On 8/05/2014 02:20:00 AM by Harian Singgalang Padang in     No comments
Untuk sebuah keperluan, bebe- rapa hari lalu saya tampil
dengan pakaian sipil lengkap (PSL). Hari-hari sebelumnya saya sudah biasa memakai jas, namun kali ini, harus pakai baju lengan panjang, dasi dan jas. Soal dasi, saya bisa memasangnya, karena belajar waktu di sekolah guru, SPG doeloe. Saat jadi mula-mula wartawan diajari oleh Bapak Soediro dari Korem. Ia bukan mengajari saya, tapi Mafri Amir (sekarang dosen di UIN), tapi saya ada di sana. Pelajaran itulah yang saya ingat terus. Memasang dasi yang benar, rasanya saja yang gampang, kalau tak pandai berpilin dan ketika ditarik perlahan saat membuka, dasi akan membuhul. Jika begitu, pasangnya salah.
Saya menemukan kesulitan ketika memasang kancing baju paling atas, sudah lama sekali tak pernah saya lakukan. Jika memakai dasi, tanpa mengancingkan buah baju paling atas itu, maka kita akan terlihat bolok. Tapi hal itu bisa saya lewati dengan baik, meski agak lama. Akan halnya kancing baju, sudah dikenal sejak 2.000 tahun silam, lebih muda dari sisir yang sudah dikenal manusia sejak 5.000 tahun silam.
Akan halnya jas, saya punya beberapa, yang paling disukai, selalu dipakai ketika jadi host acara Forum Editor. Baju lengan panjang? Ada satu, selebihnya lengan pendek. Ada lengan panjang yang lain, tapi lengannya pakai tali untuk mengamankan gulungannya. Baju ini tak cocok dipakai bersama jas. Jas berkembang di Eropa sekitar 1666 di Istana kerajaan Inggris, kemudian di Prancis.
Celana kain? Banyak, namun dua tahun belakangan hanya saya pakai sekali sepekan, yaitu hari Jumat bersamaan dengan batik. Selebihnya jeans, sepatu kain. Kenapa begitu? Karena lebih enteng. Sepatu kain harganya Rp182 ribu keluaran Bata.
Sedang memakai PSL itu, saya foto dengan kamera HP dan dipasang jadi DP di Blackberry. “Bupati ko?” seorang teman memberi komentar. Pernah beberapa bulan lalu, mantan sekda Sumbar, Firdaus K, bilang begini, “KJ ko kalau didandani lai gagah lo mah,” katanya ketika ia melihat saya memakai jas. Padahal tanpa jas pun, saya gagah dari dia, he he he…
Pada hari-hari biasa saya lebih suka pakai kasual sebab saya bekerja sampai malam. Hari libur pakai kaos. Ini bukan meniru-niru Dahlan Iskan. Pak Dahlan itu lahir dari rahim jurnalistik dan semua wartawan di Indonesia memang lebih suka pakai kasual, pakaian sederhana.
Sama dengan inisial, wartawanlah yang lebih dulu memakainya baru menular pada banyak orang. Saya misalnya, lebih dulu dipanggil KJ ketimbang SBY-JK yang populer sejak beliau-beliau itu menjadi presiden dan wapres. Basril Basyar (BB) ketua PWI Sumbar sudah lebih lama lagi dari saya memakai inisial. He he he, ini sekadar klarifikasi saja.
Akan halnya PSL, seorang rekan di Singgalang, bertanya, apa PSL itu, anak saya disuruh ke sekolah pakai PSL. “Pansan den,” kata dia. Anak sekolah memang harus diajari setidaknya berpakaian rapi lengkap dengan dasi, termasuk dasi kupu-kupu, sebab di sekolah waktu mereka bisa mendapatkan ilmu kecil-kecil tapi perlu itu. Sekali seminggu, misalnya tiap Senin, semua siswa harus pakai dasi, seperti waktu saya sekolah doeloe.
Dan, pada suatu hari pekan lalu saya kembali memakai dasi, setelah 2004 memakainya dua kali seminggu karena kebutuhan kuliah. Lalu kemudian nyaris tidak pernah. Padang yang panas, memaksa saya harus memilih pakaian yang menyerap keringat, ringan, santai dan sepatu tidak berat, sebab saya turun naik ke lantai tiga, ke belakang dan sebagainya. Ternyata jauh lebih enak memakai sepatu kain ringan ketimbang sepatu kulit yang juga ringan.
Begitulah suatu hari pekan lalu saya memakai PSL tak ada masalah, semua biasa saja, kecuali soal kancing baju paling atas, yang dekat leher itu. Seingat saya, untuk baju pria, tukang jahit memberi lima kancing saja, tapi baju siap pakai sekarang, kancingnya tujuh, tambah cadangan dua, belum lagi kancing kecil di ujung kerah. Untuk keperluan tulisan ini, saya memakai sebutan kancing, padahal biasanya buah baju, seperti kita tuturkan sehari-hari.
Kadang apa yang kita tuturkan, kita elakkan saat menulis, he he ada-ada saja.(*)

0 komentar :

Posting Komentar