On 1/20/2014 01:48:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
KHAIRUL JASMI

Apa yang bakal terjadi 2014? Membaca 2014, sama dengan menghitung pohon di rimba, takkan sudah-sudah. Meski begitu, 2014 merupakan tahun politik yang diprediksi akan menggerakkan ekonomi, terutama sektor perhotelan dan penerbangan. Tahun ini juga, rakyat diyakini akan semakin cerdas dalam menyikapi perbedaan politik. Tak jelas pula apa ukuran cerdas tersebut.
Di Padang, akan ada walikota baru yang di pundaknya sudah menumpuk janji-janji. Tinggal hitungan hari, warga ke TPS dan walikota baru dilantik. Entah Mahyeldi, entah Desri Ayunda. Siapapun dia, pers telah mencoba memberikan pendidikan politik, terlepas dari berbagai kekurangannya.
Sementara bagi Sumatera Barat, 2014 merupakan tahun yang nyaris sama dengan sebelumnya. Pergerakan ekonomi bertumpu pada belanja pemerintah, konsumsi rumah tangga dan perdagangan. Investasi belum memainkan peran yang signifikan. Kita terbelah dalam memaknai investasi, ada yang melihat positif, ada yang memandang negatif. Apapun pandangan kita, di daerah lain, ekonomi terus tumbuh. Maka jangan heran, Padang saat ini berada pada nomor 9 dibanding kota-kota lain di Sumatera.
Sumatera Barat masih akan direpotkan oleh hubungan darat Padang-Bukittinggi. Rakyat direpotkan biaya pendidikan terutama untuk kuliah. Namun tahun ini akan ada ribuan orang CPNS baru, mereka setahun dua tahun ke depan akan menjadi kelas menengah lapis bawah, dengan motor baru dan pasangan hidup baru. Kemudian membangun/membeli rumah. Jika tidak membangun, menyewa rumah dan ini juga memicu tumbuhnya bisnis rumah sewa.
Di sisi lain, rumah ibadah yang sudah menerima bantuan sosial dari dana aspirasi DPRD, juga bisa menggerakkan ekonomi sesaat karena pembelian bahan bangunan. Bahan bangunan juga akan laris manis pada tahun ini karena pemerintah akan membangun banyak shelter di Padang dan daerah pesisir.
Harapan besar untuk lapangan kerja, tak kunjung tersedia. Kondisi ini memicu angka perantau akan semakin tinggi. Daerah tujuan rantau selain Jakarta adalah Batam. Diikuti kemudian Pekanbaru serta kota-kota lainnya di Sumatera.
Selain angka anak muda yang merantau kian tinggi, angka pengangguran terselubung juga bertambah. Ini menjadi beban sosial yang tak terpecahkan oleh pemerintah. Pengangguran terselubung itu misalnya, mereka yang gagal CPNS tempo hari.
Banyak sekali harapan pada 2014, juga rasa kecewa yang mungkin timbul. Harapan tentu orang yang dipilih benar-benar menjadi pemimpin, baik di tingkat daerah maupun negara. Walikota, anggota DPRD/DPR dan presiden. Sekarang saja, para caleg itu sudah datang seperti penari meliuk indah dan menjanjikan banyak hal.
Pada hakikatnya berganti tahun atau tidak, tahun apapun, rakyat sesungguhnya mengurus nasibnya sendiri. Untuk mendapatkan izin usaha misalnya, mereka masih menemukan kesulitan. Di mana-mana begitu. Tabiat birokrasi yang buruk itu, menjadi penghalang serius bagi perkembangan UMKM di daerah ini. Perbankan masih “ngeri” mengucurkan dana ke sektor ini, jika tidak benar-benar yakin.
Sementara itu, hari demi hari akan terus berlalu. Anak-anak muda kita akan semakin sibuk dengan smartphone, suka makan mie. Sebagaimana dilansir detikcom kebutuhan gandum di dalam negeri terus meningkat setiap tahun bahkan belanjanya mencapai nilai triliunan rupiah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan impor gandum dan turunannya ke Indonesia per tahun bisa mencapai US$5 miliar atau sekitar Rp50 triliun.
Permintaan gandum yang melonjak disebabkan karena tumbuhnya kelas menengah atas yang suka mengkonsumsi roti, yang bahan bakunya gandum. Selain itu, masyarakat bawah juga memberikan kontribusi karena gemar mengkonsumsi mie instan berbahan dasar terigu dari gandum.
Ada 100 juta kelas menengah di Indonesia yang tak suka kemapanannya diganggu. Sebanyak itu pula yang miskin dan mungkin miskin. Di Sumatera Barat kelas menengah juga tumbuh, mereka memerlukan pelayanan khusus. Salah satunya bus trans Padang.
Pemerintah didesak terus untuk membangun infrastuktur, memberikan pelayanan dan meningkatkan kesejahteraan. Terlambat sedikit saja muncul masalah besar, salah satu contohnya, soal infrastruktur jalan, muncul kemacaten. Ini disebabkan pemerintah belum punya visi yang tajam. Jika pola seperti sekarang juga diterapkan, maka mulai 2014 dan seterusnya sektor swasta akan menggulung pemerintah yang lamban dan dambin itu.
Dan, satu lagi, pemerintah jika mengabaikan aspirasi, maka masalah besar segera datang. Ciri masyarakat yang berangsur modern adalah mereka sudah merasa maju, sementara pemerintah merasa digurui.
Alam takambang jadi guru. Selamat datang 2014, semoga Allah sayang sama rakyat Sumatera Barat. Semoga suku bangsa kita menjadi bahagia, aman dan tenteram serta tidak hedonis. (*)
SINGGALANG 2 JANUARI 2014

0 komentar :

Posting Komentar