On 10/12/2014 02:23:00 AM by Harian Singgalang Padang in     No comments
Hambar hati saya mendengar pengamat berkicau soal politik di televisi. Kalau diperturutkan, bisa ke belakang suap kita dibuatnya. Tak ada yang baik negeri ini di mata mereka. Omdo kata anak muda, maksudnya omong doang, maksudnya lagi, asal bicara, mangecek se nan pandai. Makin banyak orang bicara politik, makin tak maju negeri ini dibuatnya. 
Saya kadang ingin berbeda dengan arus besar yang sedang berlaku di Indonesia. Arus besar itu “politik dan demokrasi harus tegak setegak-tegaknya, tak peduli berapapun ongkosnya, tak peduli rakyat miskin.” Saya ingin sebaliknya, bagaimana rakyat sejahtera dulu, baru setelah itu, kita bersitegang soal politik, sampai keluar urat leherpun jadi. Tapi, saya sepi sendiri.
Karena rakyat miskin, maka musim pilkada rakyat panen, satu suara Rp50 ribu plus baju kaos. Coba kalau rakyat sejahtera, paling tidak mendekati sejahteralah, untuk apa oleh mereka baju kaos dan Rp50 ribu, sebab mereka punya tabungan. Sekarang? Jangankan tabungan pembeli bensin seliter saja tak ada, tapi beli rokok ada, ha ha ha…
Tapi sudahlah, ini musimnya pengamat politik panen. Di kolom ini pernah saya tulis, pengamat jika diadu dengan pengamat lain, tak sama pula pendapatnya. Masing-
masing berusaha mempertahankan pendapatnya. Politikus sama saja. Fakta telah menunjukkan, hampir semua politikus, banyak untuk dia, sedikit untuk orang. Berdagang proyek kerjanya. Mencari rente dan berpikir untuk golongannya. Dari ujung sampai ke ujung, hanyut dalam keasyikan membangun kepentingan sesaat. Ada satu dua yang bersuara jernih.
Maka beginilah Indonesia hari ini. Ke hilir tidak, ke mudik juga tidak. Semakin liar, semakin menjauh dari orbit. Kian merisaukan hati. Yang paling risau petani. Garam, kentang, buah, daging, kacang-kacangan dan lain-lain diimpor. Korek api dan peniti juga diimpor. Inilah negeri kita, Indonesia. Tapi jangan bicara hal semacam ini di depan politikus, sebab ia akan cepat menangkap dan bilang.
“Benar sekali, karena pemerintahnya tidak beres,” katanya. Tapi kemudian, ia tenggelam lagi dalam dunia politik, demokrasi, hukum, berbalik lagi ke politik dan seterusnya. Diajak bicara soal budidaya rumput laut, dia tak mau. Diajak bicara buka usaha, dia ogah. Politik terbit syahwatnya.
Ini bulan bicara soal DPR, MPR, kabinet Jokowi dan seterusnya. Bicara tentang Jokowi harus bisa membuktikan programnya pro rakyat. Panas pula tadah dari gelas. Tenang sajalah, Jokowi itu akan bekerja dengan baik. Marah-marah sama Koalisi Merah Putih (KMP) yang menyapu habis unsur pimpinan DPR dan MPR. Lho itukan konsekwensi demokrasi, wajar-wajar saja itu bro. Tak usah marah-marah dan dibilang merampas hak rakyat. Jika memang merampas, kita rampas lagi. Ayo rampas, ayo bergerak. Ota saja yang banyak. Kemudian tak perlu pula dan tak usah mengajar-ajari Jokowi-JK soal siapa menterinya, sudah tahulah dia, tunggu saja tanggal 20 Oktober.
Menurut saya inilah negeri sok demokrasi, sok pilkada, sok pemilu, sok seleb, sok neolib, sok terkebelakang dan sok maju. Demokrasi itu suatu ketika akan seperti granat yang dilempar ke tengah-tengah tatatan sosial yang kusut masai, bukannya menyelesaikan masalah, tapi memicu masalah baru.
Bukan demokrasinya yang salah, tapi si demokrasi itu, hadir di tempat yang salah dan waktu yang salah. Bagi saya tatanan sosial itu yang diperbaiki terlebih dahulu, sembari menghadirkan demokrasi secara hati-hati dan terhormat. Bukan amburadul seperti sekarang, sehingga kita pengagung demokrasi dan politik, justru tidak menghormatinya.
Demokrasi harus dihormati, bukan dipermain-mainkan. Demokrasi bukan kantong uang seperti sekarang. Demokrasi yang dihormati, dengan gagah akan hadir mengantarkan uang bagi siapa saja. Mana yang penting bagi kita sekarang demokrasi atau uang? Jangan dijawab, dibantainya kita nanti oleh orang, dituduh anti demokrasi, padahal dia tak belajar demokrasi.
Bagi rakyat yang penting hidup tenang, aman, nyaman, punya pendapatan tetap, bisa saving, bisa berlibur, biaya kesehatan terjangkau, pendidikan gratis, malam tenang, siang damai. Yang mau menikah tak susah, yang mau bekerja gampang. Tidak ada preman, jika ada tak banyak benar. Tidak ada politisi yang borjuis, aparat mengabdi sesuai tupoksi, pemerasan, suap, pungli lenyap tak berbekas.
Nah Indonesia? Selamat berdemokrasi, berpolitik, semoga makin lama kian membaik. Selamat berhari Minggu, lihatlah keindahan gerhana dan ini bukan omdo.(*)

0 komentar :

Posting Komentar