On 4/18/2018 02:12:00 AM by Khairul Jasmi in     No comments
Wasit

2018

Tahun baru telah berjalan beberapa hari tapi bagi sebagian besar kita, baru atau bukan, tak ada masalah dan tak berarti.

Bagi yang lain sangat dinanti kareja banyak sebab, satu di antaranya mungkin pergi ke kota lain untuk sekolah atau bekerja. Bekerja tetap impian yang bagus. Bekerja untuk dunia, sepotong taman nan indah. Pada 2018 dunia kita mungkin sama atau berbeda sama sekali. Apapun itu semoga tak ada gempa di daerah kita.  Gempa jangan disebut juga, trauma kita belum terobati.
Kita memang sering diguncang gempa; ekonomi, budaya, demokrasi, kesehatan dan hujan lebat lalu banjir. Gempa ekonomi itulah yang paling merisaukan. Risau hati kalau tanggal terus berjalan uang tak juga ada. Atau uang makin menipis sementara kehidupan harus berjalan terus.
Tahun 2018 adalah rentangan masa ke depan yang bagi dunia bisnis sebuah tantangan. Pasar makin sulit sebab pemain  makin ramai. Sema mau berjualan. Apa saja dijual, termasuk kapasitas dirinya untuk jadi kepala daerah.
Itulah dia pilkada Padang, sebentar lagi akan dipilih. Siapa yang akan menang pastilah pasangan yang disukai pasar yaitu warga kota. Saat ini para pedagang sudah mulai berteriak-teriak, "belilah, belilah..."
Siapa yang akan membeli? Rakyat yang sudah berumur. Yang sudah boleh masuk bilik pemilihan. Di sana ada paku dan gambar calon pemimpin kota. Tusuk saja.
Memilih pemimpin pasti menguntungkan mereka yang menang. Masalah harapan yang ditumpangkan pada pasangan menang belum tentu akan direalisasikannya. Memenuhi janji bukanlah pekerjaan gampang.
Yang susah-susah itulah hidup. Susah kerja, susah beribadah, susah menolong dan susah minta tolong, apalagi meminjam, tapi lebih sulit membayar hutang.
Saya selalu kaget ketika sudah datang saja hari Kamis, padahal baru kemarin rasanya menulis untuk kolom Wasit Garis ini. Begitu cepatnya waktu berlalu. Itulah yang saya alami sepanjang pekan, bulan dan tahun dan sekarang sudah 2018. Betapa waktu berlalu sedemikian hebat, tajam dan ligat.
Lalu apa bekal yang dibawa ke 2018? Ada dan tak ada. Yang dibawa, pasti, harapan. Harapan atas hal-hal yang baik. Kata pemerintah Indonesia akan semakin baik namun kata orang bank, ekonomi sekarang memang sulit. Sulit ya?
Yang gampang ada, membelanjakan uang yang berlebih. Lihatlah calon-calon kepala daerah, belanja saja kerjanya. Beli ini, beli itu. Sumbang sini, sumbang sana. Lihatlah orang yang sudah kaya, atas keringatnya, ia diberi rezeki lalu menyumbang kemana-mana atau raun kapan ia suka.
Kami kemarin raun ke Danau Kembar. Menghibur hati duniawi. Salah? Apanya yang salah, benarlah. Menghibur diri dengan datang ke alam yang indah ciptaan Tuhan adalah suatu bentuk syukur. Membaca ayat-ayat alam di dunia yang luas ini.
Dunia ini belum luas benar sebab alam rayalah yang maha luas.
Bumi belum ada apa-apanya. Jika pohon-pohon di bumi jadi pena dan laut jadi tinta ditambah 7 laut lagi niscaya tdk habis-habisnya ditulis kalimat-kalimat Allah.

Saat ini diketahui ada 13 galaksi masing-masing terdiri dari miliran bintang. Ke 13 itu masih disebut galaksi kecil. Yang tertangkap teropong saat ini ada 100 juta supergalaksi. Belum lagi yang tidak terteropong.
Jadi memang bumi tak ada apa-apanya dan semua pohon dan air di bumi hanyalah "sedikit" untuk menuliskan bahwa Tuhan itu absolut.
Itulah yg hendak disampaikan oleh Surah Lukman/31:27
Nah, ebat pula saya ya.
Nikmati 2018. *

0 komentar :

Posting Komentar