panorama itu.
Memang sewaktu sekolah saya belajar warna ditamsilkan ke warna-warna yang ada di alam, maklum saat itu belum ada komputer belum ada kombinasi warna yang banyak. Bahkan untuk belajar huruf, juga ditamsilkan pada alam. Untuk huruf “S” misalnya, guru minta kami membayangkan ibu kami menggoreng belut di rumah. Bunyi mengoreng itu, “ssssss” dan belut kalau digoreng bergulung seperti huruf “S”. Untuk huruf “R”, kami disuruh memanggil ayam, nah itulah “R”.
Dan tentu saja, semua orang, termasuk generasi terakhir, disuruh menggambar, semua membuat gambar dua gunung, dengan matahari memancar di antara keduanya, lalu ada jalan raya di depan dengan beberapa batang kelapa. Gambar lain sebagai tambahan bisa kursi, meja atau lemari.
Sekarang zaman makin maju, jumlah warna kian beragam, perkakas kian menumpuk, alat peraga pengajaran di sekolah semakin banyak, guru semakin pintar, peserta didik bertambah luas pengetahuannya, baik karena sekolah atau karena kehadiran internet.
Lalu generasi biru hijau kian jauh berjalan, di depan, tapi di depannya masih banyak orang, di belakangnya juga banyak. Mereka terkepung di tengah-tengah, antara dunia lama dan dunia baru. Yang bisa menyesuaikan diri, amanlah dia, yang tidak, maka sepilah dia di antara keramaian.
Generasi biru hijau, mungkin bukan generasi, tak semuanya begitu. Mungkin hanya segenlintir yang membedakan biru dan hijau harus mengingat laut dan gunung terlebih dahulu. Tapi mereka ada. Mereka adalah generasi motode eja di sekolah. “Ini ibu budi.” Metode eja itu, dalam otak terpikirkan bahwa setelah “bu…” pastilah “di…” makanya jadilah “budi.” Padahal setelah “bu…” bisa “aya” atau “lan.” Karena itu, mereka kesulitan membaca nama Zulmasri, sebab biasanya kalau ada “zul”, maka tentulah “Zulfikar.” Kalau ada “Khai” pastilah “rul”, padahal bisa “khairen”.
Saya tak tahu kenapa orang bisa buta warna, dan saya sudah dites oleh dokter mata, tidak buta warna. Saya tahu semua nama warna yang diperagakan kepada saya. Bagaimana rasanya hidup kalau buta warna,m sayapun tak tahu, tapi kira-kira tak soallah itu, kalau hanya sekadar buta warna.
Dan sekarang warna web di komputer Anda ada ratusan yang saya tak memperdulikan apa namanya. Sama tak pedulinya dengan warna-warni baju yang dipakai tiap orang, tak perlu saya hapal, sebab tak akan ujian. Kita memang tak tahu nama semua warna. (*)
On 8/05/2014 02:20:00 AM by Harian Singgalang Padang in     No comments
Untuk sebuah keperluan, bebe- rapa hari lalu saya tampil
dengan pakaian sipil lengkap (PSL). Hari-hari sebelumnya saya sudah biasa memakai jas, namun kali ini, harus pakai baju lengan panjang, dasi dan jas. Soal dasi, saya bisa memasangnya, karena belajar waktu di sekolah guru, SPG doeloe. Saat jadi mula-mula wartawan diajari oleh Bapak Soediro dari Korem. Ia bukan mengajari saya, tapi Mafri Amir (sekarang dosen di UIN), tapi saya ada di sana. Pelajaran itulah yang saya ingat terus. Memasang dasi yang benar, rasanya saja yang gampang, kalau tak pandai berpilin dan ketika ditarik perlahan saat membuka, dasi akan membuhul. Jika begitu, pasangnya salah.
Saya menemukan kesulitan ketika memasang kancing baju paling atas, sudah lama sekali tak pernah saya lakukan. Jika memakai dasi, tanpa mengancingkan buah baju paling atas itu, maka kita akan terlihat bolok. Tapi hal itu bisa saya lewati dengan baik, meski agak lama. Akan halnya kancing baju, sudah dikenal sejak 2.000 tahun silam, lebih muda dari sisir yang sudah dikenal manusia sejak 5.000 tahun silam.
Akan halnya jas, saya punya beberapa, yang paling disukai, selalu dipakai ketika jadi host acara Forum Editor. Baju lengan panjang? Ada satu, selebihnya lengan pendek. Ada lengan panjang yang lain, tapi lengannya pakai tali untuk mengamankan gulungannya. Baju ini tak cocok dipakai bersama jas. Jas berkembang di Eropa sekitar 1666 di Istana kerajaan Inggris, kemudian di Prancis.
Celana kain? Banyak, namun dua tahun belakangan hanya saya pakai sekali sepekan, yaitu hari Jumat bersamaan dengan batik. Selebihnya jeans, sepatu kain. Kenapa begitu? Karena lebih enteng. Sepatu kain harganya Rp182 ribu keluaran Bata.
Sedang memakai PSL itu, saya foto dengan kamera HP dan dipasang jadi DP di Blackberry. “Bupati ko?” seorang teman memberi komentar. Pernah beberapa bulan lalu, mantan sekda Sumbar, Firdaus K, bilang begini, “KJ ko kalau didandani lai gagah lo mah,” katanya ketika ia melihat saya memakai jas. Padahal tanpa jas pun, saya gagah dari dia, he he he…
Pada hari-hari biasa saya lebih suka pakai kasual sebab saya bekerja sampai malam. Hari libur pakai kaos. Ini bukan meniru-niru Dahlan Iskan. Pak Dahlan itu lahir dari rahim jurnalistik dan semua wartawan di Indonesia memang lebih suka pakai kasual, pakaian sederhana.
Sama dengan inisial, wartawanlah yang lebih dulu memakainya baru menular pada banyak orang. Saya misalnya, lebih dulu dipanggil KJ ketimbang SBY-JK yang populer sejak beliau-beliau itu menjadi presiden dan wapres. Basril Basyar (BB) ketua PWI Sumbar sudah lebih lama lagi dari saya memakai inisial. He he he, ini sekadar klarifikasi saja.
Akan halnya PSL, seorang rekan di Singgalang, bertanya, apa PSL itu, anak saya disuruh ke sekolah pakai PSL. “Pansan den,” kata dia. Anak sekolah memang harus diajari setidaknya berpakaian rapi lengkap dengan dasi, termasuk dasi kupu-kupu, sebab di sekolah waktu mereka bisa mendapatkan ilmu kecil-kecil tapi perlu itu. Sekali seminggu, misalnya tiap Senin, semua siswa harus pakai dasi, seperti waktu saya sekolah doeloe.
Dan, pada suatu hari pekan lalu saya kembali memakai dasi, setelah 2004 memakainya dua kali seminggu karena kebutuhan kuliah. Lalu kemudian nyaris tidak pernah. Padang yang panas, memaksa saya harus memilih pakaian yang menyerap keringat, ringan, santai dan sepatu tidak berat, sebab saya turun naik ke lantai tiga, ke belakang dan sebagainya. Ternyata jauh lebih enak memakai sepatu kain ringan ketimbang sepatu kulit yang juga ringan.
Begitulah suatu hari pekan lalu saya memakai PSL tak ada masalah, semua biasa saja, kecuali soal kancing baju paling atas, yang dekat leher itu. Seingat saya, untuk baju pria, tukang jahit memberi lima kancing saja, tapi baju siap pakai sekarang, kancingnya tujuh, tambah cadangan dua, belum lagi kancing kecil di ujung kerah. Untuk keperluan tulisan ini, saya memakai sebutan kancing, padahal biasanya buah baju, seperti kita tuturkan sehari-hari.
Kadang apa yang kita tuturkan, kita elakkan saat menulis, he he ada-ada saja.(*)
On 1/20/2014 01:52:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Sekolah sejak dari TK -- sebenarnya TK bukan sekolah dan saya tak pernah masuk TK -- sampai perguruan tinggi, adalah perjalanan yang melelahkan. Menghabiskan uang yang tak sedikit. Tapi bagaimana lagi, itu bagian dari perjalanan hidup seseorang di dunia modern. Dengan sekolah secara akademis orang belajar banyak hal. Dengan hidup orang belajar "membaca" rasa perih, cinta, kasih sayang, cemburu, sakit, saling pengertian dan peduli sesama. Juga merasakannya.

Kemanapun seseorang sekolah, ia akhirnya butuh kerja. Tak ada orang yang tak bekerja, kecuali yang tak patut, misalnya anak-anak dan orang tua. Bekerja adalah sambungan dari masa sekolah. Masa sekolah formal berakhir ditandai dengan ijazah dan gelar akademik. Gelar akademik saya pertama adalah D-3. Hanya itu yang tergapai dan saya bekerja sebelum gelar itu diraih. Banyak orang mendapat titel sarjana penuh tapi tak kunjung dapat kerja atau lebih tepatnya tak mau bekerja, kecuali jadi PNS atau kerja di bank, meski jurusannya bukan ekonomi.

Mau kerja apa, itu urusan individu, kadang-kadang lebih banyak jadi urusan orang tua. Dipaksanya anaknya jadi "a" "b" dan jadi "c", padahal anak maunya "f". Biasanya kerja yang didapat sesuai atau dekat-dekat dengan gelar kesarjanaan. Ketika lain, malah tak bersentuhan sama-sekali. Dalam kondisi seperti itu, masih ada anak muda sekarang yang naik darahnya, jika di belakang atau di depan namanya tak dituliskan gelar kesarjanaan. "Payah mandapek-annyo mah lai tau apak," katanya. Sepanjang orang terjebak dengan gelar akademiknya, selama ini pula dia tidak akan bisa keluar dari kandang, padahal di luar dunia amatlah luasnya.

Di dunia pers, wartawan terbiasa untuk tidak memakai gelar akademik. Padahal wartawan itu S-1 dan S-2 dari berbagai bidang ilmu. Bahkan di Jakarta banyak yang S-3. Mungkin karena dunia yang satu ini lebih mementingkan hasil kerja. Di dunia akademik gelar itu amat penting, sama pentingnya dengan NIP. Di dunia politik, sepertinya sekarang juga penting. Urusan dialah itu.

Gelar akademik adalah puncak dari kelelahan di dunia pendidikan. Wajar saja orang memakainya, tokh yang punya gelar dia. Tak ada aturan yang dilanggar, juga tidak etika. Karena itu jangan jengkel pula jika semua gelar akademik yang ia dapat dipakainya. Pemaknaan titel bagi tiap kita mungkin tak sama. Hargai saja, cuma, jangan congkak dengan gelar itu, sebab orang lain juga sarjana.

Dan para sarjana itu adalah tunas bangsa yang telah jadi dahan. Dahan-dahan itulah yang sedang memanjat angkasa, guna mendapatkan sinar matahari. Dapat kerja. Ada lowongan CPNS 65 ribu lebih yang terisi hanya 58 ribu. Ada kursi kosong tujuh ribu, tak bisa diisi oleh para sarjana yang banyak itu, karena tak lulus. Para pelamar yang ratusan ribu, kembali ke dunianya, menjadi pekerja di suatu tempat yang kurang ia sukai, pengangguran terselubung atau pengangguran penuh. Beban bangsa ini, belum terurai sebagaimana mestinya. Pengangguran dan kemiskinan adalah dua beban berat pundak bangsa ini. Kedua hal itu, memicu tindak kriminal dan pendangkalan akidah, juga sebaliknya, mendalaman akidah namun ada yang tak terima oleh otaknya, atau oleh pemahaman orang secara umum.

Sementara itu, mereka yang bekerja terus mendapatkan nafkah dari kerjanya, bulan per bulan, tahun demi tahun. Seorang anak teman bergaji Rp30 juta/tahun, padahal ia baru tamat sekitar 3 sampai 4 tahun dari sebuah universitas ternama di Bandung. Anak teman saya yang lain, masih belum bekerja karena belum dapat. Ia tamat salah satu perguruan tinggi di Sumatera Barat.

Lalu Rabu pekan lalu anak saya Jombang Santani Khairen, mempostingkan foto-fotonya habis diceburkan ke kolam Makara di Universitas Indonesia (UI). Ia baru saja lulus ujian skripsi. Sarjana Ekonomi. Dia bangga, saya tentu bangga pula. Tapi masalahnya bukan itu, melainkan, bisakah ia bekerja setelah diwisuda? Itu urusan dia dengan ijazah menterangnya dan tentu saja rezekinya sudah ditulis Tuhan di Arasy sana. Ketika ia keluar dari ruang ujian Departemen Manajemen FE-UI, ia langsung mengirim pesan.
"Masa depan dimulai," katanya. He he he, suka-sukalah, yang jelas, ia sudah mengalahkan orangtuanya. Pertama saya kuliah di IKIP, ia di UI, saya sarjana pendidikan, ia sarjana ekonomi. Saya menulis dua novel, satu yang baru terbit, yang lainnya, entah tak tahu nasibnya. Ia sudah menulis dua novel dan yang kedua segera terbit. Dapat royalti. Uang masuk. Adiknya Seruni Puti Rahmita? Ligat pula dari saya untuk urusan lain. Belum tamat juga sudah bekerja dan menghasilkan uang, meski tak sebanyak yang dibayangkan.
Seseorang mau jadi apa lebih ditentukan oleh talentanya, kemudian oleh ilmu akademiknya dan kesempatan. Seringkali orang mengabaikan peluang yang ada di depannya, padahal peluang itu lewat bagai kereta. Cepat dan tak bisa dikejar. Makanya jika lewat, langsung melompat. Namun bisa juga diciptakan, kalau mau.
Titel sarjana, penting, tapi bukan untuk dilagak-lagakkan, melainkan untuk dipergunakan sesuai bidangnya. Saya punya seorang teman yang jika berbicara tangannya suka bergerak-gerak untuk memberikan penakanan sesuai intonasinya, adalah seorang sarjana yang bekerja bukan sesuai ilmunya. Namun ia menjadi libero di kantornya. Ia hebat, ia mengendalikan sebuah pasukan untuk mendapatkan omset yang tinggi dan menyumbang bagi kemajuan daerah ini. Ia seolah tak mengenal lelah. Ia tak pernah mengaku lelah. Juga tak sekalipun bicara soal gelar akademis kepada saya.
Teman saya itu, menempuh pendidikan sejak dari TK hingga kini ia terus belajar. Ambil S-2 dan ia terus bekerja. Ia menjadi bagian dari anak bangsa yang bisa bekerja karena talenta, bukan semata gelar akademis. Orang yang bekerja dengan talenta, biasanya selalu merasa puas akan hasil yang ia dapat. Jika tak puas, ia berusaha untuk mencapai titik batas air,lalu kemudian air itu mengalir ke bawah dari bibir kolam yang tinggi. Gemerciknya indah. Itulah berbagi. *



On 1/20/2014 01:48:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
KHAIRUL JASMI

Apa yang bakal terjadi 2014? Membaca 2014, sama dengan menghitung pohon di rimba, takkan sudah-sudah. Meski begitu, 2014 merupakan tahun politik yang diprediksi akan menggerakkan ekonomi, terutama sektor perhotelan dan penerbangan. Tahun ini juga, rakyat diyakini akan semakin cerdas dalam menyikapi perbedaan politik. Tak jelas pula apa ukuran cerdas tersebut.
Di Padang, akan ada walikota baru yang di pundaknya sudah menumpuk janji-janji. Tinggal hitungan hari, warga ke TPS dan walikota baru dilantik. Entah Mahyeldi, entah Desri Ayunda. Siapapun dia, pers telah mencoba memberikan pendidikan politik, terlepas dari berbagai kekurangannya.
Sementara bagi Sumatera Barat, 2014 merupakan tahun yang nyaris sama dengan sebelumnya. Pergerakan ekonomi bertumpu pada belanja pemerintah, konsumsi rumah tangga dan perdagangan. Investasi belum memainkan peran yang signifikan. Kita terbelah dalam memaknai investasi, ada yang melihat positif, ada yang memandang negatif. Apapun pandangan kita, di daerah lain, ekonomi terus tumbuh. Maka jangan heran, Padang saat ini berada pada nomor 9 dibanding kota-kota lain di Sumatera.
Sumatera Barat masih akan direpotkan oleh hubungan darat Padang-Bukittinggi. Rakyat direpotkan biaya pendidikan terutama untuk kuliah. Namun tahun ini akan ada ribuan orang CPNS baru, mereka setahun dua tahun ke depan akan menjadi kelas menengah lapis bawah, dengan motor baru dan pasangan hidup baru. Kemudian membangun/membeli rumah. Jika tidak membangun, menyewa rumah dan ini juga memicu tumbuhnya bisnis rumah sewa.
Di sisi lain, rumah ibadah yang sudah menerima bantuan sosial dari dana aspirasi DPRD, juga bisa menggerakkan ekonomi sesaat karena pembelian bahan bangunan. Bahan bangunan juga akan laris manis pada tahun ini karena pemerintah akan membangun banyak shelter di Padang dan daerah pesisir.
Harapan besar untuk lapangan kerja, tak kunjung tersedia. Kondisi ini memicu angka perantau akan semakin tinggi. Daerah tujuan rantau selain Jakarta adalah Batam. Diikuti kemudian Pekanbaru serta kota-kota lainnya di Sumatera.
Selain angka anak muda yang merantau kian tinggi, angka pengangguran terselubung juga bertambah. Ini menjadi beban sosial yang tak terpecahkan oleh pemerintah. Pengangguran terselubung itu misalnya, mereka yang gagal CPNS tempo hari.
Banyak sekali harapan pada 2014, juga rasa kecewa yang mungkin timbul. Harapan tentu orang yang dipilih benar-benar menjadi pemimpin, baik di tingkat daerah maupun negara. Walikota, anggota DPRD/DPR dan presiden. Sekarang saja, para caleg itu sudah datang seperti penari meliuk indah dan menjanjikan banyak hal.
Pada hakikatnya berganti tahun atau tidak, tahun apapun, rakyat sesungguhnya mengurus nasibnya sendiri. Untuk mendapatkan izin usaha misalnya, mereka masih menemukan kesulitan. Di mana-mana begitu. Tabiat birokrasi yang buruk itu, menjadi penghalang serius bagi perkembangan UMKM di daerah ini. Perbankan masih “ngeri” mengucurkan dana ke sektor ini, jika tidak benar-benar yakin.
Sementara itu, hari demi hari akan terus berlalu. Anak-anak muda kita akan semakin sibuk dengan smartphone, suka makan mie. Sebagaimana dilansir detikcom kebutuhan gandum di dalam negeri terus meningkat setiap tahun bahkan belanjanya mencapai nilai triliunan rupiah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan impor gandum dan turunannya ke Indonesia per tahun bisa mencapai US$5 miliar atau sekitar Rp50 triliun.
Permintaan gandum yang melonjak disebabkan karena tumbuhnya kelas menengah atas yang suka mengkonsumsi roti, yang bahan bakunya gandum. Selain itu, masyarakat bawah juga memberikan kontribusi karena gemar mengkonsumsi mie instan berbahan dasar terigu dari gandum.
Ada 100 juta kelas menengah di Indonesia yang tak suka kemapanannya diganggu. Sebanyak itu pula yang miskin dan mungkin miskin. Di Sumatera Barat kelas menengah juga tumbuh, mereka memerlukan pelayanan khusus. Salah satunya bus trans Padang.
Pemerintah didesak terus untuk membangun infrastuktur, memberikan pelayanan dan meningkatkan kesejahteraan. Terlambat sedikit saja muncul masalah besar, salah satu contohnya, soal infrastruktur jalan, muncul kemacaten. Ini disebabkan pemerintah belum punya visi yang tajam. Jika pola seperti sekarang juga diterapkan, maka mulai 2014 dan seterusnya sektor swasta akan menggulung pemerintah yang lamban dan dambin itu.
Dan, satu lagi, pemerintah jika mengabaikan aspirasi, maka masalah besar segera datang. Ciri masyarakat yang berangsur modern adalah mereka sudah merasa maju, sementara pemerintah merasa digurui.
Alam takambang jadi guru. Selamat datang 2014, semoga Allah sayang sama rakyat Sumatera Barat. Semoga suku bangsa kita menjadi bahagia, aman dan tenteram serta tidak hedonis. (*)
SINGGALANG 2 JANUARI 2014