On 11/02/2014 03:36:00 AM by Khairul Jasmi in ,     No comments
Teman saya, seorang guru yang sudah berdiri di depan kelas puluhan tahun, bertutur: Anak sekarang cium tangannya sangat santun, seolah-olah kita sedang berada di pintu surga, tapi isi sms sesamanya, seolah-olah sedang berada di diskotik.
Katanya lagi, anak sekarang kalau menyapa ibu guru, suaranya meliuk seperti suara Iyet Bustami sedang mendendangkan, “laksamana raja di laut”, persis pada kata “laut”.
Padahal waktu si guru jadi murid dulu, ia menyapa ibu gurunya dengan mengangguk takzim.
Saya bukan guru, tapi teman saya banyak yang guru. Sebagian jiwa saya adalah guru. Mendengar penjelasan teman itu, saya sering menemukan contoh-contohnya dalam keseharian.
Ada beberapa sikap tak baik dalam menyimak tingkah laku anak: Pertama orangtua cenderung membela habis-habisan perangai anaknya. Kedua, masyarakat cenderung menghukum.
Sikap yang di tengah-tengah: Berusaha memahami, sembari mencoba memperbaiki.
Sikap antipati: Suko ati kalianlah, baelah bara talok.
Kenapa sikap remaja dulu dan sekarang berbeda? Karena zaman juga sudah berbeda. Rasa-rasanya elok zaman dulu dibanding sekarang. Tapi tidak juga.
Seingat saya, tak banyak anak-anak zaman dulu yang cium tangan, baik pada orangtua atau pada guru atau pada orang dewasa. Yang wanita, dulu tak banyak pakai jilbab. Kini, jilbab sansai saja sepanjang jalan.
Tapi dulu tak ada tari telanjang, kini ada. Dulu kita tak tahu, kita ketahuan.
Anak sekarang kerjanya pacaran saja. Kata siapa? Kata orang yang muak. Doeloe? Ha ha ha, hampir semua cerita randai adalah soal kisah cinta.
Dulu bini orang banyak. Kini hanya satu, tapi suka selingkuh.
Membanding-bandingkan masa lampau dan sekarang secara serampangan, tidak akan membuahkan hasil.
Kembali pada si guru, teman saya itu. Ia cemas, karena karakter anak didik sekarang tidak kokoh. Etika kurang, moral amburadul. Kalau ini, mulai serius. Menurut dia, sekolah, sebagaimana namanya seharusnya juga bekerja untuk moral dan etika.
Tapi apa hendak dikata, masuk pagi, pulang berebut senja. Kapan anak bisa bermain. Maka bermainlah ia lewat SMS dan facebook di malam hari. Waktu bermain anak dirampas secara serampangan oleh kurikulum. Kita membiarkannya.
Anak-anak dijadikan robot, harus masuk IPA harus masuk kelas internasional, harus bisa ini dan bisa itu. Dengan demikian harus les ini dan itu.
Gila!
“Yang gila orangtua mereka,” kata teman saya itu.
Teman saya kemudian merentak pergi meninggalkan saya.
“Antahlah yuang, jadi guru juolah,” kata saya. Langkahnya tertahan, remnya pakam. Lalu berbalik dan berucap sambil tertawa.
“Itu gunanya kita masuk sekolah guru, untuk jadi guru, kemudian terima uang sertifikasi,” katanya sambil menyebut gajinya terakhir.
Besok pagi ia kembali ke sekolah dan akan dicium punggung tangannya oleh para siswa. Ia tahu, mana anak-anaknya yang berkirim SMS gadis dan bujang dengan sebutan “papa-mama” atau “ayah dan bunda”.
“Ditirunyo di rumah tu mah,” kata saya.
“Kadang seperti di sinetron, sensa kami dek anak-anak kini,” kata dia.
Jadi guru jugalah kau. (*)

terbit di hariansinggalang
On 11/02/2014 02:16:00 AM by Harian Singgalang Padang in     No comments
Saya naik pesawat Susi Air dari Simpang Empat ke BIM, begitu mendarat saya sudah ketinggalan siaran langsung pengumuman kabinet oleh Presiden Jokowi. Tak tahunya pemilik pesawat itu, Susi Pudjiastuti dipercaya menjadi menteri. Bangga pertama saya pada Menteri Luar Negeri, Retno Lestari Priansari Mar