On 10/05/2014 02:19:00 AM by Harian Singgalang Padang in     No comments
Kalau keputusan MK dalam kasus pilpres setebal 4.390 halaman, maka ini hanya 650 halaman. Apa itu? Tebal buku saya. Buku apa pula? Buku kumpulan feature tentang nyaris semua aspek kehidupan di Sumatera Barat. Feature itu saya buat ketika jadi reporter Republika sepanjang 1993 sampai 2006. Sejak jadi Pemred Singgalang, kebiasaan menulis feature saya turunkan ke sejumlah wartawan di koran ini. Saya memantau-mantau saja, sesekali gatal-gatal juga tangan ini dan saya tulis feature.
Buku tebal itu, hasil seleksi atas semua feature saya di koran Jakarta tersebut, salah satunya, berkisah tentang H. Basril Djabar yang bercerita tentang usahanya kala ia masih muda. Kisah lainnya, tentang Gamawan Fauzi yang hilang di rimba, soal Saldi Isra yang tulisannya baru muncul satu dua di koran Jakarta. Juga tentang impian jalan layang Kelok Sembilan. Tak tahunya, impian itu, jadi kenyataan sekarang.
Pada awalnya saya agak heran, kenapa bisa semua kliping berita dan tulisan saya selama jadi wartawan lengkap semua. Heran pula saya, semua notes, klise film, foto, guntingan sudut wesel honor/gaji dari kantor, daftar berita, naskah berita yang di-fax, dokumen-dokumen kontrak, pengangkatan saya menjadi wartawan tersimpan, meski tidak rapi. Alat kerja seperti PC-4, kamera, bahkan tas juga tersimpan dengan baik. PC-4 adalah komputer buatan Hong Kong, sebesar Ipad sekarang, tapi layarnya hanya setinggi 10 Cm memanjang. Komputer itu, dicantolkan ke telepon dan berita dikirim via modem. Sebelumnya, saya mengirim berita ke warnet dengan membayar Rp2.500/lembar.
Buku tersebut sudah selesai di-layout pada 2007, tapi

saya biarkan saja tersimpan di komputer wartawan Nasrul Azwar, karena tebal sekali. Biaya cetaknya pasti mahal. Tapi, Ramadhan lalu, saya diingatkannya, agar segera dicetak. Forum Pemred, kemudian menjadi sponsor tunggal penerbitan buku tersebut. Tentu saja setelah mendapat izin Republika.
Saya ingin para reporter di koran mana saja di Sumatera Barat rajin menulis feature, menyimpan naskahnya dan kemudian menerbitkannya. Tulislah apa saja yang gurih dan enak dibaca.
Menurut saya, kapasitas terpasang seorang wartawan dibangun oleh dirinya sendiri, bukan oleh orang lain. Maka saya tulislah kisah seorang guru di pedalaman Pasaman, namanya Resmiati. Saya ke sana bersama koresponden SCTV di Padang, Aldian. Saya yang tamat Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan IKIP Padang, tak lantas angan saya mengerjakan apa yang dilakukan Resmiati. Ia begitu berbakti, sehingga meski sudah berbilang tahun saya tulis, namanya masih hapal.
Seorang anak penjual sapu lidi di simpang empat Jam Ria/Bappeda Sumbar di Padang, saya buat featurenya. Seorang menteri di Jakarta membacanya dan kemudian memberinya beasiswa. Saya menulis panjang soal sastrawan AA.Navis serta sejumlah tokoh lainnya.
Buku yang sebentar lagi terbit itu, ingin saya bagi-bagikan kepada wartawan. Perai. Tapi tak yakin apa akan dibaca. Jika dibaca alangkah indahnya. Jika tak dibaca, tak apa-apa. Jangankan tak dibaca, tak dicetak juga tak apa-apa ha ha ha…
Tapi bagi saya ini berarti sekali. Memang beberapa buku, antologi, novel telah saya tulis, tapi kumpulan karya jurnalistik belum punya. Adalah bagus, menjelaskan kepada wartawan pemula, begini cara menulis feature lewat buku itu, daripada membuat buku “cara-cara menulis feature.” Teori menjemukan, praktik mengasyikkan.
“Jangan bicara saja, tulislah,” kata almarhum Rosihan Anwar di Padang suatu kali, seusai mendengar “ceramah” seorang wartawan. Bahkan kalau saya tak salah, ditulisnya pula di koran Jakarta tentang tabiat wartawan omong itu.
Tapi, dunia jurnalistik kemudian bergeser, wartawan yang selebritis itu kini adalah wartawan bicara: wartawan televisi. Seorang rekan mengaku, ia susah menulis sekarang, karena sudah bertahun-tahun di televisi. Teman itu, Nurjaman Mochtar, Pemred SCTV, ketua Forum Pemred. Tapi ketika tulisannya saya baca, tak saya temukan “susah” bahkan sangat berbobot.
Ketika naskah ini ditulis, MK menolak semua gugatan Prabowo-Hatta. “Sah, Jokowi Presiden,” kata wartawan di samping saya.
Maka seketika saya ingat tebal keputusan MK 4.390 halaman. Amatlah tebalnya, tapi yang dibacakan hanya 300 halaman secara bergantian.
Taragak pula saya memberikan buku kepada Jokowi, tapi apa bisa ya? Handeh. (*)

0 komentar :

Posting Komentar