On 4/18/2018 09:06:00 PM by Khairul Jasmi     No comments

Sumpit Beras
di Kepala Mak

Khairul Jasmi

Mak bangun mendahului subuh. Menunggu azan di sajadahnya. Mak akan pergi ke pasar, berjalan kaki sekitar 3 km.
Pagi itu ia menjujung sesumpit beras, dari padi yang ia tumbuk sendiri. Mak berdagang beras, tapi hanya sesumpit kecil. Ringan saja di kepalanya.
Pagi belum  sempurna, dingin masih memeluk, Mak telah pergi, setelah menghembus api lampu togok.
Wanita perkasa ini membelah pagi, berjalan mengiringi gerak ujung sinar matahari ke arah mudik.
Hanya dia sendiri. Ibu-ibu lain di kampung kami ke pasar pergi berbelanja bukan berjualan. Mak menjujung beras dan harus terjual habis. Segalanya ada di beras itu, termasuk uang untik beli minyak tanah dan garam.
Peluh jatuh di pipi Mak, ia biarkan. Di punggung, ia biarkan. Tadi Mak berangkat meninggalkan anak-anaknya yang masih tidur. Kini saat melalui jalan mendaki, si anak masih juga tidur.
Seorang sudah bangun, anak tertuanya. Lelaki lasak jarang mandi itu, hendak menyusul Mak ke pasar. Ia ingin menyilau Mak yang berdagang dari pasar ke pasar. Selalu sesumpit beras. Selalu.
Anak bujangnya menyusul dan dari kejauahan ia intip Mak duduk nyaris terjepit dekat tonggak. Sebelah menyebelah pedagang punya lapak, Mak tidak.
Mak ringkih di antara pedagang berlapak bagai disapu angin lintang. Mak mengimbau-imbau orang lalu.
"Beras bagus, beras bagus, belilah," kata Mak.
Satu dua ada yang menawar kemudian berlalu. Sudah 20 menit si bujang berdiri melihat Mak dari jauh baru ada satu pembeli. Hangat hati Mak ia lihat. Bergegas Mak mencupaki beras. Orang itu membeli satu gantang.
Ketika jual beli selesai orang itu berlalu dan Mak tak sengaja melihat Bujang nakalnya.
Mak mengubik. Si bujang tersenyum.
"Belilah sate, mintak daging empuk, pergilah ke sana, "kata Mak. Si bujang  sebenarnya tak hendak makan sate, ia hanya ingin melihat kondisi maknya saja.
"Pergilah satenya enak," kata Mak sambil menyerahkan uang.
Si bujang, burung kelana kecil itu menikmati sepiring sate.
Di dekat tiang segi empat Maknya duduk menjual beras. Dua atau tiga jam lagi beras itu akan habis. Biasanya wanita yang sendirian bagai ular di padang pasir itu, akan membeli kebutuhan dapur untuk ia dan anak-anaknya.
Siklus ekonominya bermula dan berakhir dari pekan ke pekan.
Enam bulan kemudian wanita tersebut tak pernah lagi terlihat di pekan manapun. Ia bangkrut, pokok sudah termakan untuk kebutuhan dapur.
Mak bangkrut dan sebentar lagi pemilu. ***

0 komentar :

Posting Komentar