On 9/14/2014 02:21:00 AM by Harian Singgalang Padang in     No comments
Orang-orang yang berusia 45 tahun ke atas, semasa sekolah diperkenalkan warna dasar yaitu hitam putih merah kuning biru hijau. Kalau warnanya bergeser sedikit atau dikombinasikan, maka tak tahu lagi apa namanya. Maka dinamakanlah sesuai warna buah atau apalah. Misalnya, ada warna kopi susu, ada merah jambu, bungo taruang, ijau pucuak pisang, kuning langsat, kuning gading, abu-abu, merah darah, hitam pekat, bahkan ada kalabu asok.
Saya kadang menyebut biru dengan hijau. Doeloe guru mengajarkan jika ingat laut maka itulah warna biru. Kalau hijau ingatlah daun kayu di rimba. Asosiatif seperti itu, ternyata menganggu sekaligus menolong saya sampai sekarang.
Biasanya orang yang sulit membedakan biru dan hijau, perangainya bisa sama. Sulit saya maksud bukan buta warna, tapi ia berpikir dulu sejenak, membayangkan laut dan hutan belantara, baru kemudian ia bisa menyebut, ini “biru” atau ini “hijau”. Untuk warna dasar lainnya, mereka tak kesulitan sama-sekali. Namun untuk warna kombinasi, mereka tahu tapi namanya tak jelas, karena nama warna sekarang ratusan banyaknya.
Kesamaan kebiasaan biru-hijau misalnya, suka jengkol ha ha ha. Kesamaan lain, ingin sekali ke suatu tempat, sesampai di sana, sebentar saja dia sudah ingin pergi lagi. Tergesa-gesa, mau cepat saja. Tapi kalau dia wanita, suka sekali tawar-menawar, kalau lelaki, cepat yakin dan langsung beli, lalu salah membeli, akhirnya menyesal. Tapi, sering jitu.
Kebiasaan lain, suka menyanyi sendiri, disuruh benar menyanyi, dia enggan. Mereka biasanya suka panorama tapi cepat pula bosan di panorama itu.
Memang sewaktu sekolah saya belajar warna ditamsilkan ke warna-warna yang ada di alam, maklum saat itu belum ada komputer belum ada kombinasi warna yang banyak. Bahkan untuk belajar huruf, juga ditamsilkan pada alam. Untuk huruf “S” misalnya, guru minta kami membayangkan ibu kami menggoreng belut di rumah. Bunyi mengoreng itu, “ssssss” dan belut kalau digoreng bergulung seperti huruf “S”. Untuk huruf “R”, kami disuruh memanggil ayam, nah itulah “R”.
Dan tentu saja, semua orang, termasuk generasi terakhir, disuruh menggambar, semua membuat gambar dua gunung, dengan matahari memancar di antara keduanya, lalu ada jalan raya di depan dengan beberapa batang kelapa. Gambar lain sebagai tambahan bisa kursi, meja atau lemari.
Sekarang zaman makin maju, jumlah warna kian beragam, perkakas kian menumpuk, alat peraga pengajaran di sekolah semakin banyak, guru semakin pintar, peserta didik bertambah luas pengetahuannya, baik karena sekolah atau karena kehadiran internet.
Lalu generasi biru hijau kian jauh berjalan, di depan, tapi di depannya masih banyak orang, di belakangnya juga banyak. Mereka terkepung di tengah-tengah, antara dunia lama dan dunia baru. Yang bisa menyesuaikan diri, amanlah dia, yang tidak, maka sepilah dia di antara keramaian.
Generasi biru hijau, mungkin bukan generasi, tak semuanya begitu. Mungkin hanya segenlintir yang membedakan biru dan hijau harus mengingat laut dan gunung terlebih dahulu. Tapi mereka ada. Mereka adalah generasi motode eja di sekolah. “Ini ibu budi.” Metode eja itu, dalam otak terpikirkan bahwa setelah “bu…” pastilah “di…” makanya jadilah “budi.” Padahal setelah “bu…” bisa “aya” atau “lan.” Karena itu, mereka kesulitan membaca nama Zulmasri, sebab biasanya kalau ada “zul”, maka tentulah “Zulfikar.” Kalau ada “Khai” pastilah “rul”, padahal bisa “khairen”.
Saya tak tahu kenapa orang bisa buta warna, dan saya sudah dites oleh dokter mata, tidak buta warna. Saya tahu semua nama warna yang diperagakan kepada saya. Bagaimana rasanya hidup kalau buta warna,m sayapun tak tahu, tapi kira-kira tak soallah itu, kalau hanya sekadar buta warna.
Dan sekarang warna web di komputer Anda ada ratusan yang saya tak memperdulikan apa namanya. Sama tak pedulinya dengan warna-warni baju yang dipakai tiap orang, tak perlu saya hapal, sebab tak akan ujian. Kita memang tak tahu nama semua warna. (*)

0 komentar :

Posting Komentar