On 1/29/2015 07:58:00 PM by Harian Singgalang Padang in     No comments

Khairul Jasmi

Pilihlah! Percaya KPK atau Polri. Percaya Megawati atau Jokowi. Pilihlah, mau Sumatera Barat sebagai nama provinsi atau Daerah Istimewa Minangkabau (DIM). Pilih...pilih tigo tigo saribu.

Pilih! Urus sampai tuntas, sampai facebook pecah oleh komentarmu. Buat seminar, dengar pendapat, demo kalau perlu. Caci maki sepuasnya, kalau stroke tanggung sendiri. Memihaklah ke KPK, memihaklah pada Polri. Memihaklah pada nama provinsi yang sudah ada saja. Memihaklah pada DIM, sebab awak hebat. Hebat dari provinsi manapun di Indonesia raya ini, punya ciri khusus. Minangkabau gito lho... Istimewakanlah kami. Atau tolaklah DIM, karena itu hanya wacana saja, angan-angan belaka, nan ka indak-indak se. Yang bagus itu buatlah tandingan. "Tim pembentukan Provinsi Sumatera Barat Sajaha." Eupps.

Kita harus ikut berdebat-debat itu. Debat apa saja sebab tak boleh hanya mengurus diri sendiri, meski urusan sendiri berpetai-petai. Ayo guncang jagat politik. Kuliti KPK, kuliti pula Polri. Kehabisan bahan ya? Sudah sekarang caci-maki saja, bilang saja tak percaya. Bilang saja negeri ini rusak. Atau apa yang enak, hayo. Tak juga ada, maka buatlah "he he he..." saja.

Hancur negeri ini nanti kalau politik dan hukum begini juga. Makin mundur kita. Tidak bisa dibiarkan. Turun! Lawan! Ndeh, lah lunas cicilan di bank sanak? Heboh saja tiap sebentar. Dan lai indak tingga shalat? Shalat itu obat stroke. Biaya berobat stroke sekarang mahal bro.

Adalah baik tiap kita peduli perjalanan bangsa ini, apakah itu ekonomi politik hukum dan bidang lainnya. Itu tanda kita berpikir. Bangsa akan besar kalau rakyatnya ikut serta membangun. Tapi kalau tiap sebentar merasa hebat sendiri, lalu mengelompok tapi suara kita tak didengar orang, betapa sia-sianya pemikiran kita.

Pilihan hidup, selamat dunia akhirat. Selamat dunia itu, hidup sederhana, atau kaya raya. Selamat itu, apa urusan selesai, bisa menolong orang lain, punya tabungan, bisa berlibur, bisa berbakti para orang tua dan keluarga besar. Membahagiakan istri (boleh juga istri-istri, he he...) dan anak-anak. Hidup sederhana itu, lebih baik. Sederhana maksudnya, sagalo ado, tapi tidak banyak.

Selamat akhirat itu: Beramal ibadah sebanyak-banyaknya dengan ikhlas, mengejarakan semua perintah Tuhan, menjauhi larangannya. Beriman dan bertawa. Kaffah. Atau paling tidak mendekati hal itu. Jangan berbuat dosa juga.
Dari kecil saya mendengar, "Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain." Nah. Manfaat itu sangat banyak. Kita tahu semua kok. Sekarang mana yang penting kita urus; Anda berteriak-teriak tak karuan soal politik dan hukum bangsa ini, sementara sebenarnya sekadar sok hebat saja. Diminta benar tampil ke depan maka dijawabnya, "eeee jan awak lai". Yayaye. Atau kita wajar-wajar saja dan mengabdi pada bangsa dengan kewajaran itu.

Ada orang yang diam dalam pilihannya. Ia punya pilihan sederhana, bahagia bersama pasangannya. Merangkak dari bawah, pernah bertengkar, tapi kemudian disadari pertengkaran tidak perlu. Mereka berpacaran, bertahun-tahun, kemudian menikah. Menikah, membangun rumah tangga. Tak hiruk, tak sombong. Awalnya mereka tak percaya akan pertemuan itu, tapi akhirnya malah jadi kenyataan.

Pada pilihan lain, ada yang menjadikan pekerjaan lebih penting, pindah sana pindah sini, yang gaji tak naik-naik juga. Heboh mengurus kredit saja di bank, kadang terlambat mencicilnya. Ada yang sudah bertungkus-lumus siang malam, tak peduli dengan politik negeri ini, maunya hanya bekerja. Ah lupa menikah.

Pilih-pilih tigo 50 ribu!

Maka mari kita berseminar, seminar apa saja, asal itu menyangkut wacana.  Bicara wacana, ide-ide kita nomor satu, nomor dua kita juga, nomor tiga orang lain, nomor empat kita lagi.

Akan halnya DIM, nama baru Sumbar yang diusulkan sekelompok pemikir atau orang di Sumbar, bagus. Elok ka untuak tali arloji.
Pertanyaan serius, "kenapa kita suka berwacana?" Apa karena itu maka negeri ini tak maju-maju? Jangan sembarang tuduh. Kita hebat mah. Apa defenisi maju dan kemajuan?
Saya memilih Sumatera Barat sajalah dan saya orang Minang.

Cincailah. Piliah-piliah...
Pilihlah tapi jangan menyesal dan bahagialah atas pilihan sendiri (*)










On 1/29/2015 07:56:00 PM by Harian Singgalang Padang in     No comments

Khairul Jasmi

"Ngopi yuuuk!" Handeh, kalau sudah mendengar ucapan itu, rasa di Jakarta saya.
"Lah tu, ngopi wak lai," yang paling sering bilang ini sama saya Makpong alias Asril Koto, penyair "sedekah air mata" itu.
Kopi memang bagian nyaris tak terpisahkan dari keseharian kaum pria. Di kota atau di desa, kecuali sedang tak ada uang. Waktu kecil saya memetik buah kopi, mencoba dari batang ke batang tanpa menginjak tanah. Bisa, tapi agak sulit, sedang oleh teman saya, gampang saja.
Kini batang kopi sudah pendek-pendek, bisa dijangkau saja buahnya.

Setelah dewasa, lebih setahun lalu, jauh dari kampung, saya menemukan pohon kopi yang pendek-pendek ditata sedemikian rupa bagai di sebuah taman. Dimanakah itu? Di pinggir jalan Bedugul, tak jauh dari Denpasar. Saya dan teman berhenti di sana, masuk ke dalam melalui jalan setepak. Tak tahunya di tengah kebun kopi itu, ada kafe. Di sinilah minum kopi paling enak. berderet-deret kebun serupa di pinggir jalan. Kopi diracik dengan peralatan modern, disajikan secara profesional, di gelas yang tak saya jumpai rancaknya di kafe manapun.

"Ngopi di kebun kopi, hebat nyali bisnis orang Bali," kata sejumlah teman. Selain menikmati kopi luwak, kopi hitam, juga ada beraneke cita rasa, kopi cokelat, kopi strawberry. Saya memesan secangkir kopi luwak. Sambil menikmati saya petik beberapa helai daun kopi arabica yang sudah tua. "Mau saya ajari membuat kawa daun?" Pelayan di sana tersenyum dan saya kisahkan soal kawa daun di Minangkabau.
Sambil menikmati racikan modern kopi itu, saya membayangkan bagaimana kalau di Padang ada warung kopi di kebun kopi? "Ini kartu nama saya, jika Bapak mau buka, telepon saja saya," kata manajernya. Sampai sekarang saya tak pernah meneleponnya, karena memang saya melupakannya. Namun tiap hari saya minum kopi. Ke kawasan Pondok Padang, atau di kafe yang berderet-deret di se antero kota. Ada yang enak, ada yang tidak. Di lapau-lapau pedesaan, nyaris di setiap warung ada kopi, teh susu, teh manis, serta teh talua, minuman favorit urang awak.
Lapau adalah bagian dari tradisi Minangkabau. Saya mengambil kesimpulan saja sendiri, yang paling penting di daerah ini adalah: surau, lapau dan rantau.
Dan di tengah hiruk pikuknya kemajuan, atau kemunduran, kopi tak pernah bisa dilupakan. Komoditas ini membantuk peradabannya sendiri, seperti juga uang. Ajakan "ngopi dulu..." bukan lagi artinya minum kopi, tapi rehat sejenak, menikmati suasana, terserah mau minum apa setelah itu. Gaya hidup bisnis jasa yang banyak ngomong-ngomongnya, menyebabkan warung kopi atau kafe dan sebutan lain tumbuh menjamur. Kadang ngopi pergi melagak-lagak saja, seperti bapaknya yang punya kota ini. Ketika lain, serius benar, seperti hendak mengkaji jarak bulan dan bumi. Berbagai perangai orang di kafe. Untuk gaya hidup, segalanya memang bisa dilakukan dan semua menghasilkan uang bagi orang lain. Lantas berapa omset bisnis kopi di Indonesia? Tak tahu saya, he he he... Tapi sebuah kafe diJakarta bisa mengantongi Rp4 sampai Rp6 juta/hari. Sebuah kafe investaisnya bisa dari Rp250 juta sampai Rp1 miliar, tergantung selera. Bukan, tergantung uang.

Dunia bicara dengan kopi, dari Australia, sampai stasiun bawah tanah di London hingga Rusia. Kopi, adalah nikmat yang diberikan Tuhan pada umat manusia. Brazil penghasil kopi terbanyak di dunia, disusul Kolumbia atau Vietnam dan Indonesia. Kopi Vietnam lain pula hebatnya, saya sudah menikmatinya.
Di Indonesia, kopi Sumatera Barat belum disebut benar, mungkin terakhir baru kopi surian. Di dunia ada empat jenis kopi, arabica, robusta dan liberca dari Liberia Afrika Barat dan kopi cxcelsa serta liberca dari Liberia Afrika Barat. Konon yang disebut terakhir paling enak. Saya belum pernah mencobanya.
Dari rumpun arabica banyak pula jenisnya. Misalnya kopi kolombia, ada hawaiian kona coffee, jamaican blue mountain coffee, java coffee, sumatra mandheling dan Sumatra lintong, gayo coffee. Tentu saja da kopi toraja yang termashur itu. Tak lupa Kintamani (Bali) dan Mangkuraja (Bengkulu). Pokoknya jenis-jenis kopi ini berjibun. Buka saja internet, cari kopi, ditemukan seluas dunia ha ha ha...

Lalu teman-teman saya di Padang suka ngajak ngopi, sore hari, sehabis Shalat Ashar. Atau pada jam lain. Secangkir kopi, sejuta cerita. Juga kisah. Kadang bermenung-0menung saja, main HP dan entah apalagi.  Para editor surat kabar suka kopi, di Padang TV ada acara namanya Ngopi alias ngobrol politik, kabarnya banyak tokoh sedang antre untuk muncul dalam acara itu. Semua suka kopi, pak tukang rumah, petani, nelayan, siapa saja suka kopi. Ada yang tidak, karena lebih suka teh. Saya juga suka teh yang enak dari Kayu Aro, bagian dari teh ekspor yang dinimum Ratu Belanda itu. Mahal he he, tapi saya dapat perai, ada saudara di sana. Tapi asal tak sering-sering saja, ya ndak.

Saya juga suka kopi sachet, takarannya sudah pas, tinggal dikasih gula. Kopi Sumbar, kopi Jogya, kopi Singapura, kopi Viatnam dan Laos, juga saya suka. Yang tak suka kopi tanpa gula, padahal penikmat kopi sejati justru menyeduh kopi tanpa gula.

Para pebisnis warung kopi tiap hari panen uang, petani kopi juga, meski tak banyak benar. Penikmati kopi cari uang di tempat lain, lalu membelanjakannya antara lain untuk kopi kesukaannya. Kisah sukses bisnis kopi antara lain, bisa dibaca dalam "The Starbucks Exprerience," sebuah buku yang membeberkan kesuksesan paripurna dari sebuah bisnis minuman kopi. Perusahaan ini awalnya punya satu kedai kecil di Amerika tapi kemudian menggurita ke seluruh dunia. Jika 1987 punya karyawan 100 orang menjadi 100 ribu orang pada 2006. Karyawan Starbucks memiliki kepuasan bekerja mencapai 82 persen, padahal di perusahaan terkemuka dunia lainnya yang disebut sangat nyaman, kepuasan hanya 74 persen dan 50 persen di perusahaan yang digelari ‘tempat terbaik untuk bekerja’. Tapi, ketika saya minum kopi di Starbucks, rasa kopinya biasa-biasa saja, pelayanannya juga.

Ah kopi. Banyak benar kata-kata "kopi" dalam tulisan ini ya. Ah, biarkan saja, tak terhindarkan.
Ngopi yuuk...*