On 11/02/2014 02:16:00 AM by Harian Singgalang Padang in     No comments
Saya naik pesawat Susi Air dari Simpang Empat ke BIM, begitu mendarat saya sudah ketinggalan siaran langsung pengumuman kabinet oleh Presiden Jokowi. Tak tahunya pemilik pesawat itu, Susi Pudjiastuti dipercaya menjadi menteri. Bangga pertama saya pada Menteri Luar Negeri, Retno Lestari Priansari Mar
sudi dan kedua pada Susi kemudian Menkes, Nila. Pada lima menteri wanita lain tentu juga bangga. 
Delapan menteri perempuan, atau 24% dari total menteri di kabinet itu lengkapnya sebagai berikut, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, Menteri Luar Negeri, Retno Lestari Priansari Marsudi, Menteri BUMN, Rini M Soemarno, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohanan Yambise.
Susi ternyata bertindak sendiri, keluar dari sekolah, kemudian jadi pedagang ikan. Preman pasia itu, menyewa truk sendiri untuk mengangkut ikannya. Kemudian menyewa pesawat untuk ekspor. Jadi jangan salah sangka pada anak-anak pantai, dikuyaknya ijazah doktor Anda. Omsetnya saja triliun pertahun, mati tegak kita dibuatnya kalau dihitung uang sebanyak itu.
Saya ingat bacaan tentang sebuah buku yang terbit 2001, yang ditulis Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland. Saya tak membaca buku berjudul “Why Asians Are Less Creative Than Westerners,” itu, karena bahasa Inggris saya payah. Analisanya didapat dari ahli-ahli Indonesia.
Apa kata profesor ini? Bagi kebanyakan orang Asia, ukuran sukses adalah banyaknya materi (uang, mobil dan rumah) tapi rasa cinta terhadap sesuatu tidak dihargai. Kedua, yang penting banyak kekayaan, itu yang dihargai, bukan cara mendapatnya. Orang tak menghargai cara Susi mendapatkan kekayaan, tapi lebih hormat pada koruptor.
Terus yang ketiga kata sang profesor, pendidikan kita berbasis kunci jawaban, bukan pada pengertian. Ha ha… Susi tak tamat SMA, lantas dicemoohkan. Karena hafalan dan kunci jawaban, anak-anak Asia dijejali banyak pelajaran. Semua diajarkan dari planet sampai isi perut bumi dari zaman pra sejarah sampai zaman modern. Kita tahu serba sedikit tapi tak menguasai satu pun.
Banyak lagi uraian profesor tersebut, tapi itu sajalah sudah cukup untuk keperluan tulisan ini. Meski begitu, ada hal menarik lainnya dari Prof Rhenald Kasali yaitu tentang metakognisi. Kata dia, selama ini dunia pendidikan Indonesia terlalu fokus pada hafalan dan hitungan, sehingga lupa membagi. Sekolah harus sesuai pilihan orang tua, sebab akan jadi dokter kan? Orang tua suka membunuh talenta anak. Lantas kemudian, karena semua kita sudah berijazah lalu menganggap enteng orang tak berijazah. Padahal ijazah itu cuma kertas, memilih baju saja tak pandai, ijazah dibangga-banggakan.
Agak ilmiah ya, padahal cuma mengutip-ngutip orang saja. Itu gaya orang Asia juga. Buat makalah, isinya mengutip saja. Isi kepalanya tak ada. Saya hampir begitu, setidaknya untuk tulisan ini, he he he…
Nah, para perempuan di kabinet sekarang, terbanyak dalam sejarah Indonesia. Menlu kita, bak Hillary Clinton, mantan dubes di Belanda ini, membuat pemerintah Belanda bisa berbaik-baik dengan Indonesia sejak insiden SBY batal ke sana. Mulanya saya berharap menlu urang awak, tapi namanya dicoret, sama dengan nama Prof. Saldi Isra yang juga dicoret. Untung kemudian ada Andrianof Chaniago. Batak, tak dapat jatah menteri, padahal Jokowi menang mutlak di sana, berbanding terbaik dengan di sini.
Perempuan sebenarnya bagi Minangkabau merupakan kehebatan yang takkan terlupakan. Sitti Manggopoh, Rohana Kudus, Rasuna Said, serta polwan pertama Indonesia yang lahir di Bukittinggi, merupakan hal penting dalam sejarah bangsa. Cuma saja belum ada jadi menteri. Karena itu, wanita Minang memang harus ikut bangga atas prestasi kaumnya di kabinet.
Mengutip almarhum Rosihan Anwar, “gilo-gilo baso”, kata dia merupakan ciri khas intelektual Minangkabau. Saya kira, Menteri Susi juga begitu. Bergerak cepat dan bertindak tepat. Jokowi memerlukan itu dan bukankah “kita sudah lama memunggungi laut?” Jokowi ingin kita menghadap ke laut dan ia minta Susi bergerak dengan kakinya yang bertatto itu.
Kita tak biasa saja ya dengan hal-hal aneh dalam dunia resmi. Saya juga. Jokowi misalnya berbaju putih tapi tak masuk ke celana. Coba kalau anak sekolah bajunya tak masuk, diusir guru. Masukkan dulu baju, baru boleh masuk kelas. Bagaimana menjelaskan hal kecil sepele ini kepada peserta didik?
Ah sudahlah soal baju putih, kembali Menteri Susi yang memang heboh. Ia percepat masuk kantor menjadi pukul 07.00. Kantor malah bergairah. Ia berjanji menyikat pencuri ikan. Bahkan si menteri dikabarkan akan ke Pulau Angso Duo. Mungkin terobsesi oleh pantun masa sekolah dasar doeloe. Mana tahu.
Menteri perempuan, adalah penting, akan memberi warna dan konfigurasi bagi kinerja kabinet. Namun sesungguhnya kita lebih berharap pada Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah, Anies Baswedan serta Menteri Ristek dan Pendidikan Tinggi, M. Nasir. Menteri Anis, bisa menularkan semangat Indonesia Mengajar yang hebat itu. Jangan lagi peserta didik dikungkung habis-habisan dengan pengetahuan yang serba harus bisa sedikit. Gali potensi mereka bak tim pencari bakat.
Pada akhirnya, kita membutuhkan generasi muda Indonesia yang bukan bangga dengan ijazah kertas tapi bangga dengan kemampuan dirinya. Dia bisa dan ia lakukan. Kelak akan menjadi menteri, CEO bahkan presiden. Jadi presiden, tak perlu berlagak hebat dari sekarang, lihat saja Jokowi, sekarang saja masih begitu dia, sederhana. Bukankah rakyat Indonesia butuh yang sederhana, tapi rakyatnya sebagian besar hedonis. Suka melagak, hape empat, laptop satu, mobil rancak, ota menjadi-jadi di kafe, bayar pakai kartu kredit, kerja tidak jelas. Bisnis jasa, makelar, lobi sana lobi sini. Tembak ke Semen Padang, tawarkan batubara, satu kapal dapat komisi Rp30 juta. Ha ha ha… Tentu bagi yang punya koneksi, bagi yang tidak, angan-angan saja diperpanjang. Saya bisa ini bisa itu, tapi tak satu pun yang jadi.
He he he, selamat berhari minggu. (*)

0 komentar :

Posting Komentar