On 9/21/2014 02:21:00 AM by Harian Singgalang Padang in     No comments
Ini lagu Minang, “Dikijoknyo Den,” lalu oleh Upiak Isil didendangkan dalam bahasa Indonesia, maka jadilah lagu itu, “Dikedipnya Aku.” Lagu ini kocak, riang khas lawak Minang. Paten.
Kok jadi uda ka balai
tolong balikan kain rancak
kok sayang uda ka denai
tolong cukua bulu katiak
dikedipnya aku dikedipnya aku.. aku gak mau doh, dikedipnya juga baru…
Hidup memang terasa berat bagi sebagian besar orang, tidak bagi yang lain. Lagu kocak seperti ini, seperti mengungkai buhul yang mencekik. Orang bisa tertawa lebar demi mendengarnya. Tertawa, apalagi lebar, adalah obat.
Lagu, akan enak didengar jika menurut kita enak. Atau, anggap kisah dalam lagu itu adalah kisah sendiri, maka enaklah lagu tersebut. Selera kita soal musik memang beragam, seberagam musik itu sendiri. Ada yang suka semua, ada empat atau tiga. Satu di antaranya paling di suka. Kalau tak menenggang-nenggang, bisa berjoget saja kerja dibuatnya.
Saya punya teman, seorang petani, ia ke ladang membawa tip kecil, ia gayutkan di dahan kayu, diputarnya lagu Misramolai, bergumam-gumam ia sambil bekerja, sesekali berdendang. Di Singgalang, sejumlah wartawan sudah dipanggil berkali-kali, tak menyahut, rupanya ia sedang mendengar lagu dari telepon genggamnya. Ia cucukkan ke telinganya kabel, maka terdengarlah olehnya lagu. Sendirian menikmati lagu tersebut. Teman yang lain, pakai
pelantang suara, dari komputernya, lagu-lagu era 1980-an, tak peduli apakah orang suka atau tidak. Banyak orang yang berdendang-dendang sambil mandi. Banyak pula yang hapal lagu di zamannya, tapi refrennya saja, kalau terdengar orang bernyanyi dia bisa. Disuruh benar, salah-salah, kecuali ada teks.
Sejak muncul teknologi karaoke, sudah banyak yang jadi penyanyi, tak peduli bagaimana nadanya. Semua berdendang, baik di tempat sewaan karaoke atau di rumah. Sendiri-sendiri atau bersama-sama. Jika semua alat musik tak punya, cukup dengan siul. Siul juga macam-macam, ada yang bariton ada yang melengking bahkan alakadarnya. Hampir semua lelaki bisa bersiul. Perempuan juga, tapi jarang. Ah musik memang menakjubkan.
“Dikedipnya aku, aku tak mau doh, dikedipnya juga baru…”
Dan sebenarnya, ini lagu “Dikijoknyo Den,” yang didendangkan oleh Melati, sebait lagunya:
Pilin bapilin tali rantai, ka tali baruak sadionyo
Kirim bakirim kok tak sampai, alah mabuak kaduonyo
Dikijok no denai, dikijok nyo den
Aden ndak namuah doh doh
Dikijok nyo juo… baru.
Dikijoknyo den atau dikedip atau dikijap, adalah gerakan sebelah pelupuk mata, untuk memberi kode atau untuk menggoda lawan jenis. Biasanya yang tukang kijok itu laki-laki. Kijok telah terbukti bisa membuat orang kemudian berpacaran. Laki-laki kata sebuah penelitian memikirkan seks minimal 7 kali dalam sehari. Ha ha ha, ini di antaranya bisa termasuk kijok tadi.
Menurut sejarah yang entah akurat entah tidak, manusia sudah mengenal musik sejak 180.000 hingga 100.000 tahun yang lalu di Afrika, benua tua yang kita tidak mengakrabinya. Kita lebih kenal Eropa yang suka menjajah itu. Jangankan Afrika, negeri-negeri di rusuk dapur saja, kita tak berminat mempelajarinya. Kalau ditanya apa ibukota Laos? Atau ibukota Myanmar dan apa nama negara ini dulu, agak lama berpikir baru terjawab. Tapi kita kenal bahkan akrab dengan nama-nama ikan siam, jagung thailand, labu siam dan sebagainya. Apalagi durian bangkok, masuk kepala ke nabunya, belum juga bertemu bijinya. Enaknya bukan main.
“Dikedipnya aku…”
Lagu Minang yang lucu dan menghibur. Tiap daerah, memiliki lagu yang bagus, yang kemudian menjadi lagu rakyat. Lagu yang dikenal secara luas di Indonesia bahkan bisa dibawakan oleh suku bangsa lain. Begitulah ketika HUT RI 2014, sehabis upacara bendera, menjelang lagu ciptaan SBY dibawakan, anak-anak sekolah menyanyikan lagu dari daerah-daerah, tapi saya kecewa tak ada lagu Minang, padahal sebelumnya selalu ada. Negeri ini mulai melupakan Minang rupanya.
Ah sudahlah, “dikedipnya aku,” suka hati Upiak Isil sajalah. Yang jelas lagu ini sudah booming, meledak, orang pun tertawa-tawa, seperti akan dapat adik baru saja. Ha ha ha ha…
Berdendanglah mulai dari lagu barat, klasik, tradisional mungkin juga lagu kasidah. “Dunia dalam berita, berita dalam dunia,” lagu kasidah yang terkenal itu.
Banyak lagu yang terkenal melampaui zamannya. Kata orang paruh baya dan generasi tua, lagu anak muda sekarang berguman-guman tak karuan saja. Padahal bukan lagu itu yang bergumam, tapi selera yang berbeda. Nah terbukti sekarang, paling tidak soal musik, tiap zaman berbeda-beda seleranya. Yang tetap sama, selera akan nasi ramas atau nasi ampera. Soal makan, doeloe tak ada larangan makan malam, sekarang pantangan sudah banyak. Perut malam jam 10 malam, tak boleh makan nasi, lutok saja buah apel agak dua, kenyang. Handeh, zaman memang aneh-aneh.
Dikedipnya aku… yang suka mengedip-ngedip itu para lelaki. Tukang kijok, dari generasi ke generasi. (*)

0 komentar :

Posting Komentar