On 1/20/2014 01:52:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Khairul Jasmi

Sekolah sejak dari TK -- sebenarnya TK bukan sekolah dan saya tak pernah masuk TK -- sampai perguruan tinggi, adalah perjalanan yang melelahkan. Menghabiskan uang yang tak sedikit. Tapi bagaimana lagi, itu bagian dari perjalanan hidup seseorang di dunia modern. Dengan sekolah secara akademis orang belajar banyak hal. Dengan hidup orang belajar "membaca" rasa perih, cinta, kasih sayang, cemburu, sakit, saling pengertian dan peduli sesama. Juga merasakannya.

Kemanapun seseorang sekolah, ia akhirnya butuh kerja. Tak ada orang yang tak bekerja, kecuali yang tak patut, misalnya anak-anak dan orang tua. Bekerja adalah sambungan dari masa sekolah. Masa sekolah formal berakhir ditandai dengan ijazah dan gelar akademik. Gelar akademik saya pertama adalah D-3. Hanya itu yang tergapai dan saya bekerja sebelum gelar itu diraih. Banyak orang mendapat titel sarjana penuh tapi tak kunjung dapat kerja atau lebih tepatnya tak mau bekerja, kecuali jadi PNS atau kerja di bank, meski jurusannya bukan ekonomi.

Mau kerja apa, itu urusan individu, kadang-kadang lebih banyak jadi urusan orang tua. Dipaksanya anaknya jadi "a" "b" dan jadi "c", padahal anak maunya "f". Biasanya kerja yang didapat sesuai atau dekat-dekat dengan gelar kesarjanaan. Ketika lain, malah tak bersentuhan sama-sekali. Dalam kondisi seperti itu, masih ada anak muda sekarang yang naik darahnya, jika di belakang atau di depan namanya tak dituliskan gelar kesarjanaan. "Payah mandapek-annyo mah lai tau apak," katanya. Sepanjang orang terjebak dengan gelar akademiknya, selama ini pula dia tidak akan bisa keluar dari kandang, padahal di luar dunia amatlah luasnya.

Di dunia pers, wartawan terbiasa untuk tidak memakai gelar akademik. Padahal wartawan itu S-1 dan S-2 dari berbagai bidang ilmu. Bahkan di Jakarta banyak yang S-3. Mungkin karena dunia yang satu ini lebih mementingkan hasil kerja. Di dunia akademik gelar itu amat penting, sama pentingnya dengan NIP. Di dunia politik, sepertinya sekarang juga penting. Urusan dialah itu.

Gelar akademik adalah puncak dari kelelahan di dunia pendidikan. Wajar saja orang memakainya, tokh yang punya gelar dia. Tak ada aturan yang dilanggar, juga tidak etika. Karena itu jangan jengkel pula jika semua gelar akademik yang ia dapat dipakainya. Pemaknaan titel bagi tiap kita mungkin tak sama. Hargai saja, cuma, jangan congkak dengan gelar itu, sebab orang lain juga sarjana.

Dan para sarjana itu adalah tunas bangsa yang telah jadi dahan. Dahan-dahan itulah yang sedang memanjat angkasa, guna mendapatkan sinar matahari. Dapat kerja. Ada lowongan CPNS 65 ribu lebih yang terisi hanya 58 ribu. Ada kursi kosong tujuh ribu, tak bisa diisi oleh para sarjana yang banyak itu, karena tak lulus. Para pelamar yang ratusan ribu, kembali ke dunianya, menjadi pekerja di suatu tempat yang kurang ia sukai, pengangguran terselubung atau pengangguran penuh. Beban bangsa ini, belum terurai sebagaimana mestinya. Pengangguran dan kemiskinan adalah dua beban berat pundak bangsa ini. Kedua hal itu, memicu tindak kriminal dan pendangkalan akidah, juga sebaliknya, mendalaman akidah namun ada yang tak terima oleh otaknya, atau oleh pemahaman orang secara umum.

Sementara itu, mereka yang bekerja terus mendapatkan nafkah dari kerjanya, bulan per bulan, tahun demi tahun. Seorang anak teman bergaji Rp30 juta/tahun, padahal ia baru tamat sekitar 3 sampai 4 tahun dari sebuah universitas ternama di Bandung. Anak teman saya yang lain, masih belum bekerja karena belum dapat. Ia tamat salah satu perguruan tinggi di Sumatera Barat.

Lalu Rabu pekan lalu anak saya Jombang Santani Khairen, mempostingkan foto-fotonya habis diceburkan ke kolam Makara di Universitas Indonesia (UI). Ia baru saja lulus ujian skripsi. Sarjana Ekonomi. Dia bangga, saya tentu bangga pula. Tapi masalahnya bukan itu, melainkan, bisakah ia bekerja setelah diwisuda? Itu urusan dia dengan ijazah menterangnya dan tentu saja rezekinya sudah ditulis Tuhan di Arasy sana. Ketika ia keluar dari ruang ujian Departemen Manajemen FE-UI, ia langsung mengirim pesan.
"Masa depan dimulai," katanya. He he he, suka-sukalah, yang jelas, ia sudah mengalahkan orangtuanya. Pertama saya kuliah di IKIP, ia di UI, saya sarjana pendidikan, ia sarjana ekonomi. Saya menulis dua novel, satu yang baru terbit, yang lainnya, entah tak tahu nasibnya. Ia sudah menulis dua novel dan yang kedua segera terbit. Dapat royalti. Uang masuk. Adiknya Seruni Puti Rahmita? Ligat pula dari saya untuk urusan lain. Belum tamat juga sudah bekerja dan menghasilkan uang, meski tak sebanyak yang dibayangkan.
Seseorang mau jadi apa lebih ditentukan oleh talentanya, kemudian oleh ilmu akademiknya dan kesempatan. Seringkali orang mengabaikan peluang yang ada di depannya, padahal peluang itu lewat bagai kereta. Cepat dan tak bisa dikejar. Makanya jika lewat, langsung melompat. Namun bisa juga diciptakan, kalau mau.
Titel sarjana, penting, tapi bukan untuk dilagak-lagakkan, melainkan untuk dipergunakan sesuai bidangnya. Saya punya seorang teman yang jika berbicara tangannya suka bergerak-gerak untuk memberikan penakanan sesuai intonasinya, adalah seorang sarjana yang bekerja bukan sesuai ilmunya. Namun ia menjadi libero di kantornya. Ia hebat, ia mengendalikan sebuah pasukan untuk mendapatkan omset yang tinggi dan menyumbang bagi kemajuan daerah ini. Ia seolah tak mengenal lelah. Ia tak pernah mengaku lelah. Juga tak sekalipun bicara soal gelar akademis kepada saya.
Teman saya itu, menempuh pendidikan sejak dari TK hingga kini ia terus belajar. Ambil S-2 dan ia terus bekerja. Ia menjadi bagian dari anak bangsa yang bisa bekerja karena talenta, bukan semata gelar akademis. Orang yang bekerja dengan talenta, biasanya selalu merasa puas akan hasil yang ia dapat. Jika tak puas, ia berusaha untuk mencapai titik batas air,lalu kemudian air itu mengalir ke bawah dari bibir kolam yang tinggi. Gemerciknya indah. Itulah berbagi. *



0 komentar :

Posting Komentar