On 11/05/2015 04:23:00 AM by Harian Singgalang Padang     1 comment
PADANG – Bedah visi dan misi calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar yang diselenggarakan Forum Editor (FEd) Sumbar, Rabu (11/4) di aula gubernuran mulai agak ‘panas’.
Saat membahas pembangunan infrastruktur contohnya. Calon Gubernur No. Urut 2, Irwan Prayitno tak sependapat dengan ide pengembangan infrastruktur desa dan nagari yang dicanangkan Calon Gubernur No. Urut 1 Muslim Kasim.
Menurut Irwan, infrastruktur di nagari dan desa tanggung jawab pemerintah kabupaten dan kota. Pemerintah provinsi hanya mengkoordinasikan dan membantu alokasi anggaran. Irwan mengemukakan, pihaknya akan mengutamakan pembangunan jalan tembus antar kabupaten dan kota yang sudah mulai dikerjakan.
Sementara MK tetap bersikeras keterlibatan Pemprov dalam bentuk mendorong dan sinkronisasi. Toh, katanya selama ini gubernur dengan bupati/walikota sering jalan sendiri-sendiri. Menurutnya pembangunan itu dimulai dari nagari dan terus berkembang hingga ke Sumbar.
Begitu juga soal mitigasi bencana. Dalam dialog yang dipandu Khairul jasmi itu, calon Wakil Gubernur  Fauzi Bahar tak sepakat dengan kata sosialisasi saja bagi masyarakat yang dilontarkan Nasrul Abit. Menurutnya, diperlukan pelatihan dan simulasi, agar saat bencana terjadi masyarakat sudah tahu apa yang akan dilakukannya.(aci)
On 5/05/2015 08:35:00 PM by Harian Singgalang Padang in     1 comment
“Oh Indonesia, Sumatera? Ya ya tsunami,” kata dua ibu rumah tangga asal Jepang dalam bahasa Inggris yang sama tak lancarnya dengan saya. Meski ibu rumah tangga tapi keduanya masih muda, pasutri. Salah seorang bernama Aiko Nakagawa dari Nagoya.
“Saya ingin ke Bali,” katanya yang diamini temannya. Keduanya kami temui di Paina Lanai Food Court pada mall kompleks Hotel Sheraton Waikiki, saat makan Kamis malam. Aiko dan orang Jepang lainnya mengenal Sumatera karena tsunami.
Saya memesan nasi goreng, teman-teman pesanannya berbeda pula. Orang Jepang ini memesan makanan yang saya tidak tahu namanya.
Di Hawaii saya melihat ada menu makanan bali seefood dan banyak yang suka.
Jika dari Jepang ke Honolulu ditempuh 7,5 jam maka ke Bali sekitar 9 jam jika tanpa transit. Karena jarak itu maka tak heran Hawaii dipenuhi turis Jepang. Di Hawaii ditemukan sejumlah kemudahan misalnya di Sheraton gratis menelepon satu jam ke kampung halaman turis. Juga gratis selama itu pula ke mana saja dalam negara Amerika. Ada Ipad di kamar. Semua hotel non smoking room, sarapan pagi pakai antre di pintu masuk demi menyerahkan kupon makan. Kemudian Anda kita akan diantar ke meja.
Di sini pajak pembelian barang hanya 4 persen. Di Singapura untuk barang-barang tertentu pajak akan dikembalikan pemerintah setempat kepada kita sesaat hendak pulang di bandara, asal ada struk/kuitansi pembelian.
Meski pajak 4 persen tapi semua barang harganya mahal. Teman saya membeli korek api harganya jika dirupiahkan jadi Rp25 ribu. Makan untuk lima orang terbayar 56,29 dollar atau 12 dollar per orang sekali makan ekuivalen Rp150 ribu/ orang sudah termasuk air mineral tapi tak ada tambuah.
Makan seharga Rp150 ribu sebangsa nasi goreng kalau di Padang bisa dibalikkannya meja oleh pelanggan. Namun begitulah kenyataannya kalau di Hawaii. Di Singapura juga demikian.
Semua memang mahal. Baju kaos Rp50 ribu atau Rp100 ribu di Padang di Hawaii dijual Rp500 ribu kalau bahasa lainnya setengah juta rupiah. Seorang teman melihat-lihat tarif spa di hotel; 315 dollar untuk 90 menit. Ia tak berminat, jika saja ia mau, akan saya bilang, “ancak bali sawah di kampuang lai kalau sagitu biayanyo.” He he he…
Karena itu ia bergegas saja ke kamarnya dan saya ke kamar saya menghempaskan badan di kamar senilai 500 dollar semalam atau Rp6,5 juta lebih. Ini sawah pun bisa dibeli sebab saya di Hawaii empat malam.
Meski agak lama juga di Hawaii tapi saya tak tahu nama-nama tempat. Saya juga tak pernah melihat polisi dan tentara. Tak ada baliho pejabat, tak ada spanduk kurangi makan beras dan makanlah ubi seperti di Padang.
Demikian sedikit kiriman dari Hawaii. Oleh-oleh dari Las Vegas dan San Francisco akan saya tulis sesampai di Tanah Air tercinta tentu setelah penat saya lepas sebab untuk ke Amerika saya naik pesawat 8 kali pulang pergi selama 40 jam di luar transit. (habis)
On 5/05/2015 08:34:00 PM by Harian Singgalang Padang in     1 comment
Sarawa hawaii adalah celana pendek selutut atau di atasnya lagi, pakai kajai di pinggangnya. Ciri khasnya warna-warni. Tak saya temukan kisah khusus tentang celana hawaii itu. Tapi ini adalah riwayat celana yang simpel untuk berenang di pantai atau untuk sehari-hari.
Di Hawaii namanya bukan celana hawaii, seperti lauak di Padang yang di darek namanya ikan Padang. Lalu apa namanya di Hawaii? Saya juga tidak tahu. Yang saya tahu ada cerpen berjudul “Kisah Sebuah Celana Pendek,” karya Idrus yang menceritakan tentang Kusno yang miskin.
Tepat pada hari Pearl Harbour diserang Jepang, Kusno dibelikan ayahnya sebuah celana pendek. Celana kepar 1001, made in Italia. Bertahun-tahuh kemudian ia tak mampu membeli benda serupa, meski sudah bekerja.
Begitulah pada hari ini , Rabu (8/4) saya kembali jalan-jalan di Hawaii. Ke kawasan kawah gunung yang sudah jadi kompleks perumahan elite. Gunung purba itu bukan gunung lagi karena sudah tak ada gunungnya. Meletus dengan dahsyatnya entah berapa ribu tahun silam. Pemandangan di sana memang indah. Ingin saya ke sana lagi. Apalagi di Hawaii pelangi muncul tiap hari.
Sebelumnya saya ke istana raja Hawaii yang rajanya juga sudah tidak ada. Berfoto di depan patung raja dan patung ratu. Raja Kameha Meha hanya tinggal nama. Hawaii kini adalah Amerika di tropis. Di sini segala tak boleh, penat pula saya mengikuti aturan mainnya. Tapi yang tak boleh di sini boleh di Hawaii, misalnya berpakaian dalam saja hilir mudik. Apa hendak di kata.
Dan saya sudah lapar lantas makan siang di restoran Asuka Japanese di Jalan Waialae. Hidangannya shabu-shabu, enak. Anak pemiliknya palai celana hawai, anak gadis! Selera makan saya muncul karena ada nasi mix beras putih dan merah. Dekat mana resotoran tersebut? Manalah saya tahu, tapi ada tandanya, dekat Hawaiian Bank yang sudah ada jauh sebelum bank tertua di Indonesia didirikan. Bank ini berdiri 1857.
Di kawasan ini ada restoran Meksiko, Vietnam dan tidak Indonesia. Bertemu nasi terasa indah. Selesai makan aduh mak, mau perang Amerika dan Jepang silahkan saja, terserahlah, begitu benarlah.
Di mobil saya cari-cari lagi sejarah sarawa Hawaii di google tapi tak bertemu. Yang ada “jual celana Hawaii kodian.” Atau “grosir celana Hawaii Jakarta.” Tapi di hotel tempat saya menginap orang bercelana Hawaii sansai saja hilir mudik.
Sarawa pendek saja amat terkenal sampai ke Padang. Benar-benar hebat promosi Hawaii, bahkan sudah jadi bahasa sehari-hari di kalangan kita di Indonesia, juga di Padang. Misalnya “Oi jan basarawa hawaii se kalua rumah sagan wak jo urang,” kata seorang ibu pada anak gadisnya.
Lebih bagus Bunaken
Pada Rabu (8/4) saya dan rombongan mencoba menikmati pemandangan bawah laut; Atlantis Submarine. Selama 45 menit di bawah laut dengan kapal selam kepala saya nyaris terantuk karena kantuk yang tak tertahankan. Tak ada pemandangan apapun, ikan juga tak seberapa, yang lucu hanya pemandu di kapal, juga bocah-bocah keturunan India. Oleh seseorang saya disangka ayah si bocah atau mamaknya.
“Hidung Anda mirip,” katanya. Saya jawab bukan. “Hidung kalian mancung,” katanya lagi. Ha ha ha.
Balenong 45 menit di bawah permukaan laut dan saya tak bisa menahan kantuk, itu artinya tak ada apa-apanya di sana, kecuali bangkai-bangkai kapal.
Semua orang Indonesia di kapal selam itu bilang, Bunaken di Manado jauh lebih bagus dibanding bawah laut Hawaii. Saya setuju sekali, meski belum pernah ke Bunaken. Rugi saya waktu di Manado enggan ikut bersama teman-teman ke Bunaken.
Lalu apa yang dijual orang Hawaii? Ombaknya, anginnya, pantainya, tertibnya, tariannya serta obyek wisata lainnya. Apalagi? Hotelnya, makanannya, jalanan yang rapi, bus wisata dan angkutan kota yang lalu setiap sekian menit. Apalagi?
Privasi pengunjung, informasi yang lengkap, buku dan panduan wisata ada di mana-mana. Apalagi? Apa saja yang membuat pendatang nyaman, termasuk celana hawaii yang terkenal itu. Dan celana hawaii saya, dibawa sampai ke Hawaii maka bercelana hawaii pula saya di sini he he…
Besok saya akan membuat laporan terakhir dari Hawaii, laporan selanjutnya tentang Las Vegas dan San Francisco akan disuguhkan sepulang ke Tanah Air. Menulis ke menulis saya, habis pulsa saya ha..ha..(khairul jasmi)
On 5/05/2015 08:34:00 PM by Harian Singgalang Padang in     1 comment
Selasa (7/4) seorang anak lelaki, entah dari mana, tapi hati saya berdetak dia anak Amerika, serius sekali melihat maket kapal induk bangsa itu yang pada 7 Desember 1941 luluh lantak dilanyau bom-bom Jepang. Maket itu terletak dalam USS Arizona Memorial yang dibangun di atas kapal perang yang jadi sasaran Jepang. Saya menyaksikan anak itu dekat-dekat, tapi ia tak terganggu sama-sekali.
Pada Selasa kemarin (Rabu WIB), saya sampai di Pearl Harbor agak terlambat, sekira pukul 01.00. Naik kapal kecil, melaju agak ke tengah dan sampailah penumpang kapal di museum pahit itu. museum bisu tersebut menyisakan bangkai-bangkai kapal dan di dalam museum disusun nama-nama korban, pedih mata membacanya karena terlalu banyak.
Memang pada 7 Desember 1941, armada laut Jepang mengaramkan Pearl Barbor. Serangan mendadak itu, menggetarkan Washington karena instalasi militernya di Oahu, berkeping-keping, menyisakan darah. Serangan bergelombang itu berkekuatan 253 armada. Serangan pagi itu dilakukan di bawah perintah Laksamana Madya Chuichi Nagumo. Akibatnya seluruhnya, 21 kapal armada Pasifik tenggelam atau rusak, kerugian pesawat terbang 188 musnah dan 159 rusak, Orang Amerika yang tewas 2.403, termasuk 68 orang sipil. Begitulah, pokoknya Amerika tak berkutik, mati kutu di tengah laut biru itu. Baru beberapa tahun kemudian Paman Sam bisa membelas dengan menjatuhkan bom atom di Hirosima dan Nagasaki. Bom jatuh, Jepang menangis dan tak lama benar kemudian Indonesia merdeka.
Saya sudah lama ingin mendatangi situs bersejarah ini, tapi karena letaknya di Hawaii, tak mungkin saya bisa ke sana. Saya puas dengan melihat film ditambah pelajaran di bangku sekolah dulu. Tapi kini saya hadir di lokasi itu, menatap laut, melihat bangkai-bangkai kapal Amerika, memperhatikan wisatawan Jepang dan Amerika yang termagu melihat situs-situs tersebut. Saya tentu tak termagu, karena sebenarnya, museum itu adalah keniscayaan sejarah. Sebelum ke tengah laut, saya menyasikan film dokumenter tragedi Amerika itu terlebuh dahulu. Baru kemudian ke lokasi duka cita tersebut.Saya melihat rombongan siswa SMA Amerika berkunjung , sembari membawa karangan bunga duka cita. Lama benar duka cita itu terpahat di hati bangsa tersebut.
Balik ke darat saya masuk museum, foto-foto tragedi dipajang, radar, serpihan kapal, baju berdarah-darah milik petugas medis serta semua hal tentang poin penting Perang Pasifik yang menyeret Amerika masuk kancah Perang Dunia II.
Selesai di sana wisatawan disambut toko souvenir. Saya tak membeli apa-apa berat tangan saya mengeluarkan pecahan 100 dolar, he he he. Tapi tiba-tiba mata saya menangkap koran yang dijual. Koran itu Honolulu Star-Bulletin, edisi Sunday 7 Desember 1941. Headlinenya, War! Oahu Bombed By Japanase Planes.
“Ini baru berita,” kata saya dalam hati. Koran ini pasti dicetak tergesa-gesa dicetak 19 halaman. Isinya total tentang Pearl Harbor. Halaman terakhir merupakan galeri foto kapal- kapal yang binasa dengan asap hitam membubung.
Ada lagi koran St Louis Star Times edisi 8 Desember 1941. “War Declared”. Koran 28 halaman ini juga banyak bercerita soal perang di di Pasifik.
Saya termagu kenapa koran 1941 masih dijual pada 2015 atau 74 tahun kemudian. Rupanya plat koran itu masih disimpan dan dicetak ulang terus menerus dalam oplah terbatas. Ini gunanya arsip bisa membawa orang masa kini ke masa lampau.
Pearl Harbor hari ini bukan lagi tentang medan perang, bukan lagi soal duka dan balas dendam. Tanah dan laut itu sekarang adalah obyek wisata yang dikunjungi puluhan juta orang setiap tahun.
Adalah bisnis mulai dari karcis tanda masuk, mainan kunci, kaos, travel, taksi, makanan, serta banyak lagi. Inilah sejarah yang brandnya sangar hebat dan akan laku dijual sepanjang masa, selaris dokter ahli kandungan, selaris kopi dan selaris apa saja yang lekas terjual.
Tentu saja saya beruntung bisa ke tengah- tengah samudera ini. Bisa menyaksikan banyak hal termasuk petunjukan tarian hula-hula polinesia.
Hawaii memang tentang bisnis, sehingga pengunjung lupa apa makanan pokok orang sini. Wisatawan tak peduli apakah di sini ada desa. Saya malah lupa Universitas Hawaii yang di sana pernah mengajar Edy Utama, Mak Katik Darizal dan Hasan. Mereka jadi dosen tamu untuk kebudayaan, randai dan saluang.
Saya juga lupa membawa kacamata hitam ke Pearl Harbor sehingga tak bisa menggaya.
Saya meninggalkan kancah perang berkecamuk zaman lampau itu, tapi turis terus datang dan datang ke sana. Tak ada buku tamu tak ada catatan apapun tentang kita yang tiba, yang ada catatan orang nan pulang. Berkisah tentang sesuatu yang hebat dan menakutkan pada masa lalu. (Bersambung)
*) bagian 3, jalan-jalan ke Amerika April 2015
On 5/05/2015 08:33:00 PM by Harian Singgalang Padang in     4 comments
HAWAII – Saya di Honolulu, Hawaii sekarang. Sejak berangkat Senin (6/4) sudah dilewati siang dan malam, sesampai di sini malah masih Senin (6/4), padahal di Padang, sudah Selasa (7/4). Tanpa sadar saya kabari istri, “mendarat di Honolulu.” Tentu saja tak ada jawaban, sebab di kota kita ini masih pukul 03.00 dinihari. He he he, bertambah muda saya sehari.
Hawaii memang aduhai. Ibukotanya Honolulu, tertata rapi, lalu lintasnya tentu saja tidak kusut masai. Mobil-mobil setir kiri melaju tertib tanpa tat tit tut, seolah-olah kabel klaksonnya putus.
Dari bandara kami diarak oleh orang travel ke hotel, tapi singgah di sana sini. Hal pertama yang amat membuat saya bertanya-tanya, mengapa keras benar hati orang datang ke sini, kan ada obyek wisata lain di dunia, seperti Bali. Ternyata orang datang bukan karena obyek semata, melainkan kedamaian hati.
Maka damailah hati saya di sini. Sejuk, nyaman, tenteram. Suasana itu terasa tatkala kami mendarat di Bandara International Honolulu Senin (6/4) sekitar pukul 08 pagi.
Ketika turun, pilot Japan Airlines melambai tak henti-hentinya, dari kokpit ia melakukan hal itu sampai semua penumpang turun. Mungkin karena ini penerbangan jarak jauh, jadi perlu dilambai. Di imigrasi pemeriksaan tidak ribet, sehingga wisatawan cepat bisa berkumpul di lobi kedatangan.
Setelah sebentar berkeliling kota, ke pintu angin di bukit Nu’uanu Pali, pantai Waikiki tempat bule berlibur dan bersenda gurau. Lalu ke makam pahlawan Perang Dunia II. Tak lama kemudian saya dan rombongan santap siang di Buca, restoran Itali.
Tak ada nasi, tapi saya kenyang. Berselang kemudian kami ke hotel Sheraton Waikiki, tapi proses chek in lama sekali, karena datang agak kepagian. Hotel ini terletak di bibir pantai. Hotel yang ramai oleh wisatawan.
Tapi Hawaii memang aduhai. Ibukota ini terletak di Pulau Oahu yang waktu saya datang, angin bertiup kencang. Bagi saya yang menarik adalah rumah-rumah penduduk yang sebagian terbuat dari kayu. Sederhana. Rumah itu tersusun rapi di pinggang-pinggang bukit.
Pantai Waikiki
Saya diberi kamar yang lega, di lantai 24 hotel Sheraton Waikiki. Dari Balkon kamar 2436 saya memandang jauh ke bawah. Tak panjang benar, tapi orang sini pandai menjualnya. Semacam teluk kecil, tempat camar berhenti terbang. Di sini bukan camar, tapi orang yang berhenti dari rutinitas yang menyesakkan dada.
Ketika saya duduk di Balkon, tiba-tiba hinggap seekor merpati. Benar kata orang, jinak-jinak permati, makan di tangan. Saya sentuh, burung ini diam saja. Lalu kemudian ia menukik seperti menggergaji angin.
Pantai ini lindang oleh turis yang berselancar, berenang, berlari-lari, berjemur matahari. Ombak Samudera Pasifik ini, sama saja dengan ombak Samudera Hindia yang menghempas-hempas di Pantai Padang. Cuma ini, tak hempasnya yang sekuat di Padang.
Pantai ini seperti halaman depan rumah para turis. Senyatanya, memang menjadi halaman depan sejumlah hotel bintang lima, satu di antaranya hotel tempat saya dan rombongan menginap.
Masih dari balkon kamar hotel ini, terlihat dengan jelas di bawah sejumlah kolam renang yang ramai oleh turis yang mandi-mandi. Beberapa di antaranya sedang berbulan madu. Ada payung-payung berwarna merah, tapi bukan tenda eper seperti di kota kita.
Jujur saya membayangkan berada pada sebuah balkon kamar hotel di Bukit Gunung Padang, kok bisa mirip ya? Bangunlah hotel di sana kalau tak percaya, bahkan akan lebih indah dari hotel di Hawaii ini. Nah cobalah buat agak satu di sana kalau tak percaya. Mungkin Pak Walikota Padang sudah punya rencana.
Di sini sudah pukul 18.00 Senin atau pukul 11.00 WIB Selasa, tapi langit terang seperti baru saja siang. Sinar matahari yang melimpah itu, menjadi hadiah bagi pelancong. Apalagi Suhu sekitar 20 derajat Celsius, angin sepoi, maka lengkaplah nikmat sebuah wisata yang mahal itu.
Saya harus pergi makan malam, pintu kamar ditutup, kalung bunga yang disorongkan ke leher saat baru datang tadi, saya gayutkan di sandaran kursi. Berapalah harga bunga itu, tapi saya bangga dikalungi bunga dengan sikap takzim oleh orang Hawaii. Kita juga bisa membuat orang luar bangga, tapi kita malah sering menyengkelkan. Ah, selalu saja suka menjelek-jelekkan kampung sendiri, ciri-ciri orang Indonesia. Ya sudahlah.
Ya egp alias emang gue pikirin, yang jelas saya sudah berada di Roy’s kafe, mencicipi makanan ala Hawaii, lokasi kafe hanya terpaut beberapa meter dari hotel saya.
Kafe ini penuh, tempat-tempat sudah dipesan. Inilah gaya Hawaii yang banyak duit karena wisatawan. Menurut catatan setidaknya 20 jutaan turis datang ke sini setiap tahun, atau sekitar 4 kali lipat kunjungan ke Bali. Karena itu jangan heran, tiap sebentar pesawat mendarat di bandara kota Honolulu.
Indonesia dengan Balinya berusaha menyusul kunjungan wisata Hawaii yang tinggi itu. Semoga saja bisa, sebab Hawaii yang bagai apuang-apuang tengah di samudera, bisa dikunjungi puluhan juta orang per tahun, apalagi Indonesia. (khairul jasmi)
On 5/05/2015 08:32:00 PM by Harian Singgalang Padang in     1 comment
NARITA – Pada subuh yang tak terasa seperti subuh, saya menunaikan salat di ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Senin (6/4) ini saya dan rombongan hendak terbang ke Narita, Tokyo.
Pesawat Japan Airlines yang sebesar kampung itu, saya naiki dengan riang. Duduk di kursi 56-E, tapi karena tidak penuh, maka saya bisa pindah-pindah. Seperti ke Padang, pesawat dengan no penerbangan JL 720 ini juga lama antre menunggu untuk bisa terbang.
Cengkareng – Narita ditempuh sekitar tujuh jam. Kami tak hendak ke sana, melainkan ke Honolulu, Hawaii, tapi apalah daya, jauhnya minta ampun. Ke Jepang saja jauh, apalagi ke Hawaii yang bagai sabut terapung di samudera Pasifik itu.
Negeri impian
Alhamdulillah pesawat mendarat di Bandara Narita, Tokyo. Inilah negeri impian anak-anak generasi 80 ke atas yang doyan membaca komik Jepang.
Sudah senja, Narita salah satu bandara yang tersibuk di Jepang, sibuk dan gemerlap. Saya terduduk di pojok kafe menikmati secangkir kopi. Kami transit di sini sekitar 3 jam. Waktu di arloji saya menunjukkan pukul dua siang, tapi di HP sudah pukul 4 sore karena berubah otomatis sesuai zona. Waktu di Jepang lebih cepat dua jam dibanding WIB.
Setelah ini, kami akan terbang ke Honolulu, selama kurang lebih 7,5 jam. Di bandara ini istirahat sekitar dua tiga jam. Terbang pukul 19 waktu Jepang Senin (6/4) dan akan sampai di Honolulu, pagi, tapi masih Senin, karena waktu di sana lambat satu hari Dibanding Indonesia.
Narita adalah bandara yang sibuk terletak di Chiba. Di sini lalu lintas orang sekitar 30 juta per tahun. Bandara tersibuk kedua di Jepang ini terlihat rapi, bersih dan tertib. Bandara tersibuk pertama Hanade, yang lalu lintas orangnya mendekati 35 juta per tahun.
Saya baru pertama kali ke Jepang dan itupun terkurung di bandara, tapi jadi jugalah, agar tak ditertawakan anak saya yang sudah ke negara ini disuruh dosennya. Setelah terbang sejak pagi, sesampai di sini, saya mencari kopi. Saya beli tiga gelas. Nikmatnya tak terbada. Tiga gelas bukan untuk saya saja tapi untuk beberapa teman.
Enak di bandara ini tak seramai bandara Soekarno -Hatta. Tak sebising itu pula. Saya melihat wajah-wajah Asia Timur yang hilir mudik. Juga ada yang duduk sambil menulis, entah apa yang ditulisnya. Koridornya terasa lega.
Bandara Narita yang kabarnya menyediakan mushalla itu, menurut Skytrax menempati urutan ke-14 dunia. Di bandara ini terdapat 23 lounge yang menyediakan makanan halal dan hampir 200 orang karyawan di sini sudah dilatih untuk melayani wisatawan Muslim.
Saya menyaksikan sejumlah warga Muslim makan dengan lahap, menikmati sajian halal. Saya sendiri, menikmati suasana yang nyaman di sini. Saya mau Belanja tapi tak ada mata uang Jepang di dompet. Tadi membeli kopi dengan kartu kredit saja.
Saya lelah mencari tempat tidur sekejap dan itu ditemukan dengan mudah. Saya membayangkan BIM, bandara di Padang, bisakah senyaman ini sehingga wisatawan betah berlama-lama. Sayonara, saya akan terbang ke Honolulu, sebuah perjalanan wisata yang baru pertama kali dilakukan. (khairul jasmi)
On 2/01/2015 07:57:00 AM by Harian Singgalang Padang in     1 comment
Khairul Jasmi

Ada ada cerita dari zaman Yunani kuno, tentang Dewa Narcissus. Inilah asal kata narsisme yang asyik memuji-muji diri sendiri. Dewa ini tak pernah bercemin. Tapi ia sangat tapan, paling gagah di dunia. Karena gagahnya, ia menolak semua gadis yang mendakatinya. Suatu hari ia haus dan bertemu kolam bening bagai cermin dalam rimba. Bukannya minum, tapi terkejut. Tatkala di tepi kolam, ia melihat wajahnya sendiri. Inilah untuk pertama kali Narcissus melihat wajahnya sendiri. Alangkah tampannya. Maka ia tak beranjak dari sana, melihat-lihat wajahnya terus-menerus. Terus dan terus. Lupa dia, dunia terus berputar, akhirnya sang dewa mati di tepi kolam bening itu. Mati karancak-an. Maka orang yang memuja-muja dirinya sendiri wakden hebat, wakden nomor satu, wakden tiada duanya, wakden santiang bana, disebut narsis. Sekarang ada tongkat narsis disingkat narsis, yaitu tongkat tempat HP dicantolkan dan kemudian bisa memoter diri sendiri. Oh ya, di tepi kolam, tempat Dewa Marcissus meninggal tumbuh bunga semerbak, namanya bunga narsis. Jika orang Yunani mati, bunga itu yang ditanam di pusara.


Sebaiknya kita jangan narsisme. Meski saya menemukan ada orang yang semacam itu. Apa boleh buat. Lalu apakah kita orang Minang narsisme? Ada yang tidak ada yang iya, bahkan narsisme kuadrat untuk berbagai urusan, termasuk soal Minangkabau itu sendiri. Ini kata para ahli bagian dari dialektika Minangkabau.

Maka hiduplah Minangkabau nan hebat jelita luar bisa tiada taranya ini. Sebanyak 9 dari 15 pengarang Balai Pustaka orang awak. Putera-puteri Minang menyusun fondasi bangsa ini, menteri-menteri kabinet awal-awal kemerdekaan orang awak mendominasi. Hebat tiada rata. Jika pejabat pusat ke sini, disebutnya semua nama tokoh urang awak yang memang tiada tandingannya itu. Awak tersenyum-senyum di tengah inflasi paling tinggi di Indonesia, di tengah pendidikan yang agak merosot, nilai tukar petani yang rendah, lapangan kerja yang sempit.
Kita yang punya Semen Padang, yang didirikan 1910 itu. Setelahnya tak ada lagi investasi sebesar perusahaan tersebut di sini. Kita punya tambang batubara tua, setelah itu sepi. Kita terbuka terhadap pembaharuan. Kita egaliter, kita paling jago berdemokrasi di Indonesia, belum apa-apa Indonesia, kita sudah berdemokrasi. Ketika RI jadi RIS, kita tetap setia dengan RI. Ketika politik mercusuar, kita menggugat. PRRI adalah buktinya. Rupanya sekarang, apa yang kita tuntut soal otonomi baru dilaksanakan pemerintah. Betapa majunya kita berpikir.
Lalu kenapa sekarang tak ada orang sehebat awal-awal kemerdekaan dari Minang? Ah itu siklus sejarah. Kita tetap hebat, orang lain juga banyak terdidik. Kita industri otak, maksudnya di sinilah gudang para cendikiawan itu. Kita konglomerat rakyat, maksudnya di sinilah BPR tumbuh. Kita punya "universitas" saudagar, seperti Pasar Raya Padang. Maksudnya di sinilah awal mula pedagang-pedagang hebat itu ditempa. Kita ini dihormati daerah lain karena menjaga adat istiadat dengan baik dan orang tak tahu benar karena kita pernah berperang dipicu konflik adat dan agama. Kita ini dihormati karena Islamnya kuat.
Adalah menyedihkan kalau kita narsisme. Brilian jika kejayaan masa lalu dijadikan cambuk untuk memacu langkah ke masa depan. Orang yang lupa sejarah, dia sombong. Yang tak melupakan, tapi tak berbuat apa-apa, sia-sia. Lalu apa yang baik? Kita punya ukuran sendiri-sendiri soal itu, selagi dalam ruang etika dan tak mustahil.

Maka sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Juga yang menghormati dirinya sendiri. Menghormati diri sendiri dimulai dengan disiplin pada diri sendiri pula. Bukankah kita sekarang tidak disiplin? (*)





On 1/29/2015 07:58:00 PM by Harian Singgalang Padang in     No comments

Khairul Jasmi

Pilihlah! Percaya KPK atau Polri. Percaya Megawati atau Jokowi. Pilihlah, mau Sumatera Barat sebagai nama provinsi atau Daerah Istimewa Minangkabau (DIM). Pilih...pilih tigo tigo saribu.

Pilih! Urus sampai tuntas, sampai facebook pecah oleh komentarmu. Buat seminar, dengar pendapat, demo kalau perlu. Caci maki sepuasnya, kalau stroke tanggung sendiri. Memihaklah ke KPK, memihaklah pada Polri. Memihaklah pada nama provinsi yang sudah ada saja. Memihaklah pada DIM, sebab awak hebat. Hebat dari provinsi manapun di Indonesia raya ini, punya ciri khusus. Minangkabau gito lho... Istimewakanlah kami. Atau tolaklah DIM, karena itu hanya wacana saja, angan-angan belaka, nan ka indak-indak se. Yang bagus itu buatlah tandingan. "Tim pembentukan Provinsi Sumatera Barat Sajaha." Eupps.

Kita harus ikut berdebat-debat itu. Debat apa saja sebab tak boleh hanya mengurus diri sendiri, meski urusan sendiri berpetai-petai. Ayo guncang jagat politik. Kuliti KPK, kuliti pula Polri. Kehabisan bahan ya? Sudah sekarang caci-maki saja, bilang saja tak percaya. Bilang saja negeri ini rusak. Atau apa yang enak, hayo. Tak juga ada, maka buatlah "he he he..." saja.

Hancur negeri ini nanti kalau politik dan hukum begini juga. Makin mundur kita. Tidak bisa dibiarkan. Turun! Lawan! Ndeh, lah lunas cicilan di bank sanak? Heboh saja tiap sebentar. Dan lai indak tingga shalat? Shalat itu obat stroke. Biaya berobat stroke sekarang mahal bro.

Adalah baik tiap kita peduli perjalanan bangsa ini, apakah itu ekonomi politik hukum dan bidang lainnya. Itu tanda kita berpikir. Bangsa akan besar kalau rakyatnya ikut serta membangun. Tapi kalau tiap sebentar merasa hebat sendiri, lalu mengelompok tapi suara kita tak didengar orang, betapa sia-sianya pemikiran kita.

Pilihan hidup, selamat dunia akhirat. Selamat dunia itu, hidup sederhana, atau kaya raya. Selamat itu, apa urusan selesai, bisa menolong orang lain, punya tabungan, bisa berlibur, bisa berbakti para orang tua dan keluarga besar. Membahagiakan istri (boleh juga istri-istri, he he...) dan anak-anak. Hidup sederhana itu, lebih baik. Sederhana maksudnya, sagalo ado, tapi tidak banyak.

Selamat akhirat itu: Beramal ibadah sebanyak-banyaknya dengan ikhlas, mengejarakan semua perintah Tuhan, menjauhi larangannya. Beriman dan bertawa. Kaffah. Atau paling tidak mendekati hal itu. Jangan berbuat dosa juga.
Dari kecil saya mendengar, "Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain." Nah. Manfaat itu sangat banyak. Kita tahu semua kok. Sekarang mana yang penting kita urus; Anda berteriak-teriak tak karuan soal politik dan hukum bangsa ini, sementara sebenarnya sekadar sok hebat saja. Diminta benar tampil ke depan maka dijawabnya, "eeee jan awak lai". Yayaye. Atau kita wajar-wajar saja dan mengabdi pada bangsa dengan kewajaran itu.

Ada orang yang diam dalam pilihannya. Ia punya pilihan sederhana, bahagia bersama pasangannya. Merangkak dari bawah, pernah bertengkar, tapi kemudian disadari pertengkaran tidak perlu. Mereka berpacaran, bertahun-tahun, kemudian menikah. Menikah, membangun rumah tangga. Tak hiruk, tak sombong. Awalnya mereka tak percaya akan pertemuan itu, tapi akhirnya malah jadi kenyataan.

Pada pilihan lain, ada yang menjadikan pekerjaan lebih penting, pindah sana pindah sini, yang gaji tak naik-naik juga. Heboh mengurus kredit saja di bank, kadang terlambat mencicilnya. Ada yang sudah bertungkus-lumus siang malam, tak peduli dengan politik negeri ini, maunya hanya bekerja. Ah lupa menikah.

Pilih-pilih tigo 50 ribu!

Maka mari kita berseminar, seminar apa saja, asal itu menyangkut wacana.  Bicara wacana, ide-ide kita nomor satu, nomor dua kita juga, nomor tiga orang lain, nomor empat kita lagi.

Akan halnya DIM, nama baru Sumbar yang diusulkan sekelompok pemikir atau orang di Sumbar, bagus. Elok ka untuak tali arloji.
Pertanyaan serius, "kenapa kita suka berwacana?" Apa karena itu maka negeri ini tak maju-maju? Jangan sembarang tuduh. Kita hebat mah. Apa defenisi maju dan kemajuan?
Saya memilih Sumatera Barat sajalah dan saya orang Minang.

Cincailah. Piliah-piliah...
Pilihlah tapi jangan menyesal dan bahagialah atas pilihan sendiri (*)










On 1/29/2015 07:56:00 PM by Harian Singgalang Padang in     No comments

Khairul Jasmi

"Ngopi yuuuk!" Handeh, kalau sudah mendengar ucapan itu, rasa di Jakarta saya.
"Lah tu, ngopi wak lai," yang paling sering bilang ini sama saya Makpong alias Asril Koto, penyair "sedekah air mata" itu.
Kopi memang bagian nyaris tak terpisahkan dari keseharian kaum pria. Di kota atau di desa, kecuali sedang tak ada uang. Waktu kecil saya memetik buah kopi, mencoba dari batang ke batang tanpa menginjak tanah. Bisa, tapi agak sulit, sedang oleh teman saya, gampang saja.
Kini batang kopi sudah pendek-pendek, bisa dijangkau saja buahnya.

Setelah dewasa, lebih setahun lalu, jauh dari kampung, saya menemukan pohon kopi yang pendek-pendek ditata sedemikian rupa bagai di sebuah taman. Dimanakah itu? Di pinggir jalan Bedugul, tak jauh dari Denpasar. Saya dan teman berhenti di sana, masuk ke dalam melalui jalan setepak. Tak tahunya di tengah kebun kopi itu, ada kafe. Di sinilah minum kopi paling enak. berderet-deret kebun serupa di pinggir jalan. Kopi diracik dengan peralatan modern, disajikan secara profesional, di gelas yang tak saya jumpai rancaknya di kafe manapun.

"Ngopi di kebun kopi, hebat nyali bisnis orang Bali," kata sejumlah teman. Selain menikmati kopi luwak, kopi hitam, juga ada beraneke cita rasa, kopi cokelat, kopi strawberry. Saya memesan secangkir kopi luwak. Sambil menikmati saya petik beberapa helai daun kopi arabica yang sudah tua. "Mau saya ajari membuat kawa daun?" Pelayan di sana tersenyum dan saya kisahkan soal kawa daun di Minangkabau.
Sambil menikmati racikan modern kopi itu, saya membayangkan bagaimana kalau di Padang ada warung kopi di kebun kopi? "Ini kartu nama saya, jika Bapak mau buka, telepon saja saya," kata manajernya. Sampai sekarang saya tak pernah meneleponnya, karena memang saya melupakannya. Namun tiap hari saya minum kopi. Ke kawasan Pondok Padang, atau di kafe yang berderet-deret di se antero kota. Ada yang enak, ada yang tidak. Di lapau-lapau pedesaan, nyaris di setiap warung ada kopi, teh susu, teh manis, serta teh talua, minuman favorit urang awak.
Lapau adalah bagian dari tradisi Minangkabau. Saya mengambil kesimpulan saja sendiri, yang paling penting di daerah ini adalah: surau, lapau dan rantau.
Dan di tengah hiruk pikuknya kemajuan, atau kemunduran, kopi tak pernah bisa dilupakan. Komoditas ini membantuk peradabannya sendiri, seperti juga uang. Ajakan "ngopi dulu..." bukan lagi artinya minum kopi, tapi rehat sejenak, menikmati suasana, terserah mau minum apa setelah itu. Gaya hidup bisnis jasa yang banyak ngomong-ngomongnya, menyebabkan warung kopi atau kafe dan sebutan lain tumbuh menjamur. Kadang ngopi pergi melagak-lagak saja, seperti bapaknya yang punya kota ini. Ketika lain, serius benar, seperti hendak mengkaji jarak bulan dan bumi. Berbagai perangai orang di kafe. Untuk gaya hidup, segalanya memang bisa dilakukan dan semua menghasilkan uang bagi orang lain. Lantas berapa omset bisnis kopi di Indonesia? Tak tahu saya, he he he... Tapi sebuah kafe diJakarta bisa mengantongi Rp4 sampai Rp6 juta/hari. Sebuah kafe investaisnya bisa dari Rp250 juta sampai Rp1 miliar, tergantung selera. Bukan, tergantung uang.

Dunia bicara dengan kopi, dari Australia, sampai stasiun bawah tanah di London hingga Rusia. Kopi, adalah nikmat yang diberikan Tuhan pada umat manusia. Brazil penghasil kopi terbanyak di dunia, disusul Kolumbia atau Vietnam dan Indonesia. Kopi Vietnam lain pula hebatnya, saya sudah menikmatinya.
Di Indonesia, kopi Sumatera Barat belum disebut benar, mungkin terakhir baru kopi surian. Di dunia ada empat jenis kopi, arabica, robusta dan liberca dari Liberia Afrika Barat dan kopi cxcelsa serta liberca dari Liberia Afrika Barat. Konon yang disebut terakhir paling enak. Saya belum pernah mencobanya.
Dari rumpun arabica banyak pula jenisnya. Misalnya kopi kolombia, ada hawaiian kona coffee, jamaican blue mountain coffee, java coffee, sumatra mandheling dan Sumatra lintong, gayo coffee. Tentu saja da kopi toraja yang termashur itu. Tak lupa Kintamani (Bali) dan Mangkuraja (Bengkulu). Pokoknya jenis-jenis kopi ini berjibun. Buka saja internet, cari kopi, ditemukan seluas dunia ha ha ha...

Lalu teman-teman saya di Padang suka ngajak ngopi, sore hari, sehabis Shalat Ashar. Atau pada jam lain. Secangkir kopi, sejuta cerita. Juga kisah. Kadang bermenung-0menung saja, main HP dan entah apalagi.  Para editor surat kabar suka kopi, di Padang TV ada acara namanya Ngopi alias ngobrol politik, kabarnya banyak tokoh sedang antre untuk muncul dalam acara itu. Semua suka kopi, pak tukang rumah, petani, nelayan, siapa saja suka kopi. Ada yang tidak, karena lebih suka teh. Saya juga suka teh yang enak dari Kayu Aro, bagian dari teh ekspor yang dinimum Ratu Belanda itu. Mahal he he, tapi saya dapat perai, ada saudara di sana. Tapi asal tak sering-sering saja, ya ndak.

Saya juga suka kopi sachet, takarannya sudah pas, tinggal dikasih gula. Kopi Sumbar, kopi Jogya, kopi Singapura, kopi Viatnam dan Laos, juga saya suka. Yang tak suka kopi tanpa gula, padahal penikmat kopi sejati justru menyeduh kopi tanpa gula.

Para pebisnis warung kopi tiap hari panen uang, petani kopi juga, meski tak banyak benar. Penikmati kopi cari uang di tempat lain, lalu membelanjakannya antara lain untuk kopi kesukaannya. Kisah sukses bisnis kopi antara lain, bisa dibaca dalam "The Starbucks Exprerience," sebuah buku yang membeberkan kesuksesan paripurna dari sebuah bisnis minuman kopi. Perusahaan ini awalnya punya satu kedai kecil di Amerika tapi kemudian menggurita ke seluruh dunia. Jika 1987 punya karyawan 100 orang menjadi 100 ribu orang pada 2006. Karyawan Starbucks memiliki kepuasan bekerja mencapai 82 persen, padahal di perusahaan terkemuka dunia lainnya yang disebut sangat nyaman, kepuasan hanya 74 persen dan 50 persen di perusahaan yang digelari ‘tempat terbaik untuk bekerja’. Tapi, ketika saya minum kopi di Starbucks, rasa kopinya biasa-biasa saja, pelayanannya juga.

Ah kopi. Banyak benar kata-kata "kopi" dalam tulisan ini ya. Ah, biarkan saja, tak terhindarkan.
Ngopi yuuk...*