On 12/31/2017 08:38:00 AM by Harian Singgalang     No comments

Entah kenapa belakangan saya gandrung melihat video ustad Somad di Youtube. Sesekali Tak tuntung, Takicuah di nan Tarang dan  Quizas Quizas dari Andrea Bocelli. Pada ketika lain lagu Piala Dunia Afrika,  Waka Waka oleh Shakira. Hahai. Sering pula nonton di XXI. Apalagi HBO di televisi sepulang kerja tengah malam.

Semua itu menghibur saya dengan aduhai. Video Abdul Somad? Membuat saya menangguk-angguk. Saya termasuk orang yang sok tahu soal agama tapi oleh Abdul Somad saya takluk. Tak ada kajinya yang bisa saya debat. Amat menarik. Anak Riau ini hebat dan seketika saya teringat urang siak.

Urang siak. Mungkin generasi zaman now tak tahu maksudnya. Saya anak desa dari zaman "lampau" akrab dengan sebutan itu. Jika ada hajatan dan ustad berdoa di rumah, maka ustad itu adalah urang siak. Selain urang siak saya juga kenal pakiah yaitu anak sekolah agama yang masuk kampung membawa buntil dan minta sumbangan untuk kelangsungan sekolahnya.

Di rumah orang Minang selalu ada bareh ganggam yaitu segenggam beras yang diambil dari alokasi yang akan ditanak. Beras itu disimpan dalam tabung bambu. Kalau pakiah tiba maka beras itu diberikan padanya ditambah sedikit uang. Adakalanya diajak juga makan ke rumah. Ibu-ibu Minangkabau benar-benar penyayang.

Sedang urang siak adalah kelompok ustad yang mensiarkan Islam ke sini. Urang siak artinya orang alim. Benar ungkapan ini bermula ketika orang-orang alim datang dari Siak Indragiri, Riau ke Minangkabau. Mereka mengajarkan agama di surau, masjid dan berdoa dari rumah ke rumah. Sejak itu siapapun dia disapa urang siak.

Saya teringat sebutan urang siak memang karena melihat  video ustad Abdul Somad viral. Ulama muda dari Riau itu, ayunan kajinya seirama dengan pemahaman orang Indonesia. Tak menghujat dan tak memaksakan paham tertentu. Ia lebih menjelaskan paham demi paham, ajaran imam dan imam. Jangan salah menyalahkan jangan merasa benar sendiri. Maka Abdul Somad disukai umat, meski di Bali tempo hari sempat dipersekusi.
Somad punya kutipan-kutipan ilmiah dan lucu. Pasar menghendaki ada sisi-sisi lucu dalam satu pengajian agar jemaah tidak jenuh.

Saya tak tahu apa ustad ini orang Siak, yang pasti Melayu. Ulama muda Melayu ini, menjadi menarik karena pengetahuannya luas. Jika saja dia orang Minang, betapa indahnya.

Cuma saya khawatir Somad bisa easy come, easy go, bak meteor, cepat datang, cepat pula pergi, sebab umat cepat bosan. Karena itu tentu ustad Somad harus memperkaya materi pengajiannya terus-menerus seperti ia belajar ke Mesir dan Maroko, dua negara magribi itu.

Urang siak bagi saya adalah orang alim dan Somad adalah generasi baru dari mereka. Riau ternyata punya peran besar dalam syiar Islam di Minangkabau. Buktinya itu, sebutan urang siak. Lalu kapan Minangkabau punya ustad tipikal Somad? Tentu ada masanya. Kapan? Entah***


Khairul Jasmi
Dimuat di kolom Wasit Garis Singgalang edisi Minggu 17 Desember 2017.

0 komentar :

Posting Komentar